
"Menangislah sepuas kamu karena menangis bisa menjernihkan pikiran kita. Menangislah sepuasnya jika kamu belum bisa menceritakannya padaku. Aku akan bersabar menunggu cerita dari kamu, Ba" Adam berucap sambil terus mengelus rambut Alba lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya Alba.
Alba berucap lirih, "Nanti kaos mahal kamu kotor kena ingus"
Adam mempererat pelukannya dan sambil terkekeh geli ia berucap, "Aku rasa setelah ini, kaos yang aku pakai hari ini, yang terkena ingus kamu, akan jadi kaos favoritku"
Alba diam tidak merespons selorohannya Adam.Putra tunggal konglomerat Alex Baron itu panik saat ia merasakan tubuh Alba melemas dan sedikit merosot turun di dalam pelukannya. Adam secara spontan menunduk untuk mengecek keadaannya Alba dan pria tampan itu langsung tergelak lirih saat ia menemukan Alba tertidur di dalam pelukannya. "Bisa-bisanya kamu tidur sambil berdiri kayak gini, Ppppfftt! Kamu memang masih menggemaskan dan polos seperti dulu, Ba"
Adam lalu membopong Alba dengan hati-hati dan membawa Alba ke Kamarnya. Dia merebahkan Alba di atas kasur mewahnya dengan penuh kasih sayang.
Adam menjumput rambut yang menutupi wajah manisnya Alba lalu ia selipkan rambut itu ke belakang telinganya Alba. Adam mengelus pipinya Alba dan bergumam setelah ia menghela napas, "Sepertinya baru kali ini kamu bisa tidur dengan nyenyak, aman dan damai ya, Ba? Sebenarnya seperti apa kehidupan kamu sejak kamu aku tinggalkan dan sejak Mama kamu meninggal dunia? Kenapa kamu masih belum mau menceritakannya padaku? Apa kamu masih marah padaku? Apa kamu masih belum memercayaiku? Apa karena aku masih bertunangan dengan cewek lain?"
Adam lalu mencium keningnya Alba lalu bergumam, "Tidurlah sepuas kamu, putri tidurku yang manis"
Namun, saat Adam hendak berputar badan meninggalkan Alba, tangan Alba menggenggam tangan Adam. Alba menggenggam erat tangan Adam dengan mengigau, "Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku!"
Adam menatap lekat wajah manisnya Alba lalu ia naik ke atas ranjang, merebahkan diri di sampingnya Alba, memeluk Alba, dan bergumam, "Aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu"
Satu jam kemudian, Alba terbangun dan mendapati kening Adam melekat di keningnya. Alba tersenyum dan merasa sangat nyaman. Alba bergumam sambil mengusap alisnya Adam, "Mimpiku sangat indah kali ini. Aku berharap tidak bangun selamanya kalau aku punya mimpi seindah ini"
Adam yang masih memejamkan kedua kelopak matanya, bisa.mendengar gumamannya Alba karena memang sebenarnya, Adam tidak tidur sedari awal. Adam asyik memandangi wajah manisnya Alba yang tengah tertidur pulas. Mendengar gumamannya Alba, Adam tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum dan berkata, "Ini bukan mimpi" sambil membuka kedua kelopak matanya secara perlahan-lahan.
Alba tersentak kaget dan langsung bangun. Kepalanya Alba menyundul hidungnya Adam tanpa ia sengaja.
"Aduh!" Adam mengaduh kencang dan memegang hidungnya.
Alba terkejut dan kembali merebahkan diri untuk mengecek hidungnya Adam sambil mengucapkan kata, "Maafkan aku! Aku tidak sengaja dan ......."
Adam tersenyum lalu memeluk Alba. Wajah mereka kembali berdekatan. Adam kembali menempelkan keningnya di kening Alba dan berucap, "Tinggalah di sini!"
Dan entah karena irama hujan yang indah yang mengetuk-ngetuk jendela kamarnya Adam, suasana yang sangat indah atau karena hawa dingin yang menyapa ruangan di kamar itu, Alba memejamkan kedua matanya lalu ia mencium bibirnya Adam.
Adam terkejut mendapatkan ciuman dari Alba. Kedua bola matanya membeliak untuk beberapa detik dan ia mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya sebanyak tiga kali.
Di saat Alba menciumnya lebih dalam, Adam menarik tengkuknya Alba dan membalas ciumannya Alba dengan berbisik di sana, "Aku akan mengajarimu ciuman yang benar"
Kedua bibir mereka menyatu, bergerak untuk mengusapkan kerinduan mereka yang sangat besar, untuk menekankan perasaan cinta mereka yang terpendam selama bertahun-tahun. Bibir Alba terbuka untuk terengah dan lidah Adam menyusup masuk di sana untuk merasakan, mencicipi, dan mengecap rasa manis di diri Alba yang sangat ia dambakan selama ini.
Hawa dingin di sekitar mereka berubah menjadi hangat dan dengan sangat cepat berubah menjadi panas saat Adam nekat menyusupkan wajahnya di lehernya Alba dan mencium bagian belakang telinganya Alba. Alba melenguh dan Adam berbisik di sana, "Aku sudah menemukan satu titik kelemahanmu, bolehkah aku temukan titik kelemahanmu yang lainnya?"
Adam lalu mengusap wajahnya Alba dan di saat ia hendak mencium kembali bibirnya Alba, terdengar dering ponsel yangs sangat nyaring. Adam mengabaikannya dan memilih untuk mencium kembali bibirnya Alba. Tapi, beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi kembali.
Alba mendorong pelan tubuhnya Adam sambil berkata, "Angkat dulu telponnya!"
Adam menghela napas karena kesal pada bunyi ponsel itu yang telah mengganggu kemesraannya bersama dengan sang pujaan hati.
Adam lalu bangun, duduk di tepi ranjang dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas, "Halo, ada apa Ma?"
Mendengar kata Mama, Alba bangun, merapikan kaos dan rambutnya lalu ia duduk di tepi ranjang di sebelahnya Adam
Adam menoleh ke Alba sambil menutup panggilan ponselnya. "Papaku pingsan. Aku harus segera ke rumah. Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu"
"Aku naik sepeda saja. Pasti sepedaku sudah sampai di sini, kan?"
Adam meringis ke Alba, "Maaf! Aku suruh pegawaiku mengantar sepeda kamu ke rumah Tante kamu sekalian memberitahukan ke Tante kamu kalau kamu ada kepentingan di luar dan pulang agak terlambat"
"Aku naik taksi aja. Kamu kan harus segera pulang"
Adam menarik tangannya Alba dan ia genggam sambil berkata, "Aku akan mengantarmu pulang dulu nggak papa. Papaku juga udah ditangani dokter"
Beberapa menit kemudian, Alba telah sampai di rumah tantenya. Alba langsung berlari masuk ke dalam rumah tantenya tanpa melambaikan tangan ke Adam.
Adam merasakan ada keanehan dari sikapnya Alba itu, tapi karena ia tergesa-gesa ingin segera mengetahui keadaannya Papanya maka ia langsung melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah papanya.
Alba langsung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat saat ia menemukan om dan tantenya berada di kamar mereka. Alba menjatuhkan badannya di atas ranjang dengan keras sambil menghela napas panjang. Alba menatap langit-langit kamarnya dan bergumam, "Kenapa aku tadi mencium Adam? Apa yang akan Adam pikirkan? Apa aku sudah gila? Aku mencium cowok yang sudah memilik tunangan dan akan menikah? Aiisshhh! Dasar pelakor kamu Ba! Kamu harus jauhi Adam lagi! Harus!" Alba lalu menutup wajahnya dengan bantalnya.
Adam sampai di rumah papanya dan langsung masuk ke dalam kamar papanya. Dokter keluarga mereka masih berada di kamar itu bersama dengan tim medisnya.
"Apa yang terjadi, Dok?" tanya Adam. Adam meminta berbicara empat mata saja dengan dokter keluarganya tanpa adanya Nindya. Karena, ia memang tidak pernah memercayai Nindya.
"Papa kamu kecapekan dan jantungnya mulai protes. Papa kamu butuh istirahat total selama sebulan"
"Begitu ya, Dok. Emm, kalau untuk menyampaikan berita penting berarti belum boleh, ya?" tanya Adam.
"Jangan kejutkan Papa kamu dengan berita penting, ringan, berat atau apalah itu. Biarkan beliau beristirahat total dulu selama sebulan"
"Baik Dok" Adam lalu menatap lantai kamar papanya dan menghela napas kecewa. Dia belum bisa memutuskan pertunangannya dengan Bella padahal ia ingin segera bersama kembali dengan Alba dan itu untuk selama-lamanya. Dia ingin menikahi Alba secepatnya. Tapi kembali lagi, takdir, menyuruh dia untuk bersabar.