
Adam meletakkan surat nikah dia dan Alba di atas meja.
Alex Baron mengambil di surat yang tergeletak di atas meja lalu menyerahkan kedua surat nikah itu ke Nindya sembari menoleh ke Nindya dan berkata, "Mereka sudah menikah"
Nindya menjatuhkan dua surat nikah itu di atas lantai dan menatap Adam dengan sorot mata penuh dengan kecemburuan dan kemarahan.
Alex Baron memungut kedua surat nikah dari atas lantai, lalu menyerahkannya kembali ke Adam.
Adam memasukkan surat nikah dia dan Alba ke dalam tas kerjanya tanpa melepaskan tangan kirinya dari tautan tangannya Alba.
"Kenapa nggak bilang dulu ke Papa? Papa kan bisa datang ke pemberkatan pernikahan kalian dan Papa bisa jadi wali nikah kalian di depan petugas pencatatan sipil" Alex membuka suara masih dengan wajah datarnya.
"Maaf Pa, semuanya dadakan karena,........." Adam menyentuh kepalanya. Dia tidak sanggup mengucapkan kata tumor otak yang ada di dalam kepalanya.
"Papa sudah tahu penyakit kamu. Felix ke sini kemarin dan memberitahukannya ke Papa"
"Aku sebenarnya udah putus harapan. Lebih baik menyusul Mama aja daripada dioperasi ujung-ujungnya aku akan terkena amnesia dan lumpuh. Tapi,........" Adam menoleh ke Alba dan mencium punggung tangannya Alba yang masih bertaut manis dengan tangan kirinya, lalu Adam melanjutkan kalimatnya, "Alba, berhasil meyakinkan aku untuk mau menjalani operasi, Alba bisa menumbuhkan harapan baru bagiku, Pa. Istriku ini wanita yang sangat sempurna. Aku beruntung bisa bertemu dengan Alba dan menikah dengannya" Adam kembali mencium punggung tangannya Alba.
Nindya langsung bangkit dan berucap, "Mama akan bikin minum" Dan sesampainya di dapur, Nindya langsung menyuruh semua asisten rumah tangganya itu untuk meninggalkan dia sendirian di dapur karena, ia ingin meluapkan kemarahan dan kekesalannya dengan menangis lirih. Pupus sudah harapannya untuk bisa terus menggoda dan merayu Adam dengan harapan suatu saat nanti, Adam akan luluh dan mau menikahinya.
"Siapa nama kamu?" Tanya Alex Baron ke Alba.
Alba menarik tangannya dari genggaman tangannya Adam lalu bangkit dan bersujud di depan kakinya Alex Baron.
"Ba! Apa yang kamu lakukan?" Adam langsung memekik kaget.
"Iya Nak, bangunlah! Kenapa malah bersimpuh begini" Alex Baron pun terkejut.
Alba menoleh ke Adam, "Kamu juga harus bersimpuh di depan Papa kamu, Dam. Kita minta restu sama Papa, biar pernikahan kita langgeng dan bahagia"
Alex Baron tertegun melihat kepribadiannya Alba yang lembut dan santun.
Adam lalu bangkit dan bersimpuh di depan Papanya bersebelahan dengan Alba.
"Pa, saya Alba Anindya meminta restu dari Papa. Doakan Alba, dimampukan menjadi Istri yang bisa mendampingi Adam Baron di dalam suka dan duka, selama-lamanya" Alba lalu meraih tangan kanannya Papanya Adam dan tangan itu ia letakkan di atas kepalanya.
Alex Baron tersentuh dengan tindakannya Alba. Adam lalu meraih tangan kiri Papanya dan ia letakkan tangan itu di atas kepalanya dan berucap, "Doakan Adam juga Pa, biar bisa menjadi suami yang selalu siaga, dan bisa mendampingi Alba Anindya di dalam suka dan duka, selamanya"
Kedua bola mata Alex Baron berkaca-kaca, lalu ia berkata, "Iya, Papa merestui kalian. Sekarang kalian bangunlah!"
"Terima kasih, Pa" Ucap Adam dan Alba secara bersamaan, lalu mereka pun bangkit dan kembali duduk di tempat mereka semula.
"Sepulang kami dari bulan madu. Dan maafkan Kami, Pa, Kami buru-buru dikejar waktu sekarang ini. Kami harus segera terbang untuk bulan madu" Adam mengajak Alba bangkit lalu sepasang suami istri yang masih sangat fresh itu, menyalami punggung tangannya Alex Baron secara bergantian dan langsung bergegas pergi meninggalkan kediamannya Alex Baron.
Nindya datang membawa nampan yang berisi empat cangkir teh dan camilan, "Lho! Anak-anak mana? Kok nggak ada?"
"Mereka pergi berbulan madu. Aku nggak bisa menahan Adam. Aku sudah terlalu banyak mengecewakan Adam di masa lalu dan aku nggak mau mengecewakan Adam lagi. Aku merestui pernikahan mereka karena, memang benar kata Felix, hanya Alba yang mampu menguatkan Adam menjalani operasi pengangkatan tumor otaknya, nanti"
Alba dan Adam duduk di dalam pesawat. Alba memandangi dirinya, "Dam, aku belum sempat ganti baju. Aku masih memakai gaun pengantin. Pantas saja banyak orang memperhatikan kita tadi"
Adam mencium keningnya Alba, lalu berucap, "Mereka memperhatikan kamu bukan kita karena, kamu sangat cantik"
Alba menepuk bahunya Adam dan terkekeh geli, "Kita gila ya? Kita udah nikah, dadakan, terus naik pesawat dengan masih mengenakan baju pengantin kita. Aku masih pakai gaun pengantin dan kamu masih pakai jas"
Adam tertawa senang lalu ia memeluk Alba, "Aku sangat mencintaimu dan ingin menua bersamamu, Sayang"
"Aku juga, Dam" Alba membalas pelukannya Adam dengan sangat erat.
"Dam, aku udah nelpon Dokter Felix pas kamu mengantre tadi. Kata Dokter Felix waktu kamu hanya dua Minggu. Setelah dua Minggu kamu harus segera diobservasi. Kita hanya bisa berulang madu selama dua Minggu"
"Lho! Nggak jadi sebulan dong bulan madunya. Kenapa cepet banget sih cuma kasih waktu dua Minggu ke kita" Wajah Adam langsung berubah masam dan laki-laki tampan itu langsung mengerucutkan bibirnya.
Alba tersenyum lalu mengelus dadanya Adam, "Setelah kamu selesai dioperasi, kita bisa lanjutkan bulan madu kita lebih lama lagi"
"Tapi, setelah selesai dioperasi, aku akan lumpuh dan mengalami amnesia. Apa kau tidak akan malu, pergi dengan laki-laki lumpuh dan tampak bodoh dengan amnesianya?"
Alba menggelengkan kepalanya, lalu berkata dengan masih mengelus dadanya Adam, "Aku nggak akan malu. Aku justru akan memamerkan suamiku ke semua orang bahwa suamiku orang yang pemberani karena, telah berhasil berjuang melawan maut dan tetap gagah dan tampan walupun duduk di kursi roda"
Adam tersenyum dan berucap, "Aku sangat mencintaimu" lalu ia mencium bibirnya Alba.
Setelah berciuman selama beberapa detik, Alba menarik bibirnya dari bibirnya Adam untuk bertanya, "Dam, kenapa tadi pas aku ambil koperku di bagasi mobil kamu, aku melihat ada gaun pengantin lagi untuk apa?"
"Louis memberikan bonus setelan gaun pengantin dan jas untuk dipakai pas resepsi kita nanti. Aku pengen, setelah aku sadar dari operasi, secepatnya, kita laksanakan resepsi pernikahan kita. Aku ingin membanggakan Istri manisku ini di depan banyak orang"
Alba tersenyum bahagia lalu ia memeluk Adam dengan erat dan berucap, "Aku ngantuk banget, Dam"
"Tidurlah! Aku akan bangunkan kamu kalau udah sampai" Adam mencium pucuk kepalanya Alba sambil terus mengelus bahunya Alba sampai Alba tertidur pulas di dalam pelukannya.
Adam terus mengulas senyum bahagia di wajah tampannya. Adam sungguh-sungguh bersyukur bisa menikah dengan wanita yang sangat ia cintai dan mendapatkan restu dari Papanya.
"Aku akan pakai waktu dua Minggu kebersamaan kita dengan sangat baik dan merekam momen sekecil apapun dengan kameraku karena, aku ingin melihat kembali semua momen indah kita sekecil apapun di saat aku mengalami amnesia nanti" gumam Adam sembari menciumi pucuk kepalanya Alba.