I Love You, Adam

I Love You, Adam
Hati Nurani



Tantenya Alba terus menggenggam flashdisk yang berisi rekaman perbuatan tidak terpuji suaminya yang hampir saja merenggut harta paling berharganya Alba.


Flashdisk itu pemberian dari omnya Johny Setiawan yang bekerja di kepolisian.


Tantenya Alba termangu melihat isi flashdisk itu. Di awal dia ingin berdiam diri saja dan bersikap masa bodoh. Dia juga menolak bersaksi di pengadilan karena, dia memang orang yang sangat egois.


Tapi, isi flashdisk dan isi diary milik Alba telah membuka hati nuraninya. Di buku diary-nya, Alba menuliskan kalau Tantenya adalah Dewi penolong baginya. Tantenya telah memberinya tempat untuk berlindung dari panas dan hujan.


"Namun, Tante nggak bisa melindungimu dari hal yang lebih menakutkan daripada panas dan hujan" gumam tantenya Alba sembari mendekap buku hariannya Alba dan menggenggam flashdisk berwarna putih.


Satya dan Adam mulai geram saat mereka dihadapkan dengan tiga orang dosen yang pernah menyatakan cinta ke Alba, namun ditolak semuanya oleh Alba. Ketiga dosen tersebut menyimpan rasa sakit hati dan bersedia bersaksi palsu dengan menyatakan bahwa Alba Anindya adalah wanita penggoda di kampus Merah Putih.


Sedangkan saksi yang mendukung Alba selain Ayu dan Theo, adalah seorang wanita paruh baya tetangga lamanya Alba. Namun, di luar dugaannya Adam, wanita itu memberikan pernyataan yang membuat Alba tertunduk menangis. Wanita paruh baya itu menyatakan kalau dia tidak begitu mengenal Alba dan mengatakan, bahwa bisa jadi Alba Anindya adalah wanita penggoda sama seperti almarhum Mamanya yang mati dibunuh karena telah merusak rumah tangga seseorang.


Adam menatap tajam wanita paruh baya yang adalah tetangga lamanya Alba, yang semula Adam berharap ia akan bersaksi positif tentang Alba Anindya, namun wanita paruh baya itu memberikan kesaksian yang merugikan dan membuat Alba tertunduk menangis. Adam menggebrak meja di depan wanita paruh baya itu dan membentak, "Berani sekali Anda berkata buruk mengenai almarhum Mama klien saya. Itu kan belum terbukti. Kasus itu terbuka lagi dan diperiksa lagi karena ada keganjilan di dalamnya. Klien saya wanita adalah wanita baik-baik. Almarhum Mamanya juga wanita baik-baik. Anda tahu itu, kan? Kenapa Anda memberikan kesaksian palsu? Kenapa!?" Adam kembali menggebrak meja di depan wanita paruh baya itu.


Hakim kepala sampai mengetukkan lalunya di atas meja sambil berteriak ke Adam, "Pengacara Adam Baron! Anda harus menjaga ketertiban di ruang sidang! Anda juga tidak boleh membentak saksi!"


Adam meraup wajahnya lalu menoleh ke Majelis Hakim dan berkata, "Maafkan saya"


Juri mulai meragukan karakternya Alba Anindya.


Satya Wicaksana yang terkenal garang dan tidak bisa ditundukkan di persidangan, pun menjadi tidak berkutik.


Adam lalu menulis note dan menyodorkannya ke meja Majelis Hakim.


Majelis Hakim lalu memanggil pengacara dari si terdakwa dan jaksa penuntut umum untuk maju ke mejanya.


"Pengacara Adam Baron meminta perpanjangan waktu sidang. Kita break dulu satu jam" Hakim kepala membuka suaranya.


Semuanya menyetujui hal itu dan persidangan diundur satu jam ke depan.


Satya menemui Adam dan Alba di ruang khusus. "Kalau seperti ini terus, kita akan kalah"


"Sial! Kenapa wanita itu justru berbalik melawan kita?" Adam memukul tembok berulangkali sampai buku-buku jarinya memar.


"Sepertinya wanita itu disuap oleh pengacaranya Johny Setiawan" sahut Satya.


Adam meraup kasar wajah tampannya degan napas menderu karena dirinya terbakar emosi yang sangat besar.


Alba pingsan saat bangkit setelah ia mendengar nama baik almarhum mamanya kembali diragukan di depan publik.


Satya menoleh ke sofa. Alba masih pingsan di sana.. Satya ingin menggendong dan membawa kabur Alba saat itu juga untuk lari dari semua permasalahan yang ada, namun akal sehatnya Satya menahannya untuk berbuat nekat.


Satya melihat Adam membelai pipinya Alba dengan wajah sedih. Dia juga ingin melakukan hal yang sama karena, ia juga sangat menyayangi dan mencintai Alba.


"Aku bawakan minyak kayu putih. Kau bisa sadarkan Alba dengan ini" Sahut Satya.


Adam menerima minyak kayu putih itu dan membuka tutup botolnya, kemudian dia goyang-goyangkan ujung botol minyak kayu putih yang telah terbuka di depan kedua lubang hidungnya Alba beberapa kali membuat Alba akhirnya membuka kedua kelopak matanya.


"Syukurlah kau sudah sadar" Adam dan Satya berucap secara bersamaan.


Adam lalu membangunkan Alba dengan hati-hati dan memeluk Alba dengan tanya, "Apa yang kau rasakan?"


Alba diam membisu dan Adam langsung mengepalkan tinjunya menahan kesedihan dan amarahnya melihat Alba shock.


"Aku akan belikan teh hangat" Satya bergegas berlari keluar dari ruangan itu untuk membeli teh hangat di kantin.


Ayu dan Theo masuk ke dalam ruangan dengan wajah sedih. Ayu gantian memeluk Alba saat telepon genggamnya Adam berbunyi dan Adam langsung menoleh ke Ayu dengan kata, "Tolong jaga Alba sebentar! Aku akan menerima telepon"


Satya menuju ke ruang kerjanya, menguncinya dan berteriak sekencang-kencangnya di sana. Dia bebas berteriak di dalam ruang kerjanya karena ruang kerjanya kedap suara.


Satya meluapkan semua emosinya dengan berteriak sekencang-kencangnya lalu ia duduk lemas di atas sofa dan bergumam, "Kenapa aku terlambat menemukanmu? Kenapa takdir mempermainkan aku sedemikian menggelikan? Kenapa aku diijinkan memiliki perasaan cinta ini, tapi tidak diijinkan memilikinya? Kenapa aku diijinkan melihat dia menderita, tapi tidak diijinkan untuk bertemu dengannya lebih cepat? Dasar takdir gila!!!!"


Setelah berhasil menenangkan emosinya, dia bangkit, membawa satu cup jumbo berisi teh hangat, keluar dari dala ruangannya untuk melangkah menemui Alba kembali.


Ayu menoleh ke pintu masuk saat Satya bertanya, "Kalian sudah makan?"


Theo yang menjawab pertanyaan itu, "Kami semua malas makan"


Satya masuk dan memberikan teh hangat ke Alba, "Minumlah dulu kalau kau tidak mau makan apapun! Yakinlah kita akan menang karena, orang baik itu kesayangannya Tuhan jadi, Tuhan akan membuka jalan kemenangan bagi kita"


Ayu menerima cup besar berisi teh hangat itu dan membantu Alba untuk menyesapnya.


Perasaan Alba menjadi sedikit enakan setelah meneguk beberapa tetes teh hangat.


Adam masuk ke dalam ruangan itu dan berkata, "Sidang lima belas menit lagi akan dimulai, kita semua harus masuk"


Satya menepuk pundaknya Alba dan berkata, "Kakak akan berjuang membela kamu, jangan takut!"


Alba menoleh ke Satya dan berucap lirih dengan senyum lemas "Terima kasih Kak"


Saat masuk ke ruang sidang dan duduk di kursinya kembali, Alba terkejut melihat tantenya duduk di antara para pengunjung. Mereka bersitatap dan Tantenya Alba menganggukkan kepalanya ke Alba dan tersenyum penuh arti ke Alba.