I Love You, Adam

I Love You, Adam
Gamang



"Bella? Kenapa kau kemari?" Adam menautkan alisnya ke Bella yang tengah melenggak-lenggok cantik mendekat ke meja kerjanya.


Bella berdiri dengan pose cantik di depan meja kerjanya Adam dan setelah ia meletakkan dompetnya di atas meja kerjanya Adam, wanita cantik itu tersenyum dan berkata, "Aku merindukanmu, tentu saja. Untuk itulah aku berdiri di depanmu saat ini"


Adam langsung menundukkan wajahnya untuk menatap berkas-berkasnya dan berkata, "Aku sangat sibuk saat ini! Pulanglah!" Tanpa Adam sadari ia berkata dengan nada cukup tinggi.


Suara berisik di luar membuat Alba terbangun dari tidurnya. Dan di saat Alba bangkit berdiri dan berjalan ke pintu, membuka pintu dengan pelan, ia segera menutup kembali pintu kamar itu dengan pelan saat ia melihat sosok Bella berdiri di depan meja kerjanya Adam.


Bella melangkah memutari meja kerjanya Adam dan berhenti di belakang kursi kerjanya Adam, dia mengalungkan kedua lengannya di lehernya Adam dari belakang dan berbisik, "Kalau begitu, aku akan menunggu kamu di kamar. Kau tahu, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk menyenangkan dirimu hari ini"


Adam langsung mengurai gelungan lengannya Bella lalu bangkit berdiri sambil menyingkirkan kursi kerjanya yang beroda dari hadapannya sambil memekik kencang, "Jangan masuk ke kamar!" Adam menyingkirkan kursi kerja berodanya karena, ia ingin bicara leluasa dengan Bella, namun itu justru mempermudah Bella untuk melangkah maju dan memeluk Adam sambil bertanya, "Kenapa aku nggak boleh masuk ke kamar kamu? Kamu malu, ya?"


Adam mendorong Bella dan memegang kedua bahunya Bella dan menatap kedua bola mata hitamnya Bella, lalu berucap, "Dengar Bella! Aku sangat sibuk hari ini, jadi pergilah! Atau pulanglah!"


"Kamu tidak merindukan aku, Sayang?" Bella bertanya ke Adam dengan sorot mata penuh cinta.


Adam langsung menjawab, "Tidak"


"Hah?! Tidak? Tega sekali kau, Dam. Aku ini tunangan kamu, lho" Bella langsung melancipkan bibirnya di depan Adam.


Alba bisa melihat dan mendengarkan semua obrolannya Adam dan Bella karena ia memutuskan untuk mengintip dari balik pintu kamar itu. Dia membuka sedikit daun pintu kamar itu dan ia akhirnya bisa bernapas lega karena Adam ternyata masih merupakan tipe pria yang setia. Namun, Alba juga merasa bingung dengan takdir yang ada di antara dia, Bella, dan Adam karena, situasi mereka sama seperti situasi yang ada di masa lalu mereka. Lalu Alba menutup pintu kamar itu dan bergumam, "Kasihan juga, Bella. Mas Adam terus menolaknya. Tapi kenapa Mas Adam menolak Bella? Apa Mas Adam sudah mengingat sesuatu?"


"Dengar Bella! Aku sangat sibuk dan......."


"Aku nggak mau pergi dan nggak mau pulang. Aku akan menginap di sini. Kamu tinggal di kamar VVIP nomer berapa? Aku akan suruh supirku menaruh koperku di sana. Aku ingin mulai hari ini, kita tinggal satu kamar agar kita lebih akrab,kan, kita sebentar lagi akan menikah" Bella berucap sembari memainkan jari telunjuknya di atas dada bidangnya Adam.


Adam langsung melepaskan bahunya Bella lalu melangkah ke kanan lalu terus melangkah mundur untuk menjauhi Bella sambil berkata, "Aku tidak tinggal di hotel ini. Aku juga tidak ingin tinggal satu kamar dengan wanita yang belum menjadi Istriku"


Bella.melangkah pelan mendekati Adam yang terus melangkah mundur. Bella menautkan alis dan langsung menghentikan langkah kakinya dengan tanya, "Kenapa kau terus melangkah mundur dan menjauh dariku?"


Adam langsung menghentikan langkah mundurnya tepat di depan pintu kamarnya. Lalu ia berucap, "Aku tidak menjauhimu. Aku hanya ingin berolahraga dengan berjalan mundur, hehehehe" Adam lalu meringis di depannya Bella dengan harapan, Bella memercayai alasan yang dia buat dengan asal-asalan.


Bella memonyongkan bibir seksinya laku menggoyangkan bibir monyongnya itu ke kanan lalu ke kiri dengan tatapan heran.


"Itu benar. Aku capek dari tadi duduk terus dan aku rasa, aku butuh sedikit olahraga dengan berjalan mundur, barusan, hehehehe" Adam kembali meringis ke Bella.


"Karena, kamarnya baru saja dicat. Masih bau cat dan kasurnya belum dipasangi seprei, kamarnya masih sangat berantakan" Adam yang tidak terbiasa berbohong, mulai bergerak geliah di depannya Bella.


Alba menautkan alisnya di balik pintu dan bergumam, "Kenapa Mas Adam menyembunyikan keberadaanku? Siapa yang ingin dia jaga sebenarnya? Dia ingin menjaga perasaanku atau ia ingin menjaga perasaannya Bella?"


Bella mengabaikan kegelisahannya Adam karena rasa cintanya yang sangat besar pada Adam, dia selalu memercayai semua ucapannya Adam. Lalu Bella bersedekap, "Kalau gitu, aku boleh merapikan kamar itu?"


"No! Jangan! Kamu akan kelelahan karena kamarnya sangat parah. Berantakan parah banget. Kamu pulang aja, oke?! Emm, begini aja, pergilah ke kamar yang kamu suka di hotel ini jika kau ingin menginap di kota ini! Aku akan menemui kamu nanti sore jam tujuh malam di resto hotel ini. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" Adam tersenyum ke Bella.


Bella menyambut perkataannya Adam dengan senyum cerah, lalu berkata, "Baiklah kalau begitu. Aku senang, akhirnya kamu berinisiatif mengajakku berkencan. Aku akan menunggumu di resto nanti malam jam tujuh dan aku akan membalas kebaikanmu ini beribu kali lipat, nanti" Bella hendak melangkah mendekati Adam dan Adam langsung memekik, "Jangan mendekatiku!"


"Kenapa? Aku ingin mencium kamu, Sayang. Aku rindu belaian bibir kamu di bibirku dan......"


"Aku habis makan jengkol. Kamu benci bau jengkol, kan? Jadi, nggak usah menciumku, hehehehe"


"Kenapa kau makan jengkol?"


"Chef di hotel ini, mencoba membuat menu baru dengan bahan jengkol dan aku diharuskan mencicipinya, tadi" Sahut Adam dengan wajah yang mulai kelelahan karena ia harus terus berbohong di depannya Bella.


"Baiklah. Aku akan menginap di kamar VVIP nomer 888, nomer cantik dan nomer keberuntungan, aku akan tunggu kamu, nanti malam" Bella melangkah ke meja kerjanya Adam untuk mengambil dompetnya lalu melangkah keluar dari ruang kerjanya Adam dengan senyum ceria.


Adam menghela napas panjang dan mengusap keningnya. Dan di saat Adam hendak melangkah maju, Adam terkejut saat mendengar pintu kamarnya dibuka dan Adam langsung berputar badan. Ia bersitatap dengan wajah manisnya Alba.


"Sudah bangun?" Tanya Adam dengan senyum tampannya. "Laper nggak? Aku akan pesankan makanan untuk kita. Kamu masih suka mie ayam?"


Alba tertegun dan langsung melangkah maju memegang kedua bahunya Adam, "Mas, Mas udah ingat?"


"I......i...ingat apa?" Adam bertanya ke Alba dengan ekspresi kaget dan kebingungan.


"Mas, kenapa Mas bisa tahu kalau aku suka mie ayam? Mas baru saja nanya ke aku, apa aku masih suka mie ayam, kan?"


Adam menautkan alisnya, "Iya, kenapa aku bisa menanyakan hal itu? Apa kita ada hubungan di masa lalu, Ba?"


Alba menatap kedua bola mata birunya Adam dengan gamang. Dan bertanya di dalam hatinya, Apa aku boleh mengatakan ke Mas Adam semuanya, sekarang ini? Apakah Mas Adam akan baik-baik saja kalau aku menceritakan semuanya?