I Love You, Adam

I Love You, Adam
Seharian Milikmu



Adam keluar dari ruang interogasi dengan masih menggenggam tangan Alba.


Alba menghentikan langkahnya di tengah pintu dan Adam langsung menoleh ke Alba, "Ada apa?"


Alba menundukkan wajahnya menatap tangan Adam yang masih menggenggam tangannya lalu berkatalah ia, "Lepaskan! Kita sudah berada di luar ruang interogasi jadi, peraturan no kontak fisik dan hukumannya jika melanggar peraturan itu, kembali berlaku, kan?" Alba lalu mengangkat wajahnya dan menatap Adam dengan tajam, "Dan jangan coba-coba untuk modusin aku!"


Adam terkekeh geli dan sambil melepas tangannya Alba, dia berkata, "Hehehehe, tahu aja ya kalau aku ingin modusin kamu. Emm, kita ke mana sekarang ini?"


"Kamu nggak kerja?" tanya Alba sembari kembali melangkahkan kedua kakinya untuk keluar dari kantor polisi.


Adam mengiringi langkahnya Alba sambil berucap, "Hari ini, aku mengosongkan semua jadwalku demi kamu"


Alba membuka pintu mobil dan berucap, "Terima kasih" ke Adam yang tengah berjalan mengitari mobil. Adam melempar senyum ke Alba lalu berucap, "Nggak perlu ada kata terima kasih. Aku melakukannya demi kamu karena kamu wanita yang sangat berharga bagiku"


Alba menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengamannya lalu menoleh ke Adam untuk berkata, "Dam, aku sementara ini nggak masuk kuliah dulu, ya. Aku malu dan belum siap untuk bertemu dengan teman-temanku. Aku juga belum siap bertemu dengan siapapun. Aku pengen ambil cuti selama satu tahun"


"Apa kamu yakin? Kamu nggak sayang sama kuliah kamu yang sebentar lagi masuk tahap skripsi?"


"Aku yakin. Aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku. Aku akan ambil cuti selama satu tahun, aku rasa cukup" Alba masih memandangi wajah tampannya Adam. Alba sangat menyukai kedua manik biru cerahnya Adam dan dia terpaku di sana.


Adam tersenyum, "Kenapa memandangiku terus? Udah sadar kalau kamu masih naksir sama aku? Udah sadar kalau kamu masih mencintaiku?"


"Apaan sih?!" Alba tersentak kaget dan langsung mengarahkan pandangannya ke depan.


Adam tersenyum lalu ia mulai melajukan mobilnya sambil berucap, "Okelah. Kalau begitu, biar Pambudi yang akan mengurus cuti kuliah kamu" Adam lalu memencet layar ponselnya yang terpasang di dashboard mobil mewahnya, "Halo Di, tolong kamu ke kampus Merah Putih! Kamu urus cuti kuliahnya Alba, ya!? Alba ingin mengajukan cuti selama satu tahun. Semua berkas yang dibutuhkan, bisa kamu ambil di rumah sepupu kamu"


"Siap Pak" Sahut Pambudi.


Klik! Adam menyentuh kembali layar ponselnya untuk mematikan sambungan teleponnya dengan Pambudi.


"Dam, aku boleh minta tolong lagi?" Alba menoleh ke Adam.


"Boleh dong. Aku milikmu seharian penuh ini. Minta tolong apa aja, aku siap, Ba!" Adam menoleh sekilas ke Alba dan memberikan senyum termanisnya.


Di saat Adam kembali fokus menyetir, Alba berkata, "Aku ada kelas mengajar piano jam lima. Apa aku bisa minta tolong kamu, mengantar aku ke tempat les musik Harmoni?"


Adam melihat jam tangannya yang terpasang apik di tangan kirinya, "Bisa dong. Tapi, ini masih jam empat. Masih ada waktu sejam. Kita ke mana dulu?"


"Aku nggak pengen ke mana-mana" sahut Alba. "Antar kau langsung ke les musik Harmoni aja. Aku akan menunggu jam mengajarku di sana. Aku ingin meluapkan perasaanku yang campur aduk ini dengan menggebuk drum sebentar aja"


Adam tersentak kaget dan secara spontan menoleh ke Alba sampai Alba berteriak, "Dam! Awas! Nyetir kok nggak fokus sih?! Hampir aja menabrak motor tadi"


Adam kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan berucap, "Maaf! Habisnya aku kaget waktu kamu bilang pengen menggebuk drum. Emangnya kamu bisa main drum?"


"Bisa" Sahut Alba dengan nada santai.


"Siapa yang mengajarimu? Cowok ya? Siapa dia? Siapa cowok itu?" Nada cemburu mulai berkobar di nada bicaranya Adam.


"Apa cowok apa? Aku nggak pernah pacaran lagi setelah aku putus sama kamu. Aku juga malas untuk dekat dengan cowok lagi" Sahut Alba dengan nada kesal. Lalu Alba bergumam lirih,"Sial! Kenapa juga aku harus jelaskan semua ini ke kamu"


Adam menoleh sekilas ke Alba dan berkata, "Apa, apa yang kau gumaman tadi?"


Adam kembali fokus ke depan dan kembali bertanya, "Lalu? Kau bisa menggebuk drum belajar dari siapa? Guru drum kan biasanya cowok, ya kan?"


"Entahlah. Aku iseng aja menggebuk drum pas ruang drum kosong dan bisa. Aku juga bisa bermain gitar dan belajar sendiri" sahut Alba.


"Kamu berbakat berarti. Apa Papa kamu dulunya seorang pemusik? Atau penyanyi? Karena suara kamu juga bagus" Adam melirik Alba.


"Entahlah. Aku lupa dan Mama jarang bercerita soal Papa. Mungkin Mama ingin menjaga perasaannya Mama sendiri makanya, Mama jarang bercerita soal Papa ke aku" sahut Alba.


"Setelah kasus kamu selesai, aku akan coba menyelidiki masa lalu Papa kamu, Bapak Putra Anindya, kan, nama beliau?"


"Iya nama papaku Putra Anindya" Sahut Alba. "Terima kasih, Dam" Alba menoleh ke Adam dengan senyum tulusnya.


Adam melirik Alba dan berucap, "Aku kan sudah bilang, nggak perlu ada kata terima kasih"


Adam melihat layar ponselnya dan secara spontan ia berucap kesal, "Sial! Kenapa Mak Lampir dari tadi meneleponku?"


"Itu Mama tiri kamu, kan? Ibu Nindya, guru Matematika kita dulu?" Alba ikutan menatap layar ponselnya Adam.


"Hmm" Sahut Adam.


"Kenapa nggak kamu angkat teleponnya?"


"Nggak penting" sahut Adam.


"Tapi, gimana kalau itu soal Papa kamu?" Alba menautkan alisnya ke Adam.


"Kalau soal Papa, Dokter pribadi keluarga kami yang akan meneleponku kalau nggak Pak Darmawan, asistennya Papa yang akan menghubungiku. Kalau Nenek Lampir menghubungiku, pasti tentang hal yang aneh-aneh"


"Kenapa kau memanggil Mama tiri kamu seperti itu? Kurang ajar itu namanya" Alba menatap Adam dari samping dengan sorot mata tidak suka.


Adam melirik Alba, "Iya karena dia emang Nenek Lampir. Penuh tipu muslihat dan busuk hatinya"


Adam memilih tidak pernah menceritakan mengenai obsesi mama tirinya terhadapnya termasuk menceritakannya ke Alba. Adam menyimpannya sendiri demi kebaikan semua orang.


Alba hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawabannya Adam.


Beberapa menit berikutnya, Adam dan Alba telah melangkah masuk ke tempat les musik Harmoni. Alba disapa oleh temannya dan salah seorang dari temannya berbisik ke Alba, "Siapa cowok keren dan tampan itu? Kenalkan ke aku dong"


Adam mendengar bisikan itu dan langsung menjulurkan tangannya ke temannya Alba sambil berkata, "Saya pria yang sangat mencintai wanita di sisi saya ini, Alba Anindya"


Alba menoleh ke Adam dan melotot tajam lalu berkata, "Dam! Jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda" Adam menoleh ke Alba dengan masih menjulurkan tangannya ke depan.


Temannya Alba segera menyambut uluran tangannya Adam dengan senyum geli dan berkata, "Saya doakan, Anda bisa memenangkan hati Alba karena, beberapa pria yang pernah mendekati dan nembak Alba, telah berguguran tak berdaya"


Adam menarik tangannya lalu menyusul langkah Alba sambil berteriak, "Ba! Kata kamu tadi, nggak ada cowok di dekat kamu? Kok teman kamu bilang, ada beberapa cowok yang mendekati kamu dan nembak kamu, siapa mereka? Ba!"


Alba terus melangkah lebar ke depan dan mengabaikan ocehannya Adam sambil bergumam, "Dasar gila! Paijo gila!"