I Love You, Adam

I Love You, Adam
Masa Kecilnya Noah



Satya menggeram, "Lepaskan Noah!"


Adam mendelik dan menggertakkan gerahamnya, "Kau mau ma......"


Alba langsung berjinjit, menutup mulutnya Adam dengan tangannya lalu berbisik, "Jangan berkata kasar, Mas. Ada Noah"


Noah langsung mencium pipi papanya dan berkata, "Noah ingin bermain sama Om Satya. Noah kangen Om Satya, Pa"


Adam terpaksa melepaskan Noah masuk ke dalam pelukannya Satya. Satya tertawa senang dan ia langsung menggendong Noah seperti pesawat dan memekik riang, "Ayok kita terbang!" Noah langsung bergaya seperti Superman yang tengah terbang dan tertawa lepas.


Adam menatap kebersamaannya Satya dan Noah dengan wajah cemburu.


Alba langsung mengusap dadanya Adam lalu berkata, "Mau lihat foto-fotonya Noah pas kecil?"


Adam langsung menoleh ke Alba dengan wajah cerah. Mendung kecemburuan seketika lenyap dari wajah tampannya lalu Adam menganggukkan kepalanya.


Alba tersenyum senang, ia telah berhasil mengusir mendung kecemburuan dari wajah tampan suaminya. Kemudian Alba menggandeng tangan Adam dan mengajak Adam masuk ke dalam kamar. Alba mengambil tiga tumpuk album berukuran besar dengan bantuannya Adam, lalu meletakkannya di atas kasur.


"Yang paling bawah, berisi masa-masa Noah baru lahir sampai Noah berumur tiga bulan dan dibaptis. Satya yang menjadi Ayah baptisnya Noah"


Adam mengambil album foto yang paling bawah dan di saat ia membukanya, Adam tertegun melihat foto bayinya Noah yang masih mengenakan gelang dari rumah sakit tempat Noah dilahirkan, gelang itu bertuliskan nama Noah. Noah tampak gemuk dan menggemaskan.


Adam menoleh ke Alba dengan genangan air mata di kedua pelupuk matanya ia bertanya, "Kamu melahirkan normal?"


Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya, Mas. Aku sangat bersyukur diijinkan Tuhan melahirkan normal. Karena jika harus melahirkan secara Caesar, aku tidak punya biayanya"


Adam berdeham untuk mengusir riak kesedihan yang bercokol di kerongkongannya. Lalu ia merangkul bahunya Alba, mencium keningnya Alba dan berkata, "Maafkan kebodohanku saat itu. Meninggalkanmu sendirian pas aku dioperasi tanpa jaminan keselamatan untuk kamu dan anak kita. Karena aku lihat semua orang di sekitarku bisa aku percaya kala itu, tapi ternyata semuanya mengkhianati aku" Adam mulai terisak menangis.


Alba mengelus dadanya Adam dan berkata, "Mas, yang penting sekarang, Mas, sudah ada bersamaku dan Noah. Yang lalu biarlah berlalu"


Adam kembali mencium keningnya Alba masih dengan derai air mata di pipinya.


Alba mengusap air mata di kedua pipinya Adam lalu dengan tersenyum ia berkata, "Lihatlah foto Noah, Mas. Noah saat itu adalah bayi tergemuk, tertampan, dan terpanjang tubuhnya, dibandingkan dengan semua bayi yang lahir di hari itu"


Adam tersenyum bangga menatap foto bayi putra tunggalnya lalu ia mencium pipinya Alba dan berkata, "Dan kamu wanita paling kuat dan hebat di dunia ini karena telah berhasil memelihara Noah dengan baik selama berada di dalam rahim kamu dan kamu telah berhasil melahirkan Noah di dunia ini dengan selamat. Terima kasih banyak, Ba. Aku sangat beruntung memiliki kamu, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu"


Alba mengusap pipinya Adam dengan senyum bahagia lalu ia membalik halaman album kenangan masa kecilnya Noah dan berkata, "Ini Noah pas dibaptis. Dia pakai baju bayi terusan berwarna putih. Kau tahu, Mas, aku sendiri yang menjahit bajunya Noah, Oma Heni yang mengajariku menjahit dan bikin baju bayi untuk Noah dan selama beberapa bulan sebelum aku dapat kerjaan, aku menjahit popok, topi bayi dan aku setorkan ke pasar-pasar tradisional, hasilnya lumayan. Bisa untuk beli susu hamil dan vitamin hamil sisanya bisa untuk makan sehari-hari dan........"


Adam mempererat pelukannya dan berkata, "Itulah jawaban kenapa ada mesin jahit dan mesin potong kain di ruang tamu"


"Aku beli mesin jahit dan mesin potong kain dari uang yang ada di dompet kamu, Mas. Dompet kamu ada di dalam tas ransel kamu dan Kak Satya menyuruhku membawanya. Maaf"


"Tidak apa-apa. Untuk apa minta maaf? Uangku adalah uang kamu juga. Aku bahkan menyesal sekarang, kenapa saat itu aku tidak mengisi dompetku dengan uang yang lebih banyak lagi. Tapi, apa kartu ATM dan credit card-ku tidak bisa digunakan? Kenapa kau harus bekerja sekeras itu jika kau punya kartu ATM dan credit card unlimitedku?"


"Kak Satya mencoba menggeseknya dan tidak bisa. Papanya Mas sudah memblokir semuanya"


Adam langsung menggertakkan gerahamnya dan berkata di dalam hatinya kalau ia akan bikin perhitungan dengan papanya.


Alba langsung berkata saat ia melihat kebekuan di wajah Ares, "Jangan marah, Mas. Papa Mas, punya alasannya sendiri kenapa beliau melakukan semua itu. Kita lanjut lihat foto-fotonya Noah lagi aja, ya?"


Adam tersenyum lalu mencium keningnya Alba dan menganggukkan kepalanya.


Alba berkata, "Noah umur sebelas bulan sudah bisa berjalan dan mengucapkan kata singkat seperti Mama, Om, Oma. Kecerdasannya Noah udah terlihat sejak itu. Dia udah bisa berjalan, namun ingin segera berlari, lucu banget saat itu"


Adam kembali menitikkan air mata dan berkata, "Terima kasih kamu udah mengabadikan semua ini. Aku bersyukur bisa melihat tumbuh kembangnya Noah walaupun cuma lewat foto"


Alba mencium pipinya Adam dan berkata, "Karena aku yakin, suatu saat, Mas akan kembali. Dan aku terus berdoa untuk itu dan terus berdoa, Mas segera pulih seperti sedia kala dan selalu sehat"


Adam mempererat pelukannya dan berkata, "Terima kasih terus mendoakan aku karena kuasa doa itu memang sungguh dahsyat. Terima kasih sudah mendoakan aku selama ini, Ba" Adam menciumi pucuk kepalanya Alba dengan penuh rasa syukur.


"Aku beruntung memiliki Noah. Dia laki-laki di dunia ini yang selalu ada untuk aku di saat kamu belum kembali. Noah sangat menyayangiku, Mas dan Noah anak yang sangat baik, penurut dan paling pengertian di dunia ini" ucap Alba.


Adam menciumi rambutnya Alba dan berkata di sana, "Dan aku beruntung memiliki kalian berdua di dunia ini dan dituntun oleh Tuhan untuk kembali ke sisi kalian"


Noah dan Satya bermain bola di halaman belakang dengan riang gembira. Tiba-tiba Noah berteriak, "Om, Noah masuk dulu, ya! Udah waktunya Noah mandi. Noah nggak mau kena omelan, Mama!" Noah melambaikan tangannya ke Satya dan berlari masuk ke dalam kamar.


Satya berkacak pinggang dan dengan napas terengah-engah ia tertawa lepas melihat tingkah polosnya Noah, lalu melangkah pulang ke rumahnya untuk mandi dan bersiap mengeksekusi rencananya untuk menjebak Bella Fastro.


Adam menangkup wajahnya Alba dan di saat ia hendak mencium bibirnya Alba, Noah bertanya, "Papa mau gigit Mama, ya?"


Adam tersentak kaget begitu pula Alba. Adam langsung menarik wajahnya dan Alba langsung menarik diri dari pelukannya Adam sambil menepis kedua tangannya Adam dari kedua pipinya. Keduanya lalu menoleh ke Noah secara bersamaan dengan wajah merah karena malu dan suasana menjadi canggung.


Noah mengerjapkan mata beberapa kali di saat ia masih menunggu jawaban dari papanya.


"Oh, nggak, dong. Papa mana mungkin menggigit Mama"


"Tapi, kenapa bibir Papa maju terus ke bibirnya Mama dan......."


"Noah ambil baju, mau mandi?" Adam langsung memotong kalimatnya Noah karena terus terang ia mulai bingung mencari jawaban atas berondongan pertanyaan yang diajukan oleh Noah.


Noah menganggukkan kepala masih dengan wajah penuh dengan tanda tanya.


"Papa akan memandikan Noah" Adam langsung menggendong Noah lalu bertanya, "Mau dimandikan Papa?"


Noah langsung memeluk Papanya dan berteriak, "Mau!"


Adam langsung menggendong Noah dengan berlari menuju ke kamar mandi dan Alba langsung menghela napas lega karena ia dan Adam berhasil lepas dari berondongan rasa ingin tahunya Noah.


Beberapa jam kemudian, Adam, Alba, Satya, orang suruhannya Bella Fastro, dan beberapa petugas kepolisian telah bersiap untuk menjebak Bella Fastro.


Sementara itu, Noah berada di rumah dengan dijaga ketat oleh lima orang petugas kepolisian, lima orang bodyguardnya Adam, asisten pribadinya Adam, dan Oma Heni.


Mobil mewah Alex Baron memasuki halaman rumahnya Alba dan Alex Baron turun dari dalam mobil ya dengan menautkan alisnya. Alex Baron bergumam, "Kenapa ada banyak sekali penjaga di rumah ini?" Lalu Alex melangkah pelan menuju ke pintu masuk rumah itu dan langsung dihadang oleh lima orang petugas kepolisian yang berjaga di depan. Alex Baron menghela napas kesal beberapa kali karena, tidak diijinkan masuk ke dalam rumah dan dia terkejut melihat anak kecil tampan yang tadi menolongnya, berlari keluar dan berteriak, "Kakek, kenapa Kakek bisa sampai di sini?"


Noah berdiri tegak di depan Alex Baron dan Alex Baron menunduk, kemudian bersitatap dengan Noah dengan banyak tanda tanya di benak dan wajah tampannya.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri🙏 Mohon maaf lahir dan batin🙏 Selamat liburan bersama dengan keluarga tercinta ❤️