
Alba membuka pintu rumahnya saat ia mendengar suaranya Ayu dan Doni teman dekatnya semasa SMP.
Ayu dan Doni duduk di kursi tamunya Alba yang sederhana dan kecil.
"Ada apa kemari?" tanya Alba.
"Aku cuma nemenin Doni. Katanya Doni pengen ngomong serius sama kamu" sahut Ayu.
Alba menoleh ke Doni, "Ada apa?"
Doni meringis sambil mengelus tengkuknya.
Ayu menepuk bahunya Doni, "Udah ngomong aja! Cemen banget sih, katanya cowok tulen"
"Kamu bisa nggak masuk ke kamarnya Alba dulu? Aku malu ngomong kalau ada kamu di sini" Sahut Doni.
Alba menoleh ke Ayu, "Masuklah ke kamarku dulu, Yu! Aku penasaran sama apa yang akan Doni katakan, nih"
Ayu menghela napas panjang laku bangkit dan masuk ke kamarnya Alba.
"Nah! Ada apa? Ayu udah nggak ada nih" Alba menatap Doni.
"Emm, kita udah lama bersahabat, kan?"
"Iya. Terus?" Alba mengerutkan keningnya.
"Kalau aku ada rasa suka sama kamu, boleh tidak?" tanya Doni.
Alba yang masih lugu terkekeh geli, "Boleh dong. Kita semua berteman, bersahabat karena saling suka, kan?"
"Bukan suka yang kayak gitu" sahut Doni.
"Terus?"
"Maukah kamu jadi pacarku? Aku udah lama menyukaimu dan kata Ayu kamu belum punya pacar"
"Maaf Don, aku udah punya pacar" sahut Alba dengan wajah sendu. Karena sejujurnya dia nggak ingin menyakiti perasaan Doni.
"Kamu bohong, kan? Kata Ayu kamu masih jomblo"
"Aku nggak bohong. Aku baru aja punya pacar. Beberapa jam yang lalu" Alba menatap Doni dengan penuh keseriusan.
Doni lalu tersenyum kecut. Dia kecewa pernyataan cintanya ditolak oleh pujaan hatinya. Lalu Doni bangkit, "Baiklah. Aku pulang dulu kalau gitu" Doni langsung bangkit dan bergegas keluar dari dalam rumahnya Alba.
Alba masuk ke kamarnya.
"Lho, Doni kok kamu tinggalkan?"
"Doni udah pulang" sahut Alba.
"What?! Lalu kalian udah jadian?"
Alba menggelengkan kepalanya. Aku udah punya pacar, Yu" sahut Alba.
"What?! Kapan kau punya pacar dan siapa cowok itu?"
"Rahasia, hehehehe. Nanti kalau waktunya udah tepat aku kasih tahu ke kamu"
"Lalu sekarang aku pulang naik apa, dong?"
"Kamu tidur di sini aja malam ini nemenin aku. Besok kita bangun pagi-pagi, boncengan ke rumah kamu dulu baru kita berangkat ke sekolah bareng"
"Okelah kalau begitu" Ayu lalu merebahkan diri di atas kasurnya Alba.
Setelah makan bersama dengan Papa dan Nindya, Adam bergegas masuk ke kamarnya karena ia ingin melakukan panggilan Video Cal dengan pacarnya.
Adam membalas pesan text itu dengan kerutan di keningnya, Lalu kenapa kalau ada Ayu?
Alba membalas pesan text itu, Aku belum kasih tahu soal kita ke Ayu. Aku malu. Kita bahas besok aja di sekolahan ya?
Adam menghela napas panjang menatap pesan text dari Alba. Lalu ia melempar ponselnya begitu saja di atas kasur kemudian ia berjalan ke meja belajarnya.
Malam itu, Alex meminta Nindya menginap di rumahnya tanpa sepengetahuannya Adam. "Menginaplah di sini! Ini sudah larut malam berbahaya kamu menyetir mobil sendirian di jam sebelas malam. Aku sudah meminta Bi Ijah menyiapkan kamar tamu untuk kamu"
Nindya tersenyum dan berkata, "Baik, Mas"
"Kalau gitu, masuklah ke kamar! Kau besok harus ngajar pagi, kan?"
"Aku masih harus memasukkan nilai sebentar, Mas. Tidurlah dulu!" Nindya yang masih memangku laptop kembali mengulas senyum di wajah ayunya.
Alex mengusap rambutnya Nindya, mengajak Nindya berciuman sebentar dan berkata, "Jangan tidur terlalu malam!" lalu ia bangkit dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Nindya meletakkan laptop di atas meja sofa yang ada di ruang keluarga. Lalu ia bersandar di sofa. Dia memejamkan kedua kelopak matanya untuk membawa angannya melayang ke masa-masa indah kebersamaannya dengan Adam Baron.
Adam dulu sering main ke apartemennya, memasak bubur untuk ya saat ia flu. Membuatkan teh jahe di saat ia demam dan selalu ada di saat ia merasa kesepian. Adam yang kaku, bisa bersikap baik dan hangat padanya kala itu telah membuat Nindya tersihir pasrah kala hatinya mulai memiliki bibit rasa suka pada Adam. Dan sikap Adam yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Alex, membuat Nindya selalu merindukan Adam.
Angan Nindya kemudian melayang ke kenangan saat Adam menciumnya dengan lembut dan hati hati, kembali membuat jantung Nindya jumpalitan tidak karuan.
Nindya menegakkan badannya kembali lalu menoleh ke pintu kamarnya Adam. "Apa Adam sudah tidur? Tapi, kata Pak Samin, Adam selalu belajar sampai subuh. Apa aku masuk aja ke kamarnya? Mumpung sepi. Ah! Iya! Bodo amat! Aku akan samperin Adam. Aku akan tanya siapa pacar dia saat ini" Nindya bangkit, celingukkan ke kanan, ke kiri dan menoleh belakang. Ketika dirasanya aman, ia melangkah lebar ke pintu kamarnya Adam. Dia coba pegang handle pintu itu, dia dorong dan terbukalah pintu itu.
Adam yang tengah belajar tersentak kaget dan menoleh ke pintu yang tengah dikunci oleh Nindya dengan tanya, "Mau apa kau?"
Nindya bersandar di pintu dan bertanya, "Siapa pacar kamu? Apa Kak Nindya mengenalnya?"
Adam kembali menatap buku pelajarannya sembari berkata, "Bukan urusan Ibu"
"Ibu? Kita hanya berdua saat ini. Kata kamu, kalau kita hanya berdua, kau akan memanggilku Kak" Nindya masih bersandar di pintu.
"Aish! Kenapa kamu ngeyel banget, hah?! Aku sudah bilang kan, berkali-kali, kalau sikap manis aku ke kamu dulu itu hanya sandiwara untuk menjerat kamu masuk ke dalam jebakanku karena aku ingin menjauhkan kamu dari Papaku. Maka sadarlah dan jauhi aku sekarang! Aku sudah nggak mau tahu soal kamu dan Papa lagi. Tapi, yang pasti Papa sangat mencintaimu jadi, aku mohon jangan kecewakan Papa!" Adam menoleh ke Nindya dengan masih memegang pulpennya.
"Kenapa kau berubah pikiran? kenapa tidak kau kasihkan rekaman saat kita berciuman ke Papa kamu? Kasih aja ke Papa kamu! Biar aku bisa memiliki alasan untuk putus dengan Papa kamu dan berpacaran denganmu, Dam. Aku rasa aku sangat mencintaimu melebihi rasa cintaku pada Papa kamu"
"Karena Papa juga udah berubah. Papa udah meluangkan banyak waktunya untukku akhir akhir ini Dan sebenarnya aku hanya butuh itu. Aku hanya butuh perhatiannya Papa. Maafkan aku kalau aku dulu berniat menendangmu pergi dari Papaku dengan sandiwaraku karena, aku nggak ingin Papa lebih perhatian sama kamu dan semakin mengabaikanku"
Nindya menatap Adam dengan tatapan sendu, "Kenapa kau tega? Kenapa kau menjauh di saat hatiku akhirnya memilih kamu, Dam? Kenapa?!"
Nindya meninggikan nada suaranya dan mulai terisak lalu merosot turun untuk berjongkok di depan pintu kamarnya Adam.
"Sssstt! Kau mau membangunkan Papa?" Adam yang masih duduk di depan meja belajarnya, mendelik ke Nindya.
"Kalau misalnya aku bukan calon istrinya Papa kamu, apa kamu akan mengungkapkan rasa kamu ke aku, Dam?" Nindya bangkit dan melangkah gontai mendekati Adam.
"Aku tidak pernah punya perasaan padamu" Adam bangkit, mendorong kursi belajarnya ke belakang lalu melangkah mundur saat langkah Nindya semakin mendekatinya.
"Bohong! Kau menciumku. Aku bisa merasakan kalau kau menciumku dengan penuh perasaan dan........"
"Itu khilaf!" Adam meninggikan nada suaranya karena kesal. "Dengar! Aku hanya mengikuti naluri liarku sebagai laki-laki normal, itu saja nggak lebih jadi sadarlah dan jangan menjadi bodoh terus menerus!" Adam terus melangkah mundur dengan pelan saat ia melihat Nindya, terus melangkah ke arahnya.
Nindya mempercepat langkah kakinya lalu tanpa Adam duga, Nindya melompat ke arahnya dan mengalungkan kedua lengannya ke lebar Adam lalu wanita yang memiliki rambut hitam nan indah itu, memeluk erat lehernya Adam.
Adam mengangkat kedua tangannya untuk mengurai gelungan kedua lengannya Nindya, namun gagal. Adam menunduk dan mendelik menatap kedua manik hitamnya Nindya, "Kau mau apa?"
"Aku ingin buktikan sendiri kau bohong atau tidak?" Nindya mengangkat wajahnya untuk melihat wajah tampannya Adam dan mengulas senyum seksi di wajah cantiknya.
"Buktikan apa?" Adam masih berusaha melepaskan diri dari pelukan eratnya Nindya.
"Dengan ciuman" Nindya nekat mencium bibirnya Adam.