I Love You, Adam

I Love You, Adam
Tersenyum Senang



Abang penjual bubur ayam yang sangat ramah dan sudah tampak berumur sekitar empat puluh lima tahun itu, meletakkan bubur ayam pesanannya Adam di atas meja dan dia langsung memekik senang saat ia menoleh dan melihat wajahnya Adam, "Bos Adam! Ini Bos Adam, kan? Dan Itu, Non Alba?"


Alba tersenyum ramah ke Abang penjual bubur ayam itu dan berkata, "Iya, saya Alba, Bang. Apa kabar, Bang?"


"Baik Non, kabarnya Abang, baik, hehehehe. Wah! Hubungan kalian masih awet, ya. Abang seneng kalau lihat pasangan kekasih bisa awet hubungannya kayak kalian ini. Ah! so sweet!"


Alba hendak membuka suara untuk menyangkal omongannya si Abang penjual bubur ayam itu, namun Adam segera bangkit. Adam menepuk pundak Abang si penjual bubur ayam sambil berkata, "Iya dong, Bang! Cewek semanis dia memang harus dipertahankan. Betul nggak?" Adam mengedipkan matanya ke Alba dan Alba hanya bisa menghela napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Abang penjual bubur ayam itu mengacungkan ibu jarinya ke Adam lalu berkata, "Betul! Abang setuju, hehehehe"


"Emm, saya borong deh semua bubur ayam yang masih sisa" Sahut Adam kemudian.


Adam tersenyum ramah ke semua pembeli bubur ayam di pagi hari itu, lalu berkata, "Saya akan bayar bubur ayam yang Anda nikmati saat ini"


Semua pembeli bubur ayam di pagi hari itu segera mendengungkan kata, "Terima kasih" secara bersamaan.


Adam menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan kata, "Sama-sama" Kemudian. dia duduk kembali dan langsung mendapatkan tatapan tajamnya Alba.


Adam terkekeh geli melihat Alba melotot ke arahnya. Lalu, pengacara muda nan tampan itu berkata, "Aku tahu kalau aku ini sangat tampan. Jadi, jangan liatin aku sampai melotot kayak gitu, Ba!" Adam lalu menyendok bubur ayam yang ada di depannya.


Alba mendelik dan bertanya, "Kenapa kau bersikap kayak gitu? Pemborosan kan, itu namanya? Dan untuk apa?"


"Apa nggak boleh? Suka-suka aku dong"


"Iya emang sih, Paijo! Tapi untuk apa melakukan pemborosan kayak gitu?"


"Karena aku lagi bahagia di pagi hari nan cerah ini"


Alba menoleh ke belakang dan melihat langit yang sedikit mendung. Pergantian cuaca dari musim panas ke musim hujan sepertinya akan terjadi di hari itu dan Alba menatap Adam kembali, "Mendung lho. Kok cerah?"


"Langit di hatiku yang cerah karena, aku merasa sangat bahagia hari ini. Aku bahagia karena, aku sudah bisa memeluk kamu tadi dan aku bahagia karena, kamu berjanji akan memberikan jawaban kamu setelah kasus kamu kelar dan aku bahagia karena, aku bisa sarapan lagi di sini, bersama dengan wanita yang sangat dan selalu aku cintai"


"Dasar Paijo, gila!" Alba mengabaikan semua ucapannya Adam dan mulai menikmati bubur ayam kesukaannya dalam diam.


Adam menatap syal yang melingkar manis di leher cantiknya Alba yang sudah terlilit sejak tadi. Adam lalu bertanya dengan pelan dan hati-hati, "Apa belum hilang?"


Alba mengangkat wajahnya dan menghentikan sendok yang ada di depan mulutnya, "Apa?"


"Ah! lupakan saja" Adam menyendok kembali bubur ayamnya.


Alba lalu mengerti arah pertanyaannya Adam dan dia langsung berkata, "Belum"


Adam mengangkat wajahnya dan berkata, "Andaikan kita sudah menikah saat ini, aku akan daratkan noda baru untuk menutupi noda itu"


"Dam! Kenapa bicara soal nikah, sih?" Alba melotot ke Adam.


"Lho kenapa emangnya? Aku dari dulu memang ingin menikah denganmu dan hanya ingin menikahimu bukan wanita lain" Sahut Adam dengan ratu wajah seriusnya.


Alba kembali menghela napas panjang dan kemudian berkata lirih, "Aku tetap merasa, kalau aku tidak pantas untukmu"


Adam menatap Alba dengan sorot mata tajam dan rahangnya mulai berkedut menahan kekesalannya. Lalu dia memilih bangkit untuk membayar semua bubur ayamnya.


Adam lalu menoleh ke belakang, "Kita balik sekarang aja, ya?"


Alba bangkit dan berputar badan untuk mengikuti langkahnya Adam menuju ke rumah sepupunya Pambudi.


"Kamu masuk dulu ke.dalam! Aku akan kasih bubur ayam ini ke mereka" Adam keluar dari mobilnya dan langsung berjalan menuju ke mobil dinas kepolisian yang masih parkir di depan rumah sepupunya Pambudi.


Kedua petugas kepolisan yang berada di dalam mobil, masih tertidur pulas di jam enam pagi dengan cuaca mendung dan angin yang mulai berasa dingin. Adam lalu mengetuk kaca jendela pintu mobil itu beberapa kali sampai petugas kepolisan yang bernama Broto terbangun dan langsung keluar dari dalam mobil. "Ada apa, Pak Pengacara?"


Adam menyodorkan satu kantong plastik besar ke petugas kepolisan yang bernama Broto.


"Ini apa?" Petugas kepolisan yang bernama Broto itu menerima kantong plastik besar itu dan melongokkan kepalanya ke dalam untuk melihat apa isi kantong plastik besar itu.


"Itu bubur ayam. Anda bisa bawa ke kantor Anda dan Anda bagikan ke rekam-rekan Anda. Anda akan ke kantor kan, pagi ini?"


"Iya benar. Kami akan ke kantor sebentar untuk memberikan laporan lalu pulang sebentar untuk mandi" Sahut Broto. "Dan terima kasih untuk bubur ayamnya"


"Anda bisa ke kantor sekarang. Saya akan menjaga klien saya"


"Baiklah! Terima kasih banyak untuk kesediaan Anda menggantikan tugas kami menjaga koran dan saksi. Dan terima kasih banyak untuk bubur ayamnya"


Adam tersenyum lebar lalu berkata, "Sama-sama"


Petugas kepolisan yang bernama Broto langsung masuk ke dala. mobil dan melajukan mobilnya ke kantor kepolisan tempat dia dan Paijo rekannya, berdinas.


Adam lalu melangkah masuk ke pekarangan rumah sepupunya Pambudi dan mengetuk pintu depan rumah itu sambil berteriak lantang, "Ini Adam, Sayang!"


Alba membukakan pintu dan langsung menyemburkan protes, "Nggak pakai kata Sayang, bisa kan?"


"Nggak bisa, dong. Karena, aku sangat menyayangi kamu" Adam mengecup keningnya Alba lalu melewati Alba yang langsung menyusul langkahnya Adam dengan uring-uringan, "Dam! Kenapa mengecup keningku?"


"Aku ingin memastikan kalau peraturan yang kamu buat sudah terhapus secara otomatis karena, aku udah putus dengan Bella" Adam berucap sembari memutar badannya secara pelan untuk berdiri berhadapan dengan Alba.


"Huufftt! Emang susah berdebar dengan seorang Pengacara. Aku akan mandi. Kau tidak pulang untuk mandi?"


"Aku akan menunggumu"


Alba menautkan alisnya, "Kenapa menungguku?"


"Pokoknya aku akan menunggumu dan kita akan pergi bareng"


Alba mulai berkacak pinggang, "Emangnya kamu nggak ada kegiatan di hari Minggu? Karena, aku memiliki banyak kegiatan di hari Minggu. Seharian penuh aku akan berada di studio musik untuk ngelesi anak-anak dan aku rasa, kita nggak bisa pergi bareng dan aku nggak ada waktu untuk meladeni kegilaan kamu nanti, Dam!" Alba mulai menggeram kesal.


"Pokoknya aku akan menunggumu" Adam duduk di atas kursi dan menyilangkan kakinya.


"Dasar Paijo!" Alba lalu berputar badan dan melangkah kesal menuju ke kamarnya.


Alba memakai sweater berwarna biru tua dengan kerah panjang menutupi leher. Lalu ia melewati Adam menuju ke pintu depan. Adam langsung bangkit dan berlari menyusul Alba.


Alba berlari kecil meninggalkan Adam setelah ia mengunci pintu rumah. Adam berlari menyusul Alba dan berhasil meraih pinggangnya Alba untuk ia tarik lalu ia peluk erat dari arah belakang.


Alba memukul tangan Adam yang ada di atas perutnya sambil memekikkan kata, "Lepas, Dam! Busnya keburu pergi"


Alih-alih melepaskan Alba, Adam membopong Alba dan mengabaikan teriakannya Alba. Adam lalu memasukkan Alba ke dalam mobilnya , menahan bahunya Alba sambil memasang sabuk pengaman dan berkata, "Kalau kamu nggak nurut, aku akan bawa kamu ke kantor pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita"


"Nggak lucu! Kamu main-main, kan?"


"Kita lihat aja. Kamu coba ngeyel dan aku akan........"


"Iya baiklah! Aku akan nurut"Alba mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap.


Adam tersenyum senang dan mengecup kembali keningnya Alba sebelum ia menutup pintu mobilnya