
Giliran Alba Anindya maju ke depan. Duduk di depan para Majelis Hakim yang terhormat, untuk memberikan pernyataan dan sanggahan atas prasangka negatif yang diutarakan oleh para saksi sebelumnya.
Alba menoleh ke Satya dan Satya menganggukkan kepalanya dan tersenyum untuk memberikan dukungan kekuatan ke Alba.
Lalu Alba menatap Adam yang telah berdiri di depannya dengan senyum dan anggukkan kepala untuk memberikan dukungan keberanian ke Alba.
Alba menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Adam dan pengacara dari si terdakwa dengan lancar dan penuh dengan kejujuran. Majelis Hakim bisa melihat kejujuran di kedua bola matanya Alba Anindya.
Adam kembali berdiri setelah pengacara si terdakwa kembali duduk di tempatnya. Adam menyalakan layar LCD besar yang ada di samping kanannya dan menayangkan foto-foto berupa hasil visum atas diri Alba Andindya dan foto-foto pintu kamar dan pintu kamar mandi.
Adam lalu berdiri di depan para juri dan berkata, "Jika klien saya adalah wanita penggoda seperti yang dikatakan oleh para saksi sebelumnya, maka keadaan pintu kamar dan pintu kamar mandi tidak akan tampak seperti itu, bukan, wahai para Juri Yang terhormat, para Majelis Hakim Yang terhormat, dan para hadirin yang terhormat"
Setelah mengedarkan pandangannya ke semua yang hadi di persidangan tersebut, Adam Baron kembali fokus ke para Juri. Dan Adam Baron kembali membuka suara, "Anda semua lihat, kan, ada banyak slot kunci di pintu kamar klien saya dan di kamar mandi, Anda lihat sendiri, kan, ada banyak lubang nggak jelas di sana. Dan Klien saya menyiapkan satu papan besar di dalam kamar mandi, Anda semua lihat, kan? Dan untuk apa papan besar itu? Tentu saja untuk menutup daun pintu kamar mandi yang banyak lubang nggak jelas, dari dalam agar si brengsek itu, tidak mengintip klien saya pas klien saya mandi" Adam Baron menunjuk Johny Setiawan dengan wajah geram.
Johny Setiawan langsung berdiri dari tempatnya dan berteriak, "Itu tidak benar!!!! Saya tidak pernah mengintipnya"
Thok, Thok, Thok, Hakim Kepala memukulkan palunya di atas meja dengan berkata, "Terdakwa harap tenang dan duduk kembali dengan tertib!"
"Johny Setiawan kembali duduk di tempat duduknya dengan wajah yang mulai gelisah"
"Dan klien saya memasang banyak slot kunci di kamarnya karena, si brengsek itu, pernah mendobrak pintu kamarnya, seperti keterangan yang sudah diberikan oleh klien saya barusan. Sekarang kalian semua bisa menilai sendiri, apakah klien saya seorang wanita penggoda atau bukan?"
Kesepuluh juri yang hadir di sidang tersebut, langsung menundukkan kepala mereka secara serempak dan menuliskan beberapa kata di note yang ada di atas pangkuan mereka.
Alba dipersilakan duduk kembali ke tempatnya semula.
Jaksa penuntut umum bangkit dan berkata, "Saya punya kartu As untuk memperkuat kesaksian dari korban. Saksi kunci pertama, silakan duduk di kursi saksi!"
Seorang wanita muda, lebih muda dari Alba Andindya melangkah dengan wajah menunduk dan duduk di kursi di depan para Majelis Hakim.
Johny Setiawan langsung memerah wajahnya menahan geram dan keringat mulai mengucur di sekujur tubuhnya saat ia melihat siapa yang duduk di meja saksi. Dan pengacaranya Johny Setiawan langsung berbisik di telinganya Johny Setiawan, "Anda harus tetap tenang!"
Satya Wicaksana menyeringai ke Johny Setiawan. Lalu Satya memberikan pertanyaan ke saksi kunci pertama, "Siapa Anda dan apakah Anda mengenal terdakwa?"
"Saya, pegawai minimarket yang letaknya tidak jauh dari rumah bapak Johny Setiawan"
"Dan kenapa Anda duduk di sini?"
"Ka.....karena.....Sa.......saya juga korban dari bapak Johny Setiawan. Nasib saya, sama seperti Nona Alba Anindya, namun Nona Alba Anindya lebih beruntung dari saya. Kehormatan dari Nona Alba Anindya tidak terenggut sedangkan saya..........." wanita muda itu menoleh ke Johny Setiawan dengan tatapan penuh kebencian, lalu ia menunjuk Johny Setiawan dan berkata, "Dia telah menodai saya di lorong gelap dekat dengan minimarket di malam hari, jam sebelas malam, hari Rabu malam, dia membekap saya dari belakang, menarik saya ke kebun kosong dan menodai saya"
"Bohong!" Johny Setiawan berteriak lantang dengan keringat yang bercucuran dengan wajah yang mulai panik dan gelisah.
Pengacara terdakwa lalu bangkit dan berdiri di depan saksi, "Apa Anda punya bukti, Nona?"
"Saya akan beberkan buktinya" Satya menayangkan tayangan yang menampakkan secara jelas wajah Johny Setiawan tengah melakukan aksi bejatnya di sebuah kebun kosong. Kejadian itu secara tidak sengaja terekam di kamera CCTV yang ada di dashboard mobilnya Satya Wicaksana yang terparkir tidak jauh dari kebun kosong itu.
Pendekatan Satya Wicaksana ke wanita muda yang telah dinodai oleh terdakwa tidaklah mudah. Karena, para wanita korban pemerkosaan dan pelecehan seksual lebih memilih untuk menutup diri jika mereka tidak memilih untuk bunuh diri. Satya bersyukur, di detik-detik terakhir persidangan, wanita muda itu akhirnya bersedia datang ke persidangan dan bersaksi melawan Johny Setiawan.
Johny Setiawan langsung melemas tak berdaya.
Adam menggenggam tangan Alba yang tampak gemetar di bawah meja lalu ia berbsisik di telinga Alba, "Jangan takut, ada aku"
Saksi kunci pertama dipersilakan untuk kembali ke tempat duduknya dan saksi kunci kedua dipersilakan untuk duduk di depan para Majelis Hakim.
Johny Setiawan langsung meradang saat ia melihat wanita yang duduk di kursi saksi. dia langsung berteriak penuh amarah, "Dasar Istri tidak berguna! Kenapa kau duduk di situ?! Mau apa kau?! Jawab?!"
Thok,thok,thok, Hakim kepala kembali memukulkan palunya dan kali ini dia membentak terdakwa, "Kalau Anda tidak bisa tenang, maka saya memberikan hukuman cambuk ke Anda sekarang juga"
Johny Setiawan langsung bungkam dan pucat lah wajahnya.
Tantenya Amanda memberikan sebuah flashdisk ke Adam dan Adam menyerahkan flashdisk tersebut ke petugas yang ada di persidangan untuk menayangkan apa isi dari flashdisk tersebut.
Semua kaget melihat tayangan yang nampak di layar LCD. Kelakuan bejat Johny Setiawan saat ia hendak memaksa Alba Anindya untuk melayani napsu iblisnya. Dan semua mengagumi keberanian Alba Anindya memberikan perlawanan dan keberanian Alba Anidnya di dalam mempertahankan kehormatannya. Bahkan beberapa Juri wanita ada yang sampai menitikkan air mata melihat, penderitaan yang dialami oleh Alba Anindya selama lebih dari dua tahun, hidup tangguh di dalam ketakutan yang sangat mencekam dan membuat semua orang bergidik ngeri.
Dan beberapa menit kemudian, Majelis Hakim dan para Juri menyetujui tuntutan hukuman seumur hidup dari Jaksa Penuntut Umum dan terdakwa langsung digelandang keluar dari ruang persidangan dengan paksa untuk dimasukkan ke dalam bui, seumur hidup.
Adam, Satya, Alba, Theo, Ayu, dan semuanya bisa bernapas lega dan tersenyum penuh syukur.
Satya, Theo, dan Ayu memberikan privasi ke Adam dan Alba karena, ada hal penting yang ingin Adam sampaikan ke Alba.
Adam dan Alba berdiri berhadapan di dalam ruangan khusus dan Alba langsung bertanya, "Di mana Tanteku? Aku ingin menemuinya dan mengucapkan terima kasih pada Tanteku"
Adam mengusap rambutnya Alba, "Maaf banget aku tidak bisa menahan kepergian Tante Kamu. Tapi, beliau menitipkan surat ini untuk kamu"
Alba membuka surat itu, membacanya dengan bersuara karena, ia ingin Adam juga ikut mengetahui apa isi surat itu. "Tante terlalu malu untuk menemui kamu. Jangan cari Tante! Tante udah jual rumah Tante dan Tante pergi ke Hongkong untuk menjadi TKW di sana. Hiduplah dengan baik walaupun kamu seorang diri sekarang ini tanpa Tante, Tante yakin kamu bisa hidup mandiri dan aman"
Alba melipat surat itu dan dengan derai air mata ia mengangkat wajahnya untuk menatap Adam.
Adam menghela napas panjang dan langsung memagut bibirnya Alba. Dia tidak mampu berkata-kata lagi untuk memenangkan Alba oleh karena itu, ia memilih untuk memagut bibirnya Alba dan mencium Alba dengan penuh cinta dan kelembutan