I Love You, Adam

I Love You, Adam
Tenang dan Nyaman



"Rumahmu berapa jauh dari sini?" Tanya Alba.


"Tergantung naik apa dulu?" sahut Adam sembari mengunyah pisang gorengnya setelah makan sore bareng dengan Alba dan Mamanya Alba. Kemudian Mamanya Alba berangkat ke kafe untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mamanya Alba setelah bekerja di sebuah CV, malamnya bekerja sebagai asisten chef di sebuah kafe.


"Kalau naik sepeda?" tanya Alba.


"Sepeda motor? Tergantung juga. Sepeda motornya butut, matic atau sepeda motor sport?" Adam menjawab dengan sikap acuh tak acuh khasnya.


Alba menepuk bahunya Adam, "Berhenti makan dan jawab dengan benar bisa nggak, sih?!"


Adam memasukkan cuilan terakhir pisang goreng ke dalam mulutnya dan dengan mulut penuh sambil mengunyah ia berkata, "Nah! sekarang katakan yang mana yang nggak benar?"


Alba mendengus kesal lalu berucap,."Ngomong sama kamu emang nggak akan pernah bisa menang. Yang ada cuma kesel! Oke! Aku langsung ke pointnya aja" Alba mengubah polisi duduknya untuk berhadapan dengan Adam lalu ia kembali berucap dengan wajah sangat serius, "Di rumahku tinggal ada sepeda kring-kring gowes-gowes karena sepeda motor matic keluaran lama dipakai Mamaku untuk kerja. Kalau naik sepeda kring-kring gowes-gowes, berapa lama nyampe rumahmu?"


"Setengah jam lebih kurasa" sahut Adam.


"Pakailah sepedaku kalau gitu. Tapi, kamu harus bawa ke sekolahan besok pagi biar pulang sekolah bisa kupakai"


Adam menyentil keningnya Alba.


"Aduh! Kok malah disentil sih! Sakit! Sini kubalas"


Adam tertawa renyah sambil berusaha menghindar dari sentilan balasannya Alba dan akhirnya ia terjatuh di atas lantai dan Alba pun terjatuh di atas tubuhnya Adam.


Alba mengamati wajahnya Adam dengan kepolosannya lalu berucap, "Kau tampan juga kalau dilihat sedekat ini"


Deg!deg!deg! Jantung Adam kembali berdegup sangat kencang lalu ia bangkit sambil.kendorong tubuh Alba ke belakang. Alba pun bangkit dan Adam segera berucap setelah ia bisa berdiri tegak di depannya Alba, "Besok kan hari Minggu. Sekolah libur. Aku tidur di sini aja biar besok dijemput sama supirnya Papaku"


"Enak aja tidur di sini" Alba berucap.sambil melompat ke atas dan Pletak! Alba berhasil mendaratkan satu sentilan di keningnya Adam saat Adam lengah.


Adam merengut dan mengusap keningnya, "Perasaan, sentilanku tadi tidak sekeras sentilanku lho"


"Hahahaha, pembalasannya kan biasanya memang lebih kejam" Alba menjulurkan lidahnya ke Adam. Adam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengulas senyum lebar di wajah tampannya.


Adam memandangi wajah Alba sambil berkata di dalam hatinya, Kenapa aku selalu ingin menarik bibirku untuk tersenyum bahkan tertawa saat aku berada di dekatnya? Ada apa dengan diriku ini? Dan kenapa harus dia?


Alba bertepuk tangan sekali di depan wajahnya Adam persis sambil memekik, "Woooiii! Malah melamun. Ayok buruan berangkat. Aku anter anter kamu pulang kalau gitu" Alba lalu berlari ke samping rumahnya dan memanggil Adam, "Dam! Tolong kunci pintu depan lalu kemarilqh dan jangan lupa kunci pintu samping ini juga!"


Adam melakukan semua perintahnya Alba lalu menyerahkan kunci rumahnya Alba ke Alba sambil berkata, "Minggir! Biar aku yang boncengin kamu"


Alba memberikan sepeda mininya ke Adam lalu ia berpindah ke belakang sambil bertanya, "Kau bisa menggowes sepeda kring-kring?'"


"Bisa. Udah jangan cerewet! Naik aja!" Adam berucap sembari menaruh tas ranselnya ke dalam keranjang yang ada di depan setang sepeda lalu naik ke atas sadel sepeda mininya Alba yang berwarna ungu muda, serasi dengan warna pink seluruh body sepeda onthel miliknya Alba.


Adam mulai menggowes sepeda mini itu setelah Alba berkata, "Oke! Aku udah naik dan aman"


"Ini kafe tempat Mamaku kerja" pekik Alba saat mereka berdua melintasi sebuah kafe yang cukup mewah dan lumayan rame


Adam menoleh sekilas ke kafe tersebut lalu bertanya, "Mama kamu kalau pulang dari kafe jam berapa?"


"Jam sembilan malam" sahut Alba.


"Kamu di rumah sendirian dong selama itu?" tanya Adam.


"Iya dong" Sahut Alba lalu gadis manis itu terkekeh.


"Aku serius nih kok malah ketawa. Kalau sendirian di rumah harus kamu pastikan pintu terkunci rapat dan jangan bukakan pintu untuk orang asing!" ucap Adam dengan napas yang mulai terengah-engah karena ia sudah lama tidak menggowes sepeda onthel.


"Iya. Aku udah gede jadi, nggak usah kamu kasih tahu soal itu, aku udah tahu" sahut Alba dengan nada kesal.


"Kamu tuh emang udah gede tapi masih kayak anak TK. Ceroboh kamu itu udah level akut tahu nggak?" Sahut Adam sambil terkekeh geli.


Alba mencubit perutnya Adam dan Adam langsung mlbert riak sambil menyeimbangkan laju sepedanya, "Hei! Bahaya kalau kau mau. cubit kayak gini! Kita bisa jatuh tahu?!"


Alba berteriak, "Kalau kita jatuh, itu karena kecerobohanmu"


Adam langsung melepas tawa renyahnya ke udara bebas. Melihat ada penjual es cendol, Adam membelokkan setang sepeda ke penjual es cendol tersebut dan setelah turun dari sadel sepeda ia menoleh ke Alba sambil terus memegangi kedua setang sepeda, "Aku capek dan haus. Kita beli es cendol dulu, ya? Rumahku udah hampir sampai kok"


Alba melompat rurun dari sadel boncengan lalu menganggukkan kepalanya, "Tapi, aku lupa nggak bawa dompet"


"Tenang, aku traktir lagi" Adam berucap sembari menarik standar samping sepeda onthel dengan kaki kanannya. Setelah sepeda parkir sempurna, dia menarik pergelangan tangan Alba untuk mengajak Alba duduk sambil berteriak ke Abang penjual es cendol, "Es dua ya, Bang!"


Amanda memandangi Adam, "Kau baru sembuh dari radang tenggorokan, kan? Nggak papa minum es di pinggir jalan? Biasanya kan gulanya nggak asli?" bisik Alba.


Adam mengibaskan tangannya, "Udah jangan cerewet!"


"Lain kali aku akan traktir kamu, ya? Aku nggak enak selalu kamu yang traktir aku malah kamu pernah minjemin aku uang"


"Santai aja tapi, kalau beneran niat traktir aku aku akan tunggu" "Sahut Adam sembari menerima gelas berisi penuh es cendol dengan warna yang menggugah selera.


"Tentu saja niat. Kamu sukanya apa?" tanya Alba.


"Apa aja aku suka tapi, aku paling suka masakan Mama kamu. Kalau mau traktir aku, undang aja aku makan di rumah kamu, hehehehehe"


Alba langsung menepuk bahunya Adam dengan wajah riang, "Oke! Deal kalo gitu!"


Adam menoleh ke Alba dengan kesal, "Suka banget sih mukul dadakan?! Hampir meloncat lepas nih gelasku"


"Hahahahaha, maaf, maaf!" Alba tertawa lepas dan tawa yang membingkai wajah manisnya Alba kembali membuat Adam terpana. Entah kenapa, Adam sangat menyukai senyum dan tawanya Alba dan entah kenapa, senyum dan tawa itu selalu membuat dirinya merasa tenang dan nyaman.