I Love You, Adam

I Love You, Adam
Lilin Pengharapan



Satya pamit untuk kembali ke kantornya dan Alba kembali muntah-muntah di wastafel. Adam terbangun karena mendengar suara itu dan Adam langsung bangun, duduk di atas ranjang dan bertanya dengan nada panik, "Ba, sayang, kau kenapa?"


Alba tersentak kaget dan sambil mengusap mulutnya dengan handuk kecil, Alba berbalik badan, "Aku nggak papa. Aku cuma kekenyangan. Batuan Kak Satya ke sini membawa nasi goreng dan karena laper, aku makan dengan lahap dan banyak banget, jadi malah kekenyangan" Alba duduk di tepi ranjang setelah langkahnya sampai di sisi kiri ranjangnya Adam.


Adam langsung merangkul Alba, "Hasil periksa kesehatanmu tadi gimana? Apa kata dokter?"


"Hasilnya belum keluar. Besok pagi baru keluar hasilnya"


"Besok pagi aku akan temani kamu menemui dokter yang memeriksa kamu" Adam mengelus bahunya Alba.


Alba mencium pipinya Adam lalu berkata, "Iya, Mas"


Adam tersentak kaget mendengar Alba memanggilnya Mas, "Ba, beneran kamu memanggilku Mas?"


"Iya. Kamu kan lebih tua satu bulan dariku. Seharusnya aku Memanggilmu Mas, dari dulu"


Adam tertawa senang lalu ia menundukkan wajahnya untuk mencari bibirnya Alba. Dia pagut bibir manis istrinya dengan penuh damba dan cinta dan pasangan pengantin yang masih terbilang baru itu pun berciuman cukup lama.


Adam dengan terpaksa menarik bibirnya dari bibir Alba saat perawat masuk, "Ah! Maafkan saya. Saya udah ketuk pintu sebanyak tiga kali dan tidak ada sahutan dari dalam, maka saya memutuskan untuk langsung masuk"


Alba merapikan rambutnya dengan rona malu di wajahnya.


Adam menghela napas panjang dan berucap, "Ada apalagi, Sus?"


"Saya harus mengecek suhu tubuh Anda setiap tiga jam sekali dan menyuntikan obat ini, setiap dua jam sekali" Ucap suster tersebut sembari menembakkan alat medis yang biasa disebut dengan thermogun ke keningnya Adam, "Tiga puluh enam point delapan. Normal suhunya" Lalu perawat itu mengukur tensinya Adam, "Normal juga" setelah itu, suster tersebut menyuntikkan obat ke selang infusnya Adam.


Suntikan itu terasa nyeri dan Adam langsung mengaduh dan mengernyit. Alba langsung mendekap kepalanya Adam dan mengelusnya sambil berkata, "Tahan, Mas! Bentar lagi selesai"


"Iya. Tahan sebentar! Memang obat ini menimbulkan rasa nyeri dan sedikit panas, harus tahan dan jangan ditarik tangannya, ya!?"


Beberapa detik kemudian suster tersebut berkata, "Nah! Sudah selesai"


Adam menarik kepalanya dari dekapan Alba dan menoleh ke perawat tersebut untuk bertanya, "Apa saya boleh berjalan-jalan di taman? Saya bosan di kamar terus"


"Oh! Boleh. Sebentar saya ambilkan kursi roda dulu" Suster tersebut berlari kecil keluar dari dalam kamar rawat inapnya Adam lalu beberapa detik kemudian, dia kembali lagi dengan membawa kursi roda.


Alba memapah Adam untuk duduk di kursi roda dan suster tersebut membantu Alba.


"Aku bisa jalan ternyata, tapi kenapa lemas banget kakiku dan nggak bisa jalan lebih jauh lagi. Cuma, beberapa langkah aja aku udah ambruk di kursi roda" Adam berucap setelah ia berhasil duduk di atas kursi roda dengan nyaman.


"Sabar ya, Pak! Setelah Anda dioperasi dan sadar nanti, Anda akan difisioterapi dan biasanya pasien seperti anda ini akan bisa berjalan lagi, normal seperti sedia kala" Suster tersebut berucap sembari membuka lebar-lebar pintu kamar rawat inapnya Adam.


"Ba, ini ada tombol otomatisnya. Nggak usah kamu dorong lagi! Kamu duduk aja di atas pangkuanku!" ucap Adam.


"Mas! Jangan ngawur! Ini di rumah sakit masak main pangku-pangkuan?"


Adam langsung menarik lengan Alba untuk maju dan terus menarik lengan itu untuk lebih maju lagi, sampai Alba terjatuh di atas pangkuannya.


Alba memekik kaget dan langsung menepuk dadanya Adam, "Kamu emang suka semua Gue, Mas"


Adam terkekeh geli, "Semau Gue sama Istri sendiri boleh dong" Ucap Adam sembari memencet tombol otomatis di lengan sebelah kanan kursi rodanya dan kursi roda itu meluncur pelan maju ke depan.


Alba langsung mengalungkan kedua lengannya di leher kokohnya Adam karena, ia takut terjatuh dan wajah paniknya Alba berhasil Adam tertawa lepas. Adam mengentikan laju kursi rodanya di depan sebuah ayunan dan berkata, "Aku ingin cepat pulih lalu kita kembali lagi berlibur ke pantai tempat kita bulan madu kemarin. Aku ingin mengayun kembali Istriku di ayunan kayak gini, lalu berakhir dengan ciuman yang lembut dan hangat. Kau ingat, kan, Ba?"


Alba berucap dengan rona merah di wajahnya, "Iya. Aku ingat" Dan di saat Alba hendak bangkit, Adam menahan Alba dengan memeluk perutnya Alba dan berucap, "Siapa tahu, saat kita kembali ke pantai tempat kita bulan madu kemarin, Adam junior sudah ada di antara kita"


Deg! Napas Alba langsung tercekat di tenggorokannya. Alba mulai merasa panik dan berucap di dalam hatinya, Apa gejala yang aku alami kemarin, adalah gejala orang hamil? Apa dokter menginginkan aku tes urine dan lab karena curiga aku hamil?


Adam mengusap pipinya Alba, "Ada apa? Kenapa kau tampak panik? Kau belum ingin punya anak?"


"Ingin. Aku sangat ingin punya anak, Mas" Alba berucap dengan air mata menitik di pipinya. Alba langsung mengusap air mata itu dengan punggung tangannya sambil berucap, "Maaf, Mas. Aku tidak sedih, tapi Air matanya kenapa jatuh sendiri tanpa aku perintah, sih?"


Adam menghela napas panjang, "Maafkan aku. Aku telah membuatmu menitikkan air mata"


Alba langsung menangkup wajah tampan suaminya, "Aku nggak papa. Aku memang selalu terharu kalau ngomongin soal anak, Mas. Karena, anak bagiku itu hal yang sangat luar biasa. Kalau nanti aku diberi ijin sama Tuhan untuk bisa memiliki anak darimu, aku akan sangat bersyukur karena bisa memiliki hal yang luar biasa di dalam hidupku yang.........."


Alba tidak sanggup mengucapkan kata kelam karena ia takut membebani Adam.


"Menangislah kalau kamu ingin menangis. Jangan ditahan, Ba! Aku ada di sini untuk menopang lelah di jiwa kamu dan menjadi pelipur lara di hatimu" Adam menatap wajahnya Alba dengan sorot mata sendu.


Alba langsung membenamkan wajahnya di dada bidangnya Adam dan ia menangis deras di sana. Adam terus mengelus punggungnya Alba dengan rasa campur aduk.


Setelah tenang, Alba menarik wajahnya dari dada bidangnya Adam dan berkata, "Aku janji, ini terakhir kalinya aku menangis, Mas"


"Kenapa terakhir kalinya? Kau boleh menangis sesuka hati kamu di depanku. Aku ini suami kamu dan aku ini laki-laki yang mencintai kamu, jadi kalau kamu ingin menangis, menangislah di depanku!" Adam mengelus pipinya Alba untuk menghapus air matanya Alba.


Alba tersenyum dan sambil menggelengkan kepalanya ia berucap, "Nggak, Mas! Aku harus kuat dan nggak boleh cengeng. Karena, aku adalah Istrinya pengacara muda yang top dan hebat, maka aku nggak boleh cengeng"


Adam langsung menarik tengkuknya Alba lalu ia mengajak Alba berciuman dengan penuh rasa dan kelembutan. Ciuman tersebut menimbulkan sensasi rasa yang indah, namun juga menimbulkan rasa perih di hati kedua pengantin baru itu karena, tanpa bisa mereka pungkiri, mereka takut dipisahkan oleh takdir walaupun mereka terus menjaga nyala lilin pengharapan di hati mereka, tapi mereka juga mulai menyadari nyala lilin pengharapan di hati mereka mulai meredup.