I Love You, Adam

I Love You, Adam
Bertemu Seorang Kakek



Alba terus tersenyum konyol di dalam kamar mandi mengingat percintaannya dengan Adam di atas meja makan. Dan di saat Alba keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat semua sayur sudah tertata rapi di atas meja makan dan ia mengernyit melihat Adam berjongkok dan mengganjal salah satu kaki kursi dengan beberapa tumpuk majalah bekas.


"Ada apa dengan mejanya, Mas?"


Adam menoleh ke Alba dan berkata, "Kita terlalu bersemangat tadi, jadi kaki meja di sebelah sini nih, cuil sedikit.


Alba merona malu dan langsung salah tingkah.


"Kita udah punya anak ngapain malu-malu?" Adam terkekeh geli melihat wajah Alba yang malu-malu kucing, lalu ia berkata, "Sementara aku kasih majalah bekas dulu biar nggak goyang dan njomplang. Nanti sore aku akan bikin meja makan yang baru"


"Memangnya Mas bisa bikin meja?" tanya Alba


Adam langsung berucap"Bikin anak aja bisa, masak bikin meja nggak bisa"


Alba langsung menepuk pundaknya Adam dengan rona merah di wajah manisnya, lalu ngeloyor pergi ke dapur. Adam menatap punggungnya Alba dengan tawa renyahnya.


Noah bangun dan langsung berjalan ke kamar mandi dengan wajah sedih dan langkah gontai, sambil menenteng seragam sekolah dan handuk. Noah menoleh ke kanan dan langsung berlari memeluk Adam dengan tangisan, "Huhuhuuuhu"


Alba berlari dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh dan susu saat ia mendengar tangisannya Noah. Alba meletakkan nampan dan bertanya, "Kenapa menangis?"


Adam langsung berdiri sambil menggendong Noah dan bertanya, "Iya, kenapa jagoannya Papa menangis?"


"Noah kira Noah bermimpi. Noah membuka mata dan Papa nggak ada di samping Noah. Noah kira Noah bermimpi dan Noah kira, Papa balik lagi ke langit untuk menjadi bintang lagi, huhuhuhuhu"


Adam memeluk erat tubuh mungilnya Noah dan berkata "Maafkan Papa. Papa bangun terlalu pagi untuk membantu Mama menyiapkan sarapan. Besok, Papa akan bangun setelah Noah buka mata, deh"


Alba langsung memeluk Adam dan Noah dengan hati penuh haru. Lalu wanita manis yang sudah menjadi nyonya Adam Baron itu, berkata, "Papa nggak akan pergi ke mana-mana lagi. Papa akan selamanya berada di samping kita. Iya, kan, Pa?"


"Iya, itu benar banget. Papa nggak akan pergi ke mana-mana lagi"


Noah langsung menghentikan tangisannya dan berkata, "Turunkan aku, Pa!"


Adam menurunkan Noah dengan hati-hati lalu ia berjongkok di depan Noah, "Papa janji akan selalu ada di samping Noah"


"Selamanya?" Tanya Noah.


"Iya. Selamanya" Sahut Adam.


"Baiklah" Noah mencium pipinya Adam lalu berlari riang ke kamar mandi.


Alba menatap Adam dengan merengut


Adam berdiri sambil terkekeh geli lalu bertanya, "Ada apa merengut"


"Noah melupakan diriku. Noah nggak nyium aku" Alba melancipkan bibirnya.


Ada terkekeh geli dan langsung mendekap pinggang rampingnya Alba dan mengecup bibirnya Alba, lalu bertanya, "Aku mewakili Noah nyium kamu. Udah nggak usah merengut lagi, oke?"


Alba langsung mengulum bibir menahan senyum.


Adam mengecup bibirnya Alba lagi sebanyak tiga kali dan berkata, "Aku kasih bonus deh"


Alba tersentak kaget dan langsung menepuk dada bidangnya Adam lalu menarik diri dari pelukannya Adam sambil berkata, "Ada Noah, Mas. Jangan kecup-kecup terus!"


Adam langsung menggemakan tawanya dan berkata, "Aku akan mandi di pondok tamu, karena semua baju gantiku ada di sana"


Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Satya tersentak kaget saat wanita sing yang semalam jatuh pingsan di dalam dekapannya membuka mata dan menatapnya.


Heni langsung duduk di tepi ranjang dan berkata, "Syukurlah Anda sudah sadar, Nona"


"Saya di mana?" wanita asing itu bangun dan duduk di sebelahnya Heni.


"Di rumah saya" Sahut Heni dengan senyum ramahnya.


"Terima kasih sudah menolong saya, Tuan........."


"Jangan panggil Tuan. Namaku Satya. Panggil saja Satya"


"Dan Anda, ibu........" wanita asing itu menoleh ke Heni.


"Heni. Nama Anda siapa, Nona?"


"Saya, Christal Wisanggeni" wanita asing itu tersenyum ke Heni.


"Wuiihhh nama yang berat tuh" Satya menyahut dengan senyum konyolnya.


Heni langsung mendelik ke Satya dan Satya langsung menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sambil meringis, lalu berkata, "Maaf, hehehehe"


Wanita yang memiliki nama unik Christal Wisanggeni itu menatap Satya dan berkata, "Anda adalah dewa penolong saya, jadi saya akan maafkan semua perkataan dan perlakuan Anda ke saya hari ini"


Heni terkekeh geli, dia menyukai selera humornya Christal. Lalu Heni bertanya, "Berapa umur kamu, Nak dan apa pekerjaan kamu?'


Heni terus tersenyum ke Christal dengan sorot mata penuh arti, lalu ia berkata, "Mandilah, Nak! Ini baju ganti untukmu. Ibu belikan untuk Alba sebenarnya, tapi kamu pakai dulu nggak papa. Alba akan Ibu belikan lagi, nanti"


Christal menerima baju ganti yang diberikan oleh Heni dengan tanya, "Alba itu........?"


"Putri angkatnya Ibu. Rumahnya beberapa kilometer saja dari sini. Sangat dekat. Setelah kamu mandi, Ibu akan ajak kamu ke sana"


"Setuju! Adam beli banyak makanan kemarin. Kita sekalian sarapan di sana saja" Sahut Satya memasukkan ponsel ke dalam saku celana kainnya.


Heni tersenyum lalu menepuk bahu Satya dengan gemas.


Sepeninggalnya Christal, Heni menoleh ke Satya, "Dia gadis yang sangat cantik, ya? Namanya juga bagus. Outfitnya mahal. Pasti dia anak orang kaya"


"Lalu kenapa?" Tanya Satya.


"Wajah kalian pun ada mirip-miripnya. Mama rasa, ia jodoh kamu" Heni tersenyum lebar ke Satya dan Satya langsung menggaruk kepalanya dan ngeloyor pergi. Dia bosan mendengar Mamanya selalu berkata, "Dia jodoh kamu" Setiap kali ada wanita baru, masuk ke hidupnya Satya.


Heni hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat punggungnya Satya. Heni memprihatinkan Satya sebenarnya. Di umur Satya yang sudah menginjak kepala tiga, Satya belum memiliki kekasih karena, Satya masih sangat mencintai Alba. Heni berharap, gadis yang bernama Christal adalah wanita yang dikirim oleh Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya Satya kelak.


Beberapa menit kemudian, Satya, Heni, dan Christal masuk ke ruang makannya Alba. Alba menyambut ketiganya dengan senyum cerah dan langsung mempersilakan semuanya untuk duduk.


Heni memperkenalkan Christal ke Alba, Adam, dan Noah, "Ini Christal Wisanggeni. Dia wanita yang diselamatkan oleh Satya semalam. Christal hendak dijual oleh pacarnya semalam. Dan itu Alba, Si kecil tampan itu kesayangan Ibu, namanya Noah, dan kembarannya Noah itu adalah Adam"


Christal tertegun melihat Alba. Christal mengagumi wajah Alba, terpana melihat rambutnya Alba yang lurus, hitam dan lebat, terpesona dengan wajah manisnya Alba, berdecak kagum melihat tingkah laku Alba yang lembut. Christal lalu berkata, "Apakah Anda adalah bidadari yang turun dari Surga?" Kata-kata itu meluncur dari mulutnya karena luapan kekagumannya Christal akan sosok Alba.


Semua langsung menoleh ke Christal dengan menautkan alis mereka.


Alba langsung tersenyum canggung dan merona malu mendengar ucapannya Christal. Alba menjadi bingung harus menjawab apa.


Noah langsung menyahut, "Mama saya memang wanita paling cantik di dunia ini dia bidadari saya"


"Lalu Oma?" Heni merenggut ke Noah.


"Oma Heni, wanita paling cantik nomer dua setelah Mama saya" ucap Noah sambil meringis.


Semuanya langsung tertawa mendengar kepolosan kata yang keluar dari bibir mungilnya si tampan Noah.


Satya menoleh ke Christal dan ia merasa lega, Christal dengan cepat bisa membaur dengan keluarganya. Alba, Noah dan Adam sudah ia anggap sebagai keluarganya karena Satya sangat menyayangi Alba, Noah dan Satya.


Dan secara diam-diam, Satya memberi nilai atas penampilannya Christal, Rambut panjang sebahu dan keriting, berkulit putih, dan dengan rambut keritingnya, Christal justru tampak unik dan menarik seunik namanya. Tanpa sadar, Satya memberikan nilai delapan dari sepuluh, atas penampilannya Christal.


Beberapa jam kemudian, Alba dan Adam sampai di kantor. Mereka sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing hingga tanpa mereka sadari jam makan siang menyapa perut mereka.


Noah yang dijemput oleh asisten pribadinya Adam, menunggu di depan lift khusus untuk CEO dan tiba-tiba Noah berkata, "Pak, Saya ingin ke toilet"


"Baik Tuan muda, mari saya antarkan"


Noah masuk ke toilet dan asisten pribadinya Adam meninggalkan toilet sebentar ke teras samping hotel untuk menerima telepon.


Noah keluar dari dalam toilet dan melihat seorang kakek berjalan lemas tengah membungkuk lalu bersandar ke tembok.


Noah menghampiri kakek tersebut dan berkata, "Kek, Kakek kenapa?"


Laki-laki di umur yang hampir menginjak kepala enam itu menunduk dan melihat Noah, lalu berkata, "Wadah obat jantung Kakek jatuh dan Kakek nggak bisa mengejarnya"


"Wadah obat itu menggelinding ke mana Kek?"


"Ke sana"


Noah langsung berlari ke arah yang ditunjuk laki-laki asing itu dan Noah berhasil menemukan sebuah tabung transparan yang berisi kapsul berwarna merah darah. Noah langsung memungutnya dan berlari kembali ke laki-laki asing yang dia panggil Kakek.


"Benarkah yang ini, Kek?"


"Benar. Terima kasih, ya. Kakek harus minum sekarang!" Kakek itu menepuk keningnya, "Kakek lupa bawa botol minumnya Kakek"


Noah memberikan tempat minumnya ke Kakek tersebut dan berkata, "Minum punya saya saja, Kek. Ini belum saya minum. Saya dapat Snack dan minum di sekolahan tadi. Salah satu teman saya ulang tahun, tadi"


Kakek itu menerima tempat minumnya Noah dan langsung membuka wadah obatnya dengan bantuannya Noah. Setelah berhasil meminum obatnya dan merasa baikan, Kakek itu mengusap kepalanya Noah dan berkata, "Terima kasih, ya, Nak. Orang tua kamu beruntung sekali memiliki Anak yang tampan, cerdas, dan baik seperti kamu"


"Sama-sama, Kek. Kakek bisa berjalan?"


"Bisa. Kakek akan kembali ke kamar Kakek. Terima kasih, ya, ini botol minum kamu"


Noah menerima botol minumnya dan berkata, "Hati-hati ya, Kek"


Tepat di saat Kakek asing itu menghilang dari pandangannya Noah, asisten pribadinya Adam berlari ke Noah dan langsung bernapas lega, "Ah, syukurlah Anda tidak hilang, Tuan Muda"


Noah berkata, "Maaf sudah membuat Anda khawatir. Noah membantu seorang Kakek tadi"


Asisten pribadinya Adam langsung tersenyum dan langsung mengajak Noah naik ke kantornya Adam.


Laki-laki asing yang Noah panggil Kakek langsung tertegun di dalam lift saat ia menyadari sesuatu yang janggal dan ia langsung bergumam, "Anak tadi, mirip banget dengan Adam waktu Adam masih kecil. Siapa anak itu, ya? Kenapa dadaku terasa hangat tadi, pas dia menyentuh tanganku?"