I Love You, Adam

I Love You, Adam
Cokelat Hangat



"Bel, kok ada di sini?" Alba menyapa Bella dengan napas terengah-engah. Bukan karena ia habis berlari, tapi napas terengah-engahnya lebih mewakili rasa canggung dan panik di hatinya saat ia melihat mantan tunangan dari kekasihnya, berdiri di depannya.


Bella tersenyum lalu berkata dengan wajah sendu yang menyimpan kesedihan yang begitu mendalam, "Kata orang, musik adalah self healing yang bagus bagi orang yang sedang patah hati. Makanya aku mendaftar les musik di sini. Aku ambil les drum untuk bisa meluapkan semua rasa sedih, sakit hati, dan rasa kecewaku dengan cara menggebuk drum"


"Oh! Begitu ya" Sahut Alba masih dengan sikap canggungnya.


"Iya. Aku akhirnya diputuskan oleh Adam Baron tunanganku. Mungkin memang lebih baik aku dan Adam putus karena, Adam tidak pernah mencintaiku. Tapi, tetap saja aku sedih dan kecewa bahkan masih merasa nggak rela kehilangan Adam Baron karena, aku masih sangat mencintainya"


Alba tertegun dan mematung mendengar ucapannya Bella Fastro. Alba merasa seperti seorang perampok yang telah merampok laki-laki pujaan hatinya Bella Fastro.


Bella lalu menepuk pundaknya Alba sembari melangkah keluar, kemudian Bella memekik kencang, "Aduh! Kok hujan?! Mbak, pinjam payung boleh?" Bella menoleh ke gadis manis yang berjaga di meja pendaftaran.


Alba langsung berputar badan karena kaget mendengar teriakannya Bella. Kemudian dengan refleks super cepat, Alba mengambil payung dan mengajak Bella keluar lalu membuka payung itu sambil berkata, "Aku akan payungi kamu sampai ke mobil, Bel"


"Terima kasih ya, Ba" Bella tersenyum manis ke Alba.


Setelah Bella masuk ke dalam mobil dan mobilnya Bella berlalu dari hadapannya Alba, Alba segera berlari menyeberang jalan menuju ke halte sambil membawa payung. Hujan kembali turun dengan sangat deras dan dia berdiri di depannya Adam dengan mimik wajah penuh dosa dan rasa bersalah karena, ia meninggalkan Adam di halte sendirian di tengah hujan, "Maafkan aku! Kamu kehujanan, nggak?"


Adam berdiri dan mengambil alih payung yang Alba pegang lalu ia memayungi Alba dan sambil merangkul bahunya Alba, dia tersenyum lalu mengajak Alba menyeberang menuju ke studio musik dengan senyum tanpa kata.


Setelah sampai di dalam studio musik, Alba langsung berlari masuk ke dalam dan beberapa menit kemudian, dia berjalan menuju ke Adam sambil membawa satu mug berwarna putih berisi cokelat hangat, "Kamu minum dulu cokelat hangat ini"


"Cokelat hangat bikinan Mbak Alba enak banget lho, Mas Bule" Seorang gadis yang berjaga di meja pendaftaran, mengeluarkan suara sambil tersenyum manis ke Alba.


Alba membalas senyuman juniornya yang berjaga di meja pendaftaran itu, lalu menoleh ke Adam.


Adam menyesap cokelat hangat yang dibuat oleh Alba lalu tersenyum ke temannya Alba, kemudian berkata, "Hmm! Bener banget. Ini cokelat terenak di dunia. Numero Uno"


Alba tersenyum senang. Adam ternyata memang sudah banyak berubah. Adam bersedia menimpali celotehan juniornya. Kalau itu adalah Adam yang dulu, pasti ia akan berlalu pergi tanpa kata dan tanpa menatap lawan bicara yang belum ia kenal.. Bahkan Adam bersedia memberikan senyuman kepada temannya Alba yang belum pernah Adam temui dan Adam kenal itu.


"Sayangnya, Mbak Alba harus ngajar bentar lagi. Kalau nggak, aku minta dibikinin juga" temannya Alba yang bertugas di meja pendaftaran itu meringis ke Alba.


"Eh! Nggak boleh minta dibikinin sama Alba! Alba hanya boleh........"


Alba langsung menutup mulutnya Adam dengan telapak tangan kanannya, lalu berkata, "Tolong jaga pacarnya Mbak, ya?! Kalau rewel, kasih aja permen"


Adam tersenyum semringah mendengar Alba mengakuinya sebagai pacar di depan orang lain. Adam lalu berkata dengan semringah, "Aku pacarnya Mbak Alba yang pinter bikin cokelat panas ini"


"Iya saya tahu, Mas Bule" Sahut gadis penjaga meja pendaftaran itu.


"Dan jangan panggil aku Mas Bule! Namaku Adam Baron. Siapa nama kamu, adik kecil? Kamu pasti masih SMA, kan?"


"Enak aja! Aku udah kuliah semester satu, Mas Bule. Namaku Indah. Seindah orangnya, kan?" Gadis yang bernama Indah itu menggerak-gerakkan kedua alisnya di depan Adam


Alba menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyolnya Indah. Dan terus tersenyum senang melihat Adam sudah bersedia membuka diri untuk berteman.


Adam tersenyum tipis lalu merangkul bahunya Alba, "Bagiku, makhluk paling indah di muka bumi ini adalah Mbak Alba yang pinter bikin cokelat panas ini"


"Dan bagi pacarku, aku juga makhluk yang paling indah di muka bumi ini, weeekkk!" Indah menjulurkan lidahnya ke Adam dengan wajah kesal lalu pergi meninggalkan Alba dan Adam begitu saja untuk membuat cokelat panas di pantry.


Alba terkekeh geli dan berucap, "Masak sih? aku seceriwis itu, ya"


"Hmm" Adam menganggukkan kepalanya sembari menyesap kembali cokelat panas buatannya Alba, "Terima kasih cokelat panasnya. Enak banget. Manisnya pas kayak kamu" Adam lalu mengecup pipinya Alba.


Alba tersentak kaget dan menepuk bahunya Adam, "Apaan sih? Jangan cium-cium di tempat umum! Aku akan mengajar dulu. Satu murid di jam ini dan satu murid lagi setelahnya. Lalu kelar"


Adam mengusap puncak kepalanya Alba dan berkata, "Iya. Aku akan tunggu kamu di sini. Lagian ada Indah, dunia nggak akan sepi"


Alba terkekeh geli lalu meninggalkan Adam sendirian duduk di depan meja pendaftaran.


Seorang wanita muda duduk di sebelahnya Adam. Adam mengacuhkannya karena ia tengah asyik menyesap cokelat panas buatannya Alba. Adam tersenyum membayangkan manisnya senyumannya Alba setiap kali ia menyesap cokelat panasnya.


"Maaf Pak Adam Baron, kan?" suara seorang wanita mengagetkan Adam dari lamunannya. Adam langsung menoleh ke samping kirinya dan menautkan alisnya, kemudian bertanya, "Iya benar. Saya Adam Baron. Anda siapa?"


Wanita itu mengulurkan tangannya dan Adam langsung berucap, "Maaf, kedua tangan saya sedang memegang mug ini. Saya tidak bisa membalas uluran tangan Anda" Adam lalu bangkit dan duduk di kursi sebelahnya dan membiarkan kursi yang ada di antara dia dan wanita muda itu kosong.


Wanita muda itu menarik kembali tangannya dan sambil tersenyum ia bangkit, hendak berpindah duduk di kursi yang kosong itu untuk bisa duduk berdekatan lagi dengan Adam.


Adam segera berucap, "Jangan duduk di kursi ini! Kursinya rapuh. Saya pindah karena takut kursi ini tiba-tiba rusak dan saya jatuh ke lantai" Adam terpaksa membohongi wanita muda itu karena, ia tidak ingin duduk berdekatan dengan wanita asing dengan gelagat yang mencurigakan.


Wanita itu mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat duduk dan duduk kembali di atas kursi yang semula ia pakai untuk duduk.


Indah menoleh ke Adam saat ia berjalan melintas di depannya Adam dan berkata, "Aku mengawasimu lho Mas Bule. Awas! jangan main mata sama cewek lain! Aku akan laporkan sama Mbak Alba kalau nakal" Lalu Indah berlalu meninggalkan Adam.


Adam berteriak, "Hei! Siapa yang main mata?!"


Wanita muda yang duduk dengan jarak satu bangku dari Adam tertawa dan berkata, "Anda ternyata bisa cair juga ya, Pak? Anda tidak terlihat seperti Anda saat mengajar di kelas"


"Oh! Anda salah satu mahasiswi yang milih kelas saya, ya?" Adam berucap tanpa tersenyum dan alih-alih menoleh ke wanita muda itu, dia memilih menyesap kembali cokelat hangatnya.


"Iya. Saya muridnya Bapak. Apa Bapak menerima murid les? Ada beberapa mata kuliah yang belum bisa saya pahami dengan baik dan sepertinya saya butuh les private dari Bapak" Sahut wanita muda itu tanpa basa-basi.


Adam langsung menoleh ke wanita itu dengan wajah serius dan berucap, "Saya tidak menerima murid les. Kalau tidak paham, Anda bisa membuka PPT yang saya bagikan di grup, kan?"


"Saya masih belum paham, Pak. Apa Bapak ada acara setelah ini? Saya juga murid les di sini dan saya udah selesai lesnya. Apa kita bisa makan bareng sambil membahas mata kuliah yang belum saya pahami, sekarang? Saya akan traktir Bapak" wanita asing itu tersenyum menggoda ke Adam.


"Tidak bisa! Saya juga les di sini dan sepertinya saya harus masuk ke kelas sekarang. Pacar saya menunggu di sana" Adam lalu bangkit dan segera berlari kecil meninggalkan wanita muda itu untuk masuk ke kelas yang ditunjuk oleh Indah.


Indah mengacungkan ibu jarinya dan berkata, "Good job Mas Bule! Kamu tidak tergoda rayuannya. Cewek itu cewek nggak bener"


Adam menepuk dadanya dan sambil tersenyum dia berucap, "Di hatiku hanya ada Alba Anindya seorang"


"Lebay! Sudah sana masuk! Mbak Alba sudah menunggu" Indah terkekeh geli melihat sikap konyolnya Adam.


Adam tersenyum lebar ke Indah lalu melangkah masuk ke dalam kelas dan Alba terkejut melihat Adam, "Kok kamu masuk ke sini? Ada apa?"


"Aku murid les kamu yang terakhir di hari ini" Adam meringis ke Alba dan Alba langsung menarik rahangnya ke bawah, kemudian mengeluarkan kata, "Hah?!"