I Love You, Adam

I Love You, Adam
Kilatan Pisau



Alba langsung masuk ke ruang drum lalu bergegas duduk di depan drum. Alba memencet monitor yang ada di belakangnya untuk memilih lagu dan ia langsung menggebuk drum di depannya dengan diiringi lagu rock dari salah satu grup band ternama luar negeri.


Alba menggebuk drum dengan penuh semangat dan perasaan dan mengabaikan keberadaannya Adam di ruangan kedap suara itu.


Adam terkesima melihat Alba memainkan drum dengan sangat handal dan Adam terpesona melihat ekspresi Alba, wajah manisnya Alba yang lembut, mengeluarkan ekspresi bebas, liar dan seksi yang mampu membuat hati semua pria berdesir kagum. Adam ternganga dan mematung tidak berdaya melihat penampilan apiknya Alba menggebuk drum.


Temannya Alba menepuk pundaknya Adam dan berkata, "Alba kalau sedang sedih dan galau, pasti menggebuk drum dulu sebelum memulai mengajari anak didiknya piano"


Adam menoleh ke samping, "Di sini ada berapa guru les?"


"Drum ada tiga orang guru les.dan semuanya cowok. Piano ada tiga orang guru les dan semuanya cewek, termasuk Alba. Dan satu orang guru les vokal, cowok. Hubungan kami sangat dekat, sudah seperti keluarga dan Alba bisa enjoy di sini. Bisa merasa aman dan nyaman di sini"


"Oh, begitu ya. Aku boleh mendaftar ikut les.piano?" tanya Adam.


"Boleh saja. Silakan mendaftar di depan" Temannya Alba tersenyum ke Adam


"Tapi, jangan bilang ke Alba dulu, ya?!"


"Sip!" sahut temannya Alba sambil mengacungkan ibu jarinya ke Adam.


Adam bergegas berlari ke depan untuk mendaftar les piano dan berkata ke bagian pendaftaran, "Saya hanya mau les dengan Alba Andindya"


"Oh! Jam mengajarnya Mbak Alba Anindya cuma tersisa di hari Minggu sore jam empat"


"Ok! Deal! Saya ambil jam itu" Sahut Adam.


"Baiklah! Saya akan masukkan Anda ke daftar lesnya Mbak Alba Anindya besok Minggu sore jam empat"


"Tapi, Jangan bilang ke Alba dulu, ya?!" Adam berkata sambil membayar uang pendaftaran les untuk satu bulan ke depan sebesar satu juta enam ratus ribu rupiah untuk empat kali pertemuan dengan durasi latihan selama satu jam empat puluh lima menit.


"Oke, siap. Ini kwitansinya dan terima kasih udah mendaftar les piano di sini" Mbak yang berjaga di bagian pendaftaran memberikan senyum ramahnya ke Adam.


Adam berlaku dari meja pendaftaran sambil.memasukkan kwitansi ke saku kemejanya dan dia terus tersenyum saat melangkah kembali ke ruang drum.


"Lho, Alba mana?" Tanya Adam ke seorang pria yang sudah duduk di depan drum.


"Alba sudah ke ruang piano. Anda ke kiri lalu belok ke kanan. Ruang paling ujung" sahut pria tersebut.


"Terima kasih" Adam bergegas menuju ke ruang piano.


Adam masuk dan duduk tenang di atas bangku yang terbuat dari plastik. Dia melihat Alba tengah mengajari seorang anak perempuan yang lucu dengan rambut dikepang dua.


"Kamu memang layak dan pantas untuk dikagumi dan dicintai, Ba. Kamu sangat manis, lembut dan baik hati. Sayangnya kamu masih belum mau membuka hati kamu untukku"


Mama dari anak perempuan, anak didiknya Alba berkata ke Alba, "Mbak, siapa itu yang nungguin Mbak? Pacarnya Mbak, ya?"


"Oh! Bukan Bu. Dia teman.lama.saya. Teman SMA saya dulu" Sahut Alba.


"Tapi, dari sorot matanya, saya bisa melihat kalau cowok itu, suka sama Mbak Alba. Kalau dia nembak Mbak Alba, terima aja ya, ganteng lho, hehehehe" bisik Mama dari anak didiknya Alba.


Alba hanya bisa tersenyum lebar.lalu mama dan anak didiknya Alba pamit dan pergi meninggalkan Alba.


Alba menghampiri Adam dan Adam langsung menyodorkan air mineral dingin ke Alba sambil bertanya, "Udah selesai?"


"Udah"


Sesampainya di rumah sepupunya Pambudi, Adam dan Alba dikejutkan dengan kemunculan dari omnya Alba. Omnya Alba menghadang pintu masuk sambil mengacungkan sebuah pisau dapur dengan panjang tiga puluh centimeter dan terlihat berkilauan terkena cahaya matahari yang masih tampak di sore hari menuju senja.


"Lari keluar atau masuk ke dalam mobil dan kuncilah mobilnya!"


Alba memilih untuk berlari keluar meminta pertolongan. Adam langsung menghadang langkah omnya Alba yang ingin mengejar Alba.


"Minggir Bocah ingusan! Ini urusanku dengan Alba. Berani benar dia melaporkan aku ke penjara dasar anak tidak tahu diuntung!" Omnya Alba menatap punggungnya Alba dengan wajah merah padam penuh emosi dan kilatan mata yang menyala-nyala penuh geram.


Adam langsung menendang tangan omnya Alba yang memegang pisau dan berhasil membuat pisau itu terlepas dan terlempar jauh tempat mereka berdiri.


Omnya Alba mendelik ke Adam dan berteriak kesal, "Kenapa kau selalu mencampuri urusanku!?"


"Karena Alba sangat berarti bagi hidupku dan siapa saja yang menyakiti Alba, maka ia akan berurusan denganku. Asal.kau tahu hai manusia berhati iblis! Bukan Alba yang melaporkan kamu, tapi aku"


"Maka matilah kau!" Omnya Alba yang merasa memiliki sedikit keahlian pencak silat merasa mampu melawan Adam. Dia maju menyerang Adam dengan penuh rasa percaya diri dan Asma berhasil membuat omnya Alba tersungkur di atas tanah, tidak berdaya dan tidak sadarkan diri, hanya dengan dua tendangan mautnya saja.


Alba berlari kembali ke teras depan rumah sepupunya Pambudi bersama dengan dua petugas kepolisian. Kedua petugas kepolisian tersebut langsung memborgol kedua tangan omnya Alba dan salah satunya berkata, "Kami adalah petugas yang ditugaskan untuk melindungi saksi dan korban. Maafkan kami jika datang terlambat"


"Anda berdua datang tepat waktu kok" Sahut Adam dengan napas sedikit terengah-engah dan berkacak pinggang.


"Kau baik-baik saja kan, Dam? Tidak terluka, kan?"


Adam tersenyum, "Aku baik-baik saja. Oh iya Pak, pisaunya terlempar di sana. Si Iblis itu tadi membawa sebilah pisau"


Salah satu dari petugas kepolisian itu berlari ke arah yang ditunjuk oleh Adam dan berhasil menemukan sebilah pisau. Petugas kepolisian itu memakai sarung tangan dan memasukkan pisau tersebut ke dalam plastik.


Saat kedua petugas kepolisian itu membawa omnya Alba ke kantor polisi, ponselnya Adam berdering kencang.


Adam menerima panggilan telepon tersebut dan Alba masih berdiri di depannya.


"Halo, ada apa Dok?"


"Papa kamu sudah membaik. Jika kamu ingin berbincang soal serius dengan Papa kamu, sudah aku ijinkan karena, sudah aman. Kondisi Papa kamu sudah sangat stabil dan sangat fit"


"Benarkah?" Kedua manik birunya Adam berkilat sempurna mencerminkan kebahagiaan yang membuncah dari dalam hatinya.


Alba yang melihat wajah Adam dan menatap kedua manik birunya Adam, ikut tersenyum.


"Aku tahu kamu ingin memutuskan pertunangan kamu, kan? Aku tahu kamu nggak pernah mencintai Bella" Dokter Felix memang seperti papa kedua bagi Adam. Adam sering berbagi kisah hidupnya dengan Dokter Felix sejak ia pulang dari Amerika.


"Anda bisa aja Om Dokter, hehehehe. Terima kasih banyak atas infonya dan terima kasih banyak udah membuat Papa fit lagi"


"Sama-sama" Dan klik! Dokter Felix memutuskan sambungan teleponnya.


Adam menatap Alba, "Papaku sudah fit kondisinya dan aku ingin segera menemui beliau untuk memperbincangkan sesuatu yang sangat serius. Kamu nggak papa aku tinggal sendirian?"


"Nggak papa. Aku ikut senang kalau Papa kamu sudah fit lagi. Pulanglah dan temui beliau!"


"Masuklah ke dalam dan kunci pintunya! Aku akan tunggu di sini sampai kamu mengunci pintunya dan jangan buka jendela sampai besok pagi!"


Alba lalu berlari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


Setelah terdengar suara pintu terkunci, Adam berbalik badan untuk masuk kembali ke dalam mobilnya. Dia tidak sabar ingin segera menemui papanya untuk berkata bahwa dia ingin memutuskan pertunangannya dengan Bella Fastro.