
"Kau bahkan menamparnya, dasar brengsek!" Adam semakin menggila memukuli wajah omnya Alba sampai omnya Alba terdiam tak berdaya.
Alba bangun lalu melangkah gontai dan berhasil menepuk pundaknya Adam sambil berkata, "Hentikan, Dam! Jangan jadi binatang seperti dia. Jika kau membunuhnya, kau akan menjadi binatang seperti dia" Dan Bruk! Alba jatuh di atas lantai dan pingsan.
Adam langsung bangkit dari atas tubuh kurus omnya Alba dan dengan panik, Adam memungut blusnya Alba untuk menutupi tubuhnya Alba lalu bergegas membopong Alba dan berlari menuju ke parkiran mobil yang cukup jauh dari ruang musik.
Adam berlari dan terus berlari dengan wajah panik dan terus bergumam, "Jangan menyerah, Ba! Bertahanlah!"
Sementara itu, omnya Alba mengaduh dan dengan wajah lebam berdarah, dia masih bisa bisa bangkit lalu dengan langkah terseok-seok, ia melarikan diri dari sana.
Adam mengebut menuju ke rumah sakit terdekat dan langsung membopong Alba ke ruang UGD setelah sampai di rumah sakit yang ia tuju.
Adam menemukan ada banyak tanda merah keunguan di leher dan dadanya Alba, dia juga menemukan ada darah kering di sudut bibirnya Alba, lebam di kedua bahu Alba, dan hidungnya Alba memar. Adam mendaratkan tinjunya di tembok UGD dengan amarah yang menggelegak. Pengacara muda nan tampan itu segera meminta untuk dilakukan visum atas diri Alba Anindya karena dia bertekad akan mengejar omnya Alba sampai ke ujung dunia dan menjebloskan laki-laki iblis itu ke penjara dengan. tuntutan paling berat.
Setelah hasil visum keluar dan Alba dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP, Adam meminta tolong kepada suster jaga di ruang VVIP Cempaka 8, untuk menjaga Alba.
Setelah meninggalkan rumah sakit, Adam bergegas kembali ke ruang musik dan dia mengumpat kesal karena omnya Alba telah melarikan diri. Adam tersenyum senang saat ia menemukan ada kamera CCTV di sudut ruang musik tersebut dan letaknya tepat di depan titik TKP. Namun, Adam harus bersabar sampai besok pagi untuk mendapatkan rekaman CCTV tersebut.
Adam bergegas masuk kembali ke dalam mobilnya dan menuju ke rumah tantenya Alba. Adam mengetuk beberapa kali pintu rumah itu dan tidak mendapatkan jawaban. Karena kesal yang sudah berada di ujung tanduk, Adam nekat mendobrak pintu masuk rumah bergaya minimalis milik tantenya Alba.
Adam tidak menemukan siapapun di sana. Adam meraup wajah tampannya dengan sangat kesal lalu bergumam, "Cepat sekali ia mengajak istrinya untuk melarikan diri"
Adam kemudian memeriksa semua ruangan di rumah bergaya minimalis itu dan saat ia sampai di sebuah kamar yang lebih kecil, ia mengernyit, "Apa ini kamarnya Alba? Sepertinya benar" Adam menemukan foto Alba waktu masih SMA di sana"Adam memandangi sejenak foto mantan kekasihnya itu lalu ia tersenyum, "Andai aku bisa mengembalikan lagi senyum kamu yang seperti ini, Ba"
Adam meletakkan kembali pigura kecil itu di atas meja belajarnya Alba. Lalu ia memeriksa pintu dan ia langsung menautkan alisnya, "Kenapa ada banyak slot kunci terpasang di pintu kamar ini? Sial! Apa selama ini omnya Alba yang telah membuat Alba merasa takut dengan lawan jenis? Jadi, Omnya Alba yang selama ini telah melecehkannya?" Adam meninju pintu kamar itu dengan wajah merah padam penuh amarah. Lalu ia mengambil gambar pintu itu dengan kamera ponselnya.
Adam lalu berjalan sampai ke kamar mandi, dia juga menemukan banyak kejanggalan di daun pintu kamar mandi itu. Adam meraup kasar wajahnya, "Andai aku tidak pergi ke Amerika, semua ini tidak akan terjadi padamu, Ba. Maafkan aku, kamu mengalami ketakutan dan paranoid separah ini selama ini. Dan kamu sendirian"Adam berjongkok di depan pintu kamar mandi dan menangis sebentar di sana untuk melepaskan rasa sesal dan rasa sesak di hatinya.
Setelah puas melampiaskan rasanya dengan tangisan, Adam mengambil gambar pintu kamar mandi itu lalu berjalan kembali ke depan, menuju ke kamar utama. Adam mengambil foto omnya Alba dan tantenya Alba.
Setelah mendapatkan semua yang ia rasa penting, Adam meninggalkan rumah kecil yang berada paling pojok dari perumahan untuk kalangan menengah ke bawah itu.
Adam mengemudikan mobilnya ke kantor polisi. Dia memasukkan hasil visum, dan semua bukti gambar yang dia ambil dari rumah tantenya Alba, memberikan laporan ke pihak berwajib dan dia mengajukan tuntutan ke omnya Alba dengan tuduhan pelecehan dan percobaan pemerkosaan atas Alba Anindya.
Setelah semuanya beres, Adam kembali ke rumah sakit. Sesampainya di kamar VVIP Cempaka 8, Alba belum siuman.
Suster yang menjaga Alba melangkah keluar setelah menyuntikan obat ke slang infusnya Alba.
Adam mengelus pipinya Alba lalu ia menggenggam tangannya Alba. Dia cium punggung tangan mantan kekasihnya itu dengan penuh kerinduan dan cinta. Sampai akhirnya, Adam tertidur di sana.
Keesokan harinya, Alba tersadar dari tidur panjangnya dan menunduk saat ia merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Alba tersenyum lega melihat Adam tidur di tepi ranjangnya dengan posisi duduk di bangku dan kepala rebah di atas tangannya yang tidak terpasang jarum infus.
Alba memberanikan diri mengusap pelan rambutnya Adam dengan tangan yang terpasang jarum infus, dengan senyum penuh cinta dan kerinduan.
Adam terbangun dengan menggerakkan kepalanya dan Alba langsung menarik tangannya lalu memejamkan matanya untuk pura-pura tidur karena Alba merasa masih belum siap menghadapi Adam. Dia merasa hina dan merasa jijik pada dirinya sendiri setelah ia mengingat kejadian semalam. Apalagi Adam, Adam pasti memandang hina pada dirinya karena laki-laki lain telah mencumbuinya semalam.
Adam memandangi Alba dan dia tersenyum saat ia menangkap Alba hanya pura-pura tidur.Dan dengan senyum jahil maka berkatalah ia, "Mau pura-pura tidur sampai kapan? Aku kenal betul siapa kamu, sayangku, manisku, cintaku. Jadi, nggak usah pura-pura tidur lagi!"
Alba melancipkan bibirnya lalu dengan pelan ia membuka kedua kelopak matanya dan langsung memalingkan muka.
Adam mengerutkan keningnya melihat tingkahnya Alba. Lalu laki-laki tampan itu bangkit dan menangkup wajah Alba dengan kedua tangannya lalu memutar pelan wajah itu untuk berhadapan dengan wajahnya, "Kenapa kau memalingkan muka? Apa aku terlihat jelek pas bangun tidur? Apa wajahku penuh iler dan kau merasa jijik?"
Tanpa Alba sadari ia tersenyum mendengar guyonannya Adam. Namun, Alba menatap Adam dalam Kebisuannya.
"Aku merindukan senyuman kamu. Aku janji setelah ini semua selesai, aku akan selalu membuatmu tersenyum"
"Selesai? Apa maksudnya dengan selesai?" Alba akhirnya membuka suara.
"Aku melaporkan om kamu, laki-laki iblis itu, ke kantor polisi dan aku menuntutnya dengan sangat berat"
"Hah?! Jangan lakukan itu! Kasihan tanteku, Dam"
Adam menatap Alba dengan tatapan heran, "Dia sudah melecehkan kamu selama ini, kan? Dan kemarin dia ingin memperkosa kamu. Entah apa yang akan terjadi jika aku terlambat datang. Dan kamu malah merasa kasihan pada Tante kamu? Aku perhatikan, Tante kamu juga tidak peduli denganmu"
Alba langsung berucap, "Iya kau benar. Di dunia ini, tidak ada yang mau peduli pada anak yatim piatu kayak aku"
Adam mengelus pipinya Alba dan berkata, "Maaf! Bukan itu maksudku. Aku cuma kesal karena kamu, sepertinya tidak berniat untuk melaporkan om kamu ke pihak berwajib. Laki-laki macam dia harus dihukum biar tidak ada korban lagi dan biar dia tidak mengganggu kamu lagi. Perbuatannya tidak pantas untuk kau biarkan berlaku begitu saja, Ba!"
"Karena jika sampai dibawa ke jalur hukum dan sampai di meja hijau, maka akan ada banyak hal yang akan terjadi, kehidupan tanteku akan berubah drastis dan aku tidak siap jika harus bersaksi melawan Om-ku. Aku takut dan malu.menghadapi opini publik"
Adam menatap Alba dengan sorot mata ambigu.lalu dia berucap, "Sudah terlambat. Kasusnya kurasa sudah mulai bergulir. Mau tidak mau, kita harus melawan om kamu" Adam lalu keluar dari kamar rawat inapnya Alba dengan langkah dan wajah kesal.Adam biarkan pintu kamar VVIP itu terbuka lebar dan dia berdiri sambil berkacak pinggang dan beberapa kali menghela napas panjang.
Alba hanya bisa menangis sesenggukkan menatap punggungnya Adam.