
"Pa, apa Noah boleh mencicipi makanan yang Papa makan?" Noah mulai merecoki makanannya Adam dan Adam dengan sabar dan tertawa senang, menyuapi Noah dengan makanan yang ia makan.
"Noah! Jangan begitu sama Om Adam!" Alba mendelik ke Noah.
Noah langsung menegakkan badannya ke depan dan langsung menundukkan wajahnya.
"Maafkan Noah. Dia memang selalu merecoki makanan orang lain jika ada banyak makanan di depannya. Noah suka mencicipi makanan yang aku makan, makanan yang Oma Heni makan, dan makanan yang tidak sama dengan yang ia pesan, kalau kami makan bersama di luar rumah"
"Maafkan Noah, Pa" Noah berucap lirih dan masih menundukkan wajahnya ke arah depan dengan badan duduk tegak.
Adam langsung mendelik ke Alba, "Kenapa emangnya kalau Noah ingin mencicipi makanan yang aku makan? Aku nggak keberatan kok" Lalu Adam menoleh ke Noah, "Noah, nggak papa kok. Papa justru senang kalau Noah bersikap santai sama Papa. Nih! Papa suapi lagi. Aaaaaa!"
Noah langsung mengangkat wajahnya, menoleh ke Adam dan membuka mulutnya untuk menerima suapannya Adam dengan wajah berseri-seri.
Alba hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas, lalu ia bangkit berdiri meninggalkan Adam dan Noah. Wanita berparas manis dan keibuan itu, masuk ke toilet. Ia membuka cincin pernikahannya dengan Adam dan meletakkan cincin itu di wastafel lalu ia mencuci tangannya. Kemudian ia menelepon dokter Leon, "Dok, kalau misalnya saya mencoba masuk perlahan dengan cara menceritakan ke Adam masa lalunya Adam sedikit demi sedikit apakah boleh?"
"Apa Adam mengalami demam atau pusing setelah ia pingsan kemarin?" tanya Dokter Leon.
"Tidak" Jawab Alba.
"Kalau begitu coba saja. Tapi, setiap harinya jangan lebih dari satu jam ceritanya. Takutnya memori otaknya Adam belum siap menerima semuanya secara dadakan. Semua harus dilakukan secara bertahap. Karena jika semuanya dipaksakan, akan berakibat fatal bagi Adam"
"Baik, Dok. Terima kasih" Saking bahagianya menerima kabar baik dari Dokter Leon kalau ia boleh mulai bercerita ke Adam tentang cerita masa lalu mereka sedikit demi sedikit, Alba mematikan ponselnya dan keluar dari dalam toilet tanpa cincin pernikahannya.
Alba terkejut saat ia membuka pintu toilet, Adam tengah bediri di depan pintu itu.
"Kamu habis menelepon siapa?" Adam melihat ponsel yang masih Alba genggam.
Alba langsung berucap, "Dokter Leon. Kata Dokter Leon, aku boleh mulai bercerita ke kamu, tapi sedikit demi sedikit"
"Benarkah?" Adam menatap Alba dengan wajah berseri-seri.
"Iya. Aku akan menunggumu nanti malam di rumah" Alba tersenyum dan berjalan kembali ke sofa.
Adam masuk ke dalam toilet dan saat ia mencuci tangannya di wastafel, ia menemukan cincinnya Alba. Adam melihat bagian dalam cincin itu dan melihat ukiran A❤️A. Huruf A ini pasti Alba dan A yang satunya lagi pasti inisial nama Papanya Noah. What?! Papanya Noah namanya juga berawalan A? Kenapa bisa sama seperti namaku, Adam? Adam kan juga berawalan A" Adam lalu melihat jari manis tangan kanannya, dia merasa kalau cincin yang serupa pernah melingkar manis di jarinya seperti yang sering ia lihat di dalam mimpinya. "Tapi kenapa cincin itu nggak ada di jari manis tangan kananku lagi sekarang" Gumamnya.
Adam keluar dari dalam toilet sambil membawa cincinnya Alba dan ia melihat Alba tengah memangku Noah yang tertidur. "Tidurkan saja di kamar!"
"Apakah tidak apa-apa?" Alba menoleh ke belakang ke arah suaranya Adam.
"Itu kamarku. Siapa yang akan melarang Noah tidur di sana kalau aku udah mengijinkannya? Udah tidurkan saja di kamar! Kasihan Noah tidur dengan tidak nyaman kayak gitu" Adam berucap sembari melangkah mendekati Alba.
Alba berkata, " Nggak papa. Biar Noah tidur seperti ini saja"
Adam menggeram kesal lalu ia merengkuh Noah dengan pelan ke dalam pelukannya dan Adam langsung melangkah lebar menuju ke kamarnya dan menidurkan Noah di sana.
Beberapa detik kemudian Adam keluar dari dalam kamar, mendekati Alba dan ia menyerahkan sebuah cincin ke Alba, "Ini cincin kamu,kan, ketinggalan di toilet"
"Ah, terima kasih" Alba menerima cincin itu dan langsung memakainya kembali di jari manis tangan kanannya.
"Siapa laki-laki bernama depan A yang pernah menikahimu dan memberikan cincin itu ke kamu?" Adam mulai menautkan alisnya ke Alba.
"Akan tiba saatnya kau tahu, tapi tidak sekarang. Aku akan ceritakan sedikit demi sedikit, nanti, demi kebaikanmu" Alba tersenyum ke Adam.
"Baiklah. Siapkan teh yang sama seperti tadi. Aku akan keluar sebentar ke ruang rapat. Tunggulah di sini, kita akan pulang bareng nanti dan jangan keluar ke mana-mana dan jangan buka pintu kalau ada yang mengetuk pintu, mengerti?!"
Alba menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Saat Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Alba karena ia ingin mengecup bibirnya Alba, bibir tipis, menggoda, merah alami, yang sudah membuatnya ketagihan untuk menyesap rasa manisnya, Alba mundur ke belakang sambil berucap, "Jangan dibiasakan menciumku tanpa ijin dariku!"
Adam terkekeh geli dan berucap, "Kok tahu sih kalau aku ingin mencium kamu. Oke. Aku akan keluar sekarang" Adam berputar badan dan pergi meninggalkan Alba untuk rapat dengan para investor
Alba menatap punggungnya Adam dengan senyum bahagia, lalu bergumam, "Aku tahu semua tentang kamu, Mas. Karena, aku ini adalah Istrimu. Istri yang selalu setia dan sangat mencintaimu"
Ceklek! Pintu ruang kerjanya Adam terbuka dan Adam melangkah masuk dengan senyuman. Noah menutup bukunya, memasukkan. semua bukunya ke dalam tas sekolahnya, lalu berlari ke Adam. Adam langsung berjongkok dan menyambar tubuhnya Noah untuk ia gendong.
"Kamu ngapain barusan?" Adam bertanya lalu mencium pipinya Noah kemudian menurunkan Noah dengan hati-hati di atas lantai ruang kerjanya.
Noah menggandeng Papa Bintangnya untuk ia ajak duduk di sofa, lalu berkata, "Noah mengerjakan tugas dari Ibu gurunya Noah"
Adam tersenyum lebar sembari mengusap pucuk kepalanya Noah dan berkata, "Ada yang sulit nggak? Kalau ada pelajaran yang sulit dan nggak kamu pahami, kamu bisa tanya ke Papa"
"Kalau hari ini, nggak ada yang sulit. Kalau besok ada yang sulit, Noah akan minta diajari sama Papa" Noah tersenyum lebar ke Adam dengan wajah polosnya.
Adam tersenyum bangga melihat kemandiriannya Noah lalu ia mencium pipinya Noah dengan gemas.
Alba melangkah ke sofa sembari membawa nampan berisi teko, dua cangkir teh dan tempat gula mini. Alba meletakkan nampan di atas meja sofa lalu menyerahkan catatan kecil ke Adam sambil berkata, "Ini catatan penting yang aku terima dari beberapa telepon yang masuk, tadi"
"Hmm. Terima kasih" Adam menerima catatan itu memasukkannya ke dalam saku kemejanya"
"Kamu tidak membacanya dulu? Kalau-kalau ada hal yang sangat penting dan butuh respons secepatnya?"
"Nanti aja" Adam berucap dengan santai lalu ia mengambil cangkir tehnya dan langsung meminumnya tanpa meniup atau menyesapnya terlebih dahulu.
Alba tersentak kaget dan langsung memekik, "Awas! Tehnya masih panas, Mas"
Adam tersenyum dan sembari meletakkan cangkir teh yang telah kosong kembali ke tempatnya, Adam berkata, "Nggak kok. Nggak panas. Hangatnya pas, aku suka. Sangat suka" Adam menatap Alba dengan penuh arti.
Alba langsung mengalihkan pandangannya ke Noah dengan canggung.
"Yang satu buat Noah, ma?" tanya Noah.
"Iya. Tapi, pelan-pelan minumnya. Panas"
Adam langsung mengambilkan cangkir teh untuk Noah dan meniupnya, lalu membantu Noah meminumnya pelan-pelan.
"Kalau ada kamu, Noah jadi manja. Dia bisa minum sendiri, Mas. Noah udah terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Jangan kau manjakan kayak gitu!"
"Aku ingin membantunya, apa itu salah?" Adam mendelik ke Alba dan Alba hanya bisa menghela napas lagi dan lagi.
Beberapa jam kemudian, Alba, Noah, dan Adam turun dari dalam mobil. Alba dan Noah masuk ke rumah utama, sedangkan Adam masuk ke pondok tamu.
Adam keluar dari dalam pondok tamu beberapa menit kemudian dan melangkah ke rumah utama. Dia mengetuk pintu dan Alba membukakan pintu dengan rambut basah habis keramas. Butiran air menetes ke lehernya Alba dan wangi sabun mandi di tubuh Alba langsung menusuk indra penciumannya Adam dan wangi shampoo di rambut basahnya Alba, membuat Adam meneguk air liurnya dengan fantasi liarnya.
Adam tertegun di depannya Alba. Alba terlihat seksi dan menggoda dengan rambut basah, dress rumahan yang tipis, tanpa alas kaki, pemandangan itu membuat naluri kelakuannya Adam bangkit.
Dan Alba yang risih melihat Adam mengamatinya dari ujung kepala ke ujung kaki dan balik lagi dari ujung kaki ke ujung kepala, langsung bertanya dengan sorot mata tajam, "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
Adam tersentak dari fantasi liarnya dan keterkejutannya justru membuatnya bergerak secara refleks memeluk pinggang rampingnya Alba lalu berbisik di telinganya Alba, "Keseksian kamu dengan rambut basah kamu, dress tipis dan tanpa alas kaki, membuatku sesak napas, tapi sayangnya, aku ada janji saat ini. Jadi, dengan sangat terpaksa aku harus melepasmu saat ini" Adam mencium pucuk rambutnya Alba yang masih basah, menghirupnya dalam-dalam selama beberapa detik, lalu ia lepaskan pinggangnya Alba.
Giliran Alba yang tertegun menatap Adam.
Adam tersenyum lebar lalu ia melambaikan tangan dan sambil berbalik badan menuju ke mobilnya, ia berucap, "Aku akan segera kembali. Aku ingin ajak kamu dan Noah jalan-jalan nanti malam"
Dan di saat mobilnya Adam telah meluncur keluar dari halaman rumahnya, Alba langsung memekik kesal, "Dasar gila! Selalu aja membuat jantungku ini berdegup tidak karuan"
Dua jam kemudian, Adam duduk berhadapan dengan Bella.
Bella terus mengulas senyum cantiknya dan berkata, "Aku senang banget kamu mengajakku berkencan saat ini. Dan aku harap, setelah ini, kamu mengajakku menghabiskan malam bersama sampai pagi tiba"
Adam menyesap cangkir kopinya lalu sambil tersenyum tipis ia meletakkan cangkir kopinya dan berucap, "Aku ingin memutuskan pertunangan kita"
"Hah?! Apa?!" Bella langsung menarik rahang bawahnya di depan Adam.