
Adam merasa jengah melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Nindya dan Nindya mengira kekesalan yang tersirat di wajah tampannya Adam itu karena Adam cemburu padahal Adam kesal karena ia muak dengan topeng yang masih Nindya kenakan untuk terus menipu papanya yang naif.
Adam lalu meletakkan sendoknya dengan keras sampai keluar bunyi, Klang! Nindya dan papanya Adam tersentak kaget, keduanya langsung menatap Adam dengan penuh tanda tanya.
Adam mendorong piringnya yang masih penuh dengan nasi dan lauk ke tengah meja karena, ia tiba-tiba merasa kenyang.
Nindya tersenyum tipis dan berkata di dalam hatinya, Aku benar-benar berhasil membuat Adam cemburu. Sebentar lagi, Adam pasti akan mengejarku dan tergila-gila padaku. Seperti aku yang sudah sangat tergila-gila padanya.
"Pa! ada rahasia besar yang ingin aku tunjukkan ke Papa tapi, kemarin Leo mengirimiku pesan text kalau Papa jantungnya kumat lagi waktu Papa ada di London kemarin jadi, aku tidak akan katakan rahasia besar itu sekarang" Adam berucap tanpa melepaskan tatapan tajamnya ke Nindya.
Nindya terlihat panik dan tanpa sadar dia meremas tangannya yang ia letakkan di bawah meja di atas pangkuannya dan terus menatap Adam dengan tatapan memohon.
"Ada apa? Papa rasa Papa sudah membaik sekarang ini jadi, katakan saja!" Alex Baron berkata sembari meletakkan tangannya di atas tangannya Nindya yang ada di bawah meja. Nindya tersentak kaget dan menoleh ke calon suaminya dan Alex menoleh ke Nindya dengan senyum.
Adam bangkit lalu mendorong keras kursinya ke belakang lalu ia pergi begitu saja meninggalkan papa dan wanita munafik yang sangat ia benci.
Alex Baron menatap arah perginya Adam dengan teriakan, "Adam! Habiskan dulu makananmu! Dan kenapa kau tidak jadi cerita?"
Nindya menaruh tangannya di dada Alex, mengelus dada itu dengan ucapan, "Sudah Mas, biarkan Putramu sendirian dulu! Emm, aku pulang aja ya, aku lupa ada tugas yang harus ku selesaikan dan berkasnya ada di apartemen"
Nindya lalu bangkit dan mendorong pelan kursinya ke belakang.
Alex ikutan bangkit dia mengecup keningnya Nindya lalu berkata, "Aku antarkan, ya?"
Nindya menggelengkan kepalanya, "Nggak usah, Mas! Aku kan bawa mobil. Mas jaga aja Adam, dia merindukan Papanya"
Alex tersenyum penuh cinta memandang wajah cantik kekasihnya, "Terima kasih, ya. Kamu begitu pengertian dan menyayangi Adam. Maafkan sikap Adam! Dia masih remaja dan......"
Nindya berjinjit mengecup bibirnya Alex untuk menghentikan ucapannya Alex lalu ia berkata, "Aku paham kok. Aku pergi dulu, ya Mas?"
Alex menganggukkan kepalanya dan berkata, "Hati-hati"
Alex kemudian melangkah masuk ke dalam kamar putranya yang tidak pernah dikunci itu, "Maafkan Papa kalau Papa jarang mengajakmu mengobrol dan bahkan hampir tidak pernah terlibat di dalam semua minat, hobi dan kegiatanmu selama ini. Tapi, Papa janji, setelah Papa menikah nanti, Papa akan mengurangi kegiatan Papa dan Papa akan lebih sering berada di rumah"
Adam langsung bangun dan memeluk papanya. Dia bahagia mendengar janji yang diucapkan oleh papanya. Alex tersenyum penuh haru dan langsung memeluk Adam. Dan tanpa Alex duga, Adam menangis di dalam pelukannya.
Alex ikutan terisak dan sambil mengelus punggung putra tunggalnya ia terus berkata, "Maafkan Papa!"
Adam lalu berucap dengan masih memeluk erat tubuh papanya, "Kalau Papa janji seperti itu, maka yang lainnya tidak penting lagi bagiku. Aku akan mendukung Papa menikah tapi, Papa harus menepati janjinya Papa"
Keesokan harinya, untuk pertama kalinya Alex Baron membangunkan Adam di pagi-pagi buta dan mengajak Adam joging. Adam girang buka. kepalang dan dengan penuh semangat ia bergegas bersiap untuk pergi joging dengan papanya.
Adam mengabadikan momen kebersamaan bersama papanya yang sangat langka itu di dalam memorinya dan tidak lupa ia mengambil foto dia bersama dengan papanya melalui kamera ponselnya. Papanya Adam pun merasakan kebahagiaan yang tiada tara, akhirnya ia bisa memiliki waktu untuk bercengkerama, bersendau gurau dan bisa melepaskan ganjalan di hati dengan putra tunggal kesayangannya.
"Kau mirip banget sama almarhum Mama kamu. Yang Papa wariskan ke kamu cuma warna biru di bola matanya Papa. Rambut kamu pun kecoklatan perpaduan dari rambut pirangnya Papa dan rambut hitam legamnya Mama kamu" ucap Alex Baron dengan sorot mata penuh haru.
"Papa belum pernah bercerita soal Mama" Air mata mulai mengambang di kedua pelupuk matanya Adam.
"Benarkah?" Alex berkata sembari mengusap kepalanya Adam. Ada beribu penyesalan di dalam usapan tangannya itu. Rasa bersalahnya Alex tersentak bangkit saat ia mendengar ucapannya Adam. Separah itukah aku melarikan diri dari kesedihanku kehilangan Istri tercintaku? Dan segila itu keegoisanku sehingga aku tidak pernah memerhatikan putra tunggalku? Bahkan untuk sekadar menceritakan perihal Mamanya saja aku tidak pernah. Ucap Alex di dalam hatinya sambil terus memandangi bola mata biru nan indah yang ia wariskan ke putranya.
"Ceritakan, Pa! Mumpung kita punya banyak waktu sekarang. Adam mohon, Pa!" ucap Adam.
"Baiklah. Tapi, sebelumnya Papa minta maaf sama kamu kalau Papa selama ini egois. Papa menenggelamkan diri Papa pada pekerjaan karena Papa melarikan diri dari kesedihan yang sangat dalam ditinggal Mama kamu, wanita yang sangat Papa cintai" Alex menitikkan air mata dan Adam mengusap air mata itu dengan sorot mata penuh haru.
Alex lalu berdeham dan melanjutkan perkataannya, "Mama kamu wanita yang sangat cerdas, cantik, lembut dan periang. Hatinya hangat, tulus dan selalu ramah kepada siapa pun sehingga banyak orang menyayanginya"
"Cantik mana Pa? Calon Istri Papa yang sekarang sama almarhum Mamaku?" tanya Adams serius.
Alex tersenyum lebar dan berkata, "Tentu saja lebih cantik Mama kamu! Mama kamu adalah wanita tercantik di dunia ini"
"Lalu kenapa Papa bisa terpikat pada........" Adam merasa enggan untuk menyebut nama wanita munafik yang sangat ia benci itu.
"Nindya?"
Adam menganggukkan kepalanya.
Alex tersenyum lalu berkata, "Karena Nindya memiliki rambut yang sama indah dengan rambut almarhum Mama kamu dan ia memiliki senyum hangat yang sama dengan Mama kamu. Itulah alasan kenapa Papa memilihnya untuk Papa jadikan Istri Papa selamanya"
"Apa Papa sudah benar-benar mengenalnya?" tanya Adam.
"Tentu saja. Kami sudah berpacaran cukup lama. Yeeaaahhh! Walaupun Papa lebih sering mengurus bisnis Papa daripada berkencan dengan Nindya tapi, Papa rasa, Papa sudah sangat mengenalnya" sahut Alex Baron.
Adam memandangi wajah papanya dengan kata di dalam hatinya, Aku akan bayar kebaikan dan waktu Papa di hari ini dengan cara menyembunyikan kebusukannya Nindya. Tapi, jika Nindya melewati batas maka aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menendang Nindya pergi selama-lamanya dari sisi Papa.
Dan di sore harinya, entah apa yang menggerakkan hati Adam untuk menghidupkan sepeda motor sport kebanggannya karena memang sepeda motor sport itu dia beli dari hasil keringatnya sendiri. Setelah menghidupkan sepeda motor sportnya, ia lalu melajukan sepeda motor itu di atas panasnya aspal untuk menikmati deru dan debu di jalan raya, menuju ke rumahnya Alba dengan hati riang gembira dan wajah terus mengulas senyum.