
Adam duduk di kursi kerjanya menghadap ke Theo yang rebahan di atas ranjang mewahnya Adam. "Kau dan Ayu pernah gituan?"
"Belum dong. Aku sangat mencintai Ayu jadi, aku akan jaga kesucian Ayu sampai kita menikah nanti. Aku kan termasuk laki-laki yang bertanggung jawab" sahut Theo sambil menepuk dadanya dengan wajah bangga.
"Cih! Aku juga sama. Aku juga belum begituan sama Alba karena, aku sangat mencintainya.Aku juga memiliki pemikiran yang sama kayak kamu. Aku akan jaga kesucian Alba sampai pernikahan yang suci mempersatukan kita" Adam pun menepuk dadanya dengan rasa bangga.
"Tapi, kalau nggak khilaf. Aku nggak pungkiri kalau aku seringkali hampir khilaf dan aku bersyukur Ayu bisa menahan diri dan mengingatkan aku. Kalau nggak, bisa bablas dan kamu akan punya keponakan dariku"
"*Cih! Keponakan apa? Kita nggak ada hubungan saudara. Berteman denganmu saja aku terpaksa" Adam mendengus kesal dan Theo langsung tertawa terbahak-bahak.
Theo lalu bangun dan duduk di atas ranjang, lalu bertanya, "Lalu kamu dan Alba udah sampai tahap apa?"
"Ciuman" Sahut Adam dengan bangga.
"Cih! Sampai tahap ciuman aja bangga. Aku kira kamu udah sampai tahap hampir khilaf kayak aku. Otak kamu normal, kan?"
"Dasar gila! Tentu saja otakku normal dan otak kamu tuh yang nggak normal, cih!" Adam kembali mendengus kesal.
Theo kembali melepas tawa renyahnya, kemudian berkata, "Kalau berpacaran cuma sampai tahap ciuman doang, kurang seru. Nggak ada sensasinya. Kalau sayur tuh kurang bumbu. Harus ada berdesir-desir dikit dan hampir khilaf. Cobalah! Itu asyik"
"Dasar otak mesum. Udah kamu tidur aja. Aku akan tidur di sofa ruang keluarga" Adam bangkit mengambil bantal dan selimut lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya diiringi gema tawanya Theo.
Theo lalu bergumam, "Aku yakin setelah ini kau tidak bakalan bisa tidur. Kau akan kebayang-bayang ucapanku, hihihihi" Theo lalu merebahkan kembali dirinya di atas ranjang mewah bergaya klasik.
Ayu tipe wanita yang mudah sekali tidur. Kalau kata orang-orang di luar sana, tipe *****, nempel langsung molor. Alba melirik jam di dinding dan bergumam, "Udah jam sepuluh malam, tapi kenapa aku belum bisa tidur dan merasa gelisah? Apa terjadi sesuatu sama Adam dan Adam nggak cerita ke aku karena, takut kalau aku khawatir?"
Dan benar apa kata Theo, Adam tidak bisa memejamkan kedua matanya dan memilih duduk di sofa alih-alih merebahkan tubuh lelahnya. Dia ingin menikahi Alba secepatnya, namun dia belum mengenalkan Alba ke Papanya. Dia tidak ingin berpacaran terlalu lama dengan Alba karena, ia tidak ingin jika kelamaan berpacaran ia akan sampai di tahap hampir khilaf seperti Theo. Lagipula Alba sudah tidak memiliki tempat tinggal. Satu-satunya kerabat Alba yang masih tersisa adalah tantenya dan tantenya itu telah memilih pergi meninggalkan Alba sendirian tanpa sanak saudara. Adam ingin memberikan tempat tinggal untuk Alba dengan cara menikahi Alba dengan begitu ia bisa tinggal satu atap dengan Alba dan melindungi Alba dari bahaya apapun di dunia ini.
Adam tersentak kaget saat telepon genggamnya berdering sangat nyaring. Ia mengangkat panggilan masuk di telepon genggamnya, panggilan itu dari pemilik yayasan pendidikan Merah Putih. "Pak Adam Baron, permintaan Anda sudah saya laksanakan dengan baik. Kedua dosen yang Anda sebutkan tadi, yang telah memberikan keterangan palsu di pengadilan, sudah saya mutasi ke pedalaman mulai besok. Terima kasih atas informasinya, Pak Adam Baron. Kampus Merah Putih bisa terhindar dari pendidik tak bermoral macam mereka"
"Sama-sama Pak. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih karena Bapak sudah bersedia langsung bertindak"
"Sama-sama Pak Adam Baron"
Klik! Adam pemilik yayasan pendidikan Merah Putih memutuskan sambungan teleponnya dengan Adam Baron.
Adam lalu menelpon Pambudi, "Di, gimana dengan tetangganya Alba yang memberikan keterangan palsu di pengadilan? Kau sudah mendapatkan bukti kalau dia menerima suap dari pengacaranya Johny Setiawan?"
"Sudah Pak eh Kak, eh udah bener Pak, ding" Sahut Pambudi.
"Kalau kamu mau panggil aku Kak, panggil aja Kak. Nggak papa, kok" Sahut Adam.
"Ah benarkah? Beneran boleh?"
"Wah! Makasih Kak Adam!" Pambudi memekik girang.
"Lalu gimana dengan wanita itu? Sudah kau ajak bicara? Kalau dia tidak mau memberikan pernyataan maaf di semua media sosial terkait pernyataan palsunya soal Alba dan Mamanya Alba, maka masukkan perkara penyuapan yang ia terima ke pihak yang berwajib!"
"Sudah Kak dan dia bersedia memberikan pernyataan maaf di semua media sosial besok"
"Bagus. Makasih Di" Klik! Adam memutuskan sambungan teleponnya dengan Pambudi.
Pambudi tertegun menatap layar ponselnya, "Pak Adam sudah membolehkan aku memanggilnya Kakak dan mulai sering banget mengucapkan kata terima kasih, padahal dulu nggak pernah sekali pun dia mengucapkan kata terima kasih. Ah! Non Alba memang banyak membawa perubahan positif ke Kak Adam" Pambudi tersenyum lebar sembari memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku celana kainnya.
Saat Adam hendak merebahkan diri di atas sofa, Alba melintasi ruang keluarga dan menoleh. Alba lalu membelokkan langkahnya ke ruang keluarga, meletakkan gelas yang ia genggam di atas meja, lalu duduk di sebelahnya Adam dan bertanya, "Kok tidur di sini?"
"Aku malas tidur dengan Theo. Nggak bangun nggak tidur, dia berisik banget" sahut Adam.
Alba terkekeh geli lalu bertanya, "Kau mau aku bikinkan teh atau kopi?"
"Hmm. Aku akan membantu kamu" Adam lalu bangkit dan berjalan bergandengan tangan dengan Alba menuju ke dapur.
Alba memasak air lalu memasukkan satu sendok teh kopi dan dua sendok teh gula ke dalam dua cangkir kecil di depannya.
Adam memeluk Alba dari belakang lalu meletakkan dagunya di atas pundaknya Alba dan bertanya di sana, "Ba, kita belum membicarakan soal tempat tinggal untuk kamu"
Saat Alba hendak membuka mulut untuk berucap, ceret bersiul nyaring menandakan air yang ia masak telah matang. Alba berbalik badan untuk mematikan kompor dan Adam terus menempel ke Alba dan mengikuti ke arah manapun tubuh Alba bergerak dan berputar.
Alba berkata, "Awas! Jangan banyak gerak! Aku bawa ceret berisi air panas. Aku akan tuangkan ke cangkir"
"Hmm" Adam berucap dengan dagu masih menempel di atas pundaknya Alba.
Lalu Alba mengaduk kedua cangkir di depannya sambil berucap, "Besok aku akan cari kost. Kamu bisa bantu aku cari kost, kan?"
Adam langsung mengangkat dagunya dan memutar badannya Alba untuk menghadap dirinya dan ia langsung berkata, " Nggak! Kost-kostan itu nggak aman untuk kamu. Kalau ada kejadian mengerikan lagi gimana? Kalau kamu pulang malam dan .........."
Alba langsung menangkup wajah tampannya Adam dengan kedua telapak tangannya, "Aku ini udah punya pengalaman mengerikan jadi, ke depannya aku akan bisa lebih berhati-hati lagi"
Adam menggelengkan wajahnya yang masih berada berada di tengah telapak tangan kanan dan kirinya Alba.
"Dam, aku nggak mungkin tinggal satu atap terus denganmu. Aku juga nggak mau kamu belikan rumah untuk aku. Jangan lakukan itu! Kita belum menikah dan......."
"Kalau gitu kita nikah aja besok, oke?"
Permintaan Adam Baron membuat Alba Anindya tertegun.