
Adam sampai di ruangannya dan terkejut mendapati Mama tirinya duduk di atas sofa dengan bersilang kaki dan bersedekap.
Nindya menoleh ke pintu masuk dan tersenyum lalu berkata, "Mama bawakan semur tahu dan baso kesukaan kamu"
Adam duduk di kursi kerjanya yang beroda lalu memajukan kursinya sampai perut ratanya menyentuh meja dan ia mulai membuka laptopnya tanpa mengindahkan keberadaannya Nindya.
Nindya menghela napas kesal lalu ia bangkit, mengunci pintu ruang kerjanya Adam dan melangkah memutari meja kerjanya Adam. Nindya nekat memeluk Adam dari belakang dan mengelus dadanya Adam.
Beberapa kali, Nindya menggoda Adam untuk tidur bersamanya karena, Alex Baron, Papanya Adam tidak pernah lagi menyentuhnya sejak Alex Baron mulai sakit-sakitan dan Nindya menggoda Adam karena rasa kesepian dan rasa cintanya pada Adam yang sangat besar.
Adam menepis kedua tangannya Nindya dengan kasar lalu ia mendorong kursi kerjanya ke belakang sampai membuat Nindya hampir jatuh terjengkang ke belakang. Adam lalu melangkah lebar mengitari meja kerjanya dan menjauh dari jangkauannya Nindya.
Nindya menatap Adam cukup lama, Adam mendelik ke Nindya, "Mana kunci pintunya! Untuk apa kau kunci pintu ini?"
Nindya menggoyangkan kunci pintu ruang kerjanya Adam di depan Adam. Adam menatap Nindya dengan kesal. Nindya memandang Adam dengan sorot mata bergairah, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku."
Adam mendelik ke Nindya dan amarahnya mulai mendidih. Lalu katanya, "Papaku terbaring lemah di rumah dan kau malah kelayapan nggak jelas kayak gini? Dasar wanita tidak tahu malu! Keluar dari sini atau aku akan berteriak dan kau akan mendapatkan malu"
Nindya akhirnya menghela napas panjang, melangkah ke pintu, memasang kunci untuk membuka pintu itu dan keluar dari dalam ruang kerjanya Adam dengan langkah kesal.
Adam menatap punggung Nindya dengan gelengan kepala dan helaan napas panjang.
Adam merindukan Alba dan ingin ke Kantin kampus Merah Putih untuk makan siang di sana, tapi jam kerjanya sangat padar di hari itu.
Tanpa terasa sore hari pun tiba. Mata kuliah sastra Inggris disampaikan Adam dengan sangat baik dan di saat Adam hendak menghampiri Alba, Mahasiswi-mahasiswi merubungnya untuk bertanya atau hanya sekadar modus ingin dekat dengan dosen muda dan sangat tampan itu. Sesi tanya jawab setelah jam kuliah itu berjalan dengan lancar, namun Adam kehilangan Alba. Dia mencari sosok Alba, tapi sosok Alba sudah menghilang di sekitar aula besar itu. Dan Adam hanya bisa menghela napas kecewa.
Adam merasa kesal sebenarnya melihat Alba terus mengabaikan dia dan terus menghindarinya, namun akhirnya Adam bisa memahami Alba dan berpikir untuk memberikan Alba sedikit ruang dan waktu agar bisa berpikir lebih jernih lagi sekalian dia menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan pertunangannya dengan Bella.
Adam memutuskan untuk berjalan santai ke ruang kerjanya dengan berjalan memutari kampus karena ia ingin duduk di depan danau buatan yang ada di kampus Merah Putih. Adam ingin mengenang masa lalunya saat ia masih berpacaran dengan Alba di sana.
Dari arah danau buatan, Adam bisa melihat halaman belakang asrama mahasiswi. Dia ingat betul, dulu dia sering melompati pagar besi yang ada di sana, di pagar besi yang paling pendek, dia melompat untuk bertemu dengan Alba secara diam-diam.
Alba berlari ke arahnya dengan wajah panik tapi tersenyum riang melihat kedatangannya Adam kala itu. Kemudian mereka berdua duduk di atas rumput hijau melihat ke arah danau sambil berpelukan dan mereka mengobrol dan bercanda di sana sampai hampir lupa waktu.
Kala itu, Adam dan Aba masih polos dan hanya dengan saling menggenggam tangan saja, mereka sudah merasa bahagia.Mengobrol bersama di samping asrama dan menatap danau dengan kepala Alba bersandar di bahunya kala itu, membuat Adam merasa tidak ingin berpisah dengan Alba dan ingin sehidup semati dengan Alba untuk selama-lamanya. Siapa sangka, Alba akhirnya meminta putus dan cinta mereka menjadi rumit sekarang ini.
Adam tersentak dari lamunannya saat bahunya dipeluk oleh seseorang. Adam menoleh dan langsung melihat senyum cantiknya Bella. Tanpa Adam ijinkan, Bella menyandarkan kepalanya di bahu Adam dan menggenggam tangannya Adam. Adam merasa tidak enak hati jika ia melarang Bella melakukan semua itu karena Bella sudah menolong Alba dengan tulus hati.
Ada kecemburuan di hati Alba, tapi juga ada perasaan tidak pantas jika ia memiliki rasa kecemburuan itu. Ada kerinduan, tapi juga ada perasaan penyesalan. Ada cinta, tapi juga ada perasaan ingin melupakan. Alba lalu menstandarkan sepedanya. Ia lepas sepedanya, kemudian ia berjongkok di samping sepedanya. Rasa sakit di hatinya mengalahkan rasa nyeri di kedua lututnya dan ia akhirnya menangis sejadi-jadinya di sana.
Setelah puas menangis dan lelah berjongkok, Alba bangkit dan mulai naik sepedanya lagi. Ia kayuh sepedanya menuju ke ruang musik. Ada kuliah musik di sana.
Adam melihat Bella di seberang danau dan bersepeda dengan mengusap pipinya. Adam dengan sopan berkata ke Bella sambil menarik tangannya dari genggamannya Bella, "Maaf aku ada urusan penting. Aku harus pergi sekarang" Adam mengangkat kepala Bella yang masih bersandar di bahunya dengan telapak tangannya, lalu ia bangkit dan berlari meninggalkan Bella
Bella ikutan bangkit dan bergegas mengejar Adam, namun dia kalah cepat dan akhirnya, Bella hanya bisa masuk kembali ke dalam mobilnya dan pulang.
Alba masuk ke ruang musik dan suasana di dalam ruang musik masih sepi. Alba tidak mengetahui kalau di hari itu, mata kuliah piano, diganti esok hari jam tujuh pagi.
Alba yang belum menyadari pergantian jadwal.itu, duduk di depan piano dan bermain piano di sana dengan santai sambil menunggu teman-temannya datang, pikirnya.
Tiba-tiba indra keenamnya Alba menangkap ada mata yang sedang memperhatikan dirinya. Alba merinding di seluruh tubuhnya dan langsung menghentikan permainan pianonya saat kedua indra pendengarnya menangkap ada suara pintu ditutup dan dikunci.
Alba bangkit lalu memutar badan dengan cepat saat ia merasakan ada langkah kaki di belakangnya.
Alba tersentak kaget saat ia melihat omnya melangkah mendekatinya dengan seringai menakutkan.
Alba berlari menjauh dan berteriak, "Jangan dekati aku, Om!" Namun, karena lututnya belum pulih benar dan sudah ia paksa untuk mengayuh sepeda, Alba akhirnya terjatuh di atas lantai dengan kedua lutut berdenyut sangat nyeri. Darah mulai terlihat merembes sedikit di perban putih yang dipasangkan oleh Bella tadi pagi.
Omnya Alba menyeringai dan mendekati Alba dengan pelan sambil berkata, "Kau akan jadi milikku seutuhnya sore ini. Aku akan mencicipi manismu. Selama ini aku terus menahan diri melihat eloknya paras kamu dan mulusnya kulit kamu. Aku harus mencicipimu sekarang juga"
Alba mulai terisak dan terus mengesot mundur ke belakang untuk menjauh dari jangkauan omnya. Alba mencoba berucap, "Jangan Om! Ingat Tante! Apa yang akan terjadi kalau Tante sampai tahu" Alba berucap di sela isak tangisnya dan jantungnya berdebar kencang karena ketakutan.
Omnya Alba berhasil meraih blusnya Alba dan Alba langsung menendang omnya dan menyebabkan blusnya Alba robek. Alba menyesali tindakannya karena robekan blusnya, membuat kedua mata jahat omnya membeliak penuh napsu.
Tanktop putih yang Alba kenakan di hari itu terpampang nyata di depan omnya dan membuat darah kelaki-lakian omnya mendidih sempurna dan omnya Alba semakin nekat menubruk Alba dan langsung mendekap Alba. Laki-laki brengsek berhati binatang itu, langsung menyusupkan wajahnya di lehernya Alba dan tangannya mulai meraba titik kenyal yang membuat tubuh Alba bergetar ketakutan dan Alba terus terisak dan bergumam, "Jangan Om! Lepaskan aku!"
Brak! Pintu ruang musik terbuka lebar. Adam meradang melihat pemandangan tidak senonoh yang ada di depannya dan dia semakin meradang saat ia melihat wajah Alba yang tengah menangis ketakutan.
Adam langsung menarik kasar tubuh omnya Alba dan menyeret tubuh kurus dan jangkung lalu ia hempaskan begitu saja sampai tubuh kurus dan jangkung itu, jatuh tersungkur di atas lantai. Adam langsung memukuli wajah omnya Alba tanpa ampun sambil terus berteriak, "Dasar brengsek! Berani sekali kau menyentuh Alba! Aku harus membunuhmu!"
.