
Nindya ridak bisa tidur malam itu. Ciuman hangat yang ragu-ragu dari Adam, memberikan sensasi yang luar biasa pada seluruh indra perasanya. Bahkan the sixth sense-nya pun meronta ingin keluar ingin menembus ke dalam jiwanya Adam dan ingin mengetahui sesungguhnya apa yang Adam pikirkan saat Adam nekat mencium bibirnya.
Nindya berguling ke kanan dan ke kiri di atas ranjangnya di saat semua koleganya yang berada satu kamar dengannya telah tertidur lelap.
"Aku sudah gila! Kenapa aku membalas ciumannya Adam tadi dan aku menikmati ciuman itu. Bahkan........bahkan aku menginginkannya lagi? Dasar gila kau Nindya!" Pengajar Matematika di SMA Pelita Kasih yang sangat cantik itu bergumam lirih sembari memukul pelan kepalanya lalu ia menguyel-uyel rambut hitam nan panjangnya dengan gemas.
Keesokan harinya, gerimis turun dan membuat acara senam bersama guru-guru dan murid-murid batal. Murid-murid mulai mendengungkan suara protes mereka karena mereka sudah terlanjur bangun di jam empat pagi untuk mandi dan bersiap melakukan senam pagi Akhirnya untuk meredakan dengungan protes dari para murid, para guru mengubah acara senam pagi menjadi acara permainan yang dilakukan di indoor karena area outdoor basah dan gerimis mulai menghebat secara pelan namun, pasti, berubah menjadi derai hujan yang iramanya terasa indah bagi seseorang yang tengah dimabuk asmara.
Itulah yang dirasakan oleh Adam ketika ia terbangun dari tidur panjangnya semalam, ia menemukan Alba tertidur sambil duduk dan kepalanya rebah di tepi ranjang. Adam lalu menengok ke jendela, suara hujan membuat suasana hatinya menjadi kacau di saat ia kembali menoleh dan memandangi Alba yang masih nyenyak tidur di tepi ranjang dengan posisi duduk.
"Dia menungguiku semalaman? Dibalik keceriwisannya ternyata ia manis juga" Gumam Adam lirih. Lalu Adam bangun dan berjalan memutari ranjang. Kemudian dengan hati-hati, ia membopong Alba dan merebahkan Alba di atas ranjang.
Bu Nindya masuk tergopoh-gopoh di ruang klinik darurat itu tepat di saat Adam menyelimuti Alba dan mencium keningnya Alba.
Bu Nindya tertegun melihat pemandangan aneh itu. Pemandangan yang melukai hatinya. Pemandangan pemuda yang di malam sebelumnya mencium bibirnya, di pagi hari mencium kening wanita lain.
Adam berbalik badan dan tersentak kaget saat ia menemukan calon ibu tirinya berdiri mematung di depan pintu masuk dan tengah menatapnya dengan mata nanar. Nindya tanpa sadar mengeluarkan tanya, "Kenapa kau menciumnya?"
Adam tersenyum tipis dan mencoba bersuara karena semalam suaranya hilang, "Tes, tes. Syukurlah suaraku udah kembali"
"Kenapa kau menciumnya?" Nindya tanpa sadar meninggikan suaranya dan Adam langsung maju dengan langkah lebar, menarik pergelangan tangannya Nindya dan mengajak Nindya keluar dari klinik darurat tersebut dengan kata, "Kenapa Anda berteriak? Dia bisa terbangun"
"Kenapa kau mencium Alba?" Nindya menoleh ke Adam dengan sorot mata penuh kecemburuan.
"Sebagai rasa terima kasih. Alba sudah menungguiku semalaman. Alba juga telah merawatku semalaman"
"Aku ke sini karena mendengar kau sakit. Aku ingin bergegas ke sini untuk melihat keadaanmu tapi, kau.........."
Adam tersenyum tipis, "Anda datang ke sini sebagai apa? Calon Ibu tiriku? Ibu wali kelasku? Ibu pembimbing Matematikaku? Atau sebagai wanita yang telah merasakan sebuah ciuman?"
Nindya menarik pergelangan tangannya dari genggaman tangannya Adam lalu ia menghunus tatapan tajam ke Adam lalu dengan sangat kesal karena terbakar cemburu, ia menampar pipi Adam dengan sangat keras.
Adam terkejut dan sambil menyentuh pioinya ia mendelik dan bertanya, "Kenapa kau menamparku?"
"Kau menciumku semalam dan pagi ini, kau mencium Alba. Dasar brengsek!" suara Nindya kembali meninggi dengan sedikit bergetar karena Nindya menhan Isak tangisnya. Ia ingin menangisi kebodohannya karena sudah terjebak ke dalam pesonanya Adam.
"Kau yang brengsek! Dan kenapa tidak sekalian aja kau berteriak lebih kencang lagi supaya semuanya tahu kalau kau..............."
"Aku apa? Katakan!" Nindya mulai mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya
"Kau wanita ******" Adam berucap datar dan dengan disertai sorot mata yang sangat dingin.
Tubuh Nindya langsung menggigil dan ia mengusap air mata yang akhirnya turun membasahi pipinya dengan punggung tangannya lalu ia berkata, "Kenapa kau melakukannya? Mendekati aku, merayuku, menghiburku di saat aku butuh teman untuk curhat dan kau menciumku?"
"Tentu saja untuk mengujimu. Aku ingin tahu seperti apa wanita yang berani merebut Papaku dariku. Ternyata wanita itu hanyalah wanita murahan yang tidak setia dan tidak tahu diri, cih!"
"Kau berbahasa tidak formal pada Gurumu? Kau mulai tidak sopan pada Gurumu ini?" Nindya mulai meninggikan lagi volume suaranya.
"Kau! Untuk apa kau merekamnya?! Dasar bocah gila!"
"Tentu saja untuk aku berikan ke Papa. Untuk memberitahukan ke Papa bahwa wanitanya tidak setia. Dengan begitu, Papa akan mengusirmu dari sisinya" Adam kembali mengulas senyum mengejek di wajah tampannya.
Nindya tersenyum tipis, "Jika kau berikan rekaman itu ke Papa kamu, bukankah itu juga akan menghancurkan dirimu sendiri. Papa kamu akan mengusirmu dan bagaimana jika Papa kamu tetap memilihku dan memaafkanku?"
"Kita lihat saja nanti" Adam lalu ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan Nindya yang mematung dengan pikiran yang kacau balau.
Alba terbangun dan kebingungan, ""Kenapa aku ada di atas ranjang?" Alba lalu bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia mengedarkan pandangannya, "Di mana Adam?"
Alba lalu melompat turun dari atas ranjang dan di saat ia melipat selimut, Dokter Bagas datang, "Selamat pagi, Manis. Lho! Pacar kamu mana?"
Alba meletakkan lipatan selimut di atas bantal sambil menghela napas panjang, "Dia bukan pacar saya. Dan entah di mana dia sekarang"
"Hahahahaha" Dokter Bagas menggemakan tawa renyahnya ke udara lalu ia berkata, "Aku tetap mengganggap ia pacar kamu karena semua buktinya ada. Kamu perhatian sama dia dan menungguinya semalaman, kan?"
Alba kembali menghela napas panjang lalu ia pamit ke Dokter Bagas
"Tunggu!"
Alba mengerem langkahnya dan menoleh ke Dokter Bagas, "Ya?" tanya Alba.
"Kalau bertemu pacar kamu, suruh dia ke sini. Aku ingin memeriksanya sekali lagi untuk memastikan kesembuhannya sampai berapa persen"
"Baik, Dok" Alba mendengus kesal karena Dokter Bagas masih saja mengira kalau Adam adalah pacarnya.
Alba ke kamarnya dan mengambil baju ganti untuk mandi. Selesai mandi, ia melapor ke guru piket kenapa ia tidak hadir di sesi pertama acara Social Gathering SMA Pelita Kasih. Guru piket berkata, "Iya nggak papa. Ibu udah dikasih tahu sama Bu Nindya tadi. Kau juga istirahat aja dulu setelah semalam begadang merawat Adam"
"Nggak usah, Bu. Saya wonder woman, kok. Saya jarang sakit, hehehehe" Sahut Alba
Ibu Guru piket tersenyum lalu berkata, "Kalau gitu, kamu langsung aja ke aula untuk ikut sesi berikutnya!"
"Baik Bu"
Sesampainya di aula Alba menemukan sosok Adam. Ia berlari kecil dan menepuk bahu Adam.
Adam menoleh dengan ekspresi datar.
"Kamu dicari sama Dokter bagas. Mau diperiksa lagi, udah sembuh beneran belum. Dan Kenapa kau tadi bangun tapi tidak membangunkan aku? Dan kenapa aku bisa tidur di atas ranjang? Siapa yang memindahkan aku?"
"Genderuwo yang memindahkan mu" Adam berkata dengan santainya dan Alba kembali menepuk bahunya Adam, "Jangan bercanda! Aku beneran takut nih"
Adam terkekeh geli dan tanpa sadar ia mengusap rambutnya Alba.
Nindya memandang kebersamaan Adam dan Alba dengan penuh kecemburuan.