I Love You, Adam

I Love You, Adam
Tangkaplah Aku, jika Kau bisa!



Adam kembali ke klinik untuk menemui Dokter Bagas. Nindya mengikutinya. Dokter Bagas tersenyum cerah di saat ia berjumpa dengan pujaan hatinya. Guru cantik yang memiliki paras juga tingkah laku yang lembut.


Dokter Bagas terus mengajak Nindya mengobrol sambil memeriksa kondisinya Adam dan Adam melirik Nindya. Nindya menanggapi obrolannya Dokter Bagas dengan ramah namun, bagi Adam itu genit dan menggoda.


Adam kemudian menatap Dokter Bagas yang masih memeriksanya dan Adam bisa merasakan kalau Dokter Bagas menyukai calon ibu tirinya dan ia menghela napas panjang sambil berucap di dalam hatinya, Dasar wanita penggoda tidak tahu malu. Kenapa ia senyum-senyum nggak jelas saat diajak ngobrol sa Dokter Bagas? Apa dia juga bisa menyadarinya, kalau Dokter Bagas menyukainya? Dasar menjijikkan!


Adam kemudian melompat turun dari atas bed tanpa melirik sedikit pun ke Nindya, saat ia telah dinyatakan membaik kondisinya namun, masih diharuskan minum antibiotik dua kali lagi, siang dan malam hari nanti.


Nindya berputar badan hendak menyusul Adam karena masih ada begitu banyak hal yang ingin dia diskusikan dengan Adam namun, Dokter Bagas menahannya dengan ucapan, "Saya perlu bantuan Anda untuk mendata kondisi para siswa Anda yang memiliki kondisi penyakit bawaan seperti asma atau yang lainnya.. Kita masih akan di sini sampai besok jadi, kalau saya punya data kesehatan para siswa dimulai dari anak didik Anda, maka itu akan sangat membantu.


Nindya tersenyum lalu dengan sangat terpaksa ia duduk kembali dan berdiskusi dengan Dokter Bagas mengenai kondisi kesehatan para siswanya


Adam memilih menyendiri duduk di bangku kayu alami yang ada di depan sungai. Dia memandangi air di anak sungai tersebut dan terus memikirkan kejadian semalam. Dia mencium calon ibu tirinya dan diam-diam merekam dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menahan tengkuk ibu tirinya untuk memperdalam ciumannya di saat calon ibu tirinya membalas ciumannya tanpa ia duga.


Tiba-tiba dari arah belakang, Adam merasakan seseorang merangkul bahunya. Adam tersentak kaget, ia dengan cepat mengurai gelungan lengan wanita yang mendarat apik di atas dadanya lalu ia bangkit dan memutar badan, "Kau! Kenapa memelukku?"


Nindya hendak maju ke depan untuk kembali memeluk Adam namun, Adam menahannya dengan kata, "Stop! Jangan mendekat! Aku akan melompat ke sungai kalau kau terus mendekat"


"Aku gila! Aku memang sudah gila! Tapi, kenapa kau merayuku? Tega sekali kau menggoda dan merayuku lalu menciumku tapi, setelah itu kau menjauh dariku. Kenapa kau lakukan itu, Adam? Kenapa kau lakukan itu di saat aku mulai mencintaimu"


Adam membeliak kaget, "Cinta? Kenapa kau bodoh sekali sampai jatuh cinta padaku? Aku hanya ingin menjebakmu untuk punya bukti atas ketidaksetiaanmu pada Papaku. Itu aku lakukan agar Papaku mengusirmu dari sisinya"


"Kenapa kau lakukan itu?


"Karena kalian sudah lancang berpacaran dan bertunangan secara diam-diam dan tanpa seijinku. Kau juga sudah lancang merebut perhatian Papaku yang tidak pernah aku miliki!" Adam mulai memekik kesal dengan kedua tangan mulai mengepal di kedua sisi tubuhnya.


"Aku pun juga tidak mendapatkan perhatian penuh dari Papa kamu. Papa kamu memang sibuk, Adam. Itulah kenapa aku dengan mudah mau kau ajak pergi karena aku pun kesepian. Kita sama Adam. Bagaimana kalau kita........"


"Diam! Aku tidak butuh nasehat dan penjelasan dari wanita tidak tahu malu sepertimu" Adam menghunus sorot mata tajam ke Nindya.


"Ka ....kamu ti....tidak mencintaiku?"


"Tapi kau telah menciumku, kemarin. Aku bisa merasakan kalau kau punya rasa padaku dan......."


"Itu hanya insting seorang laki-laki normal aku rasa dan kau terlalu bodoh jika kau terbuai. Itu kesalahanmu sendiri dan jangan menyalahkan aku!" Adam masih mengepalkan kedua tangannyq.


"Aku tidak akan menyerah. Kalau kau mau kasih rekaman kita berciuman ke Papa kamu aku tidak taku karena aku sudah bertekad ingin mengejarmu.Aku lebih mencintaimu daripada Papa kamu"


"Dasar gila! Kejarlah sampai kau lelah dan tangkap aku jika kau bisa tapi, camkan baik-baik! Aku Adam Baron, tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita yang tidak setia macam kamu" Adam lalu mendorong tubuhnya Nindya lalu ia berlari pergi meninggalkan Nindya.


Nindya bergegas memutar badan untuk melihat arah perginya Adam sambil bergumam, "Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu Adam. Karena aku sudah kepalang basah dan malu di depanmu maka, aku harus memilikimu"


Adam mengikuti acara Social Gathering dengan tidak tenang karena, ia berasa seperti main kucing-kucingan dengan Nindya dan beberapa kali ia terpaksa menjadikan Alba sebagai tamengnya untuk bisa terhindar dari jerat mautnya Nindya.


Adam merasa hidupnya mulai terganggu dan ia ingin segera mengirim rekaman ciumannya dengan Nindya ke ponsel Papanya saat itu juga tapi, kata hatinya melarangnya. Kata hatinya berkata, Tunggu dulu! Tunggu sampai Papa kamu pulang dari perjalanan bisnisnya.


Alhasil, Adam terus menempel pada Alba. Selain untuk menghindari Nindya, Adam juga ingin menyingkirkan cewek-cewek lain yang masih gencar memberikan surat cinta padanya. Adam selalu membuang surat cinta dari para siswi SMA Pelita Kasih baik yang sekelas dengannya maupun yang beda kelas tersebut ke dalam bak sampah tanpa membuka dan membacanya terlebih dahulu.


Alba yang merasa risih karena Adam terus menempel padanya, "Kenapa kau terus mengikutiku? Dan kenapa kau terus menahanku saat aku ingin bergabung dengan Mira, Theo dan teman-teman yang lainnya?" Alba berkacak pinggang dan melotot ke Adam.


Adam memasang wajah memelas karena ia tahu, Alba orangnya tidak tegaan. Lalu ia berucap dengan nada sedih, "Karena temanku cuma satu, yaitu kamu"


Alba menghela napas panjang, "Makanya Ayok bergabung dengan yang lainnya! Aku kenalkan sama yang lainnya. Lagian kan kamu udah kenal sama Mira dan Theo, kenapa masih nggak mau bergabung dengan mereka?"


"Aku nggak suka suara berisik" Sahut Adam dengan santainya dan Alba hanya bisa menghela napas panjang, lagi dan lagi.


Hari ketiga pun akhirnya tiba. Di tengah hari, semua peserta Social Gathering SMA Pelita Kasih, bersiap untuk kembali ke kota. Bu Nindya yang membawa mobil sendiri, memaksa Adam untuk ikut dengannya di depan semua guru dan murid-muridnya dengan alasan Adam masih belum fit badannya. Adam langsung menarik Alba, "Aku akan ikut asal ada Alba"


Alba terkejut dan seketika itu ia memamerkan deretan gigi putihnya ke Bu Nindya, Ibu guru wali kelasnya, lalu berkata, "Sa....saya naik bus aja Bu Nindya. Saya sehat banget kok nggak sakit jadi, saya naik bus aja, hehehehe" sambil menepis tangan Adam dari ujung jaketnya. Tapi Adam justru mempererat cengkeramannya pada ujung jaketnya Alba dan ia menoleh ke Alba dengan kata, "Kalau kau menemaniku naik mobilnya Bu Nindya, aku akan ajari kau Matematika sampai kita lulus SMA nanti, gratis"


Alba semakin melebarkan mulutnya dan deretan gigi putih hanya semakin banyak yang terlihat lalu ia berkata ke Bu Nindya, "Saya akan menemani Adam, Bu. Karena, saya butuh diajari Matematika, hehehehehe"