
#Harap dibaca setelah berbuka puasa atau pada saat sahur tiba#
Bella Fastro melangkah dengan penuh semangat sambil menenteng kue strawberry yang ia pikir selama ini bahwa kue itu adalah kesukaannya Adam Baron. Padahal Adam Baron memakan makanan manis yang sebenarnya tidak ia sukai hanya untuk membangkitkan semangatnya kembali di saat ia butuh semangat itu untuk pulih dari kelumpuhannya yang benar-benar telah membuatnya depresi dan frustasi berat.
Namun, Bella justru mengira, makanan manis adalah makanan kesukaannya Adam.
Bella berdiri di depan lift khusus CEO dan satu-satunya akses ke ruang kerjanya Adam Baron, adalah lift tersebut.
Bella mengernyit di depan kotak elektronik yang ada di sebelah kanan pintu lift. Lalu dokter muda yang cantik dan modis itu, mengumpat kesal, "Sial! Kenapa lift ini dilengkapi password? Emm, apa ya passwordnya?" Bella mengetikkan enam digit angka yang merupakan tanggal lahirnya Adam dan alat elektronik canggih itu mengeluarkan suara nyaring dan tanda merah di layarnya yang menandakan kalau password yang dimasukkan oleh Bella Fastro, salah.
Bella mencoba lagi dengan tanggal Adam menjalani operasi dan Thet! kotak elektronik itu berbunyi nyaring kembali dengan tanda merah berkedip-kedip di layarnya. Bella mencoba tanggal Adam sembuh dari tetapi, tanggal di mana Adam bisa berjalan kembali walupun masih harus memakai tongkat, dan Thet! salah lagi.
Bella menghentakkan kakinya di atas lantai lalu melangkah pergi dari lift khusus CEO itu dengan kesal lalu ia membuang kue strawberry-nya ke dalam tong sampah yang ia lalui.
Alex Baron beberapa menit sebelum Bella Fastro juga mengumpat kesal lalu meninggalkan lift berteknologi canggih itu dengan wajah kesal karena, ia gagal ke ruang kerjanya Adam Baron untuk menemui dan mengajak bicara putra tunggalnya terkait masalah pertemuannya Adam dengan Alba Anindya.
Saat Adam menatap Alba, Papa tampannya Noah itu bisa melihat terbelahnya kebutuhan Alba akan dirinya dan kecanggungan di kedua bola mata hitamnya Alba.
Adam mengelus pipinya Alba dan bertanya, "Kenapa kau malu? Aku bahkan sudah hapal setiap centimeter tubuhmu sejak tadi pagi. Dan kita suami istri, kan?"
Alba semakin memerah wajahnya dan berucap dengan menundukkan wajahnya, "Karena ini kantor, Mas. Aku........"
Adam langsung mencubit dagunya Alba, mengangkat pelan wajahnya Alba dan Adam langsung menyambar bibirnya Alba.
Ciuman Adam semakin liar, panas dan mampu membuat Alba menggeliat tak berdaya. Adam bergumam di atas dadanya Alba, "Kau sungguh membuatku gila, Ba. Entah kau ini sejenis apa, malaikat atau iblis?" Adam menggumamkan kata-kata itu, di saat bibirnya berlatih di titik kenyal yang selalu membiusnya untuk melakukan gerakan sensual, panas dan liarnya untuk membuat Alba menjeritkan namanya.
Adam berusaha mengendalikan napasnya di saat ia nyaris melanggar batas dan hanya diperlukan satu dorongan kecil, Adam mendapatkan semua yang ia mau. Adam terus membelai, mengelus dan berciuman dengan Alba dengan intensitas yang nyaris tidak bisa ia tahan. Adam lalu menarik Alba dan membaringkan Alba di atas sofa. Adam semakin menggila di saat Alba mengijinkan dirinya menikmati setiap Senti kulit mulusnya Alba yang terpampang nyata di depannya. Adam terus membelai dan memainkan jari jemarinya di titik kenikmatannya Alba sampai istri manis yang sangat ia cintai itu kembali menjeritkan namanya, sampai Alba tidak lagi bisa bernapas dengan bebas, sampai tidak ada lagi yang bisa mencegah wanita manis berparas lembut itu, mengaitkan kaki di pinggangnya Adam dan Adam langsung mendesaknya untuk menyatukan tubuh mereka.
Namun, Adam bukan hanya ingin memiliki tubuhnya Alba, tapi juga ingin memliki hatinya Alba. Adam ingin Alba semakin mencintainya dan mengatakan ke seluruh dunia bahwa tidak ada pria dewasa lainnya yang lebih penting bagi Alba daripada dia. Adam mencintai Alba dengan begitu kuat, begitu komprehensif sehingga ia akan selalu mengutamakan Alba di atas keegoisannya sebagai seorang laki-laki.
Alba menarik napas panjang setelah ia memekikkan jerit kepuasan secara bersamaan dengan Adam. Adam menarik diri, dan menarik ritsleting celana kainnya, lalu mencium keningnya Alba sembari membantu Alba merapikan kembali setelan bajunya Alba. Lalu ia mencubit dagunya Alba, mengecup bibirnya Alba, lalu berkata, "Kau perlu membersihkan diri, Sayang. Aku udah siapkan beberapa baju ganti untuk kamu dan Noah di kamarku"
Noah membuka kedua kelopak matanya saat ia mendengar bunyi shower dari arah kamar mandi. Lalu Noah bangun, duduk sejenak di tepi ranjang untuk mengumpulkan kembali semua kesadarannya, barulah ia kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar dari dalam kamar.
Adam yang telah duduk kembali di balik meja kerjanya, mengangkat wajah dengan senyum lebar saat ia melihat Noah berlari kecil, memutari meja kerjanya lalu memaksa duduk di atas pangkuan papanya. Adam tertawa, lalu bertanya, "Noah mau main game?"
Noah menggelengkan kepalanya, "Noah nggak pernah dibolehkan Mama bermain game. Baik di ponselnya Mama ataupun di notebook-nya. Mama"
"Ponselnya Mama? Apa Noah nggak punya ponsel?" Adam bertanya sambil menciumi rambutnya Noah yang selalu wangi.
Noah menggelengkan kepalanya dan berucap, "Noah nggak punya karena Noah paham, Mama nggak punya cukup uang untuk membelikan Noah sebuah ponsel dan untuk itulah Noah nggak pernah minta dibelikan ponsel"
Hati Adam langsung perih karena sedih mendengar ucapannya Noah. Dia langsung memeluk tubuh mungilnya Noah dengan sangat erat lalu berkata, "Mulai sekarang, Noah boleh minta apapun yang Noah inginkan sama Papa. Bahkan jika Noah tidak minta pun, Papa akan belikan"
Noah menoleh ke belakang dan mencium pipinya Adam, laku berucap, "Noah udah punya Papa. Noah nggak ingin apa-apa lagi, Pa"
Adam langsung menciumi wajah Noah dengan penuh haru dan cinta kasih. Lalu ia menangkup wajah mungilnya Noah yang merupakan foto kopi wajahnya di waktu ia masih kecil, lalu berkata, "Papa sangat beruntung memiliki anak sebaik kamu. Papa sangat mencintaimu. Maafkan Papa, Papa terlambat datang menemuimu. Terima kasih kamu sudah tumbuh dengan sangat baik"" Tanpa Adam sadari, Adam meneteskan air mata.
Noah tersenyum, lalu kedua tangan mungilnya terangkat untuk mengusap air mata yang menetes turun ke pipi dengan pelan dari kelopak mata papanya. "Noah sangat mencintai Papa"
"Lalu Mama?" Alba duduk di depan meja kerjanya Adam dengan senyum bahagia.
Noah tersentak kaget dan menoleh ke asal suara. Lalu ia tersenyum lebar dan berkata, "Noah juga sangat mencintai Mama"
Alba tersenyum lebar lalu kembali memerah wajahnya karena malu saat ia bersitatap dengan Adam Alba malu mengingat kembali permainan panasnya dengan Adam di sofa beberapa menit yang lalu.
Noah langsung menautkan alisnya dan sambil terus menatap wajah mamanya, ia bertanya, "Kenapa wajah Mama memerah kayak gitu? Mama sakit? Mama demam?"
Alba langsung bangkit dan sambil berbalik badan untuk menyembunyikan wajah merahnya dari Noah ia berucap, "Mama, baik-baik saja. Mama cuma kepedesan, habis makan cabe"
Noah langsung ber-O dan Adam langsung mengulum bibir menahan geli.