I Love You, Adam

I Love You, Adam
Aku Bukan Jodoh Kamu



"Kau! Tega sekali kau berkata seperti padaku setelah apa yang aku lakukan untukmu?" Air mata mulai menetes di kedua pipi mulusnya Bella.


"Maafkan aku. Seharusnya dari dulu aku memutuskan pertunangan kita di saat ada keraguan di hatiku. Aku meragukanmu. Aku ragu kalau kamu adalah tunanganku dan aku meragukan semua cerita kamu tentang pertemuan kita, tentang cinta kita, tentang perjuangan kita di masa lalu. Karena, hatiku tidak pernah berdebar saat aku ada bersama kamu"


"Bagaimana bisa hati kamu tidak berdebar saat bersama denganku? Dan bisa-bisanya kamu meragukan aku, Dam. Aku lah yang ada di sampingmu saat kamu membuka mata kamu setelah kamu tersadar dari operasi, aku lah yang membantumu menjalani masa-masa sulit kamu saat kamu masih duduk di kursi roda. Saat kamu sering mengompol dan buang air besar di celana karena otak kamu belum berfungsi dengan normal. Aku lah yang........."


"Iya. Untuk semua yang telah kau lakukan padaku, semua itu yang telah membuatku bertahan untuk waktu yang sangat lama menjadi tunangan kamu. Karena, rasa terima kasih yang sangat besar dan rasa bersalah, aku telah membuatmu bertahan di sampingku dengan keterpurukanku saat itu. Namun, sampai detik ini, yang ada di hatiku yang ada hanyalah rasa terima kasih yang sangat besar berbalut rasa bersalah. Maafkan, aku" Sahut Adam dengan wajah menyesal dan sedih karena bagaimanapun juga, Bella telah banyak berkorban untuknya dan Bella banyak berjasa di hidupnya.


"Dan ini balasanmu, Dam? Kau putuskan pertunangan kita?" Bella berucap dengan Isak tangis.


"Aku tidak bisa terus menerus membohongi diriku sendiri dan membohongimu. Aku akan membalas semua kebaikanmu, semua rasa, tenaga, dan waktu yang sudah kau korbankan demi aku, dengan cara lain. Aku akan berterima kasih dengan benar untuk menebus rasa bersalahku ini dan......"


"Aku tidak butuh rasa terima kasih dan rasa bersalah kamu, Dam. Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu. Apa salahku? Apa aku salah kalau aku sangat mencintaimu, Dam?"


"Kamu tidak salah. Cinta itu tidak pernah salah kalau dua hati merasakan rasa yang sama, tapi tidak dengan kita, Bel. Jodoh kamu bukan aku dan jangan memaksakan diri kamu untuk terus mencintaiku karena itu hanya akan membuang waktu kamu dan membuang kesempatan kamu untuk bertemu dengan jodoh kamu" Adam menatap Bella dengan sedih.


"Persetan dengan jodohku! Aku tidak mau laki-laki lain. Aku hanya mau dirimu, Dam. Kamu adalah cinta pertamaku"


"Tapi, maaf. Aku tidak pernah mencintaimu"


"Selama ini, kamu memang tidak pernah berinisiatif untuk memeluk, merangkul, mengajakku berkencan dan mengajakku berciuman. Semua harus aku yang mengawalinya. Seharusnya aku menyerah di saat itu, tapi karena aku sangat mencintaimu, aku tidak pernah bisa menyerah, Dam" Air mata mulai mengucur deras di kedua pipi cantiknya Bella.


"Kamu cerdas dan cantik. Kamu bisa mendapatkan pria yang lebih segala-galanya dari aku dan mendapatkan pria yang mencintaimu" sahut Adam dengan nada prihatin.


"Lalu bagaimana kau akan berterima kasih?" Tanya Bella. "Apakah boleh sekali aja kamu menciumku dengan berpura-pura bahwa kamu mencintaiku? Apakah boleh aku mendambakan ciuman darimu yang ada rasa cintanya? Aku seringkali memimpikan kamu menciumku terlebih dahulu dengan penuh cinta dan kita berakhir di ......"


"Aku tidak bisa melakukannya. Aku akan berterima kasih dengan ini" Adam menyodorkan sebuah flashdisk ke Bella.


"Apa ini?" tanya Bella dengan menautkan alisnya dia menerima flashdisk yang diberikan oleh Adam.


"Itu berisi rekaman CCTV tersembunyi yang ada di rumahku. Di situ tertangkap aksi kamu mendorong Istri Papaku hingga Istri Papaku jatuh terjungkal dari pucuk anak tangga sampai ke lantai bawah dan mati" sahut Adam.


Tangan Bella langsung bergetar di saat ia menggenggam flashdisk itu dan menatap Adam dengan nanar.


Bella menatap punggungnya Adam yang menjauh sambil terus menggenggam erat flashdisk yang ada di dalam tangannya dan menggeram, "Aku tidak akan pernah menyerah akan cinta ini, Dam"


Adam bergegas kembali ke rumahnya Alba dan langsung melompat turun dari dalam mobilnya begitu sampai di halaman rumahnya Alba. Adam mengetuk pintu rumah utama dan Noah yang membukakan pintu untuknya.


Noah langsung menggandeng tangan Adam dan mengajak Adam ke ruang makan dengan senyum ceria dan langkah riang.


Adam tersenyum senang melihat keceriaan di wajah tampannya Noah.


"Papa duduk dulu sama Noah di sini! Mama sedang memasak seafood. Kalau Mama masak seafood, Mama nggak suka diganggu karena, kata Mama, masak seafood itu susah. Butuh ketelitian dan konsentrasi tingkat dewa"


Adam langsung tertawa mendengar ucapan dan wajah polosnya Noah. "Papa akan tetap ke dapur"


Noah langsung menahan lengannya Adam, "Jangan, Pa! Papa bisa kena marah dan kena getok spatulanya Mama, nanti"


Adam mengangkat tangan mungilnya Noah dari lengannya, lalu ia mencium tangan mungilnya Noah dan berkata, "Papa akan baik-baik saja. Kamu tunggu aja di sini, oke?!"


"Oke deh. Tapi, Ati-ati, ya Pa. Noah akan doakan Papa baik-baik saja" Noah melambaikan tangan mungilnya ke Adam.


Adam terkekeh geli mendengar celotehan polosnya Noah.


Adam sampai di pintu dapur dan ia bediri bersandar di pintu dapur dan tersenyum lebar melihat punggung dan pinggul Alba yang tidak berhenti bergerak dan bergoyang. "Kenapa memasak?"


"Oh! Astaga!" Kedua pundak Alba terangkat ke atas karena, kaget dan Alba langsung menoleh ke belakang, "Kenapa muncul tiba-tiba dan mengagetkan aku?" Lalu Alba kembali menoleh ke depan untuk mengangkat cumi goreng tepungnya dengan menggunakan peniris minyak yang memiliki kerapatan kawat saringan yang cukup berkualitas untuk menjaga gorengan tetap renyah.Kawat saringan yang rapat sekaligus berfungsi untuk mengambil gorengan dari dalam minyak itu, lalu Alba letakkan di atas wadah bulat Setelah itu Alba mematikan kompornya dan mengangkat cumi goreng tepungnya dari peniris minyak dengan penjepit makanan dan meletakkannya di atas wadah yang sudah dilapisi tissue makanan berkualitas tinggi yang bisa menyerap minyak dengan baik dan aman.


Di saat Alba asyik menata masakannya, Adam melangkah pelan mendekati Alba lalu memeluk pinggangnya Alba dari belakang dan berkata di atas pundaknya Alba, "Aku, kan, sudah bilang tadi, kalau aku akan mengajak kamu dan Noah keluar jalan-jalan malam ini. Kok malah masak sebanyak ini"


Alba langsung mematung karena sudah lama ia selalu memimpikan dipeluk oleh Adam dari belakang. Dan di saat mimpinya itu menjadi kenyataan, dia justru membeku tak berani bergerak sama sekali. Tubuhnya mematung, namun jantung Alba berdetak dengan kencang, hatinya berdesir hebat, dan darah bergejolak panas dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.


Adam pun merasakan hal yang sama dan di saat ia nekat menyusupkan wajahnya di leher Alba, Adam tidak bisa menghentikan bibirnya untuk terus mengusap, dan menciumi lehernya Alba.


Alba tidak berdaya dan tidak mampu menghentikan aksinya Adam. Alih-alih menghindar dan menjauhi Adam, ia justru melenguh dan menengadahkan wajahnya ke atas dengan mata terpejam. Adam semakin erat mendekap tubuh Alba dan bibirnya bergerak ke atas mencari bibirnya Alba, terus bergerak naik, dan.................