
Noah akhirnya tertidur dengan sendirinya di samping pria asing yang ia yakini adalah papa bintangnya yang telah turun dari langit.
Alba trenyuh hatinya melihat Noah tertidur dengan menggenggam tangannya Adam.
Alba melangkah mendekati Noah dan Heni langsung menahan pundaknya Alba, "Biarkan saja, Ba! Kasihan Noah. Kalau kamu gendong, ia pasti terbangun. Lihatlah! Noah udah terdiri lelap dengan wajah bahagia, biarkan saja! Ayo kita keluar saja!" Heni berucap kemudian merangkul bahunya Alba untuk ia ajak keluar dari dalam pondok tamu.
"Ma, apakah Mama bersedia tidur menemani Alba. Alba tidak Ingin tidur sendirian malam ini"
"Baiklah. Lagian Satya juga nggak akan pulang malam ini. Satya ada penyelidikan dan baru bisa sampai sini jam lima pagi besok katanya"
Sahut Heni dengan senyum penuh dengan kasih sayang.
Dan di malam itu, Alba tidur seranjang dengan mamanya Satya dan Noah tidur seranjang dengan Adam.
Bunyi Kokok ayam jantan yang masih menjadi alarm alami bagi semua penduduk di kampung kelahirannya Satya dan Alba itu, membangunkan Adam.
Adam mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya dan saat ia ingin mengangkat tangan kanannya untuk memijit pelipisnya, Adam terkejut karena, ada tangan mungil di dalamnya. Adam lalu menunduk dan melihat makhluk mungil yang memiliki rambut berwarna sama dengan warna rambutnya dan tanpa Adam sadari, tangan kirinya terangkat untuk menyentuh rambut makhluk mungil yang meringkuk bak udang dan memegang tangannya.
Adam merasakan perasaan yang aneh saat ia menyentuh kepala anak laki-laki yang masih tidur meringkuk di sampingnya. Adam lalu mengelus kepala anak laki-laki mungil itu, terus dan terus mengelus sambil berusaha untuk memahami rasa aneh yang ada di lubuk hati kamu yang terdalam.
Presdir muda Baron Grup itu lalu bergumam, "Kenapa ada rasa hangat di hatiku saat aku mengelus kepala bocah laki-laki ini? Dan kenapa aku enggan mengangkat tanganku dari atas kepala bocah ini? Siapa bocah ini?"
Tiba-tiba, kedua kelopak matanya Noah terbuka dengan sangat lebar dan Deg! jantung Adam berdebar tanpa alasan yang jelas saat ia bersitatap dengan kedua bola mata berwana biru jernih, yang sangat mirip dengan warna kedua bola mata miliknya.
"Ah! Kenapa sama?" Noah dan Adam memekikkan kata yang sama sambil bangun lalu kedua laki-laki tampan itu saling menunjuk dengan mulut terbuka lebar.
Noah langsung memeluk Adam dengan polosnya dan berkata, "Papa Bintangku! Terima kasih akhirnya Papa turun juga dari atas langit"
Secara naluri dan tanpa disertai nalar yang sehat, Adam memeluk tubuh mungil bocah laki-laki yang belum pernah ia jumpai itu. Saat Adam memeluk Noah, jantungnya terus berdebar kencang dan secara naluri, ia langsung merasa menyayangi bocah laki-laki yang tengah memeluknya dengan sangat erat.
Satya berdiri tertegun di depan pintu masuk kamar tersebut saat ia melihat Adam dan Noah berpelukkan secara alami. Pemandangan itu membuat hatinya Satya campur aduk. Dia masih mengharapkan cintanya Alba dan dia merasa cemburu melihat Noah memeluk laki-laki lain selain dirinya walaupun ia tahu, laki-laki itu adalah Adam Baron, papa kandungnya Noah.
"Ehem!" Satya langsung berdeham dengan sangat keras dan secara spontan, anak dan papa itu saling melepaskan pelukan dan menoleh ke arah suara.
"Siapa kamu?" Tanya Adam. "Apa kamu Papa dari anak ini? Tapi, tentu saja bukan, kan? Rambut dan mata kalian beda warna dan........."
Adam Baron menautkan alisnya ke Satya dan Noah langsung memekik senang, "Om! Papa Bintangku udah turun dari langit" Sambil menunjukkan. jari telunjuknya ke Adam.
Satya mengabaikan suara nyaringnya Noah karena ia lebih memilih terus menatap Adam.
"Kenapa kau diam? Siapa kamu?" tanya Adam.
Satya merasa tidak rela jika Noah berduaan telalu lama dengan Adam Baron karena, Satya merasa berhak atas Noah.
Aku yang menjaga Noah sejak Noah berada di dalam kandungan dan aku juga yang siaga saat Alba melahirkan. Kok! enak aja tiba-tiba kamu datang dan ingin memiliki Noah, cih! Batin Satya yang terbakar cemburu merintih kesal.
Satya menutupi kepala Noah dengan telapak tangan lebarnya saat ia berlari menembus hujan menuju ke rumah utama.
Adam segera melompat dari atas kasur dan mengejar Laki-laki yang tampak asing baginya, mengejar laki-laki yang membawa pergi bocah laki-laki mungil yang mendadak telah mencuri hatinya.
Alih-alih berlari, Adam diam mematung cukup lama di beranda depan pondok untuk menikmati guyuran air hujan yang cukup deras di pagi hari itu. Dan di guyuran air hujan itu, Adam mendapatkan kilasan bayangan, seorang wanita berambut hitam dan indah tengah berlari ke arahnya dengan membawa payung.
Alba memayungi Adam dan Adam terksiap dari lamunannya karena, lamunannya menjadi nyata dan wanita yang sekilas muncul di dalam benaknya, ada di depannya dan tengah memayunginya dengan suara yang sangat lembut, "Ayok masuk ke rumah! Kita.sarapan bersama" Suara lembut dan merdu itu membuat debaran di jantungnya Adam tanpa alasan yang jelas.
Adam mengikuti langkahnya Alba dengan tanya, "Apa kamu pernah memayungiku sebelumnya? Apa kita pernah ketemu? Kenapa bayangan wanita yang selalu melintas sekilas di benakku, mirip dengan dirimu. Cuma, sayangnya wajah wanita itu buram, tidak jelas"
Alba memilih untuk diam karena Alba kecewa, Adam tidak memakai kalung dan cincin nikah yang semasa dengan yang dia pakai.
Noah merosot turun dari kursi makannya saat ia melihat Adam melangkah masuk ke dalam ruang makan.
Noah melompat dan secara refleks, Adam menagkap Noah dan Noah langsung tekekeh renyah dengan senyum bahagia tiada terkira saat ia merasa sangat nyaman berada di dalam gendongannya Adam.
Alba menutup payungnya, meletakkan payung itu ke dalam tempatnya lalu berputar badan dan langsung berteriak dengan wajah kaget, "Astag! Noah! Turun dari gendongan Om itu!" Alba langsung mendekati Adam dan menarik Noah, tapi Adam menahannya dengan kata, "Biarkan saja! Aku mendadak menyukai anak ini"Adam lalu duduk di depan meja makan sambil memangku Noah.
Alba melangkah ke kursi makan dan duduk di depannya Adam yang tengah memangku Noah dengan perasaan yang rumit untuk bisa dijelaskan.
"Siapa nama kamu?" Tanya Adam ke bocah laki-laki yang duduk di atas pangkuannya.
Noah menoleh ke belakang dengan senyum riang dan berkata, "Noah Anindya"
"Dan nama kamu?" Adam bertanya ke Alba.
"Alba Anindya" Alba menjawab pertanyannya Adam dengan suara bergetar menahan rasa rindu yang sangat besar pada Adam Baron.
Deg! Dada Adam kembali berdetak kencang saat ia mendengar nama Alba Anindya. "Kenapa nama itu tidak asing bagiku? Kita pernah bertemu?" Untuk yang kesekian kalinya, Adam melemparkan kata tanya ke Alba dan akhirnya, dengan sangat terpaksa, Alba menggelengkan kepalanya.
Adam menautkan alis dan terus menatap wajah wanita yang ada di depannya, yang telah membuat hatinya terus berdebar-debar tanpa alasan yang jelas.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Buat sahabat2ku para Author dan para pembaca yang Budiman, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya🙏❤️ Semoga ibadah puasanya berjalan lancar, penuh berkah, dan diberikan kesehatan selalu, amin🙏🤗❤️