I Love You, Adam

I Love You, Adam
Ada Apa Sebenarnya?



Adam memutuskan memarkirkan mobilnya di depan kantin tempat ia hendak makan siang tadi. Di sana dia celingukkan dan tidak menemukan Alba. Lalu Adam mendekati seorang wanita yang tengah membersihkan etalase kantin tersebut yang telah kosong, "Permisi, Anda kenal dengan Alba Anindya?"


Wanita paruh baya itu menghentikan aktivitasnya untuk menatap Adam dan senyum semringah langsung terpancar di wajahnya saat ia bersitatap dengan pemuda yang gagah dan sangat tampan. Lalu wanita itu mengusapkan tangannya di celemek yang terpasang di badannya kemudian ia ulurkan tangannya ke Adam, "Kenalkan, saya Tantenya Alba Anindya"


"Oh?" Adam terkejut dan ia langsung menyambut uluran tangan dari tantenya Alba.


"Nama saya Jelita. Saya punya suami namanya Pramono dan saya tidak memiliki anak. Saya tinggal bertiga dengan suami saya dan Alba" wanita itu kembali berkata sambil mengayunkan-ayunkan tangannya Adam yang masih ia genggam sangat erat.


Tubuh Adam berguncang saat tangannya terayun lalu dengan cepat ia menahan ayunan tangan dari tantenya Alba dan menarik tangannya lepas dari genggaman wanita yang mengaku bernama Jelita.


Tantenya Alba tersenyum canggung dan malu lalu bertanya untuk menutupi rasa malunya, "Anda siapanya Alba? Anda dosen baru kan di sini? Emm, Anda yang tadi siang bikin keributan kecil di sini, kan? Terus Alba saya suruh ke kantor Anda untuk mengantarkan makanan yang belum Anda sentuh"


Adam tersenyum dan merasa senang kala tebakannya benar bahwa yang mengantarkan makanan ke kantornya tadi siang adalah Alba. Dan berkatalah Adam, "Saya teman SMA-nya Alba. Apa saya boleh minta alamat Anda?"


Tantenya Alba lalu menggandeng lengannya Adam sambil berucap, "Antarkan saya pulang saja! Hehehehe, maka Anda akan tahu rumah saya, hehehehe. Tapi, sebelumnya mampir ke pasar sebentar, ya?!"


Adam menghela napas sambil menarik lengannya dan dengan sangat terpaksa, ia mengantarkan tantenya Alba ke pasar lalu mengantarkan tantenya Alba pulang, demi bisa bertemu kembali dengan Alba dan meminta penjelasan ke Alba perihal permintaan putus dari Alba, beberapa tahun silam.


Alba sampai di rumah milik tantenya. Setelah memarkiran sepeda onthelnya dengan benar dan aman, ia masuk ke dalam rumah. Saat ia masuk ke ruang tengah rumah bertipe empat puluh lima di perumahan untuk kalangan mencegah ke atas itu, ia menemukan hanya ada Omnya di ruang tamu dengan bertelanjang dada duduk selonjor di depan kipas angin, Alba langsung berbalik badan untuk memilih keluar kembali dari rumah tantenya daripada terjadi hal-hal yang dia takutkan selama dia hidup satu atap dengan tante dan omnya.


Namun, omnya Alba dengan cepat bangkit, terus berlari dan berhasil memegang lengannya Alba dengan kedua tangannya. Alba memekik kaget dan secara spontan, ia menoleh ke belakang dan menarik lengannya dengan keras sampai terasa nyeri tapi, kakinya selip dan dia jatuh di atas lantai marmer berwarna putih berukuran empat puluh kali empat puluh.


Omnya Alba langsung menyeringai senang mendapati Alba tersungkur di atas lantai. Laki-laki hidung belang itu langsung berjongkok dan mendekap Alba dari belakang lalu menciumi rambutnya Alba dengan napas memburu penuh napsu liar.


Alba meronta dan dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan, ia masih bisa untuk berusaha berpikir jernih dan berusaha dengan sekuat tenaga, terus menarik diri dari dekapan laki-laki yang telah dikuasai napsu liar itu. Alba berulangkali menepis tangan Omnya yang berniat memegang dadanya dengan derai air mata dan bergumam lirih karena lemas, "Lepaskan saya, Om! Tolong lepaskan saya!"


"Apa-apaan ini?" Suara teriakan tantenya Alba bak petir menyambar bagi omnya Alba, namun suara menggelegar itu bagai angin Surga bagi Alba.


Omnya Alba langsung melepaskan dekapannya pada tubuh Alba lalu bangkit berdiri dengan wajah terpasang polos dan seolah tanpa dosa, laki-laki yang memiliki pikiran sangat busuk itu berkata, "Alba jatuh, aku hendak menolongnya untuk berdiri"


Alba lalu bangkit dengan pelan-pelan dan menundukkan wajah manisnya di depan tantenya sambil mengusap air matanya.


Tantenya Alba yang masih menenteng dua kantong plastik belanjaannya menautkan alisnya dan bertanya, Kenapa Alba menangis?"


"Nggak tahu! Kau tanya sendiri sana sama Alba!" Omnya Alba langsung ngeloyor pergi ke teras depan rumahnya untuk menyulut rokoknya.


Tantenya Alba memutar badan untuk melihat arah perginya Alba lalu ia menghela napas dan kembali memutar badan, masuk ke dalam, menuju ke dapur untuk segera mengeksekusi belanjaannya.


Alba langsung membelokkan badannya ke kiri tanpa menyadari ada Adam di belokan sebelah kanan. Adam menautkan alisnya saat ia melihat punggungnya Alba berlari menjauh. Adam bergegas berlari menyusul Alba. Dan Adam mengerem laju larinya saat ia melihat Alba menghentikan lari kecilnya. Adam melihat punggungnya Alba bergetar dan Adam bisa mendengar isak tangisnya Alba.



Air mata terus mengalir dari kedua kelopak mata indahnya Alba yang lentik. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, namun isak tangisnya semakin hebat dan Adam dapat mendengar isak tangis yang menghebat itu dan Adam dapat melihat punggungnya Alba bergetar semakin kencang.


Adam mendekat dengan perlahan dan menyentuh pundaknya Alba.


Adam dapat merasakan tubuhnya Alba langsung menegang dan Adam mengernyit saat ia mendengar Alba memohon dengan pilu, "Tolong, jangan sentuh saya, Om!"


Adam langsung bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang baru saja dialami oleh Alba. Lalu berkatalah ia, "Om? Om siapa yang kamu maksud?"


Alba tersentak kaget. Ia mendengar suaranya Adam. Tetapi keterkejutannya Alba itu, justru membuat dirinya mematung dan tidak berani untuk menoleh ataupun bergerak sedikit saja.


Adam lalu berjalan ke dapan dan berhenti di depannya Alba. Dia mengangkat dagunya Alba, mengusap air matanya Alba sambil bertanya, "Apa yang telah terjadi?"


Alba menepis tangannya Adam dengan kasar dan hanya diam seribu bahasa, ia melihat ke arah lain. Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap Adam. Alba takut tidak bisa menipu Adam tentang rasa yang sesungguhnya ada di sudut relung hatinya. Rasa cintanya untuk Adam masih sangat besar, menggunung tanpa daya dia dorong ke tepian sanubarinya dan dia nggak ingin Adam tahu kalau dia masih sangat mencintai Adam dan sangat merindukan Adam.


Adam menghela napas lalu berkata, "Apa aku ini jelek banget sampai-sampai, kamu nggak mau menatap aku? Apa karena kamu sangat membenciku jadi, kamu nggak mau melihat wajahku lagi, Ba?"


Alba diam membisu dan masih melihat ke arah lain.


"Ba, Kenapa kamu sangat membenciku? Apa salahku? Kenapa kamu tega memutus jalinan cinta kita saat cinta kita sedang manis-manisnya? Saat cinta kita mekar dengan sangat indah, saat aku sedang sayang-sayangnya sama kamu dan........"


"Maaf aku harus pulang untuk membantu Tanteku memasak" Alba berbalik badan dan melangkah meninggalkan Adam.


Adam berlari kecil dan menahan pundaknya Alba dengan kata, "Maaf aku menahanmu dan menyentuh pundak kamu. Tapi, katakan dulu alasannya dan ceritakan ke aku, apa yang membuatmu menangis barusan?"


Alba menepis tangannya Adam tanpa menoleh ke belakang lalu berlari kencang meninggalkan Adam tanpa sepatah kata pun.


Adam menatap punggung Alba yang semakin menjauh darinya dengan tatapan syahdu. Lalu ia melangkah lemas kembali ke mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya, Adam masih terus menatap pintu gerbang rumah mungil milik tantenya Alba sambil bergumam, "Ada apa sebenarnya? Kenapa Alba makin kurus dan kenapa dia menangis?"