I Love You, Adam

I Love You, Adam
Cerita Yang Tersembunyi



"Kita akan ke rumahku dulu.sebentar. Aku mau kasih makan Baba. Baba yang di sini nggak pernah merindukan aku, kan? Tapi, aku yakin banget, Baba yang ada di rumahku akan selalu merindukan aku" Adam berucap sembari mulai melajukan mobilnya dan melirik sekilas Alba.


Alba mendengus kesal dan hanya bisa menghela napas panjang.


"Oh iya! Aku udah katakan yang ingin ku katakan hari ini. Lalu kamu? Apa yang ingin kau katakan?" Adam menoleh sekilas ke Alba.


Alba berucap tanpa menoleh ke Adam, "Nanti kau juga akan tahu"


"Apa sih? Kenapa nggak kamu katakan saja sekarang?"


"Nanti aja. Aku lagi malas debat sama kamu. Aku capek, Dam" sahut Alba.


Setelah sampai di rumahnya. Adam bergegas memberi makan kelinci kesayangannya dan saat ia bangkit dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah, Alba tiba-tiba memeluk Adam dari belakang dan menangis sesenggukan di sana. Adam membeku di dalam keterkejutannya untuk sepersekian detik.


Adam mengelus punggung tangannya Alba yang ada di atas perutnya dan bertanya, "Ada apa?" Adam hendak berbalik badan, namun Alba langsung berucap, "Jangan berbalik badan! Aku tidak ingin kamu berbalik badan"


Adam menghela napas panjang, mengelus punggung tangannya Alba dan bertanya, "Ada apa?"


"Aku ingin memiliki keberanian memeluk kamu seperti ini sedari dulu"


"Lalu kenapa kau tidak memelukku seperti ini sedari dulu? Kau malah mendorongku untuk selalu menjauh darimu. Kenapa, hmm?"


"Karena, aku merasa tidak pantas untukmu, Dam" Alba semakin deras tangisnya, sederas hujan di luar rumah yang sudah mulai turun menyapa bulan baru di pagi hari itu. "Makanya, ijinkan aku memeluk kamu dari belakang seperi ini, sesaat saja"


Adam menghela napas penuh dengan rasa.sedih dan rasa keprihatinan. Dia kembali bertanya, "Sebenarnya apa yang membuat kamu merasa tidak pantas untukku dan kamu memutuskan aku kala itu karena, alasan yang sama, kan?"


"Aku takut menerima reaksi darimu. Aku takut dan malu, Dam" Alba berucap di sela derai air matanya yang turun sederas hujan di hari itu.


Adam masih mengelus punggung tangannya Alba dan berkata, "Aku akan menunggumu dengan sabar sampai kamu bersedia menceritakan semuanya ke aku dan aku akan sabar menunggumu sampai kamu bisa membuka hati kamu untukku lagi. Sekarang biarkan aku berbalik badan untuk memelukmu dan kita harus bergegas ke studio musik, kan? Kamu harus mengajar, kan di jam sembilan? Ini sudah jam delapan lebih lima menit. Kalau kita tidak bergegas ke sana, kamu akan terlambat"


"Jam pertama kosong. Muridku tidak bisa datang karena, sakit" sahut Alba.


Adam mengelus punggung tangannya Alba yang masih memeluk erat perutnya. Lalu laki-laki tampan itu bertanya, "Berarti kita masih punya waktu sekitar satu jam lebih dikit sebelum kita ke studio musik, kan?"


"Iya" Sahut Alba di sela isak tangisnya.


Adam nekat berbalik badan lalu memeluk Alba dan terus mengelus punggungnya Alba sambil berucap, "Aku siap menerima.semua curhatan kamu. Apapun itu, aku tidak akan berubah di dalam memandang kamu. Kamu akan tetap Alba Anindya yang lembut, manis, suci, dan baik hati, di mataku"


Mendengar kata itu, Alba akhirnya luluh dan memutuskan untuk membuka cerita, "Aku takut jika aku ceritakan permasalahan yang sebenarnya, kamu akan membenci Mamaku"


"Ba, selamanya Mama kamu adalah Mamaku juga. Aku sudah menganggap Mama kamu, Mama kedua bagiku. Dan akan selalu aku sayangi sama seperti Mama kamu yang selalu menyayangiku" Adam berucap sambil membelai rambut indahnya Alba dengan penuh kasih sayang.


"Belum bercerita udah mikir yang enggak-enggak dulu" Adam lalu menuntun langkah Alba untuk ia ajak duduk di atas sofa dan ia langsung memeluk bahunya Alba, "Sekarang, aku siap mendengarkan cerita kamu"


"Mama meninggal bukan karena dirampok"


Adam mengusap bahunya Alba dan berkata, "Lalu?"


"Mama meninggal karena ditusuk oleh seorang wanita. Mama berpacaran dengan suami wanita itu dan awalnya, wanita itu membuat skenario seolah-olah penusukkan itu adalah sebuah perampokan karena, tas Mama hilang"


Adam mempererat pelukannya dan berkata, "Lalu?" Di saat ia merasakan tubuh Alba mulai gemetaran.


"Beberapa hari kemudian setelah Mama dimakamkan dan sebelum aku minta putus sama kamu, aku mendengar kabar, kalau wanita itu akhirnya menyerahkan diri karena didera rasa bersalah. Dan wanita itu bercerita kalau ia membunuh Mama, menusuk Mama dan meninggalkan Mama meregang nyawa di lorong jalan yang sepi karena, Mama berselingkuh dengan suaminya. Aku syok berat, marah dan kecewa sama Mama, tapi nggak bisa protes ke Mama karena, Mama sudah meninggal. Tetangga mulai memandang hina diriku dan itulah kenapa, aku meminta putus denganmu. Untungnya Tanteku langsung membawaku ke rumahnya. Pindah ke lingkungan yang baru di mana tidak ada seorang pun yang mengenal diriku dan mengenal almarhum Mamaku"


"Maafkan aku! Aku tidak berada di sisi kamu di hari terberat kamu saat itu. Maafkan aku! Aku datang sangat terlambat. Andaikan kamu ceritakan semuanya ke aku alih-alih minta putus, aku akan pulang, Ba" Adam berucap serius sambil terus membelai rambutnya Alba yang selalu indah dan wangi.


Alba mengangkat wajahnya, "Dan studi kamu akan kacau karena aku. Nggak! Aku nggak mau itu terjadi. Aku nggak mau kamu terbebani dengan masalahku dan kuliah kamu, masa depan kamu hancur, karena, aku. Aku ingin melihatmu sukses seperti sekarang ini, Dam"


Adam mencium keningnya Alba lama sekali. dengan penuh rasa haru berbalut cinta dan kasih sayang yang sangat tulus. Lalu ia bertanya, "Kamu percaya cerita wanita itu?"


Alba mendorong pelan dadanya Adam untuk bisa menatap Adam dengan sorot mata penuh tanda tanya dan Alba langsung berkata, "Apa?"


"Kamu bahkan lebih percaya pada wanita itu daripada Mama kamu sendiri, Ba?"


"Bagaimana aku bisa memercayai Mama. Semua bukti mengatakan kalau Mama memang seorang pe.......dan Mama mati karena dia seorang pe........" Alba tidak kuasa mengucapkan kata pelakor dan air mata mulai mengambang di kedua pelupuk matanya. Adam segera memeluk Alba dan berkata, "Setelah kasus kamu kelar, aku akan buka lagi kasus Mama kamu. Aku yakin Mama kamu adalah korban ketidakadilan. Aku akan buka kasus itu untuk membersihkan nama baik Mama kamu"


"Dan jika ternyata itu semua benar?"


"Nggak! Sekali-kali, tidak Ba! Aku tidak pernah meragukan karakter Mama kamu. Mama kamu wanita yang suci dan baik. Dia nggak mungkin merusak rumah tangga orang"


"Terima kasih, Dam. Aku sudah lega sekarang. Aku lega, kamu tidak membenci aku dan tidak meragukan Mamaku"


Adam memegang kedua bahunya Alba lalu berucap, "Tentu saja aku nggak akan membenci kamu. Aku juga nggak akan pernah meragukan Mama kamu. Jadi, nggak usah malu. Kamu tahu nggak, kamu jelek kalau nangis. Sangat jelek"


Alba terkekeh geli dan menepuk dadanya Adam. Alba merasa lega, akhirnya bisa menceritakan cerita tersembunyi yang selama ini, dia simpan rapat-rapat di dalam hatinya.


Suasana syahdu karena rintik hujan yang juga membawa hawa dingin menyentuh indah hati kedua insan itu. Adam lalu berkata, "Aku akan menelan semua air mata kamu saat ini dan aku nggak akan biarkan air mata kamu mengalir sederas ini lagi" Adam lalu menghapus air mata Alba dengan bibirnya, sampai bibirnya mendarat di salah satu pelupuk matanya Alba. Lalu bibir itu menempel di pangkal hidungnya Alba, terus bergerak turun dan berhenti di pucuknya. Adam bertanya di sana, "Aku tidak tahan lagi untuk tidak mencium kamu, Ba"


Alba diam mematung dengan debaran jantung yang seirama dengan debaran jantungnya Adam...........