I Love You, Adam

I Love You, Adam
Terkejut



Dokter Leon menghela napas panjang setelah memeriksa kondisinya Adam.


"Ada apa, Om?" tanya Adam dengan wajah panik.


"Kamu harus segera dioperasi. Kondisi kamu semakin memburuk. Ini karena kamu tidak menuruti perintah Om. Kamu kelamaan bulan madunya"


"Lalu kapan aku harus dioperasi?" Adam menggenggam erat tangannya Alan dan Alba langsung mengelus punggung tangannya Adam.


"Lusa. Aku sudah hubungi Bella, Bella aku minta masuk ke dalam timku. Bella sudah ada di bandara dan seharusnya.........."


Braaakkk! Pintu kamar rawat inapnya Adam terbuka lebar dan seorang wanita cantik berlari masuk dan langsung memeluk Adam. Wanita itu menangis di atas dadanya Adam dan berucap di sela isak tangisnya, "Kenapa kau bisa kena tumor otak, Dam?"


Adam mendorong kening wanita itu dari atas dadanya dengan telapak tangan kirinya sambil berucap, "Bel, jangan main peluk sembarangan! Aku sudah menikah"


Bella menegakkan wajahnya karena kaget mendengar kabar kalau Adam sudah menikah. Lalu wanita cantik dan cerdas itu menegakkan badannya. Ia melihat Adam menggenggam erat tangannya Alba. "A.....apa Al....Ba Istrimu? Ka.....kalian udah menikah?"


Adam menarik tangannya Alba untuk ia cium punggung tangan istrinya lalu berucap, "Iya benar. Alba Istriku sekarang ini. Kami baru menikah sebulan lebih beberapa hari" Adam menaikkan kedua bola matanya ke atas untuk melihat wajah manis istrinya. Di saat ia bersitatap dengan Alba, ia tersenyum dan melanjutkan ucapannya, "Dan hanya dia wanita yang selalu aku cintai dari dulu, saat ini, dan selama-lamanya"


Bella mematung melihat Adam dan Alba saling menatap dengan penuh cinta. Hati Bella kembali teriris karena rasa kecewa dan cemburu. Di saat ia memiliki sedikit harapan untuk bisa berada kembali di samping Adam selama Adam sakit, tapi kenyataannya ia harus menghempaskan kembali harapannya itu.


"Nyonya Alba Anindya Baron?" Seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat inapnya Adam Baron dan mencari Alba.


"Saya Alba, Sus. Ada apa?" tanya Alba.


"Dokter Grace ingin bertemu dengan Anda. Anda ada janji temu dengan Dokter Grace hari ini, kan? Beliau menunggu Anda"


Adam menarik tangannya Alba sambil bangun dan membuat Alba terduduk di tepi ranjang. Adam langsung memeluk pinggangnya Alba dan bertanya, "Ada apa? Kamu sakit apa? Apa yang terjadi kemarin pas aku tidur?"


Alba mengurai pelukannya Adam lalu ia bangkit dan mengusap pipinya Adam, "Nggak papa. Aku cuma kurang darah dan kecapekan aja. Aku tinggal sebentar ya? Sebentar aja. Kan ada Dokter Felix dan Bella"


"Aku akan anter kamu. Mana kursi roda, Om?" Adam bertanya ke Dokter Felix.


"Kamu jangan turun dari ranjang dulu! Tunggu dua jam setelah hasil lab keluar, kamu baru boleh turun dari ranjang" Sahut Dokter Felix.


"Tapi, aku pengen anter Alba, om"


Alba langsung mencium pucuk kepalanya Adam dan berkata, "Aku cuma sebentar kok"


Alba lalu melangkah meninggalkan Adam sambil menganggukkan kepala dan tersenyum ke Dokter Felix dan dokter Bella Fastro.


Kedua bola mata Bella bergerak mengikuti arah perginya Alba lalu ia menatap Adam, "Selamat atas pernikahan kalian. Maaf aku tidak tahu. Aku ada di luar negeri selama ini"


"Nggak papa. Maaf juga kami tidak mengundang kamu karena, penyakitmu aku ingin menikah dengan Alba secepatnya. Aku sangat mencintai Alba, aku ingin mengukir kenangan manis dengan Alba dan mengabadikannya sebelum aku dioperasi dan mengalami amnesia"


"Kenapa harus diabadikan?" Bella bertanya asal karena kecemburuannya.


"Sekarang berhentilah sejenak membicarakan tentang cinta!" Dokter Felix yang telah merebahkan Adam kembali dan setelah itu memberikan suntikan di selang infus ha Adam, berucap kembali, "Dalam hitungan kelima kau akan tidur nyenyak. Karena, kau butuh banyak istirahat. Satu, dua, tiga, empat, lima" Dan Adam langsung jatuh ke alam mimpi.


"Kita keluar. Biarkan Adam beristirahat. Kita diskusikan kasus Adam di kantorku. ayok!" Dokter Felix mengayunkan tangannya ke Bella.


Keinginan Bella untuk tetap berada di dalam kamar rawat inapnya Adam sebenarnya lebih besar daripada keinginannya untuk mengikuti perintahnya Dokter Felix, tapi akal sehatnya menuntun langkah kakinya untuk melangkah mengikuti langkahnya Dokter Felix.


Setengah jam kemudian, Alba kembali masuk ke dalam kamar rawat inapnya Adam dan tersenyum melihat Adam tertidur nyenyak. "Syukurlah kamu bisa tidur, Mas, jadi kamu untuk sementara waktu bisa tenang" Alba bergumam saat ia masih berdiri di depan pintu.


Alba tersentak kaget saat pintu kamar rawat inapnya Adam diketuk oleh seseorang. Alba langsung membukanya. Dan Satya tersenyum ke Alba lalu melangkah masuk ke dalam, "Adam tidur?"


Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah Adam bisa tidur, jadi untuk sementara waktu ia bisa tenang dan tidak memikirkan penyakitnya" Sahut Satya.


"Iya. Kakak benar" Sahut Alba sembari melangkah menuju ke sofa.


"Kau sudah periksa?" tanya Satya sambil duduk dan meletakkan paper bag jumbo di atas meja sofa.


Alba duduk di sofa di depannya Satya dan berkata, "Sudah barusan"


"Aku langsung bergegas ke sini saat Dokter Felix memberitahukan kondisinya Adam. Adam tidak bisa menggerakkan kedua kakinya, ya?"


"Iya Kak" Alba menjawab dengan wajah sedih.


"Kau nggak boleh sedih terus. Kau harus kuat dan jaga kesehatan kamu. Kalau kamu sedih terus, kondisi kesehatan kamu bisa turun drastis. Kalau kamu sakit, Adam akan semakin sedih"


"Iya kakak benar. Aku harus kuat dan sehat terus" Sahut Alba.


"Nah! Sekarang kau harus makan demi kesehatan kamu. Aku udah bawakan nasi goreng dan bakso sama susu cokelat hangat"


"Makasih, Kak" Alba memilih membuka bakso karena ia pikir makanan berkuah dan hangat akan membangkitkan kembali semangatnya, namun saat uap kuah bakso menyentil Indra penciumannya, Alba merasa mual dan Istri tercintanya Adam itu langsung bangkit berdiri dan berlari ke wastafel dan ia muntah-muntah di sana.


Satya ikutan bangkit berdiri dan berlari menyusul Alba. Satya berdiri di belakangnya Alba sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya Alba, " Kenapa kau sampai muntah-muntah kayak gini?"


"Masuk angin dan kecapekan kali, Kak" sahut Alba sambil memutar badan untuk kembali duduk di sofa.


Satya duduk di sampingnya Alba dan menyingkirkan wadah makanan yang berisi bakso dari depannya Alba lalu jaksa muda nan tampan itu segera menutup rapat -rapat wadah makanan itu. saat ia melihat Alba memencet hidungnya sambil berucap, "Aku nggak tahan bau basonya, Kak"


Satya lalu membuka wadah makanan yang satunya lagi yang berisi nasi goreng dan Satya bisa tersenyum lega saat ia melihat Alba memakan nasi goreng yang ia bawakan dengan sangat lahap.


Satya menatap Alba dan berkata di dalam hatinya, Apa Alba telah hamil?