I Love You, Adam

I Love You, Adam
Senyum Puas



Adam berjalan dengan pelan setelah ia memesan makan siang untuk dia, Alba dan Noah. Lalu Adam Baron bangkit berdiri, memutari meja kerjanya, dan berjalan berjingkat ke mejanya Alba. Adam tersenyum bahagia melihat Alba asyik berkerja dan ia puas bisa membuat wanita yang sangat ia cintai, bisa menikmati pekerjaan yang ia berikan.


Cukup lama Adam berdiri di belakang kursinya Alba dan mengamati Alba tengah asyik mencatat semua kegiatan yang harus Adam laksanakan di sisa hari itu dan di keesokan harinya.


Saking asyiknya bekerja, Alba tidak menyadari kalau Adam telah berdiri cukup lama di belakang kursinya.


Adam tersenyum lalu ia memutar kursinya Alba yang beroda dan langsung menyemburkan protes, "Kamu melupakan suami kamu, ya? Apa kerjaan itu lebih penting dari aku?"


Alba tersentak kaget menatap Adam dengan penuh tanda tanya di wajahnya.


Adam tersenyum geli melihat ekspresi lucu di wajah manisnya Alba. Alba memang selalu bengong untuk beberapa detik lamanya jika ia terkejut.


Adam lalu berjongkok di depan kursinya Alba, lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuannya Alba sambil berucap, "Aku menyesal membuatmu sibuk di hari ini. Kamu mengabaikan aku. Ah, betapa malangnya Adam Baron"


Alba terkekeh geli setelah ia tersadar dari keterkejutannya, lalu ia mengusap kepalanya Adam yang rebah di atas pangkuannya sambil berkata, "Apa kau ingat? Kalau aku ini nggak suka berpangku tangan saja?"


"Aku nggak ingat, tapi aku bisa melihatnya sekarang ini kalau kamu memang wanita yang rajin, gigih dan tangguh. Aku beruntung memilikimu dan aku beruntung memiliki Noah yang tampan, cerdas, dan baik hati. Kalian berdua adalah hartaku yang paling berharga di dunia ini"


Alba tersenyum bahagia lalu ia menunduk dan mencium pelipisnya Adam dan berucap, "Aku mencintaimu, Mas. Dulu di saat kita masih duduk satu bangku di saat kita masih SMA, apa Mas ingat pertama kali aku bilang, I love you, Adam?"


Adam langsung berdiri menarik Alba untuk berdiri lalu ia duduk di kursinya Alba dan menarik Alba duduk di atas pangkuannya. Adam memeluk pinggangya Alba menyandarkan kepalanya di dada Alba, lalu berucap, "Aku tidak ingat"


"Aku mengucapkan I love you, Adam, di depan makam Mama kandung kamu, Mas. Kamu nembak aku di kunjungan pertama kita ke makam Mama kandung kamu dan aku bilang I love you, Adam di kunjungan kedua kita di makam Mama kandung kamu"


Adam langsung menegakkan wajahnya dan menatap Alba dengan kerutan di keningnya.


"Ada apa, Mas?"


"Mama kandung? Mama kandungku sudah meninggal?" Badan Adam mulai bergetar dan wajahnya mulai panik.


Alba langsung memeluk Adam dengan erat sambil berkata, "Jangan berpikir keras! Tenang, Mas! Jangan jatuh pingsan lagi! Aku mohon, tenanglah, Mas!" Alba terus mengusap punggungnya Adam.


Adam beberapa kali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan sampai ia berhasil menguasai kembali dirinya. Adam langsung melemas dan menjatuhkan wajahnya di dada Alba.


Alba mengusap kepalanya Adam dengan penuh kelembutan dan cinta kasih sambil terus berkata, "Tenang, Mas. Tenang"


Adam lalu terisak menangis di dalam dekapannya Alba dan terus menangis sampai Noah datang.


Noah langsung berlari menghampiri mamanya yang tengah memeluk papanya dan langsung beridri di depan kursi mamanya dengan tanya, "Papa kenapa menangis, Ma?"


"Papa cuma lelah. Kamu cuci tangan dan ganti baju dulu di kamar, ya?"


Noah menganggukkan kepalanya laku berlari kecil masuk ke dalam kamar.


Adam mengangkat kepalanya dan Alba langsung mengusap air mata di kedua mata dan pipinya Adam lalu berkata, "Maafkan aku, Mas. Aku telah membuatmu......."


Adam mengecup bibirnya Alba lalu berkata, "Aku justru berterima kasih padamu, Sayang. Aku tahu sekarang kalau aku punya Mama walaupun Mamaku sudah meninggal. Tapi, kenapa Papaku tidak pernah menceritakannya padaku?"


"Itu pasti demi kebaikanmu, Mas"


"Aku akan tanya ke Papa, nanti" Alba lalu mengecup keningnya Adam dan bangkit berdiri di saat Noah Kemabli hadir di depan mereka.


Adam tersenyum lebar ke Noah lalu mengangkat Noah untuk ia pangku.


"Papa cuma capek, sayang" Adam tersenyum ke Noah.


"Noah akan pijit kedua pelipisnya Papa. Kalau Mama capek, Noah selalu pijitin kedua pelipisnya Mama sampai Mama tertidur"


Adam bersitatap dengan Alba dan saling melempar senyum mendengar ucapan polosnya Noah yang dengan kasih sayang.


Noah lalu menaikkan kedua telapak tangannya ke pelipisnya Adam lalu anak laki-laki tampan itu memijit kedua pelipisnya Adam dengan tanya, "Gimana, Pa. Enak nggak pijitannya Noah?"


Adam kembali bersitatap dengan Alba dan saling melempar senyum lalu berkata, "Enak banget. Noah pinter mijitnya"


Noah tersenyum lebar dan Adam langsung mencium keningnya Noah dengan gemas lalu berkata, "Anak Papa memang yang terbaik"


Noah tertawa senang mendengar pujian yang dilontarkan oleh papanya sambil terus memijit pelipis papanya.


Dan di saat makan siang yang dipesan oleh Adam akhirnya sampai dan ditata dengan rapi di atas meja sofa oleh Alba, Adam menggendong Noah, menciumi pipinya Noah dan berkata, "Terima kasih anak cakep, Papa udah nggak capek lagi berkat pijatan tangan ajaib kamu"


Noah tersenyum senang saat Adam menurunkannya di atas sofa. Noah langsung duduk dan berkata, "Aku mau makan bareng sama Papa. Disuapi sama Papa, boleh?" Noah menatap Alba.


"Boleh. Tapi, jangan dibiasakan manja kalau lagi sama Papa!" sahut Alba.


"Siap, Bu Bos!" sahut Noah.


Alba langsung tersenyum lebar dan Adam langsung mengusap kepalanya Noah dengan tawa renyahnya.


Alex Baron kaget saat pintu lift terbuka dan ia melihat Bella berdiri di depan pintu lift. Bella pun sama terkejutnya.


Alex langsung melangkah keluar dari dalam lift dan bertanya, "Lho, kamu kok ada di sini? Kan, kata semua karyawanku, Adam tidak menginap di sini?"


Bella langsung mengulas senyum yang berbalut kelicikan, dan berkata, "Adam memang tidak menginap di sini. Adam menginap di sebuah pondok tamu di luar hotel, Om"


"Kenapa sekarang kau memanggilku, Om?"


"Karena saya udah putus dengan Adam. Adam memutuskan pertunangan kami, kemarin malam, Om" Bella langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan menangis sesenggukkan di depan Alex Baron.


Alex langsung merangkul bahunya Bella dan mengajak Bella duduk di sofa yang ada di sudut selasar kamar VVIP.


"Kenapa Adam memutuskan pertunangan kalian?"


Bella langsung berucap, "Karena, Adam bertemu lagi dengan Alba Anindya"


"Hah?! Kenapa bisa? Apa Adam sudah mendapatkan kembali ingatannya?" Alex langsung terhenyak ke sofa dengan wajah panik.


Bella yang sudah lama tahu kalau Alba sudah memiliki anak dari Adam Baron karena ia selalu mengikuti pergerakannya Alba melalui orang suruhan kepercayaannya itu, memilih tetap bungkam mengenai anaknya Adam Baron karena ia tidak ingin Alex Baron menemui anaknya Adam dan mengetahui kalau anaknya Adam mirip sekali dengan Adam. Lagian, Noah, anaknya Adam dan Alba akan ia lenyapkan malam nanti karena ia pikir, ia telah berhasil menculik dan menyekap Noah.


Lalu berkata, "Karena Alba Anindya belum berubah, Om. Dia tetap lah wanita murahan yang licik dan suka menggoda laki-laki. Adam tergoda walaupun Adam belum mendapatkan ingatannya kembali, Adam tergoda dengan rayuan wanita murahan itu"


"Kurang ajar!" Alex Baron langsung menggeram kesal dan Bella tersenyum senang.


Satya mulai menyusun strategi dengan timnya dan akan memulai aksinya menjebak Bella, nanti malam.


"Aku tidak sabar melihatmu tamat, Bella. Sudah cukup aksimu membuat Alba dan Adam menderita selama ini" Satya bergumam dengan senyum puas.