I Love You, Adam

I Love You, Adam
Memesona



Bella melepas ciumannya lalu menatap Adam yang masih terpaku dengan tatapan mata yang menjurus jauh di belakangnya Bella.


Bella menoleh ke belakang lalu menoleh ke Adam, "Kamu melihat apa?" Bella bertanya sembari mengusap bibirnya Adam yang terkena semburat lipstick pink yang dia usapkan di bibirnya sore itu. "Kamu jadi tampak ayu kalau bibir kamu kena lipstick kayak gini. Aku usap ya, biar jadi ganteng lagi, heeee" Bella tersenyum cerah.


Adam masih membeku dan membiarkan Bella mengusap bibirnya.


Dan di saat Bella mengusap tengkuknya, Adam tersadar dari kebekuannya. Dia mendorong pelan tubuh Bella, menatap Bella dan berkata, "Aku akan menemui klien dengan Pambudi sebentar lagi. Kamu pulang aja dulu, ya?" Adam lalu memutar paksa tubuh Bella dan mendorong tubuh tunangannya itu menuju ke pintu depan.


Bella mengerem langkahnya di depan pintu keluar dan memutar badan untuk memandangi wajah pujaan hatinya lalu berkatalah ia, "Aku akan pulang, tapi kalau aku telpon angkat, ya?! Jangan menghilang lagi kayak kemarin"


"Hmm" Adam menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat karena ia ingin Bella segera beranjak pergi dari rumahnya dan ia ingin segera menemui Alba.


Bella mengusap singkat pipinya Adam lalu melangkah masuk ke dalam mobilnya dan Bella meninggalkan Adam.


Adam bergegas masuk, mengunci pintu depan dan berlari menuju ke kamarnya. Dia mengetuk pintu kamarnya, "Ba, kita perlu bicara. Tolong buka pintunya!"


Tidak ada sahutan dari dalam. Adam mencoba menggerakkan handle pintu dan terbukalah pintu kamarnya. Adam tidak menemukan Alba di dalam kamar itu. Adam keluar dari dalam kamar dan menutup pintu itu dengan bergumam, "Alba ke mana?"


Adam mencari Alba ke dapur, ruang keluarga, dan dia tersenyum lega saat ia menangkap sosok Alba tengah berlarian di teras belakang rumahnya mengejar kelinci kesayangannya.


Adam melangkah ke teras belakang dan tersenyum melihat Alba terus mengejar kelincinya sambil berkata, "Jangan lari lagi! Berhentilah! Aku cuma ingin mengelus kamu"


Adam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya dan berkata, "Jangan dikejar! Berdiam dirilah, Baba akan merasakan ketulusan kamu kalau kamu nggak akan menyakitinya dan ia akan menghampiri kamu dengan sendirinya"


Alba tersentak kaget, dia mengerem laju larinya dan berbalik badan untuk menatap Adam.


Adam tersenyum lalu berkata, "Iya! Berdiam dirilah seperti itu! Baba akan menghampiri kamu sebentar lagi"


"Baba? Nama kelinci kamu, Baba? dia cowok ya?"


Adam tersenyum lebar lalu berkata, "Dia cewek"


"Kok namanya Baba?" Alba menoleh ke Kelinci putih yang pelan-pelan melompat ke arahnya.


"Kamu lupa dengan nama kamu sendiri? Dulu kalau kamu menjengkelkan dan bikin aku kesal, aku panggil kamu Baba, kan? Dan kalau aku bikin kamu kesal, aku, kamu panggil Paijo. Ingat?"


Alba berkata acuh tak acuh, "Masak sih? Aku udah lupa" Alba lalu berjongkok dengan pelan saat kelinci putihnya Adam ada di samping tumit kakinya. Alba tersenyum lebar saat ia berhasil mengelus kepala kelinci putih yang gemuk menggemaskan itu.


"Kelinci itu persis sama kayak kamu. Menggemaskan sekaligus sering bikin aku kesal. Kalau dikejar dengan penuh gairah dia justru lari menjauh, tapi kalau didiamkan, dia justru mendekat. Persis kayak kamu"


Alba menoleh ke Adam dengan kerucut di bibirnya. Lalu ia berkata, "Aku tidak pernah mendekatimu"


Adam tersenyum geli lalu laki-laki tampan itu melangkah mendekati Alba, ikut berjongkok di sebelah pujaan hatinya dan menoleh ke Alba, "Kenapa tadi kamu berbalik badan dan lari saat kamu melihat Bella menciumku? kamu cemburu?"


"Tidak! Aku tidak cemburu. Untuk apa aku cemburu. aku tidak berhak cemburu karena, kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kita hanya teman, kan?" Alba berucap tanpa menoleh ke Adam dan terus mengelus kelinci putihnya Adam.


"Teman? Benarkah? Berhentilah membohongi dirimu sendiri, Ba! Kamu masih mencintaiku, kan?"


Alba berdiri dan Adam pun ikutan berdiri. Alba bersedekap dan berkata, "Kamu tadi berciuman dengan tunangan kamu dan........"


"Ralat! Bukan berciuman. Bella menciumku" Adam ikutan bersedekap di depannya Alba.


"Apa bedanya? Intinya bibir kalian saling menempel dan........"


"Beda! Kalau berciuman, aku membalas ciumannya Bella, tapi aku tidak membalasnya tadi"


Adam mengejar Alba dan di saat ia hendak mengetuk pintu kamarnya, dia mendengar bel rumahnya berbunyi nyaring. Adam menghela napas panjang lalu berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


Pambudi tersenyum di depan Adam. Adam menghembuskan napas kesalnya dan berucap, "Kau urus Alba! Aku akan keluar sebentar cari udara segar. Kalau pergi ke rumah sepupu kamu, jangan lupa kunci pintu rumah dan serahkan kuncinya ke aku, nanti!"


Pambudi mengikuti arah perginya Adam dengan tautan alisnya. Setelah mobil Adam tidak nampak lagi di halaman depan, Pambudi masuk dan menutup pintu depan.


"Non! Non Alba, Anda di mana? Kita harus ke rumah sepupu saya sekarang"


Alba membuka pintu kamarnya Adam dan bertanya, "Adam mana?"


"Pak Adam pergi. Mau cari udara segar katanya"


"Baiklah! Ayok kita pergi sekarang aja kalau gitu"


Pambudi mengunci pintu rumahnya Adam lalu membawa Alba pergi ke rumah sepupunya.


"Aku tidak punya baju ganti dan uangku cuma cukup buat beli baju di pasar. Mampir ke pasar dulu, bisa?"


Pambudi menoleh sekilas ke Alba dan berkata, "Pak Adam sudah menyuruh saya membelikan semua kebutuhan Anda. Dari bedak, dia masih hapal bedak yang Anda pakai lho Non, lalu ia juga beli beberapa baju, celana, sandal sepatu, handuk, peralatan mandi, semua sudah siap. Bahkan pembalut juga sudah disiapkan oleh Pak Adam" Pambudi yang masih lugu berkata apa adanya di depan Alba dan membuat Alba tersenyum geli.


"Pak Adam saya lihat sangat tulus mencintai Anda, Non"


"Aku tahu. Tapi, dia harus bisa mengubur cintanya untuk aku karena, kami tidak mungkin bersatu" sahut Alba.


"Kenapa?" tanya Pambudi.


"Karena, dia cinta pertamaku dan aku cinta pertamanya. Cinta pertama itu, biasanya nggak akan pernah bisa menyatu"


"Oh! Gitu ya Non? Waduh! Saya harus cari cinta kedua aja kalau gitu. Tapi, gimana caranya cari cinta kedua kalau belum ketemu cinta pertama dan kenapa harus.......Ah! pusing saya memikirkan soal cinta"


"Hahahaha, kamu itu lucu dan polos ya. Saranku jangan jatuh cinta dulu, fokus aja sama studi kamu karena, jatuh cinta itu hanya akan membuat runyam hidup kita"


"Ah! Iya Non. Saya rasa Anda benar" sahut Pambudi dengan senyum lebar di wajah bulatnya.


Adam sampai di bar Black Schull. Adam menghampiri Satya yang tengah duduk menunggunya.


Adam duduk dan memesan minuman yang sama dengan Satya.


Satya menoleh heran ke Adam, "Minuman ini sangat keras. Ambang batas alkohol kamu kan tidak tinggi. Minum bir kalengan satu aja, kamu udah mabuk"


"Aku ingin mabuk parah malam ini. aku ingin melupakan sejenak kekesalanku hari ini"


"Apa yang sudah membuatmu kesal?"


"Alba Anindya. Dia terus menjauhiku, menolakku, dan membohongi perasaannya sendiri. Aku tahu pasti, dia pun masih sangat mencintaiku, tapi dia terus menutup hati dan dirinya dan mendorongku untuk menjauhinya"


"Kamu harus memahaminya kalau kamu benar-benar mencintainya. Beri dia waktu dan tempel terus dia setelah kamu putus dengan Bella"


Beberapa menit kemudian, Satya menelepon Pambudi, "Kirimkan alamat sepupu kamu! Adam mabuk dan dia meracau memanggil-manggil nama Alba terus"


Alba membukakan pintu dan Satya terkesima melihat wajah Alba.


Pantas saja kalau Adam tergila-gila pada Alba. Wanita ini sangat memesona. Lembut, keibuan, manis, dan imut. Batin Satya.