I Love You, Adam

I Love You, Adam
Bercerita Bersama Papa Bintang



Adam menelepon supirnya untuk menjemput dia di lokasi yang sudah ia bagikan ke supir pribadinya tanpa melepaskan tatapannya dari wajah manisnya Alba


Di saat Alba nekat ingin membuka mulut dan menceritakan semuanya ke Adams secara Pelan-pelan, Dokter keluarganya Heni dan Dokter Felix muncul di ruang makan dan langsung berkata secara bersamaan, "Jangan katakan!"


Adam menoleh ke asal suara dan tersentak kaget saat ia melihat Dokter Felix berdiri di depan pintu masuk ruang makan, "Dok, kenapa ke sini?"


"Aku mencari Alba dan ingin bicara empat mata.dengqn Alba"


"Dokter mengenal wanita ini?" Adam menautkan alisnya.


Dokter Felix hanya tersenyum ke Adam lalu mengajak Alba mengikutinya.


Adam ditinggal sendirian bersama Noah.


Noah tampak asyik menyingkirkan sawi putih yang tidak ia sukai di pinggir piring makannya dan Adam memperhatikannya.


"Kamu juga tidak menyukai sawi putih?"


Noah menoleh ke Adam, menganggukkan kepala dan berucap, "Saya cuma menyukai sawi sendok. Nama kerennya pokcoy"


"Wah! ada satu lagi kesamaan kita. Aku juga tidak suka sawi selain pokcoy" Adam berucap sembari membuka toples dan mengambil makanan aneh baginya. Adam menggigitnya dan ajaibnya, dia langsung menyukai makanan itu. Adam lalu bertanya ke Noah, "Ini namanya apa?"


"Rengginang. Mama selalu membuat rengginang karena aku sangat menyukainya" sahut Noah.


Adam mengacak-acak rambutnya Noah dengan senyum lebar lalu berucap, "Ada kesamaan lagi di antara kita. Aku juga suka makanan ini. Reng............apa tadi?"


"Rengginang" sahut Noah.


"Rengginang......... rengginang......rengginang. Aku sudah menghapalnya. Aku harus menghapal namanya karena aku menyukainya, hehehehehe"


Noah terkekeh geli melihat tingkah konyolnya laki-laki dewasa yang mirip sekali dengan dirinya di banyak hal.


"Saya boleh memanggil Anda, Papa Bintang?"


Adam menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat sambil membuka kembali tutup toples dan mengambil beberapa bulatan-bulatan kecil rengginang.


"Lalu, apakah saya boleh meminta Papa Bintang mengantarkan saya ke sekolah? Ada acara bercerita di depan kelas dengan Papanya. Saya, kan, tidak punya Papa. Sebenarnya saya udah mengajak Om Satya untuk tampil menemani saya, tapi saya memilih Anda saja yang tampil menemani saya karena, Anda Papa Bintang saya"


"Ayok!" Sahut Adam dengan mulut penuh dengan rengginang. Adam lalu menggendong Noah dan langsung mengajak Noah masuk ke dalam mobilnya yang sudah diantarkan oleh supirnya.


Satya masuk ke ruang makan setelah rapi dan bersiap mengantarkan Noah ke sekolah karena ia akan tampil di acara "Bercerita dengan Papa' di sekolahnya Noah, tapi Satya tidak menemukan Noah di sana.


Satya lalu berjalan ke halaman depan dan ia melihat ada banyak sepatu di depan pondok tamu. Satya lalu berlari masuk ke pondok tamu. Dia melihat Alba tengah berbincang serius dengan Dokter Felix dan dokter keluarganya.


Satya ikutan duduk mendengarkan penjelasannya Dokter Felix dan untuk sejenak ia melupakan soal Noah yang belum ia temukan keberadaannya.


"Ah! Noah! Iya, aku ke sini mau nanya ke kamu, Ba, di mana Noah?"


"Lho! Noah ada di rumah, kan? Lagi sarapan sama Mas Adam"


"Keduanya hilang, Ba. Aku cari di mana-mana nggak ada"


Semuanya langsung bangkit berdiri dengan wajah panik dan Heni yang baru saja masuk ke dalam pondok tamu langsung berucap, "Nggak usah panik. Noah pergi dengan Adam ke sekolah naik mobilnya Adam. Adam dan Noah minta ijin ke aku tadi dan aku ijinkan.


"Ma! Kenapa Mama mengijinkannya? Kita nggak tahu Adam yang sekarang ini Adam yang seperti apa?" Satya langsung menyemburkan protes ke mamanya dan Alba hanya bisa diam mematung.


"Aku suruh Bunga ikut dengan mereka" Sahut Heni.


Bunga adalah sekretaris pribadinya Heni. Bunga mencintai Satya sejak mereka masih kanak-kanak, tapi Satya tidak pernah melirik Bunga.


"Tapi, aku dan Noah udah janjian kalau aku akan menemani Noah di acara ........."


"Aku rasa acara 'Bercerita dengan Papa' memang lebih tepat kalau Adam yang menemani Noah" Sahut Heni dengan cepat untuk memotong ucapannya Satya.


Heni melakukan itu semua karena ia merasa bahwa selamanya Alba hanya mencintai Adam dan ia ingin Satya menyadari itu.


Satya merengut dan langsung melangkah lebar meninggalkan pondok tamu.


"Kak! Kakak mau ke mana?" pekik Alba.


"Ke sekolahannya Noah" sahut Satya tanpa menoleh ke belakang.


"Aku ikut" Alba memeluk Heni dan mencium pipinya Heni sambil berucap, "Aku pergi dulu, Ma"


Heni hanya bisa menghela napas panjang menatap kepergiannya Satya dan Alba.


Noah mendapatkan giliran ketiga untuk bercerita di depan kelas. Dan Noah terus tersenyum bangga bisa duduk di sebelahnya Adam dan ia tertawa bahagia saat Adam memperkenalkan dirinya ke guru-guru dan teman-temannya Noah kalau dia adalah Papa Bintangnya Noah.


Teman sekelasnya Noah yang berbadan subur dan berpipi tembem dan selalu mengejek Noah karena Noah tidak memiliki Papa, langsung diam membisu dengan kerucut di bibirnya karena kesal melihat Noah ternyata memiliki seorang papa.


Gilirannya Noah untuk bercerita di depan kelas bersama dengan Papanya pun tiba. Noah tersenyum bahagia saat tangan mungilnya digenggam oleh Papa Bintangnya.


Noah memeperkenalkan Papa bintangnya di depan kelas dengan wajah bahagia dan bangga lalu ia mulai bercerita, " Saya sejak lahir tidak ditemani Papa karena, Papa saya pergi ke langit untuk menjadi salah satu Bintang di sana. Papa saya memiliki tugas mulia untuk menerangi kita semua di malam hari dengan kerlip cahayanya. Itu yang selalu Mama ceritakan ke saya. Saya terus menunggu sampai Papa menyelesaikan tugasnya menjadi Bintang di langit. Saya selalu menatap langit dan selalu memimpikan memiliki sebuah teleskop agar bisa menatap Bintangnya Papa saya lebih dekat Dan di saat impian saya terkabul, Mama saya membelikan saya teleskop, di saat itu juga, Papa jatuh dari atas langit dan inilah Papa Bintang saya"


Guru kelasnya Noah, menitikkan air mata haru. Begitu pula dengan Satya dan Alba yang datang tepat di saat Noah berdiri di depan kelas bersama dengan Adam.


Adam tersenyum lebar dan mengusap kedua matanya yang penuh genangan air mata lalu ia menggendong Noah dan berucap, "Saya bahagia bisa turun dai langit dan bertemu dengan anak tampan, cerdas dan pemberani seperti Noah" Adam mencium pipinya Noah dan langsung mendapatkan gemuruh tepuk tangan dari seisi kelas.


Alba langsung berputar badan, berlari ke taman dan menangis sesenggukkan di sana.