I Love You, Adam

I Love You, Adam
Perubahan Hidup Alba



Alba menangis di dalam dekapannya Adam, "Aku kehilangan sahabatku. Ayu tidak akan pernah memaafkan diriku"


Adam mengelus punggungnya Alba sambil berucap, "Jika Ayu menganggapmu sahabat dan menyayangimu, aku rasa dia akan baik lagi sama kamu jika emosi dan kekecewaannya telah sirna"


Alba menarik diri dari dekapannya Adam, "Kau yakin?"


Adam mengusap air mata di pipinya Alba lalu tersenyum dan berucap, "Hmm! Aku sangat yakin. Yeaahhh! Walaupun mungkin waktunya sedikit lebih lama tapi, aku yakin suatu saat nanti, Ayu akan baik lagi sama kamu"


Alba tersenyum, "Baiklah! Aku udah sedikit lega saat ini Yuk! Kita belajar aja, untuk ujian masuk jalur akselerasi yang sudah kita ajukan"


Adam mengelus puncak kepalanya Alba sambil tersenyum bangga melihat semangatnya Alba.


Beberapa bulan tanpa terasa berlalu dengan sangat cepat dan berkata bimbingan belajar dari Adam, Alba berhasil lolos masuk jalur akselerasi meninggalkan Ayu dan Theo.


Alba bersemangat mengikuti langkahnya Adam karena ia tidak ingin kehilangan sinarnya Adam yang selalu menerangi langkah hidupnya dan membuatnya menjadi sangat bergantung pada sinar itu.


Namun, keberhasilannya Alba masuk jalur akselerasi, membuatnya semakin jauh dari Ayu sahabatnya sejak kecil. Ayu sebenarnya sudah mulai bisa memaafkan Alba dan mulai bisa mengikis rasa cinta di hatinya untuk Adam tapi, kesempatan untuk berbaikan lagi dengan Alba sepertinya belum bisa menghampirinya. Alba selalu sibuk belajar dan dia sendiri pun juga tengah sibuk menjaga mamanya yang sedang sakit.


Dan akhirnya tiba waktunya bagi Adam dan Ayu masuk ke perguruan tinggi lebih cepat dari Ayu dan Theo dan membuat Ayu dan Alba semakin jauh di dalam kesalahpahaman yang belum terselesaikan di antara mereka.


Alba sangat gembira bisa melangkah masuk ke asrama mahasiswi di Universitas Negri impiannya di jurusan seni. Adam pun memutuskan ikut masuk ke asrama mahasiswa karena ia malas pulang dan menghindari Nindya yang masih sangat terobsesi padanya. Adam mengambil jurusan hukum.


Letak asrama mahasiswa dan mahasiswi cukup jauh dan Adam seringkali mengambil jalan pintas jika ia merindukan Alba dan rela melompati pagar pembatas asrama mahasiswi dan mahasiswa demi bisa menemui Alba kapan pun ia mau.


Alba menautkan alisnya saat ia melihat Adam mengambil jurusan pengacara alih-alih dokter. "Kenapa hukum? Kenapa nggak dokter? Nilai kamu kan sangat tinggi dan bisa mengambil jurusan kedokteran"


Adam mengusap rambutnya Alba, "Entahlah. Instingku mengatakan kalau aku harus mengambil hukum"


Alba terkekeh geli, "Jadi, sekarang kau tiba-tiba punya sixth sense gitu, bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan?"


Adam menarik Alba masuk ke dalam pelukannya karena gemas lalu ia ciumi keningnya Alba.


Alba menarik diri dan menepuk bahunya Adam, "Ini di tempat umum, kenapa main peluk dan cium sih?"


Adam terkekeh geli lalu mencium pipinya Alba dan berlari. Alba merengut lalu tertawa dan mengejar Adam.


Hari pernikahan Nindya dan Alex Baron pun tiba. Adam terpaksa balik ke rumahnya untuk persiapan pernikahan Papanya dan wanita iblis itu. Alba tidak bisa pulang karena banyak tugas dan menitipkan kado berupa seprei untuk Papanya Adam dan Ibu guru SMA-nya.


Adam sudah berpacaran dengan Alba selama satu tahun tapi, belum memiliki kesempatan untuk mengenalkannya ke Papanya karena sibuk belajar di jalur akselerasi.


Adam terpaksa menuruti permintaan papanya karena entah kenapa, ia ingin lebih dalam mempelajari hukum. Adam lalu menelepon Alba karena, ia tidak ada waktu untuk balik ke asrama dan berpamitan langsung pada Alba. "Ba, Maaf banget. Besok aku harus berangkat ke Amerika. Perusahaannya Papaku butuh perhatiannya Papa. Dan aku akan kuliah di sana karena belajar hukum di Amerika lebih menjanjikan"


"Lalu kita?" tanya Alba.


"Kita ya tetap kita. Aku akan rajin menelepon kamu dan kirim email ke kamu kalau tidak bisa telepon. Hanya dua tahun kok tidak lama. Aku rasa cinta kita akan menjadi lebih besar dan lebih kuat jika diuji jarak dan waktu"


"Tapi, aku ingin bertemu denganmu sebelum kamu berangkat"


"Baiklah, temui aku di bandara besok jam lima pagi, bisa?"


"Bisa" Sahut Alba.


Dan keesokan harinya, Alba berhasil menemukan Adam sebelum Adam masuk ke pesawat. Dan Alba nekat mencium bibirnya Adam. Itu adalah ciuman pertama mereka dan Alba berharap itu bukanlah ciuman perpisahan mereka.


Adam mencium keningnya Alba cukup lama setelah Alba melepaskan ciumannya. Lalu Adam mengusap air mata di pipinya Alba, "Aku janji, aku akan setia dan aku akan kembali untuk membalas ciuman kamu barusan"


Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Dan terbanglah Adam ke Amerika.


Satu sampai dua bulan setelah Adam berangkat ke Amerika, hubungan komunikasi mereka lewat udara, berjalan lancar. Adam selalu melakukan panggilan video call dan rajin mengirimkan email untuk Alba. Hingga tiba hari naas bagi Alba. Mamanya dijambret dan dibunuh di jalan.


Kehidupan Alba berubah drastis kala itu karena, dia akhirnya dibawa oleh Tantenya, adik dari Mamanya dan terpaksa harus meneruskan kuliah dengan bekerja sebagai asisten juru masak di kantin. Tantenya Alba adalah pemilik kantin terbesar di Universitas Negri tempat Alba menimba ilmu.


Dan karena uang untuk membayar asrama mahasiswa tidak lagi ia miliki, karena uang hasil kerja kerasnya di kantin tantenya hanya cukup untuk meneruskan kuliahnya, akhirnya dengan sangat terpaksa Alba ikut tinggal dengan tantenya yang menikah dengan seorang pria brengsek yang pengangguran, mata duitan dan selalu jelalatan kalau melihat Alba.


Perubahan hidupnya Alba membuat Alba memutuskan hubungannya dengan Adam karena, ia tidak ingin membebani Adam dan dia malu pada keluarganya Adam jika Adam tetap berhubungan dengannya.


Adam mengerutkan dahinya. Tiga bulan jarak dan waktu memisahkannya dengan kekasih hatinya, telah membuat kekasih hatinya memutuskan dirinya secara sepihak dan tanpa alasan.


Adam menatap layar ponselnya dan memandangi wajah Alba yang tampak di sana, "Kenapa? Kenapa harus putus? Selama ini hubungan kita baik-baik saja, kan? Aku memenuhi janjiku selalu menelpon kamu dan selalu kirim email ke kamu tapi, kenapa kau minta putus?"


Alba hanya bisa diam, membeku dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya yang mendesak ingin dikeluarkan.


"Ba, kasih alasannya! Jangan diam saja!"


Klik! Alba memutuskan sambungan video call-nya Adam lalu mematikan ponselnya dan mengambil nomer ponselnya yang lama untuk ia gantikan dengan yang baru sambi bergumam, "Lupakan aku, Dam! Carilah wanita yang lebih baik dariku!" dengan derai air mata yang seolah tidak pernah tuntas, ia menggenggam ponselnya dengan sangat erat.