
"Dan pondok tamu yang Adam tempati selama ada di kota ini,berada satu halaman dengan rumahnya Alba Anindya, Om" Bella menatap Alex Baron dengan mata sayu meminta dukungan.
"Apa?!" Alex Baron langsung menegakkan badan dan membeliak kaget.
Bella Fastro menganggukkan kepalanya dengan wajah serius lalu berkata, "Wanita itu memang murahan banget, Om. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Alba mirip dengan mamanya, seorang pelakor, cih!"
Alex bersyukur dia sudah meminum obat jantungnya sehingga di saat ia kaget dan penuh emosi mendapatkan info mengejutkan dari Bella Fastro, jantungnya aman dari syok. Lalu Alex Baron berkata, "Kasih aku alamat rumah wanita murahan itu!"
Bella Fastro tersenyum puas lalu ia mengetik di layar ponselnya dan beberapa detik kemudian ia mendongak dan berkata, "Sudah saya kirim alamatnya ke ponsel Om, via pesan text"
"Oke!" Alex Baron langsung bangkit dengan wajah merah penuh amarah dan Bella menatap punggung Alex dengan senyum puas. Wanita yang sudah dibutakan dendam karena cinta tak berbalasnya itu, kemudian bergumam, "Berdasarkan sifatnya Om Alex Baron yang gampang terpancing emosi, saat ini, pasti Om Alex Baron pergi ke rumahnya Alba Anindya" Bella tersenyum licik lalu bergumam kembali, "Selamanya kau tidak akan pernah memiliki Adam Baron, Alba"
Di saat seseorang tidak pernah belajar dari kesalahannya dan tidak pernah mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik, maka kehancuran akan melahapnya. Itulah yang akan diterima oleh Bella Fastro beberapa jam ke depan.
Bella melenggang masuk lift dengan hati penuh dengan kemenangan, untuk pergi ke restoran. Bella ingin menikmati makan siang di restoran yang ada di hotel Baron karena, ia merasa malas untuk keluar. Dia menyiapkan energi untuk mengeksekusi rencana jahatnya nanti malam. Bella pikir, dialah pemenangnya.
Adam menyuapi Noah dengan penuh cinta kasih dan wajah semringah. Dan Alba terus tersenyum bahagia menatap gambaran indah di depan matanya. Walaupun butuh lima tahun lebih menanti Adam datang ke dalam kehidupannya kembali, Alba tetaplah bersyukur. Waktu tidak lagi penting bagi Alba karena, ia telah mendapatkan self healing dari segala luka dan duka yang ia alami selama lima tahun lebih, hanya dengan melihat pancaran kebahagiaan penuh cinta kasih di wajah Adam dan Noah. Itu sudah sangat cukup bagi seorang Alba Anindya.
Adam membopong Noah yang tidur di atas pangkuannya setelah kecapekkan mengerjakan semua tugas sekolahnya, ke dalam kamar. Papa tampannya Noah itu membaringkan putra tunggalnya di atas kasur, menyelimutinya, mengatur suhu AC, lalu melangkah keluar.
Alba tersenyum dan langsung berkata, "Noah nggak ingin pisah dari kamu, Mas. Dia terus nempel dan manja sama kamu"
Adam melangkah lebar lalu melompat duduk di sampingnya Alba. Presdir muda pewaris Baron Grup itu langsung merangkul Alba dan berkata "Aku juga ingin terus nempel sama Noah. Aku lihat Noah bukan hanya mirip secara fisik denganku. Aku lihat tulisannya pas dia mengerjakan tugas sekolahnya, mirip dengan tulisanku, kecil-kecil dan kayak cekeran ayam, pfftttt!. Dia juga anti cewek, sama seperti aku pas aku masih muda dulu, tapi dia sayang banget sama mamanya"
"Iya, semuanya memang mirip kamu. Aku hanya jadi wadahnya saja. Satu pun nggak ada yang mirip denganku. Nasib-nasib, huffttt!"
Adam langsung memeluk tubuhnya Alba dan mencium keningnya Alba, lalu ia melepas tawa riangnya. Papa tampannya Noah itu kemudian berkata, "Noah mewarisi kebaikan dan kelembutan hatimu. Aku nggak ada lembut-lembutnya dan nggak ada baik-baiknya sama sekali pas aku masih kecil, kan?"
"Kamu memang selalu merengut kalau difoto pas kamu masih kecil, Mas. Dan Noah selalu senyum kalau difoto" Alba tertawa kecil sambil mendongak untuk memandang wajahnya Adam.
Adam menunduk untuk mendaratkan kecupan di keningnya Alba, lalu berkata, "Nah, bener, kan. Noah mewarisi senyum itu dari kamu" Adam tersenyum penuh cinta lalu ia menciumi keningnya Alba dan berucap di sana sambil memeluk erat tubuh kurusnya Alba, "Kenapa kamu sekurus ini? Apa kamu makan dengan benar selama ini?"
Alba mengelus dadanya Adam dan berkata, "Dari dulu aku memang sekurus ini, Mas. Aku nggak pernah bisa gemuk"
"Tapi, aku akan membuatmu gemuk sebentar lagi. Aku akan membuatmu hamil lagi. Aku ingin anak cewek kali ini dan merasakan masa-masa ngidam kamu. Aku ingin merasakan ribetnya menjadi suami siaga di saat istrinya ngidam parah. Aku kan nggak bisa merasakannya pas kamu hamil Noah"
Di saat mereka melepaskan ciuman mereka untuk mengambil napas, Adam tiba-tiba berkata sambil mengelus pipinya Alba, "Ba, kita beli kelinci, yuk! Kita pernah punya kelinci, kan, dulu? Namanya......Ba........Ba"
Alba tersentak kaget dan langsung menarik diri dari dekapannya Adam, "Mas, ingat?"
Adam tersenyum jahil dan sambil menyusupkan tangannya di balik blus berwarna hijau tosca polos, yang Alba pakai di hari itu, ia berkata, "Aku sepertinya mendapatkan kembali ingatanku sehabis menyatukan raga denganmu. Aku ingat soal kelinci itu setelah penyatuan panas kita di atas meja makan, pagi tadi. Aku juga ingat sedikit gambaran masa kecilku"
"Jangan bercanda,Mas!"
Adam mulai melepas kait di pakaian dalamnya Alba dan berkata, "Aku dulu memanggilmu dengan Baba, kan. Lalu setelah kita menikah aku lupa aku memanggilmu apa? Untuk mengingatnya kembali, aku rasa kita harus menyatu lagi sekarang"
"Ta....tapi ini kantor, Mas"
Klik! Ares memencet remote yang ada di meja sofa dan berkata, "Aku sudah kunci pintunya"
"Noah?"
"Noah juga aman. Aku juga udah kunci pintu kamarnya Noah. Kalau Noah bangun, dia akan teriak dari dalam barulah aku bukakan pintunya"
"Ta...... hmmppttthh! Alba tak bisa melanjutkan kata karena bibir Adam langsung membungkam bibirnya.
Di bawah tangannya, Adam bisa merasakan Alba bergetar seolah bisa merasakan bahwa Adam menginginkan lebih dari sekadar ciuman.
Tanda kecil diberikan Adam di kulit lehernya Alba yang mampu mengkhianati kendali dirinya Alba. Alba seketika itu menghancurkan tembok pertahanan dirinya untuk tidak menyatu dengan Adam di sofa kantornya Adam.
Tanpa mampu menghentikan diri, Adam semakin membenamkan bibir ke bibir Alba. Ciumannya Adam didorong oleh kebutuhan mendalam untuk menyesap semua rasa luar biasa yang Alba tawarkan, sedalam mungkin.
Adam dan Alba bahkan mengabaikan bunyi degup jantung mereka saking asyiknya bercumbu dengan penuh cinta dan kerinduan.
Terkunci rapat dalam dekapan Adam dan bibirnya terus ditekan oleh Adam, Alba mulai meremas celana kain yang ia pakai untuk menahan erangan kenikmatan dan gairah yang membakar tenggorokannya.
Tangan Adam berhenti di titik kenyalnya Alba lalu ia menatap Alba dan berkata, "Maaf, aku tidak bisa berhenti, Sayang. Aku ingat sekarang kalau aku memanggilmu Sayang, setelah kita menikah dan aku tidak bisa berhenti karena aku ingin mengingat lebih dan lebih lagi, tentang kita"
Alba dan Adam bersitatap penuh arti..............