I Love You, Adam

I Love You, Adam
Ceritakan!



"Turunkan aku, Dam! Aku merasa kalau aku tidak perlu menjelaskan apa-apa ke kamu" Alba menoleh tajam ke Adam.


Adam memasukkan gulali ke dalam mulutnya lalu bertamya, "Banyak yang perlu kamu jelaskan! Salah satunya adalah, kapan kamu bisa bermain piano? Omong-omong penampilan kamu sangat cantik hari ini"


"Yang cantik itu tunangan kamu dan pianonya bukan penampilanku" Alba menjawab dengan ketus.


Adam menggigit gulali, mengunyah gulali itu lalu memasukkan tusuk gulali ke dalam saku jasnya dan ia kembali bertanya, "Apa kamu sangat membenciku?'


"Tidak!" Alba menjawab pertanyaannya Adam dengan cepat.


"Kalau kamu tidak membenciku, kenapa kamu tidak pernah mau menjawab pertanyaan yang aku ajukan ke kamu?"


Alba bersedekap lalu menghela napas dan berkata, "Oke! Soal Piano, kan? Entahlah aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa bermain piano"


"Sebenarnya bukan soal piano aja, tapi baiklah kita bahas soal piano dulu. Kenapa kamu tidak tahu kapan kamu bisa bermain piano?" Adam menoleh sekilas ke Alba.


"Karena, sejak Papa meninggal, aku lupa akan suka kenangan di masa kecilku. Masa kecilku, sebelum Papaku meninggal dan aku pun lupa kapan aku pernah belajar bermain piano. Aku bahkan lupa Papaku itu orang yang seperti apa. Aku hanya tahu kalau Papa adalah Papa yang sayang sama aku dari cerita Mama. Tapi, aku sendiri tidak bisa mengingat Papaku itu seperti apa" Alba berucap dengan nada bergetar menahan tangis.


Adam menoleh sekilas ke Alba dan berucap, "Maafkan aku!"


"Makanya aku pernah bilang kan ke kamu dulu waktu kita masih duduk di bangku yang sama di masa SMA, kalau kamu beruntung memiliki Papa"


"Dan aku pernah bilang ke kamu kalau kamu beruntung memiliki Mama" sahut Adam.


"Dan sekarang aku kehilangan keduanya" Alba menghela napas untuk mengusir kesedihannya.


Adam kembali menoleh sekilas ke Alba dan berkata, "Maafkan aku!"


Alba lalu menyandarkan pelipisnya di kaca pintu mobil dan diam membisu. Dia merasa sangat lelah baik secara fisik maupun psikis. Jika dia tidak memiliki Tuhan dan lilin pengharapan yang masih menyala di hatinya, dia mungkin sudah menjadi gila atau bahkan sudah bunuh diri untuk melarikan diri dari kenyataan hidupnya yang benar-benar pahit.


Alba sudah lelah hidup dalam ketakutan. Dia takut kalau suatu saat nanti, dia tidak bisa lagi menjaga kesuciannya. Dia takut kalau suatu saat nanti, omnya berhasil merenggut kesuciannya. Ketakutannya itu yang membuat Alba merasa lelah baik secara fisik maupun psikis.


"Kita sudah sampai"


Alba tersentak dari lamunannya dan menoleh ke Adam, "Sampai ke mana?" Alba bertanya dengan wajah linglung.


Adam tersenyum , "Kamu keasyikan melamun sih. Kita udah sampai di rumahku. Aku masukkan mobilku langsung ke garasi bisa kita tidak kehujanan pas turun"


Alba menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau turun. Aku nggak enak dengan Papa kamu. Kamu kan sudah punya tunangan, tapi kok ngajak wanita lain ke rumah kamu"


Adam tersenyum lebar lalu berucap, "Aku tinggal sendirian di sini. Papa tinggal dengan aman tiriku di rumahnya sendiri. Ayok turun!" Adam berdiri di depannya Alba dan masih memegang daun pintu mobilnya yang ia buka dengan lebar.


"Tetap saja tidak sopan ajak wanita lain ke rumah kamu. Apa kata tunangan kamu nanti?"


"Turun sendiri atau aku gendong lagi? Hanya itu pilihanmu, Ba"


Alba merengut dan dengan terpaksa ia melepas sabuk pengamannya dan melangkah turun dari mobil mewahnya Adam. Adam menutup pintu mobilnya sambil tersenyum puas dan berkata, "Ayok masuk!"


Alba menatap ke arah luar dan ingin berlari keluar dan Adam bisa.melihat niatnya Alba itu, maka Adam segera mengeluarkan suara, "Mau aku gendong?"


Alba tersentak kaget dan menoleh ke Adam dengan gelengan kepalanya. Lalu dengan terpaksa ia mengikuti langkahnya Adam memasuki ruangan yang sangat luas dengan interior mewah yang sangat indah.


"Duduklah! Aku akan buatkan minuman hangat untukmu. Kau belum makan, kan? Aku akan buatkan........"


"Biar aku yang masak. Aku nggak mau sakit perut lagi kalau makan masakan kamu seperti waktu itu. Bikin mie instant aja kamu nggak bisa kok mau masak" Alba lalu menoleh ke Adam yang tampak kaget dan bingung dengan ucapannya Alba, "Kenapa kok malah bengong? Di mana letak dapurnya, aku akan masak untuk kita berdua" sahut Alba.


Adam langsung tersenyum semringah, ia langsung mengantarkan Alba ke dapurnya lalu ia berucap dengan wajah bahagia, "Memasaklah dengan santai! Aku tinggal dulu ganti baju, ya? Setelah itu aku akan membantu kamu memasak"


Alba menganggukkan kepalanya ke Adam dan tanpa senyuman.


Adam mandi beberapa menit lalu berganti baju dengan bersiul gembira.


Hatinya Adam berbunga-bunga, dia senang Alba masih mengingat soal dia masak mie instant dulu dan justru masakannya itu membuat Alba sakit perut karena terlalu banyak saos sambal yang ia masukkan ke dalam mie instant.


Adam lalu tersenyum lebar di depan cermin karena, dia senang telah berhasil membawa Alba ke rumahnya dan rasa hatinya seperti membumbung ke angkasa mengingat Alba ada di dapurnya, tengah memasak untuk dirinya.


"Aku akan makan masakannya Alba lagi dan aku akan makan berdua dengan Alba. Wah! Mimpi apa ya aku semalam" Adam menepuk kedua pipinya saat ia melangkah kembali ke dapur dengan riang gembira.


Adam duduk di depannya Alba dan tersenyum lalu berkata, "Bolehkah aku bertanya lagi sembari menunggu nasinya matang?"


"Nggak boleh" Alba menggelungkan kepalanya.


Adam terkekeh geli dan berkata, "Aku akan tetap bertanya. Apa aku boleh ke makam Mama kamu? Bisakah kamu mengajak aku ke makam Mama kamu?"


Alba tersentak kaget, "Kamu tahu dari siapa kalau Mamaku sudah meninggal?"


"Itu tidak penting. Kamu jawab saja pertanyaanku"


Alba menatap Adam dengan ragu selama beberapa detik, lalu menganggukkan kepalanya pelan-pelan.


Adam tersenyum senang dan berkata, "Terima kasih, Ba. Kapan kita ke makam Mama kamu?" Adam berucap sembari mengambil tumis sayur masakannya Alba dan menyisihkan sawi hijau.


"Habis kita makan, kita ke makam Mama" sahut Alba. Lalu Alba mengernyit, "Kamu tidak suka sawi hijau? Ah! Benar Mama juga tidak menyukai sawi hijau dan lebih memilih sawi sendok. Makanya aku tidak pernah tahu kalau kamu nggak suka sama sawi hijau"


"Aku senang kalau aku dan Mama kamu memiliki kesenangan yang sama yakni rengginang dan sawi sendok, hehehehe. " Adam tersenyum lebar ke Alba


Alba tersenyum lalu bertanya, "Kalau tidak suka, kenapa sawi hijau itu ada di lemari es kamu?"


"Sawi hijaunya sebenarnya, untuk makanan kelinciku" sahut Adam.


"Kamu punya kelinci?'


"Hmm" Adam tersenyum dan terus tersenyum menatap wajah manisnya Alba.


"Kenapa kelinci, bukannya anjing atau kucing?"


"Karena kelinci mengingatkan aku padamu.Gigi kamu mirip gigi kelinci dan wajah kamu mirip kelinci, imut, manis dan menggemaskan, hehehehe"


Alba langsung menyipitkan matanya dan merengut.


Adam tergelak geli melihat ekspresi wajahnya Alba lalu ia berucap, "Maaf, tapi itu benar"


Alba menatap Adam masih dengan kerucut di bibirnya.


Adam terkekeh geli lalu bertanya, "Kamu nggak pengen lihat kelincinya?"


Alba menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku bisa melihat kelinci setiap kali aku bercermin, kan? Kata kamu, aku mirip dengan kelinci, kan?" Alba kembali mengerucutkan bibirnya.


"Hahahaha, iya kamu benar, hahahaha"


Alba semakin mengerucutkan bibirnya lalu ia dan Adam saling pandang dalam sorot mata penuh kerinduan dan cinta yang tersirat.


Adam berucap, "Aku merindukan momen ini, Ba. Bercanda dan mengobrol denganmu"


"Tapi, kamu sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah jadi, kita nggak mungkin bisa bercanda dan mengobrol lagi setelah ini" Alba berucap dengan masih memandangi wajah Adam.


Adam terus memandangi wajah Alba dan memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa kamu bergetar saat aku cium tadi? Kamu pernah dilecehkan, bukan? Ceritakan Ba! Apa yang telah terjadi? Aku bisa menolongmu"


"Tidak ada yang terjadi" sahut Alba dengan wajah resah dan tampak gelisah.


"Kalau tidak ada yang terjadi, buktikan! Buktikan kalau kamu tidak takut disentuh oleh lawan jenis! Jika kau tidak takut disentuh oleh lawan jenis maka berarti, dugaanku selama ini salah!" Adam meninggikan nada suaranya karena kesal pada dirinya sendiri saat ia mendapati instingnya benar soal pelecehan seksual yang pernah Alba alami.


Alba menghela napas kesal lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekati Adam. Adam memasang sikap waspada dan kedua bola matanya mengikuti arah langkahnya Alba


Adam mengerutkan keningnya saat ia melihat Alba berdiri di depannya.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Adam.


Alba lalu mengangkat kaos yang dia pakai pelan-pelan dengan tangan bergetar sembari berkata, "Aku akan buka kaos aku dan sentuhlah aku!"


Adam langsung menahan tangannya Alba untuk menghentikan tangan itu menaikkan lagi kaosnya Alba ke atas dan Adam langsung memeluk Alba, "Cukup, Ba! Kau pikir aku pria macam apa? Aku tidak akan menyakiti kamu. Aku hanya ingin kamu bisa terbuka lagi padaku. Ceritakan semuanya, Ba!"


Alih-alih bercerita, Alba menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya Adam.