I Love You, Adam

I Love You, Adam
Ciuman



Malam semakin larut dan acara Social Gathering tersebut berpindah ke lapangan yang juga merupakan teras belakang vila super luas dan mahal itu. Vila tersebut milik tuan Alex Baron, papanya Adam.


Adam melirik ibu wali kelas yang juga merupakan calon ibu tirinya ketika bu Nindya bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan keramaian di saat anak-anak didiknya tengah menari, beberapa anak ada yang bermain gitar, membakar ubi, singkong, sosis dan banyak makanan lainnya yang enak jika dipanggang di api unggun.


Tanpa sepengetahuannya Nindya, Adam ikutan bangkit dan melangkah mengikuti Nindya ke pinggir lapangan. Adam terus mengikuti Nindya yang melangkah cukup jauh dari api unggun dan cukup jauh dari teras belakang vila.


Adam kemudian mengerem langkahnya saat ia melihat perempuan cantik berparas lembut dan berambut panjang, hitam nan indah itu duduk di sebuah ayunan yang digantung di sebuah ranting pohon yang cukup tinggi dan kokoh.


Adam berdiri agak jauh dari ayunan itu namun, dia bisa mendengarkan gumaman dari calon ibu tirinya yang sangat cantik dan lembut itu.


"Aku sudah menerima lamaran dari Mas Alex Baron dan sudah memakai cincin ini" Nindya menyentuh cincin yang melingkar di jari manis kirinya. "Tapi, kenapa aku semakin ke sini semakin tidak merasa bahagia. Aku kesepian karena Mas Alex sering bepergian ke luar kota bahkan ke luar negeri dan sangat jarang memiliki waktu untuk menemaniku. Bahkan untuk sekadar mendengarkan curhatan recehku pun Mas Alex nggak punya waktu. Ternyata cinta saja tidak cukup, ya. Dan gilanya lagi, Adam mampu membuatku bahagia dan mampu menggetarkan hatiku di hal-hal remeh sekalipun padahal hatiku sudah lama lupa caranya bergetar. Aku gila, gila!" pekik Nindya lirih sembari memukul pelipis kanannya beberapa kali.


Flashback On


Hari kedua setelah Pertemuan Tatap Muka di SMA Pelita Kasih dimulai, Alba menoleh ke Adam lalu ia menaruh uang seratus ribu rupiah di depannya Adam saat Adam telah menaruh tas dan duduk di sebelah bangkunya.


"Apa ini?" tanya Adam sambil menoleh ke Alba.


"Hutangku kemarin" ucap Alba.


"Aku sudah lupa. Simpan aja!" sahut Adam dengan santainya sembari mengalihkan pandangannya ke depan untuk menunggu guru yang mengajar kelas MiPA-1 di jam pertama pelajaran akan dimulai.


Alba mengambil uang yang tergeletak di meja lalu menaruhnya di dalam saku kemejanya Adam sembari berucap, "Yang namanya pinjam ya harus kembali. Aku bilangnya pinjam kan, kemarin"


Adam menoleh tajam ke Alba, "Sudah berapa kali kau menyentuhku tanpa ijin dariku?"


Alba terkekeh geli lalu menepuk pundaknya Adam, "Kenapa emangnya kalau aku menyentuhmu seperti ini, kita kan teman jadi, kurasa nggak ada salahnya, kan?"


Adam hanya bisa menghela napas panjang.


Jam istirahat pertama tiba, Adam bergegas ke ruang guru untuk menemui Bu Nindya dengan modus ingin mengenal rumus baru dari soal Matematika yang barusan Bu Nindya ajarkan. Sedangkan Alba lebih tertarik dengan ajakan Ayu dan Theo, makan roti bakar dan minum minuman soda di kantin.


Adam mengempit buku paket Matematika dan membawa kotak makan yang berisi dua potong sandwich. Adam dipersilakan masuk setelah ia mengetuk pintu ruang guru sebanyak dua kali.


Adam duduk di depan meja kerja Bu Nindya yang terletak paling pojok dekat jendela. Bu Nindya tersenyum lebar dan berkata, "Tumben menemui Ibu? Kau sudah makan? Ibu bawa nasi goreng masakannya Ibu, kau mau?"


"Kita barter kalau gitu, Ibu makan sandwich yang saya bawa dan saya makan nasi goreng yang Ibu bawa" ucap Adam tanpa senyum. Adam memang tidak suka tersenyum.


"Siapa yang bikin? Pak Samin?" tanya Nindya.


Adam menggelengkan kepalanya, "Saya bikin sendiri. Maaf kalau nggak enak"


"Enak kok. Sangat enak. Makasih, ya" Bu Nindya.tersenyum senang. Dia senang karena calon anak tirinya mau menemuinya dan membuat sandwich untuknya. Ada rasa hangat mulai menjalar di hati Nindya kala ia menerima perhatian kecil dari Adam.


"Nasi gorengnya Ibu juga enak" Sahut Adam.


Adam mengangkat wajahnya dari nasi goreng yang tengah ia nikmati lalu memandangi wajah ibu guru cantiknya dengan ekspresi kaget.


"Aku senang makan ada temannya kayak gini"


"Saya akan menemani Ibu makan mulai besok. Saya juga akan bawa makanan lagi hasil masakan saya sendiri" sahut Adam dengan mulut penuh nasi goreng.


Nindya tertawa senang dan berucap, "Baiklah! mulai besok, kita akan selalu barter makanan"


"Saya juga akan selalu minta diajarin Matematika karena sebentar lagi lomba olimpiade Matematika tingkat Provinsi akan segera dimulai kan, Bu" ucap Adam.


Bu Nindya tersenyum bahagia, "Ibu juga senang, ada yang memiliki hobi yang sama dengan Ibu yakni baca novel dan mengerjakan Matematika. Baiklah, kapan pun kamu butuh Ibu untuk mengajari kamu Matematika, Ibu siap"


Dan itulah awal kedekatan sederhananya Adam dan Nindya yang tanpa mereka sadari bisa menimbulkan bara api yang sangat berbahaya.


Flashback Off


Deg........Jantung Adam tiba-tiba berdebar kencang ketika ia mengetahui fakta, ada orang lain yang merasakan rasa yang sama dengan rasa yang selalu membalut jiwa dan raganya yakni rasa kesepian. Dan debaran jantungnya Adam dirasa semakin kencang saat ia mendengar fakta bahwa calon ibu tirinya sudah masuk ke dalam jerat rayuan palsunya. Adam sungguh tidak menyangka rayuan perdananya mampu meluluhkan hati seorang perempuan yang sangat cantik, lembut dan matang dalam tempo yang sangat singkat. Hanya dalam beberapa hari saja Adam bisa membuat seorang Nindya porak poranda pondasinya.


Gila! Kalau aku lanjutkan aksiku, aku akan menjalin hubungan dengan guruku sendiri yang juga sekaligus tunangannya Papaku. Apa aku cukup gila untuk itu? Batin Adam sambil terus memandangi Nindya yang masih asyik berayun-ayun di bawah pohon yang sangat besar dan rindang.


Beberapa hari kedekatan mereka, memang tidak bisa dipungkiri membuat kesan yang sangat mendalam di hati Adam dan Nindya. Tanpa mereka sadari, mereka menjadi saling membutuhkan.


Walaupun Adam tidak ingin memupuk rasa aneh yang mulai mengusik hari-harinya itu, untuk menjadi subur karena dia memang tidak berniat untuk mencintai Nindya dengan nyata namun, rasa aneh itu semakin hari semakin menggerogoti akal sehatnya Adam. Dia yang hanya ingin menjerat, menjebak dan kemudian menyingkirkan Nindya dari kehidupan papanya dan dari kehidupannya menjadi goyah.


Dan ucapannya Nindya di pinggir sungai di malam itu langsung memporak porandakan pondasi akal sehatnya yang Adam bangun dengan sudah payah. Ucapannya Nindya itu juga telah mampu membuat Adam memiliki rasa aneh yang tiba-tiba membuatnya menjadi sesak napas.


"Kau menjadi korban keegoisan dan kesibukannya Papaku juga ternyata" sahut Adam sembari melangkah mendekati Nindya.


Nindya tersentak kaget, dia melompat dari atas ayunan dengan ceroboh dan di saat ia berbalik badan, kakinya selip, dia terhuyung ke belakang. Adam segera berlari dan berhasil menangkap pinggangnya Nindya dan menyelamatkan Nindya agar tidak terjatuh ke dalam sungai. Adam menarik tubuh Nindya untuk lebih menjauhi bibir sungai dan mereka berdua kemudian bersitatap dalam diam dengan debaran jantung yang tidak beraturan.


Degup jantung keduanya semakin kencang dan rasanya akan mengarah ke kegilaan. Adam kehilangan akal sehatnya ketika wangi lembut dari rambutnya Nindya mengusap lubang hidungnya. Adam seketika itu kehilangan akal sehatnya dan nekat mencium bibirnya Nindya.


Adam terbelalak kaget saat Nindya merespons ciumannya. Di detik berikutnya, Adam memejamkan kedua matanya dan memperdalam ciumannya. Mereka kemudian berciuman dengan intens, lembut walaupun belum melibatkan lidah namun, ciuman itu cukup menggoda dan cukup menghanyutkan. Di saat Adam tahu ia harus mengakhiri ciumannya, Nindya menjauh dari Adam, bukan dari lengannya Adam karena ia masih butuh lengan itu untuk menjadi penopang tubuhnya yang melemas.


Nindya menarik wajahnya cukup jauh untuk bisa menatap wajah Adam dengan galak dan air mata penyesalan ataukah ia sebut sebagai air mata kepedulian tapi yang pasti dia merasa lemas saat itu.


Adam lalu melepaskan Nindya dan berkata, "Maaf"


Nindya kembali terhuyung ke belakang karena kakinya masih lemas dan Adam dengan sigap, kembali mengaitkan lengannya di pinggang rampingnya Nindya.


Mereka kembali bersitatap lama dan cukup dalam dengan sorot mata penuh misteri.