I Love You, Adam

I Love You, Adam
Pelukan Hangat Seorang Mama



Nindya mengumpat kesal di dalam hatinya namun, ia mengulas senyum di wajah cantiknya. Dia membukakan pintu jok belakang mobil sedan miliknya, hadiah pertunangan dari papanya Adam untuk Alba sembari terus mengulas senyum dan berkata, "Masuklah!"


Alba tersenyum lebar, membungkukkan badan dan melangkah masuk ke dalam jok belakang mobil sedan berwarna pink itu Adam ikutan membungkukkan badan dan menggeser tubuhnya Alba. Nindya mendelik melihat Adam juga masuk ke jok belakang.


Adam menarik pintu mobil hingga terlepas dari tangan Nindya lalu menutupnya. Nindya mengepalkan kedua tangannya dan mengumpat dalam hati, aku kayak supir mereka dong kalau kayak gini?


Dan tanpa Nindya harapkan, Dokter Bagas berlari ke arahnya dan berkata, "Saya lihat mobil Anda masih muat untuk satu orang lagi. Saya nebeng ya, mobil saya mogok"


Dan dengan sangat terpaksa Nindya menganggukkan kepalanya.


Akhirnya, Dokter Bagas yang mengendarai mobilnya Nindya dan Nindya berulangkali menahan amarahnya karena kenyataan berjalan tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Dia ingin berdua saja dengan Adam dalam perjalanan yang cukup panjang sehingga ia bisa mengobrol banyak dengan Adam dan membuat Adam bisa sedikit melunak padanya dan menjadi Adam yang manis seperti yang sebelumnya. Namun, semuanya kacau balau dan alhasil, di sepanjang perjalanan, Nindya lebih banyak membisu saat ia mendengar obrolan Adam dan Alba yang akrab seolah tidak ada jedanya dan saat ia mendengar celotehannya Dokter Bagas, "Mereka serasi ya?"


"Kenapa kau nempel kayak gini sih? Agak sana bisa nggak?" Alba menoleh ke Adam dengan muka kesal karena Adam terus menempelkan bahunya ke bahu Alba.


"Kenapa nggak boleh nempel kayak gini? Ada yang salah?" Adam berucap dengan ekspresi santai khasnya.


Alba mendorong bahunya Adam, "Gerah tahu nggak? Agak sana! Masih sangat longgar tuh"


Adam kembali bergeser dan menempelkan bahunya ke Alba.


"Adam Baron!" Alba mulai menaikkan nada bicaranya dan bersedekap sambil melirik rajam ke Adam.


"Dingin! Aku nggak suka dingin. Begini lebih enak. Lagian cuma nempel bahu aja kok sewot sih? Dasar pelit!"


"Bukannya pelit. Tapi, gerah!" pekik Alba kesal.


Dokter Bagas melirik rear-mirror vision lalu berucap, "Alba, kalau sama pacar tuh yang mesra dong, jangan galak-galak!"


"Tuh dengarkan Dokter Bagas!" Ucap Adam sambil dengan santainya merebahkan kepalanya di atas pundaknya Alba.


Alba mengangkat kepala Adam dengan tangannya dan memekik kesal, "Sudah saya bilang kan Dok, kalau dia bukan pacar saya"


"Tapi, gerak-gerik dan tingkah laku kalian bahkan debat kalian aku lihat layaknya orang berpacaran lho"


"Tuh! Masih aja nyangkal" ucap Adam sembari kembali menyandarkan kepalanya di pundaknya Alba.


Alba mengangkat kembali kepalanya Adam dengan kata, "Apa sih? Kenapa taruh kepala kamu di pundakku? nempel aja kayak gini udah bikin gerah malah taruh kepala di pundak segala"


Adam berbisik ke telinganya Alba dan saat Nindya melihat hal itu dari rear-mirror visionnya, Nindya mencengkeram tas kerjanya yang terbuat dari kain denim berwarna biru karena ia terbakar api cemburu.


Adam membisikkan kata, "Pinjam bahu kamu beberapa jam tidak sebanding dengan waktuku yang akan banyak terbuang untuk mengajarimu Matematika secara gratis nanti. Aku serius pusing nih habis minum obat jadinya ngantuk dan aku butuh bersandar"


Alba menghembuskan napas kesalnya lalu ber;ucap lirih ke Adam, "Baiklah! Demi nilai Matematika dan demi rasa kemanusiaan"


Nindya tanpa sadar merapatkan bibirnya saat ia tampak heran, suasana di dalam mobilnya tiba-tiba sunyi senyap untuk itu ia melihat dari rear-mirror vision mobilnya, Alba dan Adam terlihat serasi tertidur dengan kepala saling bersentuhan dan dokter Bagas yang ikutan melirik rear-mirror vision, mengomentari pemandangan itu, "Mereka manis sekali. Saya juga ingin suatu saat nanti saya bisa manis seperti mereka saat saya berpacaran dengan wanita yang saya sukai" Dokter Bagas berkata seperti itu sambil melirik ke Nindya namun, Nindya terus memandang ke arah depan dan mengabaikan ucapannya Dokter Bagas.


Kenapa dia baik banget dan perhatian sama Alba? Apa Adam menyukai Alba? Nggak! Nggak akan kubiarkan Adam menyukai Alba. Aku sudah terlanjur menjadi gila karena Adam maka sekalian saja aku menggila. Aku sudah tidak pedulikan apapun di dunia ini kecuali Adam. Batin Nindya sembari tangannya terus meremas.tqs kerjanya.


Beberapa jam kemudian, mobil Nindya sampai di kota dan arah yang mereka tuju pertama kali adalah rumahnya Nindya. Mereka sampai di kota masih sangat sore karena Dokter Bagas memilih masuk ke jalan tol sehingga perjalanan mereka menjadi lebih cepat sampainya.


Saat Alba hendak melangkah turun sambil mencangklong tas ranselnya, Adam bertanya sembari menahan lengannya Alan, "Habis ini kita ke mana?"


Dokter Bagas dan Nindya menoleh ke belakang bersamaan untuk menatap Adam dan Dokter Bagas berucap, "Ke rumahku. Rumahku ridak jauh dari sini"


"Kalau gitu aku ikut turun di sini" Adam mendorong tubuhnya Alba keluar dari dalam mobil dan dia ikutan turun.


Nindya tanpa sadar membuka pintu mobil dan turun lalu bertanya ke Adam, "Kenapa kau turun di sini?"


Alba mendelik ke Adam, "Iya, kenapa kau ikutan turun di sini?"


"Aku pengen bertemu dengan calon Ibu mertua" Ucap Adam dengan santainya.


"What!? Kau gila?! Calon Ibu Mertua apa?" Alba melotot ke Adam dan memukul bahunya Adam.


Dokter Bagas yang ikutan turun, tertawa renyah melihat sikap polosnya Adam dan ekspresi kagetnya Alba yang tampak sangat lucu baginya.


Nindya memekik kesal tanpa ia sadari karena cemburu, "Ini tidak lucu, Adam!"


Adam menatap tajam ke Nindya dan berucap dengan ekspresi datar khasnya, "Aku bukan pelawak, kan? Jadi, untuk apa aku melucu?"


Nindya masuk kembali ke dalam mobil dengan wajah kesal dan Dokter Bagas ikutan masuk lalu bertanya ke Nindya sambil memasang sabuk pengamannya, "Kita tinggalkan Adam di sini?"


Nindya berkata, "Jalankan saja mobilnya!"


Dokter Bagas kembali menghidupkan mobil dan melakukannya ke jalan raya.


Alba bersedekap dan memandangi wajah meringisnya Adam, "Kau pulang naik apa?"


"Siapa bilang aku mau pulang? Aku tidak ingin minta minum dan duduk sebentar di rumahmu, boleh?"


Alba yang tidak tegaan akhirnya kembali menghela napas panjang lalu mengajak Adam untuk masuk ke dalam rumahnya yang berada di perumahan sederhana tipe 45. Rumah minimalis tapi tertata sangat apik, tampak luas dan terkesan hangat karena ada aroma seorang Ibu di sana saat Mamanya Aba menyambut Adam dengan senyum ramah.


Bebrapa.menit berikutnya, Adam merasa betah berada di rumahnya Alba. Dia menyukai pisang goreng bikinan mamanya Alba dan menyukai teh lemon hangat bikinannya Alba. Adam terus memandangi mamanya Alba dan tanpa sadar ia berucap, "Boleh saya memeluk Tante? Saya merindukan kehangatan dari seorang Mama. Mama saya udah lama meninggal"


Mamanya Alba tersenyum haru lalu berkata, "Tentu saja boleh. Kalau kamu merindukan Mama kamu, kamu boleh datang ke sini" Mamanya Alba lalu memeluk Adam dan tanpa Adam sadari, ia menangis terisak di dalam pelukan mamanya Alba dan Alba pun ikutan menitikkan air mata.