
Alba kembali melangkah ke meja kerjanya lalu setelah duduk, ia memandang Adam. Deg! hatinya kembali berdebar saat kedua bola matanya kembali bersitatap dengan kedua bola mata birunya Adam. Alba langsung berkata sambil menunduk, "Ada rapat jam dua"
"Baiklah" Adam mengulas senyum lebar dan terus melihat Alba.
Noah langsung beringsut turun dari atas pangkuan papanya dan berlari kecil menjauhi meja kerja papanya.
Adam langsung bertanya sambil melihat arah perginya Noah, "Noah mau ke mana?"
"Noah mau ngecek kondisinya Mama. Mama terus memerah wajahnya dan sekarang menunduk. Biasanya mama seperti itu kalau sedang enggak enak badan, Pa"
"Hah?! Benarkah?" Adam kaget dan langsung bangkit berdiri, lalu melangkah lebar menyusul Noah.
Alba sekonyong-konyong mengangkat wajahnya mendengar suara ributnya Noah dan Adam. Dan dengan wajah kaget dan bingung lalu bertanya, "Kenapa kalian semua ke sini dan ke......."
Noah dengan sigap naik ke pangkuan mamanya, lalu anak kecil nan tampan itu, bersama dengan Adam langsung meletakkan telapak tangan mereka secara bersamaan di atas keningnya Alba.
Adam menautkan alisnya sambil memandangi Noah lalu menoleh ke Adam dan bertanya, "Ada apa, sih?"
"Syukurlah kamu nggak demam" Adam menarik tangannya sambil menghela napas lega.
"Mama nggak sakit, syukurlah" Noah pun melakukan hal yang sama.
Alba tersenyum aneh lalu berkata, "Kalian kenapa sih?"
"Noah bilang, kalau wajah kamu memerah dan kamu menunduk, itu tandanya kamu sedang nggak enak badan. Makanya aku sama Noah langsung ngecek kondisi kamu" Sahut Adam.
"Betul" Sahut Noah.
Noah lalu beringsut turun dari atas pangkuan mamanya sambi berucap, "Dan syukurlah Mama ternyata baik-baik saja" Noah lalu duduk di sofa.
Satya sampai di rumah dan menemukan gadis yang bernama Christal Wisanggeni duduk di teras depan tengah mengobrol asyik dengan mamanya. Satya langsung mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kenapa kau masih di sini?"
Heni langsung menepuk bahunya Satya, "Dasar anak nggak tahu sopan santun"
"Aduh! Mama kok malah mukul aku? Harusnya dia yang Mama pukul. Dia yang nggak tahu sopan santun masih di sini bukannya pulang"
Heni langsung mendelik ke Satya, lalu berucap, "Kamu yang bawa Christal ke sini maka kamu yang harus memulangkannya"
"What?!" Satya langsung menutup mulutnya dan dengan wajah kesal ia berucap, "Satya ingatkan ya, Ma, Satya nggak bawa dia ke sini, tapi Satya menyelamatkannya. Itu bukanlah........"
Christal langsung bangkit berdiri dan menganggukkan kepalanya ke Heni, kemudian berkata, "Kak Satya benar, Bu. Saya pamit. Saya akan pulang naik taksi di depan" Christal langsung melangkah lebar meninggalkan Heni dan Satya setelah ia mencium punggung tangannya Heni
Satya langsung melongo melihat punggungnya Christal yang menjauh pergi, lalu, "Aduh!" Satya kembali mengaduh saat Heni menepuk bahunya.
"Apa, Ma?! Sakit lho ini!" Satya mengelus-elus bahu kirinya, kemudian bertanya lagi, "Kenapa Satya dipukul terus, sih, Ma?"
"Soalnya kamu tuh cowok nggak sopan. Kenapa malah bengong? Susul dia! Kasihan anak gadis pulang sendirian dan dia nggak hapal daerah sini, kan, kalau hilang dan diculik gimana?"
"Sial!" Satya meraup wajahnya dan langsung berlari menyusul Christal.
Satya berhasil menyusul Christal dan mencekal lengannya Christal. Dengan napas yang menderu, Satya berucap, "Maafkan aku! Jangan pergi sendirian! Aku akan mengantarmu dan ........"
"Christal!" Seorang pemuda berteriak dari seberang jalan.
Christal langsung mencekal ujung kaosnya Satya, lalu berkata "Kita harus lari sepertinya. Dia pacarku yang kemarin ingin menjualku.ke laki-laki hidung belang"
Satya langsung bertanya sambil sesekali menoleh ke seberang jalan, melihat pemuda asing tengah berusaha menyebarang jalan, "kenapa harus lari? Aku akan hajar dia! sudah lama aku tidak pernah mempraktekan Taekwondoku"
"Tapi, lebih baik kita lari" Christal langsung menarik tangannya Satya dan mengajak Satya berlari pergi sekencang-kencangnya"
"Christal, tunggu! Jangan lari kau!" laki-laki asing yang Christal sebut sebagai pacarnya itu sudah berhasil menyeberang jalan dan langsung berlari mengejar Christal yang tengah berlari bergandengan tangan dengan Satya.
"Wait!!!! kenapa harus lari?!" Satya berteriak sambil terus berlari dan mencoba menarik tangannya dari genggaman tangannya Cristal.
"Tengoklah ke belakang!"
Satya terus mengimbangi laju larinya Christal sambil menengok ke belakang dan ia langsung menoleh ke Christal, "Dia siapa sih sebenarnya? Kenapa dia bisa sampai di sini dan memiliki anak buah sebanyak itu?"
"Dia anak seorang gembong mafia. Papaku kalah judi di tempatnya lalu menyerahkan aku untuk berpacaran dengannya karena dia memintaku sebagai bayaran atas hutang judi Papaku. Tapi, dia justru ingin menjualku"
Satya langsung menarik tangannya dari tangannya Christal lalu mengehntikan laju larinya dan berbalik badan menghadang gerombolan laki-laki yang tengah berlari ke arahnya.
"Siapa nama ayah dari bocah brengsek itu?"
"Leonard Torres dan dia adalah Pedro Torres"
"Aku pegang kartu As keluarga Torres, jangan khawatir! Sekarang berdirilah di belakangku!"
Christal menuruti perintahnya Satya sambil terus menautkan alisnya.
"Serahkan Christal padaku. Dia tunanganku" Laki-laki tampan yang sudah berdiri tegak di depannya Satya langsung menghunus tatapan tajamnya ke Satya.
"Sebelumnya, kita butuh kenalan dulu, kan? Namaku Satya dan ini kartu namaku"
Laki-laki itu langsung terkejut saat ia menatap kartu namanya Satya yang sudah pindah ke tangannya. "A.....anda seorang jaksa dan A.....anda........."
"Salam untuk Ayah kamu, Pedro Torres"
"Sial!" Pedro langsung menoleh ke belakang dan berkata ke semua anak buahnya, "Kita pergi. Dia bukan orang sembarangan" Pedro, lalu mengarahkan kepalanya lagi ke depan untuk menatap Satya, "Maafkan Saya!"
"Jangan pernah mengusik Christal lagi!"
"Sial!" Pedro kembali mengumpat dan sembari menyisir kasar rambut ber-pomade-nya, ia berputar badan lalu pergi meninggalkan Satya dan Christal begitu saja.
Christal melongok dari balik punggungnya Satya lalu tertawa lega kemudian berkata, "Wow! Aku beruntung bertemu dengan Anda, Tuan Satya. Aku nggak nyangka, seorang Pedro Torres pergi begitu saja tanpa memukuli Anda"
Satya berbalik badan untuk menatap Christal, lalu berkata, "Tadi kau memakai kata informal padaku dan sekarang kau memakai kata Anda?"
"Karena Anda dewa penolong saya dan patut untuk saya hormati"
"Cih! Dasar cewek aneh. Bahasa formal nggak enak didengarkan dengan suara cempreng kamu itu. Pakai bahasa informal aja dan kau akan aku antarkan pulang, ayok!"
Christal terpaksa mengikuti Satya sambil berucap, "Siap 86 Dewa Penolongku"
Satu jam lebih dua puluh lima menit, Satya sampai di depan sebuah rumah kuno yang berbentuk joglo, super luas halamannya. Satya melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke Christal yang tengah melepas sabuk pengaman, dengan tanya, "Ini beneran rumah kamu?"
"Iya" Christal lalu melangkah turun dan Satya langsung mengikuti langkahnya Christal.
Christal menekan bel pintu rumahnya dan beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan munculah sosok pria berumur lima puluhan dengan kumis tebal dan rambut pendek berombak. Dari situlah Satya mengetahui darimana Christal mendapatkan rambut keritingnya.
"Kenapa kau pulang?"
"Apa Christal nggak boleh pulang, Pa?"
"Kau kan sudah aku serahkan ke keluarga Torres sebagai bayaran atas..........."
Satya langsung menautkan alisnya mendengar percakapan anehnya Christal dengan laki-laki yang Christal panggil, pa. Dan jaksa muda itu tidak tahan untuk tidak menyela, "Anda bisa terkena pasal perdagangan anak dibawah umur jika Anda terus bersikap seperti itu pada putri Anda, Tuan........."
"Jenggo Wisanggeni" Sahut Christal.
Satya langsung mengulas senyum konyol mendengar nama aneh itu.
"Siapa kau? Berani benar mencampuri urusan keluargaku?!"
"Saya akan pergi kali ini. Tapi, saya akan terus mengawasi Anda. Jika Anda melakukan hal buruk pada putri Anda, saya tidak akan tinggal diam lagi" Satya lalu berbalik badan dan pergi dari halaman rumahnya Jenggo Wisanggeni
Mobilnya Adam memasuki halaman rumahnya Alba dan di saat ia, Alba dan Noah turun dari dalam mobil menuju ke pintu masuk, Satya sudah menghadang Adam dan Alba di depan pintu rumahnya Alba.
"Kita berangkat jam berapa memangnya? Kok kamu jam segini udah ada di sini?" Tanya Adam ke Satya.
Satya meraih Noah dari dalam gendongannya Adam sambil berkata, "Setelah makan malam. Sekitar jam delapan. Aku di sini dari tadi, karena aku kangen banget dengan Noah"
Adam mengerutkan alis sambil mempertahankan Noah.
Satya mendelik ke Adam, "Kamu udah seharian bersama Noah kenapa sekarang aku nggak boleh menggendong Noah dan melepaskan kerinduanku pada Noah?"
"Karena Noah anakku" Adam masih mempertahankan Noah.
Satya terus mencoba menarik Noah dari dalam pelukannya Adam sambil berkata, "Aku yang menungguinya waktu ia lahir dan aku adalah Ayah baptisnya Noah"
Adam dan Satya bersitatap dengan kilatan api di kedua bola mata mereka.