I Love You, Adam

I Love You, Adam
Rasa Bersalah



Bella datang ke rumah papanya Adam bersama dengan papanya. Papanya Bella langsung menemui papanya Adam yang adalah sahabatnya dan Adam keluar kamar untuk berbicara dengan Bella.


Nindya mempersilakan papanya Bella untuk duduk sambil membantu suaminya membetulkan letak bantal supaya suaminya nyaman bersandar di ranjang.


Adam mengajak Bella duduk di teras halaman belakang sambil membawakan dua cangkir cokelat panas. Setelah menaruh cokelat panas di atas meja teras yang terbuat dari anyaman rotan kualitas eksport, Adam duduk.


"Kita sepertinya tidak bisa melaksanakan pernikahan kita dalam tiga bulan lagi" sahut Adam.


"Apa karena kesehatan Papa kamu, kamu meminta pernikahan kita diundur?" tanya Bella.


"Itu salah satunya" sahut Adam secara implisit karena ia belum bisa mengatakan alasan dia yang kedua bahwa ia tidak pernah mencintai Bella Fastro dan sebenarnya ia justru ingin membatalkan pernikahan itu.


"Salah satunya? Apa ada alasan yang lainnya lagi?" Bella mulai panik. Dia takut jika alasan yang satunya lagi adalah bahwa Adam Baron tidak pernah mencintainya.


"Iya. Memang ada alasan yang kedua, tapi aku belum bisa mengatakan alasan yang kedua itu. Kita tunggu Papaku benar-benar sehat dulu"


Bella tersenyum dan meraih tangannya Adam untuk ia genggam lalu berkata, "Aku sangat mencintaimu dan aku akan menuruti semua permintaanmu"


Adam menatap Bella dalam kebekuan. Tangannya digenggam erat oleh Bella Fastro, tapi hatinya digenggam erat oleh Alba Anindya.


Keesokan harinya, Adam sengaja berangkat lebih awal ke kampus tempat Alba masih menimba ilmu di sana. Karena Adam tahu kalau Alba pasti juga berangkat pagi ke kampus itu untuk menyiapkan sarapan di kantin milik tantenya. Jam mengajarnya Adam sebenarnya berada di jam setelah makan siang sampai jam enam sore, tapi dia ingin seharian berada di kampus sepanjang hari agar bisa bertemu dengan Alba sepanjang hari.


Alba seperti biasanya, setelah Tante dan omnya berangkat ke kantin naik mobil pickup besar, Alba membersihkan semua perabot masak yang kotor, membersihkan. dapur, dan rumah barulah ia mandi dan berangkat ke kampus tepat di pukul enam pagi.


Di pagi yang agak mendung dan berhembus udara yang cukup dingin itu, Alba merasakan kelelahan yang amat sangat dan diserang kantuk berat karena semalam dia tidak bisa tidur memikirkan tindakannya yang telah nekat mencium Adam.


Mengayuh sepedanya dengan pelan dan menikmati hawa dingin justru membuat Alba terlena dan tertidur di atas sepedanya selama sepersekian detik dan saat ada sebuah sepeda motor membunyikan klaksonnya dengan keras karena sepedanya Alba terus mengarah ke tengah jalan dan sepeda motor itu hampir saja menabrak Alba, Alba terlonjak kaget dan terjatuh.


Alba terjatuh di trotoar dengan luka lecet di kedua lutut dan kedua sikunya. Alba teringat kembali peristiwa di mana ia pertama kali bertemu dengan Adam. Dia juga terjatuh di atas trotoar. Cuma bedanya,, dulu ia ditemani oleh Ayu sahabatnya dan sepedanya rusak parah kala itu. Sekarang, ia sendirian dan bersyukur sepedanya tidak rusak cuma tergores di sisi kirinya saja.


Ada sebuah mobil berhenti di belakangnya Alba saat Alba tengah menegakkan kembali sepedanya. Suara sepatu high heels terdengar berisik di telinganya Alba saat sepatu high heels itu beradu dengan kerasnya aspal. Alba lalu menoleh ke belakang dan langsung menoleh kembali ke dapan dan menundukkan wajahnya saat ia melihat Bella, tunangannya Adam berlari kecil ke arahnya.


Bella menepuk pundaknya Alba, "Kamu Alba Anindya, kan? Kamu jatuh? Ada yang terluka?" tanya Bella. "Ah! Iya ampun! kedua lutut dan kedua siku kamu lecet. Emm, kamu naik ke mobilku aja! Biar supirku membawa sepeda kamu ke bengkel di dekat sini. Nanti setelah aku obati luka kamu, aku akan antar kamu ke bengkel untuk mengambil kembali sepeda kamu"


"Saya naik sepeda saja. Saya akan beli obat merah dan plester luka di mini market depan. Terima kasih" Alba berucap tanpa berani menatap Bella karena rasa bersalahnya. Dia telah mencium tunangannya Bella kemarin dan dia sangat menyesali kebodohannya itu.


"Nggak usah sungkan! Ayolah! Aku ini dokter dan aku punya kotak P3K lengkap di mobilku dan aku punya beberapa obat di tas kerjaku untuk mencegah infeksi dan merekam nyeri" Bella menarik Alba sembari memerintahkan supirnya untuk membawa sepedanya Alba ke bengkel terdekat.


Alba merasa kikuk dan canggung saat ia duduk di jok mobil mewahnya Bella dan Bella berjongkok untuk mengobati luka di kedua lututnya. Lalu membungkukkan badan dengan sabar untuk mengobati kedua sikunya Alba. Alba semakin merasa bersalah pada Bella karena, ia telah nekat mencium Adam, tunangannya Bella. Alba merasa seperti penjahat yang telah mencuri milik orang lain.


Alba tersenyum dan berkata, "Saya tadi terburu-buru dan lupa belum sarapan jadi, saya belum bisa makan obatnya, maaf"


"Kalau gitu masuklah dan pasang sabuk pengamannya! Aku juga belum sarapan. Kita sarapan bareng aja" Bella lalu memaksa Alba menaikkan kakinya ke mobil lalu menutup pintu mobil dan berlari kecil mengitari mobil untuk masuk ke jok kemudi.


Bella mengajak Alba makan di restoran langganannya yang buka dua puluh empat jam dan menyediakan banyak menu sarapan yang komplit dan lezat.


Setelah makanan mereka datang, Bella berkata, "Kita berteman sekarang jadi, nggak perlu ada kata saya dan Anda. Kita pakai aku dan kamu saja, oke?"


Alba tersenyum dan berkata, "Oke"


"Terima kasih sudah bersedia datang untuk mengiringi acara ulang tahunku kemarin. Acara berlangsung indah, meriah dan menyenangkan berkat permainan piano kamu. Kamu sangat pandai bermain piano. Kamu belajar dari siapa?"


"Entahlah. Saya ....emm.....ma.....maaf. Aku kehilangan ingatanku saat Papaku meninggal dunia. Waktu itu umurku masih sekitar enam tahun. Dan saat SD, di sekolahan, aku nggak sadar memainkan piano di ruang musik. Satu lagu anak-anak dan hanya lagu itu yang aku bisa mainkan saat itu. Guru musik di SD-ku melihatnya dan setelah itu, guru musik di sekolahanku, memutuskan untuk mengajariku lebih dalam lagi soal piano. Aku bekerja sebagai guru piano di les musik sekarang ini hanya untuk mengisi waktu di malam hari saja karena, terkadang aku merasa malas untuk pulang" Alba berkata panjang lebar sambil memainkan sendok di atas bubur ayam yang ia pesan.


"Oh begitu. Lalu kenapa kamu terkadang malas untuk pulang?"


Alba tersenyum, "Karena di rumah ..........sepi, hehehehe" Alba menyembunyikan hal sebenarnya yang membuat ia malas untuk pulang. Sebenarnya lebih ke takut untuk pulang bukannya malas.


"Kau lihat tunanganku kemarin, kan?"


Alba menatap Bella dan menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mulai canggung.


"Bagaimana menurutmu?"


Alba langsung tersedak makanan yang tengah ia kunyah dan ia langsung menyesap teh manisnya.


"Hati-hati makannya. Kita tidak diburu oleh waktu, kan?"


"Maaf! Tapi, saya harus segera ke kantin kampus Merah Putih karena, saya harus membantu Tante saya dan setelah itu, saya harus masuk kuliah" Alba bergegas berdiri dan hendak memutar badan untuk meninggalkan Bella.


Bella menahan lengannya Alba dan berkata, "Kalau gitu kita searah. Aku juga akan ke kampus Merah Putih karena tunanganku dosen di sana. Aku akan mengenalkanmu pada tunanganku karena kamu temanku sekarang ini" Bella menarik lengannya Alba untuk ia ajak masuk kembali ke mobilnya.


Alba menghela napas dan berkata dengan panik karena dia nggak ingin bertemu dengan Adam di depan Bella. Alba lalu menoleh ke Bella, "Aku akan ke bengkel aja mengambil sepedaku"


"Terlambat. Aku sudah suruh supirku untuk membawa sepeda kamu ke kampus Merah Putih. Udah santai aja! Kita teman kan, sekarang? Pakai sabuk pengamannya!"


Alba terpaksa memakai sabuk pengamannya dan menempelkan pelipisnya di kaca jendela mobil dengan kata di dalam hatinya, Semoga saat Bella mengenalkan aku ke Adam, Adam tidak membuat semuanya kacau nanti.