
Pambudi mengetuk pintu rawat inapnya Alba. Alba menyahut, "Masuk!" dari dalam.
Pambudi melangkah masuk dan berdiri di depan pintu dengan membiarkan pintu itu masih terbuka lebar di belakangnya. Pambudi menganggukkan kepalanya ke Alba sambil berkata, "Saya Pambudi, sekretarisnya pengacara muda nan keren yang bernama Adam Baron. Saya sangat mengagumi Pengacara Adam Baron dan suatu saat nanti, saya ingin sukses seperti beliau. Masih muda, tampan, dan........."
"Cukup, Pak! Jangan memuji Adam lagi di depan saya. Masuk saja dan tolong tutup pintunya" Alba tersenyum geli menatap tingkah dan ucapan polosnya pemuda yang Pambudi itu.
Pambudi melangkah menutup pintu dengan pelan lalu melangkah masuk dan duduk di atas sofa sambil terus mengulas senyum lebar di wajah tampan dan lugunya. Wajah bulat, putih bersih, berambut hitam lurus dan berkacamata. Cukup tampan dan wajah ramah itu, cukup nyaman untuk dipandang dan terasa aman di hati. Alba langsung memercayai Pambudi dan bisa bersikap santai di dekat Pambudi.
"Nama Saya Pambudi. Tapi, biasa dipanggil Didi. Karena, kalau dipanggil Pam, kok langsung berasa pengen bersenandung pam, pam, pam, pam, hehehehehe. Kalau dipanggil Budi, saya nggak punya kakak bernama Wati. Seperti pelajaran membaca waktu kita masih duduk di bangku SD, Ini Budi, kakak Budi namanya Wati, hehehehehe"
Tawa Alba langsung menggema di kamar rawat inap yang sangat mewah itu. Alba lalu berkata, "Adam bisa awet muda kalau punya sekretaris seperti Anda"
"Saya masih kuliah. Umur saya masih dua puluh tahun. Lebih muda tiga tahun dari Pak Adam Baron. Saya juga ambil jurusan hukum dan bekerja bersama dengan Pak Adam Baron, membuat saya bersemangat untuk menjadi seorang pengacara nantinya. Saya ingin menjadi keren seperti Pak Adam Baron, hehehehe. Kalau ketampanan sih, saya kalah jauh. Tapi, kalau kecerdasan, masih bisa diadu lah, hehehehehe"
Alba kembali tergelak geli dan berkata, "Anda juga tampan, kok"
"Terima kasih atas pujian Anda, Nona Alba Anindya. Kita seumuran, kan? Apa Anda sudah memiliki pacar?"
Alba terkekeh geli, "Saya belum memiliki pacar. Tapi saya lebih tua dari Anda. Saya sebaya dengan Adam. Saya teman SMA-nya Adam Baron, dulu"
"Oh! Patah hati saya kalau gitu. Anda sangat imut dan manis, saya sudah menyukai Anda di awal perjumpaan kita barusan, tapi sayangnya Anda lebih tua dari saya, hehehehe"
Alba kembali tergelak geli. Dan untuk sejenak, Alba bisa melupakan bahaya besar dan masalah berat yang masih mengitarinya.
Adam sampai di rumah sakit dan tersenyum lega melihat Pambudi sudah berada di dalam kamar rawat inapnya Alba.
Pambudi Berdiri dan menganggukkan kepalanya ke Adam.
Adam duduk di tepi ranjangnya Alba lalu bertanya ke Pambudi, "Kau sudah lama, Di?"
"Sudah Pak" Sahut Pambudi sambil duduk kembali di atas sofa.
"Terima kasih kau bergerak cepat menghubungi Satya, semalam. Kau cerdas"
"Sama-sama Pak" Pambudi tersenyum semringah mendengar pujian dari Adam.
Alba menoleh ke Adam, "Dia sangat mengagumi kamu"
Adam menoleh ke Alba sambil menggenggam tangan Alba ia berkata, "Aku tahu"
Alba menarik tangannya saat ia melihat sorot mata Pambudi mengarah ke tangannya Adam. Namun, Adam justru mempererat genggaman tangannya.
Pambudi hanya bisa mengeluarkan ekspresi canggung dan penuh tanda tanya karena ia tahu, bosnya yang sangat ia kagumi itu, telah memiliki tunangan bernama Bella Fastro. Pambudi juga mengenal Bella Fastro.
"Jangan bengong. Aku akan jawab pertanyaan yang tersirat di wajah polos kamu itu. Alba adalah mantan pacarku. Aku hanya mencintai satu wanita di dunia ini dan itu Alba. Aku akan memutuskan Bella saat Papaku udah membaik nanti. Jadi,........."
"Saya ngerti Pak. Saya akan tutup mulut. Masalah percintaan dan kehidupan pribadi Anda, tidak akan saya campuri" sahut Pambudi dengan cepat.
Alba akhirnya bisa membebaskan tangannya dari genggaman tangannya Adam setelah ia menarik keras tangannya. Ia lalu berkata, "Selama kamu belum putuskan pertunangan kamu dengan Bella, jangan ada sentuhan fisik lagi diantara kita!"
Adam menoleh ke Alba dengan wajah memelas, "Lho kok gitu? Aku nggak boleh pegang tangan, memeluk, atau mengusap rambut kamu?"
Alba menggelengkan kepalanya dengan tegas dan Pambudi tersenyum lebar melihat tingkah kekanak-kanakannya Adam Baron yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Pak Adam Baron sangat mencintai Nona Alba Anindya. Itu terlihat sangat jelas. Dan siapa yang tidak akan jatuh hati pada wanita berwajah lembut, manis dan imut seperti Nona Alba Anindya Aku aja langsung naksir pas menatap wajah Non Alba Anindya di pandangan pertama tadi. Batin Pambudi.
Adam lalu berkata, "Okelah! Aku akan bersabar dan menahan diri untuk tidak bersentuhan fisik lagi dengan kamu. Kecuali tidak sengaja"
Alba hendak membuka mulut untuk protes, namun Adam segera bertanya ke Pambudi, "Kau sudah dapatkan rekaman CCTV-nya?"
"Dan saksi untuk menggambarkan karakter Alba Anindya, kau sudah dapatkan? Karena, para juri pasti akan mempertanyakan Alba Anindya itu pribadi yang seperti apa"
"Saya meminta beberapa teman kuliahnya Non Alba tadi pagi, tapi mereka semuanya menolak untuk bersaksi. Mereka tidak mau terlibat kasus serumit ini"
"Kalau pihak Johny Setiawan memiliki saksi yang mengatakan bahwa Alba seorang wanita penggoda, maka kita akan kalah poin"
"Aku sudah bilang ke kamu kan tadi, tidak ada yang mau peduli dengan anak yatim piatu kayak aku" sahut Alba.
"Kamu coba hubungi nomer ini. Theo dan Ayu namanya! Dan urus pekerjaan di kantor sebentar. Aku akan ke kantor sore nanti untuk mengecek semuanya" Adam mengirim nomer kontaknya Theo dan Ayu ke ponselnya Pambudi.
Alba langsung bertanya ke Adam, "Apa kamu yakin, Ayu dan Theo bersedia membela aku?"
"Aku yakin" sahut Adam.
"Baik, Pak. Kalau gitu saya permisi. Non Alba, saya pamit"
Alba tersenyum tulus ke Pambudi lalu berkata, "Terima kasih, Didi. Ati-ati di jalan"
Adam lalu menoleh ke nampan yang berisi makanan dan semua makanan masih utuh, belum disentuh sama sekali.
"Aku suapi ya?" Adam berucap sembari membuka segel plastik di piring nasi, di piring sayur, dan di piring lauk pauk"
"Aku malas makan"
Cup! Adam mengecup pipinya Alba dan Alba tersentak kaget, "Dam! Aku udah bilang kan, nggak boleh ada kontak fisik!"
Adam menatap Alba dengan sorot mata jenaka dan berucap dengan santai, "Itu tadi bukan kontak fisik tapi, hukuman"
"Hu....hukuman apa? Jangan aneh-aneh deh!"
Cup! Adam mengecup lagi pipinya Alba.
"Dam! Hentikan!"
"Makan atau aku kecup terus pipi kamu" Adam tersenyum lebar ke Alba dengan sorot mata jenakanya.
"Baiklah! Aku makan, mana nampannya? Aku akan makan sendiri"
Cup! Adam mengecup pipinya Alba lagi dengan senyum jenakanya.
"Adam Baron! Apa-apaan sih?!"
"Aku suapi atau mau aku kecup terus pipi kamu"
Alba menghela napas panjang dan akhirnya di membuka mulutnya untuk menerima suapan pertama dari Adam.
"Kalau makan sendiri, pasti akan tumpah karena kamu pakai tangan kiri kamu dan aku yakin sesuap aja pasti kamu udah berhenti makan. Kalau aku suapi, harus habis kalau tidak aku akan kecup lagi pipi kamu" Adam berucap sembari memotong daging ayam di piring yang berisi lauk pauk.
Alba hanya bisa menghela napas pasrah lalu berucap, "Awas aja kalau infus ini udah terlepas dari tanganku, aku akan pukul kamu sepuasnya"
"Eits! Nggak boleh main pukul dong" Adam tersenyum jahil ke Alba sambil memberikan suapan keduanya ke Alba.
"Kenapa nggak boleh?" Alba berucap sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Kan aturannya kamu sendiri yang buat tadi. Nggak boleh ada sentuhan fisik diantara kita, kan?"
Alba menghunus sorot mata penuh dengan kekesalan ke Adam dan Adam langsung tergelak geli.