I Love You, Adam

I Love You, Adam
Dari Hati Yang Terdalam



Hati Adam terasa sangat sakit karena kecewa menemukan Alba sama sekali tidak menghargai kehadirannya padahal ia sangat berharap Alba dengan senyum hangat dan tangan terbuka lebar, berkata, "Selamat datang Adam, aku sangat merindukanmu" Tapi, angan-angan itu hanyalah angan-angan belaka.


Adam lalu berpikir keras di dalam benaknya, Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa Alba tiba-tiba bisa bekerja di kantin dan kenapa dia sudah tidak peduli lagi padaku? Apa salahku? Apa keputusanku pergi ke Amerika untuk menggapai impianku, itu salah?


"Kenapa makan sambil melamun, sih? Nanti tersedak lho" Suara lembut nan syahdu milik Bella membuyarkan lamunannya Adam.


Tiba-tiba, tok, tok, tok. Suara pintu ruang kerjanya Adam diketuk oleh seseorang dan saat pintu itu terbuka, Adam dan Bella secara bersamaan menautkan alis mereka, "Ma, kenapa kemari?"


Bella bangkit dan berbalik badan untuk mencium punggung tangan ibu tirinya Adam, "Tante, ada apa kemari?"


"Mulai hari ini dan seterusnya, Mama akan mengirim makanan untuk kamu. Karena makanan yang kamu beli di kantin kayak gini nih, nggak bersih dan nggak sehat" Nindya langsung membuang styrofoam yang masih tersisa nasi goreng cukup banyak di sana dan dia juga membuang cup plastik berisi kopi hitam ke tempat sampah.


Bella menatap heran mama tirinya Adam dan secara spontan ia bertanya, "Kenapa justru Adam yang Tante kirimi makan siang? Kenapa bukan suami Tante?"


Nindya sedikit gelagapan mendengar pertanyaannya Bella dan bukanlah Nindya namanya kalau dia tidak menyiapkan alasan yang bagus. Nindya tersenyum dan menjawab pertanyannya Bella, "Papanya Adam sudah Tante bawakan bekal jadi, nggak perlu Tante kirimi makan siang lagi. Kalau Adam suka lupa bawa bekal karena, dia suka sekali berangkat pagi-pagi"


Adam mengernyit kesal lalu ia bangkit dan meninggalkan kedua wanita cantik itu berdebar. Adam keluar dari ruang kerjanya tanpa pamit ke Bella maupun Nindya.


Bella mulai mencium bau tidak sedap dari niatnya Nindya mengirim makan siang untuk Adam. Lalu ia menoleh ke meja kerjanya Adam untuk bilang ke Adam bahwa lebih baik dia yang mengirimi Adam makan siang karena, ia adalah calon istrinya Adam tapi, Bella tidak melihat Adam di sana, "Lho! Adam mana?"


Nindya mendengus kesal, "Kamu sih terlalu banyak bicara, bikin Adam kesal, kan. Dengar ya! Tante itu sangat menyayangi Adam seperti anak Tante sendiri jadi, wajar dong kalau Tante mengirim makan siang untuk Adam"


Bella yang terbiasa hidup di luar negri dan terbiasa berbicara ceplas ceplos, kembali menyemburkan tanya, "Boleh sih Tante. Tapi, kenapa harus Tante sendiri yang mengantarkannya ke sini? Tante kan bisa menyuruh supir atau asisten rumah tangga ya Tante yang sangat banyak itu?"


Nindya mulai kesal dan mengumpat di dalam hatinya, Dasar anak sial! Aku akan menendangmu pergi dari sisinya Adam, lihat saja nanti! Lalu Nindya pergi meninggalkan Bella begitu saja.


Bella menatap punggungnya Nindya dengan bergumam, "Wanita yang aneh. Apa aku berpikiran gila, jika aku mengganggap mama tirinya Adam, menyukai Adam lebih dari sekadar anak tiri?"


Bella lalu menggelengkan kepalanya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya Adam sambil bergumam, "Semoga pikiranku salah" Bella lalu melangkah menuju ke parkiran mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobilnya, ia memasang sabuk pengamannya sambil bergumam, "Aku nggak akan biarkan nenek sihir itu merebut Adam dariku"


Bella adalah seorang dokter spesialis kanker lulusan Amerika dan dia sepadan dengan Adam. Mereka berdua sama-sama terlahir jenius dan sukses meraih pekerjaan yang menjanjikan dan sesuai dengan impian mereka di usia mereka yang terbilang masih sangat muda yakni, dua puluh dua tahun. Untuk itulah papanya Adam, Alex Baron sangat bersemangat menjodohkan putra tunggal kebanggannya dengan Bella Fastro.


Nindya mengemudikan mobilnya dengan mencengkeram kemudi mobilnya sampai buku-buku tangannya memutih karena, geram. "Dasar Gadis bau kencur. Tidak tahu sopan santu. Berani benar dia terus menanyaiku, cih! Aku akan balas kelancanganmu hari ini dengan sangat kejam, Bella Fastro!"


Adam masuk ke sebuah ruangan untuk mengajar bahasa Inggris. Selain hukum, dia ditugaskan untuk mengampu literasi bahasa Inggris untuk semua jurusan yang ada di kampus itu. Adam masuk ke aula besar yang memuat semua mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai jurusan yang memilih dia sebagai dosen literasi bahasa Inggrisnya mereka.


Alba yang juga berada di aula itu tersentak kaget saat ia melihat sosok Adam melangkah pelan dan penuh percaya diri menuju ke podium Dan Alba langsung menoleh ke temannya yang duduk di sebelahnya, "Aku sepertinya salah mengambil kelas. Aku ambil kelasnya Miss Cecilia tapi, kenapa dosen cowok yang datang?"


"Kau belum tahu ya? Semua jamnya Miss Cecilia digantikan oleh Mister Adam karena, Miss Cecilia sedang mengambil S2 di Inggris" sahut Temannya Alba.


Tapi, Alba lupa kalau Adam.seorqnh yang jenius. Sebelum masuk ke dalam aula besar itu, Adam telah membaca daftar dua ratus peserta mahasiswa dan mahasiswi yang ada di aula tersebut untuk mengikuti kelasnya dan Adam tahu, Alba ada di dalam aula tersebut.


Adam Baron memulai kelasnya dan memulai pembahasan dengan tajuk, 'Penggunaan Cause and Effect Conjunction' Adam meneruskan materi dari Miss Cecilia yang belum sempat diajarkan oleh Miss Cecilia. Adam kemudian meminta beberapa.mahasiswa dan mahasiswi yang dia panggil berdasarkan daftar absen yang dia pegang untuk ke depan, naik ke podium Dan membuat beberapa kalimat menggunakan Cause and Effect Conjunction' dengan tema Love.


Semua Mahasiswa dan Mahasiswi langsung ribut dan Alba beberapa kali harus mendengus kesal saat ia mendengar para kamu Hawa mengatakan kalau Adam Baron itu seksi, tampan dan sangat menarik. Alba benar-benar merasa jengah dan semakin merosot kan tubuhnya ke bawah.


Alba terjatuh di atas lantai saat namanya dipanggil oleh Adam Baron. Adam melihat ke Alba saat Alba bangkit berdiri dengan diiringi kekehan dari para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di aula besar itu.


Adam mengulum bibir menahan tawa melihat wajah Alba memerah karena malu.



Alba maju ke depan bersama tiga orang mahasiswa dan tiga orang mahasiswi lainnya untuk menulis kalimat Cause and Effect Conjunction dengan tema Love,' di papan tulis secara bergiliran dan Alba memilih berada di barisan paling belakang dan memilih untuk menulis paling terakhir karena, dia belum memikirkan satu kalimat pun. Pikirannya terganggu dengan dengungan para kaum Hawa yang terus memuji-muji ketampanannya Adam Baron.


Adam terus menatap Alba dan terus menahan bibirnya untuk tersenyum melihat ekspresi wajahnya Alba saat tiba gilirannya Alba untuk menuliskan kalimatnya di papan tulis.


Alba menoleh ke Adam Baron dengan wajah polosnya dan berkata, "Bolehkah saya mundur, pak? Saya belum punya kalimatnya, Maaf"



Adam Baron menggelengkan kepalanya, "Selesaikan tugasmu! Alba Anindya selalu menyelesaikan tugasnya, bukan?"


Alba menghela napas kesalnya lalu menggaruk-garuk kepalanya dan mencoba untuk menulis di papan tulis kalimat sederhana yang ada di benaknya saat itu. Alba menulis di papan tulis dengan bergumam, "It has been such a long time since I have seen him that I am not sure if I will remember him or not. Begini benar, Pak?" Alba menoleh ke Adam dan dia tersentak kaget saat mendapati wajah Adam berada dekat dengan wajahnya dan bisikan dari Adam, "Aku harap contoh kalimat yang kamu tulis ini adalah benar, berasal dari kata hatimu yang paling dalam"


Alba merah wajahnya, dia mendelik ke Adam dan bergegas berbalik badan untuk kembali ke bangkunya.


"Semua contoh kalimat di papan tulis ini benar. Saya merasa tersanjung, kalian bisa memahami penjelasan yang saya berikan dengan baik. Sampai bertemu di kelas saya yang berikutnya. Selamat sore" Adam lalu membereskan laptopnya dan bukunya lalu keluar dari dalam aula besar itu.


Alba lalu berdiri di depan papan tulis dan menatap tulisannya di sana lalu ia menepuk pelan pelipisnya sambil berucap, "Kenapa aku tulis or not di sana tadi? Isshhhh! Bodoh banget sih aku"


Beberapa mahasiswi mendekati Alba untuk sekadar bertanya, "Apa yang dibisikkan oleh Pak Adam Baron tadi?"


Alba menghela napas lalu menoleh ke teman-temannya dan berucap asal, "Kalimatku terlalu panjang"


"Oooooo" Sahut teman-temannya Alba lalu mereka meninggalkan Alba untuk bergegas menyusul Pak Adam Baron. Mereka ingin meminta nomer ponsel Pak Adam Baron.


Alba menatap tingkah teman-temannya itu dengan rasa yang campur aduk di hatinya. Di hari kecilnya, dia tidak rela ada banyak wanita mengerubungi Adam Baron tapi, dia sudah bukan pacarnya Adam Baron lagi. Alba lalu menaiki sepedanya dan mengayuh sepedanya untuk pulang dan Alba mengabaikan Adam yang tengah dikerubungi banyak mahasiswi saat Alba melintasi kerumunan di mana ada Adam Baron di tengah kerumunan itu. Adam Baron hanya bisa melihat Alba melintas di depannya tanpa bisa berbuat apa-apa.