I Love You, Adam

I Love You, Adam
Ciuman Kerinduan



Alba duduk di depan meja kecil yang ada di dalam kamarnya yang sempit dan menatap dua buah foto di atas mejanya. Satu adalah foto dirinya waktu masih kecil bersama dengan Mama dan Papanya dan yang satunya lagi adalah foto dirinya dengan Adam Baron kala masih duduk di bangku SMA. Foto dirinya dan Adam itu adalah foto hasil editannya Adam dan Adam pasang di layar ponselnya Adam saat itu dan membuat wajah Alba memerah seharian kala itu karena Adam terus mengatakan kalau dirinya manis dan imut.



Adam mengambil fotonya Alba secara sembunyi-sembunyi kala itu dan menyatukan foto dirinya dengan Alba di layar ponselnya lalu ia pakai foto hasil editannya itu menjadi wallpaper di ponselnya.


Alba tanpa sengaja melihat ponselnya Adam dan langsung bertanya, "Lho! Itu kan aku? Kok bisa ada di ponsel kamu dan jadi satu dengan gambar kamu?"


Adam langsung menyembunyikan ponselnya di baik punggungnya dengan wajah merah dan berkata, "Aku ingin mengambil gambar pemandangan tapi malah dapat foto kamu"


"Halah! Alasan kan? Kenapa nggak pernah mau kalau diajak selfie bareng tapi malah curi-curi foto dan kamu edit kayak gitu, pfftttt! Kamu lucu, Dam" Alba mengulum bibir menahan rasa gelinya.


"Aku nggak suka difoto dan nggak suka selfie. Diedit kayak gini kan malah bagus" Tanpa sadar, Adam menunjukkan layar ponselnya ke Alba.


Alba mengambil ponselnya Adam lalu menatap lekat-lekat gambar hasil editannya Adam dan berkata, "Iya bagus banget gambarnya. Aku minta, boleh?"


"Kamu kirim aja sendiri ke ponsel kamu!" Adam tersenyum ke Alba.


Alba lalu memencet-mencet layar ponselnya Adam dan mengembalikan ke Adam ponsel itu dengan kata, "Udah aku kirim ke ponselku. Aku juga mau pakai gambar hasil karya kamu ini jadi wallpaper di ponselku" Alba berucap sambil memencet-mencet ponselnya


Alba mengangkat wajahnya sembari menunjukkan layar ponselnya ke Adam, "Udah nih! Wallpaper di ponsel kita, punya gambar yang sama. Makasih, ya"


"Makasih aja?" Adam menautkan alisnya.


"Iya makasih. Lalu apalagi?" Alba mengerutkan keningnya.


Adam mengetuk pipinya sambil menundukkan wajahnya, "Cium dong!"


Alba lalu mencium pipinya Adam dengan cepat dan berbalik badan kemudian berlari kecil meninggalkan Adam dengan tawa riangnya. Adam menyusul Alba dan berkata, "Kamu manis kalau dicandid"


"Lalu kalau nggak dicandid, jelek?" Alba mengerucutkan bibirnya di depan Adam sembari menghentikan laju larinya untuk berjalan beriringan dengan Adam yang telah menggandeng tangannya.


"Manis. Kamu manis dari sejak pertama aku bertemu denganmu" sahut Adam sambil mengacak-acak rambutnya Alba yang dikucir rapi.


Alba merengut, "Ah! Jadi rusak kan tatanan rambutku" Adam tertawa senang lalu mencium pipinya Alba dan berlari kecil meninggalkan Alba dengan tawa riang. Alba mengejar Adam dengan tawa riang pula.


Dan di sepanjang hari di kala itu, Adam terus mengatakan kalau Alba manis dan membuat wajah Alba merona merah di sepanjang hari di kala itu.


Alba tersentak kaget saat merasakan kedua pipinya terkena kehangatan air matanya. Alba lalu mengusap air mata itu dan tersenyum sendiri sambil bergumam, "Semuanya tinggal kenangan. Kebahagiaanku bersama Mama dan Papa hanyalah sekejap dan kebahagiaanku bersama dengan pria yang sangat aku cintai yaitu Adam Baron juga hanya bisa aku rasakan sekejap saja. Apa aku memang ditakdirkan untuk tidak pernah merasakan kebahagiaan lagi ke depannya?"


Adam mengelus gambarnya Alba dan bergumam, "Kamu masih awet manis tapi, sekarang ini, kamu tampak sangat kurus, Ba. Aku sangat ingin mengobrol dan bercanda ria denganmu lagi tapi, akankah keinginanku ini tercapai?"


Pesta ulang tahunnya Bella Fastro akhirnya tiba. Pesta tersebut dirayakan di halaman belakang rumah megahnya Bella Fastro dan Bella hanya mengundang saudara dan kolega dekatnya saja. Di tengah taman nan indah yang ada di halaman belakang kediaman luasnya keluarga Fastro, terpasang piano besar berwarna hitam.


Bella terus menggandeng lengannya Adam dan tidak berniat sedikit pun untuk melepaskan Adam berkeliaran sendirian di pesta ulang tahunnya. Adam dan Bella memakai topeng berwarna hitam. Adam dan Bella tampak serasi dan tidak sedikit orang yang mengatakan kalau Adam Baron dan Bella Fastro adalah pasangan yang sangat serasi dan tampak sangat sempurna.


Pandangan Adam terus tertuju pada seorang wanita yang memiliki postur tubuh mirip dengan Alba Anindya, dengan memakai topeng berwarna putih dan dress panjang sampai tumit kaki dengan warna senada dengan topengnya. Wanita itu lalu duduk di depan piano.


Melihat pianis yang dia sewa sudah datang, Bella mengajak Adam diikuti dengan kedua orang tua mereka naik ke podium. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan iringan piano dan setelah memotong kue, Bella menyerahkan potongan kue pertama ke Adam dengan mengumumkan ke semua tamu undangannya bahwa ia dan Adam Baron akan segera menikah.


Alba yang tengah memainkan instrumen sebuah lagu dengan pianonya merasa kaget dengan berita itu tapi, ia berusaha keras untuk tetap tenang dan terus memainkan pianonya dengan indah. Jari-jari lentiknya Alba tanpa Alba sadari terus menjadi pusat perhatiannya Adam. Letak piano itu berdampingan dengan letak podium yang bisa dibongkar pasang jadi, Adam bisa menikmati tarian indah jari jemari lentiknya Alba di atas hitam putih tuts piano.


Adam menyentuh cincin perak yang tidak pernah ia lepas di jari manis tangan kirinya sejak pertama kali ia memakainya. Cincin itu pemberiannya Alba. Adam lalu fokus ke jari manis tangan kirinya Alba, ia melihat di jari manisnya Alba tidak ada cincin yang serupa dengan cincin yang melingkar di jari manisnya dan Adam langsung kecewa.


Dia benar-benar sudah melupakan aku. Padahal aku selalu memakai cincin ini dan tidak pernah melepaskannya. Batin Adam dengan wajah penuh dengan kesedihan dan kekecewaan.


Dan saat waktu makan siang tiba, Adam melihat Alba meninggalkan piano dan Adam langsung berlari turun dari podium menyusul Alba begitu Bella melepaskan lengannya untuk menerima ucapan selamat dari temannya Bella.


Alba melepas topengnya di belakang pohon besar dan menatap pemandangan yang ada di depannya dengan bersandar pada pohon itu.


Adam berdiri di depannya Alba dan Deg! Adam melihat cincin yang serupa dengannya dipakai Alba di leher cantiknya dipasang di sebuah tali khusus untuk aksesoris berwarna hitam. Pandangan Adam terpaku di kalung lalu ke cincin yang jatuh di atas dadanya Alba.



Alba tersentak kaget melihat Adam tiba-tiba berdiri di depannya dan terus menatap dadanya. Alba lalu tersadar akan kalungnya dan dengan segera ia memasukkan kalung beserta liontin berbentuk cincin perak ke balik dressnya dan saat ia hendak menutupi wajahnya, Adam merebut topeng itu dan ia membuang topeng itu dengan asal.


Alba mengangkat tangan hendak menutup wajahnya dan berbalik badan, namun, dengan cepat, Adam menahan Alba. Kedua mantan kekasih itu saling berpandangan dengan degup jantung yang bertalu-talu.


Adam menyentuh pipinya Alba dan Alba langsung bergetar ketakutan. Adam menautkan alisnya lalu ia nekat mencium bibirnya Alba karena Adam yakin kalau Alba masih mencintainya setelah ia melihat cincin yang serupa dengan cincinnya dipakai oleh Alba sebagai kalung.


Alba tanpa sadar membalas ciumannya Adam karena terhanyut akan perasaan rindu yang begitu besar akan sosoknya Adam, namun tubuhnya bergetar hebat. Tubuhnya Alba langsung memasang alarm kewaspadaan saat ia disentuh oleh lawan jenis karena seringnya pelecehan seksual baik verbal maupun non verbal yang ia terima dari omnya.


Adam bisa merasakan getaran tubuhnya Alba semakin hebat dan ia segera melepaskan ciumannya. ia lalu menangkup wajah manisnya Alba dan bertanya, "Aku hanya mengembalikan cuman yang kau berikan saat aku hendak berangkat ke Amerika tapi kenapa tubuhmu bergetar sehebat ini? Siapa laki-laki yang telah berani menyakitimu? Aku bisa merasakan getaran tubuhmu adalah getaran tubuh ketakutan pada lawan jenis. Katakan Ba! Katakan yang sebenarnya!"


Alba menarik kedua tangannya Adam, mengambil topengnya dari atas rumput lalu berkata dengan membelakangi Adam, "Lupakan aku! Kamu sudah memiliki wanita yang jauh lebih sempurna dariku" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Alba berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Adam sembari memasang kembali topengnya dan kembali duduk di depan piano.


Adam mengusap bibinya sambil bergumam, "Dia membalas ciumanku. Alba masih mencintaiku. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alba" Gumam Adam sambil memakai kembali topengnya dan berjalan santai kembali ke kerumunan tamu undangannya Bella.