I Love You, Adam

I Love You, Adam
Berita Yang Mengejutkan.



Adam menghindari Bella dan berhasil keluar dari kediaman mewahnya keluarga Fastro dengan sukses. Adam lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia memindahkan parkir mobilnya tidak jauh dari sepedanya Alba. Adam menunggu Alba keluar dari acara ulang tahunnya Bella dengan sabar sambil mencari nomer ponsel teman SMA-nya dulu di grup chat teman-teman SMA-nya dulu.


Adam menemukan nomer ponselnya Theo dan memutuskan untuk menghubungi nomer ponselnya Theo.


Theo yang akhirnya jadian dengan Ayu dan masih kuliah di kampus yang sama dengan Ayu di jurusan yang sama yaitu Ekonomi Manajemen, mengangkat panggilan telepon dengan nomer asing yang nampak di layar ponselnya.


Theo.memekik girang saat ia tahu bahwa yang meneleponnya Adalah Adam Baron. Theo menyapa Adam dan berbasa-basi sejenak dengan Adam.


Adam yang tidak begitu menyukai basa-basi langsung bertanya, "Apa kau tahu apa yang terjadi pada Alba? Kenapa Alba tinggal dengan Tantenya dan ke mana Mamanya Alba?"


Theo memberikan jawaban yang sangat mengejutkan bagi Adam. Theo mengatakan kalau mamanya Adam meninggal di perjalanan pulang dari kafe. Mamanya Alba meninggal karena perampokan di jalan dan itu terjadi tidak lama setelah Adam berangkat ke Amerika.


Kepala Adam langsung terasa berdenyut dan kedua matanya berkedut ingin menangis mendengar kabar bahwa mamanya Alba telah meninggal dunia dengan cara yang sangat tragis.


Adam kemudian teringat saat dulu ia sering makan masakannya mamanya Alba di rumahnya Alba. Dan dia teringat saat mamanya Alba mengetahui bahwa ia dan Alba telah berpacaran. Mamanya Alba tidak marah dan tidak melarang tapi, mamanya Alba merangkul pundaknya Adam dan berkata, "Tante percaya sama kamu. Kamu pasti bisa menjaga Alba dengan baik sampai kalian menikah nanti. Tante titip Alba, ya"


Pesan itu disampaikan oleh mamanya Alba sekitar sebulan sebelum Adam pergi ke Amerika. Adam lalu menutup sambungan ponselnya begitu saja dan mengabaikan panggilannya Theo, "Halo, Adam?!" Yang terdengar berulangkali di ponselnya.


Adam lalu menjatuhkan pelan wajahnya di atas kemudi dan menangis sesenggukkan di sana. Dia sungguh-sungguh menyesali keputusannya pergi ke Amerika dan meninggalkan Alba sendirian di Indonesia. Dia sungguh-sungguh menyesali momen di saat Alba berduka dan dia tidak ada di sampingnya Alba dan dia tidak ada untuk hadir di pemakaman mamanya Alba, wanita yang sangat ia sayangi seperti mama kandungnya sendiri.


Tok,tok,tok. Adam tersentak kaget dan secara spontan mengangkat wajahnya dan menoleh ke kaca mobilnya saat ia mendengar kaca mobilnya diketuk beberapa kali. Tampaklah wajah Bella di sana tengah menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.


Adam mengusap kedua pipinya yang basah karena air mata lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar dari dalam mobilnya.



Bella menatap Adam dan bertanya, "Ada apa? Kenapa kau keluar dari rumahku dan duduk di dalam mobilmu?"


Adam melihat ke arah belakang dan dia tampak kecewa karena sepeda onthelnya Alba telah lenyap dari sana.


Bella menoleh ke belakang kala ia menangkap sorot mata Adam tertuju ke sesuatu yang ada di belakangnya. Lalu Bella menatap ke Adam kembali dengan tanya, "Ada apa? Apa yang kau cari? Dan kenapa kau menangis, Dam?"


Adam hendak masuk kembali ke jok kemudi karena pintu mobilnya masih ia pegang dan masih terbuka lebar, namun tangan Bella langsung menahan lengannya Adam dan hal itu membuat Bella jatuh ke dalam mobilnya Adam tepat di atas pangkuannya Adam.


Kedua bola mata Adam dan Bella beradu. Bella yang belum pernah mendapatkan ciuman dari Adam di bibirnya, memberanikan diri untuk meminta, "Dam, kasih aku ciuman di bibir. Ciuman pertama kita sebagai kado ulang tahunku"


"Aku sudah kasih kado ke kamu, kan? Sebuah jam tangan merk kesukaanmu" sahut Adam.


"Aku ingin mendapatkan ciuman dari kamu apa salahnya? Kita kan sudah bertunangan dan kita sebentar lagi akan menikah" Bella lalu memejamkan kedua kelopak matanya dan memonyongkan bibirnya sembari mendekatkan wajahnya ke wajahnya Adam.


Adam langsung mengangkat tangan kanannya untuk menahan bibir monyongnya Bella dengan telapak tangannya sambil berkata, "Maaf, aku belum bisa karena aku pusing banget saat ini"


Bella lalu membuka kedua kelopak matanya dan keluar dari mobilnya Adam dengan wajah malu dan kesal. Dia lalu berputar badan untuk melangkah masuk ke dalam rumah besarnya.


Adam lalu menutup pintu mobilnya, memasang sabuk pengamannya dan bergegas menjalankan mobilnya untuk menyusul Alba.


Bella masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan bergumam, "Apa Adam mencintaiku seperti aku mencintainya? Apa dia menerima pertunangan ini karena aku menjawab iya saat ia pertama kali membuka kedua matanya dari koma dan ia bertanya, apa aku ini pacarnya?"


Bella menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kesal, "Harusnya aku jawab tidak saat Adam membuka kedua matanya dan bertanya seperti itu tapi, mau bagaimana lagi, aku langsung mencintai Adam saat Papa menugaskan aku untuk menjaga Adam di rumah sakit selama satu Minggu. Dan saat Adam akhirnya sadar dari komanya, membuka mata dan bertanya seperti itu, aku khilaf dan menjawab iya aja"


Bella lalu mengambil bantal untuk menutupi wajah cantiknya dengan kesal saat ia mengingat bahwa Adam belum pernah mencium dia baik di kening, pipi apalagi di bibir.


Bella juga merasa kesal saat ia kembali mengingat bahwa Adam juga tidak pernah berinisiatif menggandeng tangannya atau mengusap rambutnya. Adam hanya menjemputnya kalau dia yang meminta dan mengantarnya pulang kalau dia yang memintanya pula. Walaupun begitu, Bella tetap bertekad tidak akan pernah melepaskan Adam dari ikatannya karena ia yakin suatu saat nanti, Adam akan mencintainya seperti dia mencintai Adam.


Adam menyusuri jalan yang menuju ke rumah tantenya Alba dengan pelan. Namun, dia tidak melihat Alba di trotoar yang khusus diperuntukkan untuk sepeda onthel dan pejalan kaki. Adam menghela napas panjang lalu bergumam, "Tolong pertemukan saya dengan Alba saat ini juga, Tuhan. Saya mohon"


Alba yang saat itu telah melepas dress putih panjangnya dan menggantinya dengan kaos oblong dan celana jins memunggungi jalan raya untuk mengantre membeli arum manis. Setiap kali merasa sedih dan kecewa, Alba memang butuh makan makanan yang manis dan karena cokelat harganya mahal, dia memutuskan untuk membeli arum manis kecil di pinggir jalan yang ia lewati.


Dan Adam masih ingat betul kalau Alba suka makan yang manis-manis kalau sedang sedih dan kecewa maka saat ia melihat ada penjual arum manis di pinggir jalan, ia memberhentikan mobilnya di depan penjual arum manis itu. Dia berniat membeli arum manis dan akan ia bawa untuk menemui Alba di rumah tantenya Alba. Adam tidak menyadari adanya Alba di tengah kerumunan para pembeli arum manis yang tengah mengantre. Alba pun tidak menyadari ada Adam berdiri tidak jauh di belakangnya.................