
Adam bisa mengenali suara Alba saat pujaan hatinya itu membuka suara untuk memesan gulali (camilan manis yang berbahan dasar gula yang biasanya diberi pewarna makanan merah dan bisa dibentuk sesuai dengan karakter yang kita inginkan).
Alba bertanya, "Berapa harga gulalinya?" ke penjual arum manis dan gulali itu.
Adam yang mengantre di baris keempat di belakangnya Alba itu, terus tersenyum mendengar suara sang pujaan hatinya. Senyum yang terpampang di wajah tampannya Adam adalah wujud dari perasaan lega karena ia akhirnya bisa menemukan keberadaannya Alba dan senyum itu juga wujud dari kerinduannya Adam pada Alba.
"Gulali per biji kalau tidak dibentuk-bentuk hanya tiga ribu rupiah saja, Non, tapi kalau dibentuk-bentuk cuma nambah seribu aja jadi empat ribu rupiah saja. Kalau arum manisnya cuma lima ribu rupiah saja" Sahut Abang penjual arum manis dan gulali itu.
Alba tersenyum ke abang penjual itu dan berkata, "Saya nggak jadi beli arum manis deh Bang. Karena ternyata ada gulali"
"Iya Non" Sahut Abang penjual yang tersenyum ke Alba. Lalu Abang penjual itu bertanya, "Non mau gulalinya dibentuk menjadi apa?"
"Emm, kupu-kupu bisa, Bang?" tanya Alba.
"Bisa dong" sahut abang penjual itu.
"Nggak lama kan, Bang? Kasihan yang masih antre di belakang saya, Bang" Sahut Alba.
"Nggak kok, cepet kok ini dan lagian ada Istri saya yang bisa melayani pelanggan yang mau beli arum manis" sahut abang penjual itu sambil menoleh ke istrinya.
"Iya Non, santai aja" sahut istri dari abang penjual arum manis itu.
"Wah! Pantas aja kalau Abang suka berjualan yang manis-manis ya, istri Abang manis banget soalnya" Sahut Alba.
Abang penjual itu tertawa sambil membentuk gulali menjadi kupu-kupu dan istri dari penjual gulali dan arum manis itu menyahut, "Ah! Non bisa aja. Saya masih kalah manis kalau dibandingkan dengan Non"
"Terima kasih. Tapi, manisnya Anda memberi Anda keberuntungan Mbak. Anda bisa bersanding dengan laki-laki yang Anda cintai dan bisa berjualan bareng kayak gini. Ah! so sweet" sahut Alba dengan senyum lebar.
Istri penjual gulali dan arum manis itu tersenyum merona mendengar ucapannya Alba.
Abang penjual menyahut, "Iya Non! Prinsip hidup kami mah sederhana aja. Makan nggak makan asal kumpul, hehehehe. Iya kan, Bune" Abang penjual menoleh ke istrinya dan istri Abang penjual itu menganggukkan kepalanya.
Deg! Adam yang masih mengantre di deretan keempat di belakangnya Alba langsung meremas dadanya saat ia mendengar ucapannya Alba itu. Adam merasa hatinya seperti tertusuk panah tajam, hatinya terasa sangat sakit mendengar Alba berkata seperti itu karena, dia telah memberikan kekecewaan yang sangat besar pada diri Alba tanpa ia sadari dan itu membuat hatinya terasa sangat sakit.
"Kenapa kok suka bentuk kupu-kupu, Non?" Abang penjual itu bertanya ke Alba saat ia hampir menyelesaikan karakter kupu-kupu di gulalinya.
"Karena, kupu-kupu itu hebat Bang. Dia kecil tampak rapuh tapi, dia hebat. Kupu-kupu selalu mandiri dengan kecantikannya" Alba tersenyum ke abang penjual itu.
"Nih, Non! Udah jadi kupu-kupunya" Sahut Abang itu sambil menyerahkan gulali berbentuk kupu-kupu ke Alba.
"Terima kasih" Alba tersenyum sambil tersenyum dan membayar gulali itu.
Seorang wanita yang mengantre di belakangnya Alba menepuk pelan pundaknya Alba dan berkata, "Gara-gara Mbak, saya juga ingin beli gulali, hehehehe. Bentuknya kupu-kupu juga ya, Bang"
Alba menoleh ke wanita itu untuk tersenyum lalu berkata, "Saya pamit dulu. Keburu hujan"
"Silakan" Wanita asing yang ramah itu tersenyum ke Alba.
Adam tidak jadi mengantre untuk membeli arum manis dan gulali. Adam memilih mengikuti Alba dengan langkah pelan dan hati-hati.
Tiba-tiba gerimis turun dan Alba langsung bergumam, "Bahkan gerimis pun tidak mau berbaik hati padaku untuk menungguku sampai rumah dulu barulah ia turun ke muka bumi ini. Huffftt! Mana aku lupa bawa jas hujan" Alba lalu memasukkan gulali berbentuk kupu-kupu itu ke dalam mulutnya.
Adam membuka jasnya lalu ia memakai jasnya untuk memayungi Alba. Alba tersentak kaget lalu ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang telah memayunginya dengan jas itu dan ia melihat wajah tampannya Adam berada begitu dekat dengan wajah manisnya.
Adam melangkah mendekati Alba dan kembali memayungi Alba dengan jasnya, tapi Alba melangkah menjauhi Adam sambil berkata, "Jangan dekati aku! Aku bisa sendiri. Selama ini aku juga selalu sendiri"
"Masuk ke dalam jasku ini atau mau aku gendong?" Adam berkata dengan sorot mata penuh keseriusan ke Alba.
Alba mendelik ke Adam, "Hentikan omong kosong kamu!" Lalu gadis manis pujaan hatinya Adam itu berbalik badan ke sepeda onthelnya.
Adam memakai kembali jasnya dengan cepat dan ia langsung membopong Alba.
"Turunkan aku! Dam! Apa-apaan ini? Banyak yang melihat kita, Dam!"
Adam berucap ke Abang penjual gulali saat ia melintasi abang penjual itu dan dengan masih membopong Alba ia berucap, "Istri saya ini bandel Bang nggak mau saya payungi jadi, terpaksa saya gendong"
Abang penjual gulali, istrinya dan beberapa pembeli yang masih mengantre di sana terkekeh geli mendengar selorohannya Adam.
Alba merapatkan bibir menahan geram dan saat Adam menurunkannya di depan pintu mobil, Alba mendelik dan sambil mengacung-acungkan gulalinya ia berkata, "Kamu masih sama seperti dulu, suka seenaknya dan ........"
Hap! Adam mengulum gulali yang diacung-acungkan Alba di depannya dan Alba langsung mendelik kaget dan menyemburkan protes, "Itu sudah aku masukkan ke dalam mulutku tadi.......dan itu gulaliku"
Adam melepeh gulalinya Alba dan sambil tersenyum ia berkata, "Aku cuma mencicipinya sedikit. Nggak berubah bentuk kan setelah aku cicipi barusan. Masuk ke mobil! Gerimisnya semakin lebat!"
"Lalu sepedaku? Aku akan naik sepeda saja" Alba mendorong Adam dan Adam langsung menahan pinggangnya Alba, "Masuk atau aku akan bilang ke semuanya kalau kamu itu istri yang ngeyelan"
Alba mendengus kesal lalu ia membuka pintu mobilnya Adam dan masuk ke dalamnya. Adam menutup pintu mobilnya dan berlari kecil mengitari mobilnya untuk masuk ke jok kemudi dengan senyum lebar.
Adam memasang sabuk pengamannya lalu menelepon seseorang dengan ponselnya, "Kamu tolong ambil sepeda mini di dekat penjual Arum manis dan gulali 'Harum Jaya' yang ada di taman Jaya Wijaya!" Lalu ia menutup ponselnya dan ia masukkan kembali ponsel itu ke dalam saku kemejanya melajukan mobilnya sambil berkata, "Aku sudah suruh pegawaiku mengambil sepeda kamu"
"Pegawai?" Alba menoleh ke Adam.
"Iya. Aku buka firma hukum di sini dan itu pekerjaan utamaku. Jadi dosen hanya pekerjaan sampingan bagiku" Sahut Adam.
"Kamu pandai merawat sepeda kamu dan......"
Hap! Alba memasukkan gulali yang ia pegang ke dalam mulutnya Adam tanpa permisi. Adam terkekeh geli lalu menoleh ke Alba.
"Buat kau semua gulalinya. Udah kamu cicipi kan tadi. Jadi, aku nggak berselera lagi memakan gulali itu"
Adam menarik gulali itu lepas dari dalam mulutnya dengan tangan kiri dan tangan kanan masih memegang kemudi lalu berucap sambil melirik Alba, "Karena menatap aku lebih manis daripada gulali ini jadi, kau tidak membutuhkan gulali ini lagi, hehehehe"
"Terserah kamu" sahut Alba tanpa menoleh ke Adam.
Adam kembali terkekeh geli lalu ia bertanya, "Kau pandai merawat sepeda onthel kamu. Sepeda itu masih bagus, tapi kenapa kamu nggak bisa merawat cinta kita?"
Alba menoleh ke Adam, "Karena, sepeda itu selalu setia menemaniku"
Adam menoleh sekilas ke Alba dengan sorot mata penuh dengan penyesalan.
"Kau mau bawa aku ke mana? Ini bukan jalan ke rumah Tanteku, kan?" tanya Alba.
"Ke rumahku. Ada banyak hal yang perlu kau jelaskan ke aku"
Alba membeliak kaget ke Adam dan berkata, "Turunkan aku di sini!"