
Adam menarik bibirnya dari bibir kekasih hatinya yang sangat ia cintai, lalu mengusap air mata di kedua pipinya Alba dengan kedua telapak tangannya. Rasa hangat yang dialirkan dari telapak tangannya Adam serasa memberikan kekuatan baru bagi Alba.
Adam lalu menangkup wajah mungil wanita manis yang membuatnya tidak sanggup berpaling itu dengan senyuman. Kemudian Adam mencium keningnya Alba dan berucap di sana, "Kita harus makan siang. Ini sudah jam dua siang"
Adam lalu memegang tangan Alba, menggenggamnya dan mengajak Alba untuk keluar dari ruangan khusus yang diperuntukkan bagi saksi dan korban itu.
Theo, Ayu, dan Satya menyambut mereka di depan pintu.
"Kita makan siang dulu. Di kantin sini aja, aku yang traktir. Kalau keluar kelamaan. Ini sudah sangat terlambat untuk jam makan siang"
"Oke!" Sahut Theo dan Ayu.
Namun, Satya berucap, "Kalian aja yang ke kantin. Aku masih ada urusan"
Satya lalu menatap punggungnya Alba. Jaksa yang sangat tampan, Don Juan yang terkenal pandai menaklukkan hati kaum Hawa itu, hanya bisa diam mematung menatap cinta pertamanya menjauh darinya.
"Aku harus berusaha membunuh rasa cinta ini untukmu, Ba. Aku harus bisa menganggapmu sebagai Adik" Gumam Satya dengan nada sedih.
Setelah makan siang, Adam membawa Alba, Ayu, dan Theo pulang ke rumahnya.
Adam mencium keningnya Alba lalu menoleh ke Ayu, "Tolong jaga Alba! Aku masih ada kerjaan. Mengajar di kampus dan menemui klien di kantor"
Ayu menganggukkan kepalanya.
Alba menatap Adam, "Hati-hati di jalan"
Adam tersenyum dan sambil mengusap kepalanya Alba ia berucap, "Aku mencintaimu"
Sepeninggalnya Adam, Alba menarik lengan Ayu untuk masuk ke dalam rumahnya Adam.
Ayu diminta Alba untuk tinggal menginap di rumahnya Adam semalam lagi dan Ayu mengiyakan.
Theo bermain dengan Baba kelinci putih kesayangannya Adam, sementara Alba dan Ayu memasak di dapur.
Alba menggoreng rengginang yang belum sempat ia goreng kemarin sore dan Setelah menggoreng rengginang, ia memasak semur tahu.
Ayu membuat nasi goreng Jawa.
"Wah! Nasi goreng Jawa kamu top markotop. Kamu bisa buka warung makan nasi goreng Jawa kalau begini" Alba menoleh ke Ayu dengan senyum lebar setelah ia mencicipi nasi goreng masakannya Ayu.
Ayu tersenyum lebar dan berkata, "Ide bagus tuh. Akan aku realisasikan segera"
Alba menepuk pundaknya Ayu dan kembali memberikan senyum lebarnya ke Ayu sembari memasukkan beberapa sendok teh garam ke dalam semur tahunya.
Telur rebus yang sudah dikupas kulitnya oleh Ayu, dicemplungkan ke dalam wajan besar, bercampur dengan tahu dan bumbu semur kecap. Alba mengaduknya sebentar, lalu menutup wajan itu dengan tutup wajan yang cukup besar dan tidak lupa mengecilkan api kompor sambil berkata, "Kita ungkep sebentar biar berubah jadi cokelat dulu telurnya"
Ayu juga menutup nasi goreng Jawa hasil kreasinya di wajan besar yang satunya, lalu mengikuti langkahnya Alba menuju ke teras belakang rumahnya Adam.
Bim!!!!!!!! sebuah mobil sedan hitam membunyikan klaksonnya dengan keras saat mobil sedan warna merah miliknya Adam yang melaju dari arah berlawanan hampir menabrak karena terus mengarah ke tengah jalan.
Adam langsung membanting setir mobilnya ke kanan dan berhasil mengerem mobilnya tepat sebelum mobilnya menabrak pohon beringin yang sangat besar yang ada di pinggir jalan.
Adam membuka jendela kaca mobilnya melepas sabuk pengamannya, lalu merebahkan kepalanya ke jok mobil. Adam kembali diserang sakit kepala yang sangat hebat
Adam melonggarkan ikatan dasinya lalu ia mengambil napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan-pelan, ia melakukannya berkali-kali untuk melepaskan nyeri hebat di kepalanya.
Alba bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di diri Adam, wanita manis kekasih hatinya Adam Baron itu langsung menelepon Adam dengan telepon genggamnya.
Adam mengambil ponsel dari dalam saku kemejanya sambil mendesis kesakitan. Namun, ajaibnya saat ia melihat layar ponselnya yang menampakkan tulisan 'My Love' rasa sakit di kepalanya bisa sedikit berkurang dan ia bisa mendapatkan kekuatannya kembali untuk menegakkan badannya dan menerima panggilan telepon dari Alba.
"Kamu nggak papa, kan? Kamu di mana sekarang ini?"
"Aku di dalam mobil. Lagi minggir nih untuk menerima telepon kamu dan aku baik-baik saja kok"
"Syukurlah" Alba menghela napas lega.
"Kamu nanti ingin dibelikan apa? Aku pulang jam lima sore nanti. Setelah ngajar, aku akan langsung pulang" tanya Adam.
"Nggak usah dibelikan apa-apa. Aku udah masak semur tahu dan telur kesukaan kamu. Aku juga udah menggoreng rengginang. Ayu masak nasi goreng Jawa. Cepatlah pulang"
"Apa kamu merindukanku?"
"Tentu saja aku merindukanmu"
"Selalu?" tanya Adam dengan senyum lebar dan rasa bahagia yang membuncah.
"Iya. Selalu" Alba berucap dengan rona merah di wajahnya.
"Apa wajahmu merona saat ini?"
"Nggak tahu. Aku kan nggak sedang di depan cermin" Alba semakin memerah wajahnya.
"Aku tahu pasti saat ini wajah kamu tengah merona. Ah! Aku ingin pulang dan melihat wajah kamu pas merona. Kamu tampak sangat menggoda dan bisa menggoyahkan pertahananku kalau kau merona"
"Dam! Jangan mikir yang aneh-aneh, ya"
"Hahahaha, mikir yang aneh-aneh sama pacar sendiri sah-sah aja dong" Sahut Adam dengan nada ceria dan ajaibnya, rasa sakit di kepalanya langsung menghilang.
"Aku mencintaimu dan cepatlah pulang. Aku menunggumu" Klik! Alba langsung memutuskan sambungan teleponnya degan Adam sambil tersenyum malu.
Adam tersenyum lebar lalu mendekap telepon genggamnya dan bergumam, "Aku juga sangat mencintaimu, Sayangku, Cintaku, Alba Anindya"
Adam memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku kemejanya, memasang kembali sabuk pengamannya, lalu melajukan kembali mobilnya, namun tidak menuju ke kantornya. Adam menuju ke rumah sakit untuk menemui dokter pribadi keluarganya yang sudah ia anggap sebagai papa kedua baginya.
Beberapa menit berikutnya, Adam duduk di depan meja Dokter Felix setelah menjalani pemeriksaan MRI (Magneting Resonance Imaging)
"Hasilnya akan keluar besok. Om harap hasilnya bagus, tapi kamu harus bersiap untuk hasil terburuk. Om khawatir kamu memiliki penyakit langka yang sama seperti almarhum Mama kamu karena, penyakit itu adalah penyakit genetik dan biasanya diturunkan secara menyilang, dari Ibu ke anak laki-laki atau sebaliknya, dari Ayah ke anak perempuannya"
"Oke Om. Makasih untuk waktunya. Adam pamit dulu, mau ngajar di kampus"
Dokter Felix bangkit dari tempat duduknya lalu menepuk Adam dengan kata, "Hati-hati di jalan"
Jam lima tepat, Adam telah sampai di rumahnya. Alba langsung berlari memeluk Adam dan berkata, "Syukurlah kamu baik-baik saja"
Adam mencium pucuk kepalanya Alba dan berkata, "Aku akan jaga baik-baik ragaku ini karena, ragaku ini bukan lagi milikku doang. Ragaku ini juga milikmu"
Alba melepas pelukannya dan menatap Adam, "Dan hati kamu milik siapa?"
"Milik Nenek moyang kita" Sahut Adam.
Alba merengut dan Adam langsung merangkul bahunya Alba dan sambil mengajak Alba melangkah masuk ke dalam rumah, menuju ke ruang makan, ia berucap, "Semua milik kamu. Ragaku, hatiku, harta bendaku, aku persembahkan hanya untukmu"
"Aku nggak butuh harta benda kamu. Aku hanya butuh raga dan hati kamu saja, Dam"
Adam tertawa bahagia, lalu ia mencium pelipisnya Alba dengan penuh cinta dan berucap, "Besok aku akan ajak kamu ke makam Mamaku dan makam Mama kamu untuk mengucapkan terima kasih karena kedua Mama kita sudah merestui langkah kita di persidangan sehingga persidangan kita sukses dan kita menang. Setelah dari makam, kita piknik, mau?"
"Mau dong" Alba menatap Adam dengan sorot mata penuh suka cita dan cinta.