
Adam mampir ke resto langganannya untuk membeli makanan Cina, nasi goreng, dan seafood kesukaannya Alba. Lalu mengajak Alba berbelanja ke mall sambil menelepon dua petugas kepolisian yang ditugaskan berjaga di rumah yang Alba tinggali selama ini, yakni, rumah sepupunya Pambudi. Adam mengabarkan ke petugas kepolisian untuk tidak datang malam itu karena, Alba Andindya akan tinggal di rumah kerabatnya.
Adam berniat membawa Alba pulang ke rumahnya karena, besok adalah sidang perdana bagi dia dan Alba dan dia merasa lebih aman membawa Alba ke rumahnya. Lagipula ada Ayu dan Theo di sana.
"Ambil aja yang kamu suka! Nggak usah sungkan. Buat camilan di rumah sama nonton TV rame-rame dan ini, aku udah bawa dua botol besar cola kesukaannya Theo" sahut Adam.
Alba terkekeh geli dan berucap, "Udah. Aku udah pilih, nih"
Adam melongok ke dalam troli belanja dan tersenyum lebar, "Lho! Ini semua kan, camilan kesukaanku. Kamu masih ingat, Ba? Bahkan ada rengginang juga?" Kedua bola mata Adam berpijar senang melihat Alba masih ingat semua camilan kesukaannya.
"Tentu saja aku ingat. Aku kan......."
Cup! Adam mengecup pipinya Alba dan Alba langsung menepuk bahunya Adam sambil melotot, "Dam! Ngawur kamu! Kok cium-cium di tempat umum kayak gini"
Adam terkekeh geli, menjulurkan lidahnya, lalu berkata, "Biarin. Sama pacar sendiri"
Alba menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ba! Aku mau ambil buah. Untuk menghemat waktu, kamu antri dulu di kasir, ya?"
Alba menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kau pasti mau beli apel dan pear. Itu buah kesukaan kamu, kan?"
Adam tersenyum lebar dan di saat ia akan mengecup lagi pipinya Alba, Alba berhasil berkelit. Adam tertawa lebar lalu mengusap rambutnya Alba dengan penuh cinta, kemudian ia berlari kecil ke lorong buah.
Di lorong buah, Adam dihadang seorang wanita muda dengan baju seksi dan tersenyum lebar kepadanya.
Adam menautkan alisnya lalu mengabaikan wanita itu. Adam langsung menghadap ke keranjang buah untuk memilih apel.
Wanita itu mendekati Adam dan berkata, "Saya mahasiswi yang ikut kelasnya Bapak. Nama saya Sinta, Pak Adam Baron"
Adam menggeser kakinya ke kanan untuk menjauh dari wanita itu yang dirasanya ingin menempel padanya.
"Saya butuh uang untuk bayar kuliah, Pak" ucap wanita itu tanpa malu-malu.
Adam memutar badan untuk menghadapi wanita itu dan mundur dua langkah, lalu bertanya, "Kenapa Anda katakan hal itu ke saya? Saya bukan Ayah kamu dan bukan saudara kamu"
Wanita itu tersenyum sinis ke Adam, "Semua dosen itu sama aja, kan? Ditawari servis permainan cinta dari wanita secantik dan seseksi saya pasti nggak akan menolak dan kebetulan saya lagi butuh uang. Mari kita mulai bertransaksi"
Adam yang tengah menjinjing kantong plastik transparan berisi buah apel pilihannya segera berucap, "Semua dosen tidak sama. Saya sudah punya calon Istri dan saya sangat mencintai calon Istri saya. Silakan cari mangsa yang lain, tapi kalau boleh saya kasih saran, carilah uang dengan cara yang lebih bermartabat dan terhormat!" Adam lalu berbalik badan dan berlari meninggalkan wanita itu untuk menimbang buah apel pilihannya, lalu bergegas berlari menyusul Alba.
Sesampainya di rumah, Adam langsung mengajak Alba, Ayu, dan Theo untuk makan malam bersama penuh dengan obrolan santai dan candaan ringan mengenang masa SMA mereka.
Para pihak diwajibkan untuk melaporkan kehadirannya kepada Panitera Pengganti.
Wajib mempersiapkan segala hal yang akan menjadi agenda persidangan yakni, surat kuasa, jawaban, saksi, bukti, replik, duplik, untuk itulah Adam memutuskan untuk lembur di malam hari itu.
Kasus Pidana pencabulan diatur dalam Pasal 289 KUHP sebagai berikut :
“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.”
Namun, Adam ingin memberikan hukuman seumur hidup ke tersangka yang telah berani mengusik ketenangan kekasih hatinya. Untuk itulah Adam terus mendekam di ruang kerjanya sampai jam dua belas malam.
Di saat Adam keluar dari dalam ruang kerjanya dan melintasi teras belakang rumahnya, ia melihat Alba duduk di sana dan tengah menatap langit malam yang tidak berbintang karena sepertinya akan turun hujan di malam itu.
Adam mengurungkan niatnya untuk membuat kopi dan membelokkan badannya ke teras belakang rumahnya lalu duduk di sebelahnya Alba.
Alba menoleh kaget lalu mengulas senyum dan bertanya, "Kamu belum tidur?"
Adam tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku masih mempersiapkan berkas dan diriku sendiri untuk persidangan besok. Kasus pidana adalah kasus pertama bagiku dan itu untuk membela kamu, wanita yang sangat aku cintai. Jadi, aku harus berhati-hati dan mempersiapkan semuanya dengan sempurna"
"Terima kasih, Dam. Aku tidak tahu harus membalas kamu dengan apa? Kamu tidak mau menerima uang sepeser pun dariku"
Alba terkejut dan memekik pelan, "Dam! Kalau Ayu dan Theo terbangun dan mereka lihat gimana?"
"Biarin aja. Mereka juga pasti paham. Aku butuh mengisi batu batereku dengan cara memeluk kamu seperti ini. Dan kau tahu, memeluk kamu ternyata lebih dahsyat dayanya dibandingkan dengan minum berpuluh-puluh cangkir kopi hitam" ucap Adam.
Alba terkekeh geli lalu duduk pasrah di atas pangkuannya Adam sambil mengelus punggung tangannya Adam yang parkir di atas perutnya.
"Kamu lihat apa di atas langit? Nggak ada bintang, kan?"
"Aku melihat hitamnya langit"
"Dan apa yang kamu dapatkan dengan melihat hitamnya langit?" tanya Adam sambil mengusapkan wajahnya di punggungnya Alba.
"Aku melihat kegelisahan, ketakutan, misteri. Sama seperti hidupku" sahut Alba.
Adam menggenggam tangannya Alba lalu ia berucap, "Kalau gitu, nggak usah dilihat aja!"
"Tapi, aku suka. Karena, aku menantikan turunnya hujan. Aku suka bau tanah yang terkena air hujan dan menatap hitamnya langit yang menurunkan hujan, aku merasa mendapatkan pengharapan kembali"
"Kenapa begitu?" tanya Adam.
"Karena hujan memberikan pengharapan bagi tanah yang kering dan tandus, memberikan pengharapan bagi tanaman yang layu, dan memberikan pengharapan bagi manusia yang mengalami kekeringan"
Adam tersentuh sekaligus kagum mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Alba, lalu ia berucap, Kau benar banget Cintaku" Adam mencium punggungnya Alba, lalu ia kembali berucap, "Kau tahu Ba, aku bangga banget dan jatuh cinta berulangkali padamu karena, kamu tuh wanita yang sangat tangguh dan mandiri. Padahal secara fisik kamu terlihat lemah dan rapuh. Terima kasih kamu tetap menjaga kehormatan kamu sebagai seorang wanita meskipun kamu didera badai dan topan yang sangat dahsyat di hidup kamu"
"Tapi tetap saja aku seorang wanita yang memiliki rasa takut. Apalagi besok adalah pertama kalinya aku duduk di ruang sidang"
"Nggak usah takut ada aku. Dan kau beruntung, jaksa penuntutnya adalah Satya Wicaksana. Aku yakin seratus persen kita akan menang"
Kedua sejoli itu pun menutup malam hari itu dengan berciuman dan diiringi rintik hujan yang syahdu.
Keesokan harinya, Alba mengucir kuda rambutnya dengan kucir rambut berhiaskan strawberry.
Adam menatap kucir rambut itu lalu bertanya, "Kau selalu membawa kucir rambut itu di tas kamu?"
Alba menoleh dan menganggukkan kepalanya.
"Kau selalu memakai kucir rambut itu setiap kali kau akan melangkah ke peristiwa penting di hidupmu. Seperti pas kamu ujian, terus pas kamu ikut lomba nyanyi, kamu selalu pakai kucir rambut itu. Emangnya kucir rambut itu spesial, ya?"
"Aku belum cerita ke kamu ya?"
Adam menggelengkan kepalanya.
Alba mengusap pipinya Adam dan berkata, "Kalau sidang udah kelar, aku akan ceritakan semuanya ke kamu"
Adam mengerucutkan bibirnya dan bertanya, "Kenapa nggak sekarang?"
"Karena kamu harus buruan ke sidang, kan?"
Adam masih mengerucutkan bibirnya.
Alba lalu mengecup bibirnya Adam dan berkata, "Masih mau ngambek?"
Adam langsung tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.
Theo langsung berteriak, "Woooiii! Ingat wooiiii! ada kami berdua di sini"
Ayu dan Alba terkekeh geli dan Adam berbalik badan untuk melotot ke Theo.