
"Apa ruangan ini kedap suara?" Adam mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang studio yang tidak begitu luas dan hanya ada satu alat musik di sana yakni, piano.
Alba berdiri dari kursi yang menghadap ke piano laku menghampiri Adam, "Kenapa tanya kayak gitu? Iya tentu saja semua ruang musik kedap suara"
Adam tersenyum semringah lalu bertanya, "Apa ada CCTV di ruangan ini?"
Alba menautkan kedua alisnya, lalu menggelengkan kepalanya.
Adam langsung meletakkan mug yang masih ia genggam di atas meja kecil yang ada di dekat pintu masuk, lalu bertepuk tangan sembari memekik senang, "Bagus dong!"
"Apanya yang bagus?" tanya Alba.
Adam tersenyum lebar di depannya Alba sambil membayangkan hal romantis seperti bermain piano dengan memangku Alba, lalu menekan tuts sambil memegang tangannya Alba dan........."
Cethak! Alba menjentikkan jarinya di depan Adam yang tersenyum lebar penuh keanehan di depan Alba.
Adam tersentak dari lamunan indahnya lalu bertanya, "Ada apa?"
"Kenapa tersenyum lebar nggak jelas kayak gitu dari tadi? Ayuk kita mulai kelas kita. Tapi, aku mau memeriksa jari-jari kamu"
Adam menjulurkan kedua jarinya di depan Alba dengan senyum semringah sambil berkata, "Wah! Kamu so sweet banget sih, Sayang, belum mulai udah pengen memang tanganku" Adam merona malu di depannya Alba dan Alba langsung menepuk bahunya Adam, "Apanya yang pengen megang tangan kamu? Aku memeriksa kuku-kuku jari kamu dan ish,ish,ish kenapa kuku kamu panjang-panjang kayak gini? Duduk sana! Aku akan ambil gunting kuku"
Alba berlari kecil ke tasnya yang tergeletak di atas meja yang da di depan pintu masuk untuk mengambil alat pemotong kuku"
Adam lalu menghampiri Adam dan berdiri di depannya Adam untuk memotong kuku-kuku panjang yang ada di semua jari tangannya Adam.
Adam merengut kayak anak kecil lalu mengajukan protes, "Kalau main piano kenapa harus dipotong kukunya? Kenapa kalau main gitar justru kukunya harus panjang?"
"Karena, kuku yang panjang akan menyulitkan kita saat menunjukkan posisi tangan yang tepat. Kuku yang panjang juga akan “menabrak” tuts sehingga merusak keindahan lagu yang kita mainkan"
"Mainkan lagu apa? Aku kan belum bisa main piano. Aku panjangkan kuku ini kan biar bisa main gitar dengan baik. Kalau dipotong kan tidak bisa main gitar lagi, hiks,hiks"
"Nurut apa nggak usah les piano sama aku?" Alba mulai berkacak pinggang di depannya Adam dan Adam langsung memajukan bibirnya, kemudian berkata, "Iya deh, nurut"
Dan buyar sudah bayangan keromantisan yang ada di benaknya Adam.
Setelah selesai memotong kuku-kuku di jari-jari tangannya Adam, Alba memasukkan alat pemotong kukunya ke dalam saku celana jinsnya, lalu ia berkata, "Duduk yang benar! Menghadap ke piano!Posisikan kursi dengan jarak yang cukup jauh dari piano agar kamu bisa duduk di ujung kursi, dengan kaki yang menempel ke lantai. Idealnya, kaki harus menjauh dari kursi, dengan lutut yang ditekuk dalam sudut yang tepat (kaki tidak sampai menjulur).
"Begini benar?"Tanya Adam sambil menoleh ke Alba dan Alba langsung mengacungkan ibu jarinya ke Adam sambil berucap, "Pinter. Sekarang, Rilekskan leher dan arahkan pandangan lurus ke depan. Jika kamu membungkuk ke arah tuts, pergerakan tangan menjadi terbatas saat kamu bermain.Lengan berada dalam posisi yang tepat, sikut akan berada di bagian depan tubuh. Selain itu, sikut juga perlu sedikit dibengkokkan, dengan bagian dalam sikut cenderung mengarah ke atas ke arah langit-langit"
"Oke! Begini kan? Terus apa?" tanya Adam.
"Posisikan kursi dengan jarak yang cukup jauh dari piano agar kamu bisa duduk di ujung kursi, dengan kaki yang menempel ke lantai. Idealnya, kaki harus menjauh dari kursi, dengan lutut yang ditekuk dalam sudut yang tepat (kaki tidak sampai menjulur) Lalu tempatkan jari dengan tepat di atas tuts! Tekuk jari di atas tuts! Mainkan tuts piano dengan ujung jari. Kedua ibu jari kamu perlu diluruskan (bagian terluar ibu jari “tidur” di atas tuts). Namun, jari-jari yang lain harus ditekuk di atas tuts dengan posisi rileks, seperti saat Anda memegang bola"
Adam menoleh ke Alba dengan senyum penuh arti. Otaknya sudah mulai jahil dan otaknya memerintahkan mulutnya untuk membuka suara, "Nah! Aku nggak paham yang barusan kau bilang. Tolong kasih contoh!"
Alba menghela napas panjang lalu ia membungkukkan badannya di depan Alba sembari meletakkan jari-jarinya di atas tuts dengan posisi yang benar sambil berucap, "Begini. Paham?"
Alba memekik kaget, "Dam! Jangan main-main!"
Alba hendak bangkit dari pangkuannya Adam dan Adam langsung memeluk pinggangnya Alba sambil berkata, "Posisi mengajar piano yang benar tuh begini. Tapi, hanya boleh memakai posisi seperti ini denganku saja. Karena aku, bukan murid yang berbakat di bidang musik jadi, posisi seperti ini adalah yang paling tepat untukku" Adam, lalu menempelkan wajahnya di punggungnya Alba dan berucap di sana, "Jari kamu kan tersayat pisau tadi. Jadi, kita pending aja les piano untukku di hari ini. Kita begini aja terus sampai satu jam empat puluh lima menit"
Alba menghela napas panjang lalu ia mengelus punggung tangannya Adam yang parkir di atas perutnya, kemudian berkata, "Aku makan gaji buta dong kalau begini"
"Yang penting kan aku bayar full dan aku rasa kamu tidak makan gaji buta. Kamu udah kasih teori banyak banget ke aku barusan"
Alba terkekeh geli, lalu berucap, "Aku yakin banget nggak ada satu pun teori yang aku ajarkan tadi, mampir ke otak kamu"
Adam menarik wajahnya dari punggungnya Alba lalu menaruh dagunya di atas pundaknya Alba dan berkata di sana, "O, o, aku ketahuan, hehehehe"
"Dasar gila kau Paijo! Kamu cuma ingin modusin aku ya dengan ikut les piano ini?"
"O.....o......aku ketahuan ....lagi" Adam masih berucap dengan dagu menempel di atas pundaknya Alba.
Alba langsung menggemakan tawanya, lalu gadis manis itu mengelus kepalanya Adam sambil berkata, "Oke! Aku ijinkan kamu bermalas -malasan dan bermanja-manja kali ini, tapi Minggu depan, kamu harus serius latihan. Karena aku ingin bernyanyi diiringi permainan piano kamu"
Adam lanagung tersenyum semringah lalu menyuruh Alba bangkit dan duduk di sebelahnya.
Alba menuruti permintaannya Adam dengan raut wajah penuh dengan tanda tanya dan Alba terus menatap Adam dari arah samping.
Adam menoleh ke Alba dengan senyum lebarnya, kemudian ia berkata, "Aku bisa main piano sebenarnya, hehehehe. Tapi, cuma bisa dua lagu. Yakni lagu Ibu Kita Kartini dan lagu Bintang Kecil"
Alba terkekeh geli melihat ekspresi konyol di wajah pria tampan yang sangat ia cintai itu. Alba kemudian bertanya, "Terus?"
"Kamu kan ingin bernyanyi diiringi permainan pianoku? Nah, pilih salah satu lagu yang aku bisa tadi! Ibu Kita Kartini atau Bintang Kecil?"
Alba menggeleng-gelengkan kepalanya dan terus terkekeh geli.
"Kok malah ketawa terus sih? Ayo dipilih! Seorang pria sejati kan harus bisa mewujudkan keinginan wanita yang ia cintai" Adam merengut ke Alba.
Alba lalu berucap, "Dasar Paijo, gila! Oke! Aku pilih lagu Ibu Kita Kartini, aja"
Dan Jadilah duet maut di antara dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu
Selesai menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, Alba berkata, "Lanjutkan ke lagu Bintang Kecil, Bang!"
"Tabung ijo!" pekik Adam sambil memainkan intro lagu Bintang Kecil.
Alba menoleh ke Adam, "Apa itu tabung ijo?"
"Gaaassss!" Adam terkekeh geli sembari terus memainkan intro lagu Bintang Kecil dan Alba kembali menggemakan tawa renyahnya sebelum menyanyikan lagu Bintang Kecil