
Bella langsung melajukan mobilnya kembali ke rumahnya Adam, dia mengecek apakah ada kamera CCTV di ujung tangga menuju ke lantai dua. Dan Bella menghela napas lega saat ia tidak menemukan kamera CCTV di sana. Lalu ia memulai aktingnya, dia menelepon Alex Baron dengan suara tangis yang ia buat-buat karena, sejujurnya dia tidak bisa menangisi kematiannya Nindya.
"Hallo, Om. Tante jatuh dari lantai dua rumahnya Adam karena terpeleset. Sekarang Tante ada di rumah sakit Harapan"
Adam bekerja di kantor papanya.Amnesiqnya Adam, Alex manfaatkan untuk membuat Adam bersedia bekerja di perusahaannya Alex Bsron sebagai Presdir muda.
Adam duduk di meja kerjanya dan termangu. Adam bertanya-tanya di dalam hatinya, Apa benar aku dulunya bekerja sebagai Presdir muda di sini? Tapi, kenapa aku tidak merasa enjoy bekerja di sini. Dan apakah benar Bella Fastro adalah tunanganku? Tapi, kenapa setiap kali Bella mengajak aku berciuman, aku tidak pernah merasakan apapun. Ciuman itu rasanya hambar dan bagiku hanyalah bibir ketemu dengan bibir. Dan kenapa setiap kali aku tidur, aku melihat bayangan wanita bertubuh ramping, mungil dengan rambut hitam panjang yang sangat indah, tapi sayangya wajah wanita di dalam mimpiku itu tidak jelas. Wanita di dalam mimpiku jauh berbeda dengan sosoknya Bella yang tinggi besar dan berambut kecokelatan. Kenapa semua yang ada di sekitarku kesannya palsu?
"Dan Istri Papaku kenapa aneh sekali sikap wanita itu padaku? Kenapa dia suka sekali menempel nggak jelas padaku dan seringkali membawakan aku makanan? Kenapa semua yang ada di sekitarku, aneh?" Gumam Adam.
Adam terus mempertanyakan pertanyaan yang sama di benaknya selama enam tahun dia kehilangan ingatannya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Dia mengangkatnya dan langsung berdiri lalu berlari keluar dari dalam ruangannya. "Pa" Adam berpapasan dengan Papanya yang tampak panik.
Alex langsung berkata, "Kita harus segera ke rumah sakit. Sekarang!"
Adam menganggukkan kepalanya dan langsung mengikuti laju lari papanya.
Alex Baron jatuh pingsan saat ia mengetahui istri cantiknya telah meninggalkan dia untuk selama+lamanya.
Adam menatap tubuh Nindya yang telah terbujur kaku dengan perasaan hambar. Dan dia juga tidak langsung menangkap tubuh papanya yang limbung ke arahnya dan jauh pingsan. Perawat yang berada di sana, langsung membawa Alex Baron ke ruang IGD dan Adam mematung saat Bella memeluk Adam dan berakting menangis di atas dada bidangnya Adam.
Adam lalu mendorong Bella dengan kasar dan berbalik badan meninggalkan Bella begitu saja. Bella menatap punggungnya Adam dan bergumam kesal, "Sial! Dia bahkan meninggalkan aku di kamar jenazah sendirian. Dasar laki-laki tak berperasaan! Aku sudah melatihmu, merawatmu, mendampingimu selama tiga tahun saat kamu lumpuh sampai kamu akhirnya bisa berjalan kembali dan ini balasanmu? Padahal saat ini aku butuh topangan dan kekuatan darimu, Dam. Aku butuh kamu karena, perasaanku lagi kacau bakau saat ini. Aku yang telah mendorong mama tiri kamu dan aku takut mengakuinya. Aku takut dipenjara" Bella lalu menghela napas panjang dan melangkah pelan keluar dari dalam kamar jenazah dengan perasaan dan pikiran yang kacau balau.
Adam menghentikan laju larinya di taman rumah sakit untuk menghirup udara segar. Dia merasa sesak napas saat berada di kamar jenazah dan dia bergumam, "Siapa wanita yang meninggal di masa laluku? Apakah ada wanita yang meninggal di masa laluku? Kenapa aku melihat sekelebat bayangan yang sangat berarti bagiku, tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas? Adam menepuk pelipisnya dengan wajah kesal, "Kenapa aku belum bisa mengingat apapun dengan otakku ini?"
Satu Bulan kemudian.......
Bella berhasil lolos dari jerat hukum karena memang tidak ada bukti kalau Bella telah mendorong Nindya.
Setelah kematian istri cantiknya yang sangat ia cintai, Alex Baron tidak memiliki daya untuk bekerja. Dia melimpahkan semua pekerjaannya ke Adam Baron, putra tunggalnya dan di hari itu, Alex memerintahkan Adam pergi ke kota S untuk mengurus pembangunan hotel baru Grand Baron di sana dan Adam harus menetap di kota S selama tiga bulan. Cukup lama dan itu membuat Bella menyemburkan protes, "kenapa lama sekali kamu harus menetap di sana?"
"Iya" Sahut Adam singkat sembari menggeser pantatnya untuk sedikit menjauh dari Bella yang terus saja menempel padanya.
Bella menautkan alisnya dan bertanya, "Kenapa kau selalu saja menggeser pantat kamu setiap kali aku ingin merebahkan kepalaku di bahu kamu? Aku ini tunangan kamu, lho"
"Aku merasa gerah kalau kamu menempel di bahuku. Aku nggak suka kegerahan" Sahut Adam dengan nada santai dan ia mengabaikan wajah kesalnya Bella.
"Kak Satya! Aku pengen bicara empat mata dengan Kakak" pekikan Alba menghentikan aktivitas berkebunnya Satya.
Satya menoleh lalu bangkit berdiri sambil bertanya, "Ada apa? Kenapa kok teriak-teriak di siang bolong begini?"
"Kenapa Kakak mengatakan ke Noah kalau papanya suatu saat akan turun dari langit dan kembali untuk menemuinya?"
"Kapan aku bilang begitu ke Noah?"
"Noah bilang ke aku dan Noah tidak mungkin mengarang cerita" Alba mulai berkacak pinggang di depannya Satya
"Apa Noah cerita kapan aku ngomong begitu ke dia?"
Satya langsung meraup wajah tampannya dengan kasar lalu berucap, "Maafkan aku. Aku mabuk saat itu karena, kamu menolak lamaranku. Aku mungkin berkata asal-asalan waktu itu"
"Oh pantes saja Noah juga cerita kalau Oma Heni, Mama kamu langsung menjewer telinga kamu waktu itu dan menyeretmu pulang"
"Maafkan aku" Satya meringis ke Alba dan Alba langsung berucap, "Aku maafkan, Kak. Tapi, jangan diulangi lagi"
"Aku akan jelaskan ke Noah nanti"
"Nggak usah. Noah terlanjur memiliki harapan kalau Papanya akan turun dari langit dan menemuinya. Kalau dia dengar penjelasan dari Kakak, aku takut dia akan sedih"
"Maafkan aku, Ba"
"Iya, aku sudah maafkan"
Satya tetap bekerja menjadi jaksa dan tetap menyelidiki kasus kematian papanya Alba dan mamanya Alba. Namun, karena ia sangat menyayangi Alba dan Noah, setiap Jumat malam dia pulang ke rumah dinas mamanya dan balik ke rutinitasnya sebagai jaksa di Senin dini hari.
Sedangkan Alba bekerja di hotel sebagai asisten chef dan terkadang untuk menambah penghasilan, Alba bersedia bermain piano dan bernyanyi di kafe hotel tempat ia bekerja pada hari Sabtu.
"Ma! Aku nggak suka sawi ini, kenapa ada sawi ini di sayur yang Mama masak?" Teriakan Noah membuat Alba yang tengah menggoreng tempe menoleh dan tersenyum lalu berkata, "Singkirkan aja di pinggir piring kamu"
Alba lalu berkata di dalam hatinya, tidak hanya secara fisik Noah mirip banget dengan Mas Adam, tapi apa yang tidak ia sukai dan apa yang dia sukai juga sama persis dengan Mas Adam.
"Noah, Mama akan bermain piano dan bernyanyi. Kamu dijaga Oma Heni ya? Mama pulangnya Malam"
"Bolehkah Noah mengantar Mama? Noah kan anak laki-laki. kata Om Satya ,anak laki-laki harus menjaga dan melindungi wanitanya. Mama, kan, wanitaku?"
"Kalau kamu udah gede, kamu boleh mengantar jemput Mama, tapi sekarang ini kamu masih lima tahun sayang, belum boleh mengantar Mama"
"Baiklah. Mama hati-hati ya" Noah mencium pipinya Alba.
Alba bermain piano dan bernyanyi dengan penuh penghayatan dan tidak memeprhatikan kalau ada beberapa pria yang memiliki niat tidak baik padanya.
"Bos! Dia sangat cantik. Bos bisa menjadikannya istri keempatnya Bos, dia tidak punya suami tapi punya anak satu" ucap seorang pria kepada bosnya yang adalah bos gangster di kota itu.
Saat Alba turun dari panggung, Bos gangster dengan tato kalajengking di bahunya, menahan langkahnya Alba dan berucap dengan senyum menjijikkan, "Aku ingin mengantarmu pulang, Nona cantik. Ah! Sial! dilihat dari dekat begini kenapa kau tampak lebih manis dan sangat menarik" Bos gangster itu langsung mencekam pergelangan tangannya Alba saat Alba hendak berputar badan meninggalkannya.
Dan tendangan dari seorang laki-laki, membuat bos gangster itu tersungkur di atas lantai dan tidak mampu untuk bangkit lagi. Anak buahnya langung ia perintahkan untuk melawan laki-laki tersebut dan semuanya bisa dijatuhkan oleh laki-laki tersebut dan berandalan yang hendak melecehkan Alba langsung bangkit dan kabur.
Alba termangu saat ia menatap laki-laki tersebut dan ia bergumam lirih, "Mas Adam?"
Adam menatap Alba dan bertanya, "Aku seperti mengalami Dejavu barusan. Apa aku mengenalmu Nona? Apa aku pernah menolongmu sebelumnya?"
Alih-alih menjawab pertanyannya Adam, Alba memutar badan dan berlari meninggalkan Adam. Adam langsung mengejar Alba dengan teriakan, "Kenapa kau tidak berterima kasih karena telah aku tolong, tapi kau malah berlari? Sial! Yang benar saja, Nona!" Adam terus mengejar Alba.
Alba memilih berlari karena dia kebingungan bagaimana harus bersikap di depan Adam yang masih mengalami amnesia di pertemuan tidak terduga itu.