I Love You, Adam

I Love You, Adam
Rasa Suka



Begitu tiba di depan rumahnya Alba, Adam mengerutkan dahinya. Ada banyak motor di depan rumahnya Alba. Alba memang supel orangnya dan memiliki banyak teman dan teman-temannya semasa SMP bermain ke rumahnya di hari Minggu nan cerah itu.


Adam memarkirkan motor kebanggannya di samping rumahnya Amanda lalu ia bersandar di motornya cukup lama. Ia merasa ragu untuk masuk ke dalam rumahnya Alba. Adam yang tidak menyukai keramaian, tidak terbiasa bersosialisasi itu akhirnya memilih untuk menelepon ponselnya Alba.


"Keluarlah sebentar! Aku ada di samping rumahmu"


"Hah?! Kenapa nggak masuk aja? Ini teman-teman SMPku. Masuklah! Aku akan kenalkan kamu ke teman-temanku ini"


"Keluar atau aku pulang" Nada yang sangat tegas meluncur tajam dari mulutnya Adam.


Alba menghela napas panjang lalu berkata, "Baiklah! Tunggu sebentar" Alba mematikan sambungan ponselnya, pamit untuk keluar sebentar ke teman-teman SMPnya lalu berjalan menuju ke samping rumahnya.


Adam tampak bersandar di motornya dan Alba langsung menghampiri Adam dengan tanya, "Ada apa?"


"Aku ingin menagih hutang kamu" sahut Adam dengan santainya.


"Hutang apa? Aku kan udah bayar hutangku yang seratus ribu kemarin" Alba menautkan kedua alisnya.


"Hutang janji. Kau kemarin janji kalau akan balas mentraktir aku dan aku bilang kalau aku menyukai masakan Mama kamu jadi, aku ke sini" Adam menatap Alba dengan tatapan datar dan wajah tanpa ekspresi.


"Oh! Yang itu. Oke! Masuklah!" Alba memegang pergelangan tangannya Adam dan menarik Adam, namun Adam menahan langkahnya, "Aku nggak mau masuk kalau di dalam rumahmu masih ada banyak orang. Aku nggak suka keramaian dan aku nggak pernah tertarik untuk berteman"


Alba terus berusaha menarik tangannya Adam dan Adam terus bersikeras menahan langkahnya. Alba akhirnya menyerah dan melepaskan tangannya Adam. Lalu ia mendelik dan bersedekap, "Kenapa kau mirip banget kayak keledai? bebal dan........"


"Kau! Berani benar kau bilang aku seperti keledai?" Adam mendelik kesal ke Alba.


"Kau memang keledai, kenapa? Marah?" Alba berkacak pinggang di depannya Adam.


"Dan kau seperti landak. Masih mending keledai, ada imut-imutnya. Kalau landak? pppffttt! udah jelek kalau marah keluar dirinya, ppppfffft" Adam menutup mulutnya menahan geli.


"Masuk atau pulang itu terserah kamu!" Alba lalu berputar badan dengan kesal dan melangkah meninggalkan Adam.


Adam lalu berlari dan menahan lengannya Alba, "Tunggu! Teman-teman kamu yang ada di dalam, laki-laki atau perempuan? Dan ada berapa orang?"


"Laki-laki ada enam orang" Sahut Alba.


"What! Semuanya laki-laki?" Adam memekik kaget dan hatinya terpercik sedikit kecemburuan.


"Iya. Teman cewekku cuma Ayu. Semua temanku kebanyakkan laki-laki"


"Aku akan masuk" Adam lalu menarik tangannya Alba dan mengajak Alba masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam, Adam mengamati satu per satu teman laki-lakinya Alba saat Alba memperkenalkan dirinya ke semua temannya dan Adam mengumpat kesal di dalam hatinya karena teman laki-lakinya Alba, tampak keren semuanya.


Alba lalu mempersilakan Adam untuk duduk di kursi yang masih kosong. Alba ke dapur untuk membuatkan segelas es sirup rasa mangga kesukaannya Alba, untuk Adam. Alba juga menggoreng rengginang untuk camilan.


Sambil menunggu Alba datang membawa minuman dan camilan untuknya, Adam diam membisu dan tidak berniat untuk mengobrol dengan semua makhluk yang bernama manusia yang ada di ruang tamunya Alba saat itu. Bahkan Adam nggak mau mengingat semua nama teman laki+lakinya Alba saat ia dikenalkan dengan semua temannya Alba.


Salah satu temannya Alba yang bernama Leo, yang duduk di sebelah kanannya Adam nyeletuk, "Kamu siapanya Alba?"


Adam menoleh ke Leo dan balik bertanya, "Jawabanku tergantung pada siapa yang nanya"


"Maksud kamu apa?" tanya temannya Alba yang lain.


"Aku sahabatnya Alba. Paling dekat dengan Alba dan........"


"What?! Pe-De juga ya, kamu?" Teman Alba yang bernama Doni memekik kesal ke Adam.


"Kenapa nggak boleh Pe-De? Alba belum punya pacar, kan? Dan Aku yang berpeluang paling besar untuk menjadi pacar masa depannya Alba karena, aku menyukainya dan aku paling dekat dengan Alba saat ini. Asal kalian tahu, aku dan Alba duduk satu bangku" Adam menarik alis kananya ke atas dengan senyum bangga.


"Sial!" Teman Alba yang bernama Chris langsung mengumpat kesal. "Berani benar kamu menyukai Alba. Aku yang lebih dulu menyukai Alba sejak SD"


Teman Alba yang lain langsung mengarahkan pandangan mereka semua ke Chris dengan tatapan terkejut.


Chris berucap, "Itu benar. Dan jangan bilang kalau kalian semua juga.........."


"Aku juga menyukai Alba" Sahut Leo.


Doni dan teman Alba yang lainnya juga mengatakan hal yang sama laku mereka menoleh serempak ke Adam, dan Doni langsung menyemburkan protes, "Gara-gara kamu, kami semua jadi mengakui perasaan kamu ke Alba"


"Dan semoga saja, perasaan kami ini tidak merusak hubungan pertemanan kami selama ini" Sahut Leo.


Adam tersenyum tipis, "Itu urusan kalian. Tapi, yang pasti, aku tidak akan ijinkan kalian semua memang melawanku. Alba ditakdirkan hanya untukku"


Leo hendak bangkit dan mengajak duel Adam di luar tapi, Alba keburu datang membawa nampan yang berisi es sirup rasa mangga dan toples kaca yang berisi penuh rengginang.


Adam lalu menarik Alba untuk duduk di dekatnya saat Alba hendak melangkah duduk di tengah-tengahnya Doni dan Chris. Adam lalu berucap santai, "Duduk di dekatku lebih aman"


Semua teman laki-lakinya Alba menatap Adam dengan menahan rasa geram mereka. Dan akhirnya tepat pukul enam petang, Mamanya Alba datang dan membuat semua teman laki-lakinya Alba pamit pulang kecuali Adam.


Leo melotot ke Adam yang masih berdiri di dalam rumahnya Alba. Leo lalu bertanya dengan nada geram, "Kenapa kau tidak pulang?"


"Aku akan mengajari Alba Matematika. Aku guru privat matematikanya Alba" sahut Adam dengan santainya.


Mamanya Alba tersenyum dan berkata, "Iya benar. Adam akan di sini dulu untuk mengajari Alba Matematika. Adam raja olimpiade Matematika"


Sial! Leo mengumpat kesal lalu dengan terpaksa pergi meninggalkan rumahnya Alba karena ia sudah terlanjur pamit.


Mamanya Alba mengajak Adam untuk makan malam bersama terlebih dahulu dan setelah makan malam selesai, Adam mengajari Alba Matematika, sementara Mamanya Alba berangkat ke kafe untuk bekerja.


"Kamu jangan sering-sering bergaul dengan teman kamu tadi" Adam berucap sambil membuatkan soal latihan Matematika untuk Alba.


"Semuanya?"


"Iya semuanya" sahut Adam.


"Kenapa? Mereka teman baikku dan aku sudah terbiasa bermain dengan mereka selama ini. Aku sangat aman dan nyaman berada di tengah-tengahnya mereka"


"Mereka semua menyukaimu. Kau harus lebih berhati-hati"


"Hah?! Kau jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda. Mereka mengaku kalau mereka semuanya menyimpan rasa suka ke kamu selama ini jadi, Saranku jangan lagi terlalu dekat dengan mereka"


Alba menautkan alisnya lalu ia bertanya, "Dan kamu?"


"Apa?" tanya Adam sambil menyerahkan soal yang telah selesai ia buat ke Alba. Adam dan Alba bersitatap. Alba lalu berucap, "Nggak papa, lupakan saja" Alba langsung diam dan mengerjakan soal Matematika itu dengan bergumam di dalam hatinya, apa kamu juga menyukaiku, Adam?