I Love You, Adam

I Love You, Adam
Ingin Menua Bersama



"Aku harus pulang, ada kerjaan, Ba. Kamu nggak papa aku tinggal sendiri?" Tanya Satya.


Alba bangun dan duduk di tepi sofa panjang, "Iya Kak. Tinggal aja nggak papa"


"Adam masih tidur. Kamu juga tidurlah! Jangan mikirin apapun!" Satya tersenyum ke Alba.


Alba tersenyum lemas dan menganggukkan kepalanya.


Sepeninggalnya Satya, Alba bangkit dan berjalan pelan menuju ke bed-nya Adam untuk mengecek kondisinya Adam dan membetulkan letak selimutnya Adam. Alba lalu naik ke atas bed dan duduk di samping bed. Ia usap wajah tampannya Adam dan ia kembali menitikkan air mata.


Tetesan air matanya Alba mengenai punggung tangannya Adam dan membuat Adam terbangun. Adam melihat Alba yang tengah duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. "Sayang, kenapa menunduk dan menangis? Ada apa?"


Alba langsung mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya lalu tersenyum, "Aku nggak nangis kok. Cuma menguap. Aku ngantuk berat, Dam"


Adam menggeser tubuhnya ke kanan dan tidur miring, "Tidurlah di sini!" Adam menepuk kasur.


Alba tersenyum dan langsung merebahkan diri dan tidur miring untuk bisa berhadapan dengan wajah tampan suaminya.


Adam mencium keningnya Alba lalu mengecup bibirnya Alba sembari memeluk tubuh ramping istri tercintanya itu dengan kata, "Tidurlah! Aku akan berjaga sampai kamu tertidur"


Alba langsung memejamkan kedua matanya untuk menyembunyikan kegelisahan dan kesedihan di hatinya.


Kehangatan cinta kasihnya Adam, Nyamannya pelukan Adam diiringi degup jantungnya Adam yang indah, membuat Alba terbuai dan secara pelan, namun pasti, Alba terbawa ke alam mimpi.


Adam tersenyum saat ia melihat Alba tidur lelap di dalam pelukannya. Adam mengusap rambutnya Alba dan terkejut saat ia mendengar pintu ruang rawat inap ya diketuk oleh seseorang, "Masuk!" Adam menyahut dengan suara lirih.


Seorang perawat masuk dan tersenyum melihat Adam tengah memeluk istrinya. "Wah! Anda so sweet sekali Pak pengacara" Perawat wanita itu berkata dengan suara lirih.


Adam tersenyum lalu menyahut, "Karena Istri saya sweet banget jadi, bawaannya pengen so sweet terus"


Perawat itu tersenyum dan kembali berkata dengan suara lirih, "Saya akan menyuntikan obat di selang infus Anda. Namun, Anda jangan kaget, ya?! Efek dari suntikan obat ini akan membuat Anda merasa mual. Kalau pengen muntah, jangan ditahan!"


"Berapa lama waktunya sampai saya merasa mual dan pengen muntah?"


"Setengah jam setelah obat disuntikan" sahut perawat itu sambil menyuntikan jarum suntik ke dalam selang infus yang menempel di punggung tangan kanannya Adam.


"Ah! Udah masuk ya?" Adam melirik punggung tangannya.


"Sudah" sahut perawat itu dengan menautkan alisnya, "Emangnya kenapa, Pak?"


"Huuufftt! Harusnya disuntiknya besok aja. Kalau saya mual dan pengen muntah, saya takut membangunkan Istri saya, kasihan Istri saya sudah menjadi putri tidur yang sangat manis, nih" sahut Adam.


"Kalau Anda mual dan pengen muntah, Anda bisa memencet bel. Kami para perawat yang berjaga malam ini, akan membantu Anda sehingga tidak akan mengganggu Istri Mansi Anda, Pak" Sahut perawat itu dengan senyum ramahnya.


Adam terus menatap jam di dinding dan berharap semoga mual yang ia rasakan nanti, tidak akan membuatnya ingin muntah.


Detik berlalu berganti menit dan tepat di saat jarum panjang dari jam dinding berada di angka enam, Adam mulai merasakan mual. Dengan pelan ia menarik lengan kirinya yang ada di bawah kepalanya Alba. Lalu pengacara muda nan tampan itu bangkit dengan pelan,.mendorong tiang infusnya dan bergegas masuk ke wastafel. Adam muntah-muntah di sana sampai ia lemas.


Alba terbangun dan langsung bangun, bangkit dan berlari untuk menangkap tubuhnya Adam yang limbung, "Dam! Kenapa nggak bangunkan aku?"


"Jangan salahkan obatnya, Dam. Apa masih ingin muntah lagi?" tanya Alba sambil mengelus-elus punggungnya Adam.


Adam menggelengkan kepalanya dengan lemas.


"Kalau gitu, kamu harus balik ke tempat tidur. Ayok, aku akan papah kamu ke tempat tidur"


Alba membantu Adam merebahkan tubuh di atas bed lalu menyelimuti Adam. "Tidurlah Dam! Aku akan berjaga"


Adam mengusap pipinya Alba sembari berucap, "Maafkan aku! Kamu sangat manis, idola para pria, sangat berbakat di bidang seni musik dan seni suara, tapi kamu malah terjebak dengan pria lemah dan sakit-sakitan kayak gini"


Alba menyentuh tangan Adam yang menempel di pipinya dan dengan senyum yang ia buat seceria mungkin dan senormal mungkin, ia lalu berkata, "Bukankah di dalam suka maupun duka, di dalam sehat maupun sakit, kita harus saling mencintai, Dam. Aku mencintai kamu dan........."


"Akan berada di sampingku selamanya. Kita akan menua bersama" Adam langsung menyambung Kalimatnya Alba sembari menarik Alba untuk rebah kembali di sisinya.


Alba hendak bangun sambil berucap, "Kalau aku rebahan kayak gini, aku akan ketiduran lagi, Dam. Aku akan duduk aja"


Adam menahan tubuhnya Alba dengan pelukan hangatnya, "Aku udah nggak mual kok. Kita tidur aja seperti ini"


Alba langsung mengangkat badan untuk merubah posisi membelakangi Adam.


Adam langsung mengenryit menerima punggungnya Alba, "Kok suaminya dikasih punggung?"


Alba mengelus tangannya Adam yang ada di atas pinggangya sambil berucap, "Aku takut kalau kita tidur berhadapan, kamu nggak akan tidur dan hanya akan menatap wajahku semalaman sampai pagi tiba"


Adam terkekeh geli, "Kok tahu sih'


"Tahu dong. Aku sangat mencintai kamu, jadi aku tahu semua yang ada di pikiran kamu sebelum kamu utarakan" Sahut Alba.


"Wah! Beruntungnya aku memiliki Istri pengertian seperti kamu" Adam lalu mencium belakang kepalanya Alba dengan sangat dalam dan berkata di sana, "Aku sangat mencintaimu dan ingin menua bersamamu. Hanya bersamamu"


Alba mengangukkan kepalanya sambil mengelus tangan Adam yang mendekap perut ratanya. Namun, tanpa sepengetahuannya Adam, Alba menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangisnya karena air mata telah kembali menitik di pipinya.


Keesokan harinya, Alba dikejutkan dengan teriakannya Adam, "Sayang! Ba! Kakiku kenapa tidak bisa digerakkan?"


Alba langsung membuka matanya dan bangunan untuk memegang kedua kakinya Adam. "Aku pegang terasa nggak?"


Adam menganggukkan kepalanya, tapi wajahnya masih tampak panik.


"Aku rasa masih aman kalau dipegang masih terasa. Tapi, sebentar ya, aku akan panggil dokter" Alba langsung bangkit dan berlari keluar dari dalam kamar rawat inapnya Adam untuk memangil dokter jaga.


Dokter jaga di pagi hari itu dengan ditemani dua orang perawat segera berlari masuk ke kamarnya Adam.


"Sepertinya Adam sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Lusa harus masuk kamar operasi. Tapi, kita tunggu kedatangannya Dokter Felix dulu. Beliau di dalam perjalanan ke sini" Dokter jaga berkata ke Alba.


Alba membeku dan dadanya sakit seperti terhantam gada lalu ia berucap di dalam hatinya, kenapa lusa? Secepat itukah aku harus berpisah dengan laki-laki yang sangat aku cintai?"