
Satya duduk di ujung meja panjang, di antara Alex Baron dan Bella Fastro. Alex dan Bella masing-masing telah didampingi oleh seorang pengacara pribadi mereka.
Satya menoleh ke samping kanannya dan berkata, "Om bisa menemui Bella di ruangan ini karena, Bella masih dalam proses penyelidikan. Kami hendak menginterogasi Bella sekarang ini dan karena, Om adalah kolega dan korban di sini, Om boleh ikut di dalam proses interogasi kami, tapi Om jangan menyela dulu. Om akan saya kasih kesempatan bertanya ke Bella, setelah saya selesai dengan Bella"
Alex menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Bella Fastro.
Satya menghela napas lalu menoleh ke Bella, "Adam Baron menuntut kamu atas kelalaian kamu memberikan vitamin otak ke dia yang bisa berakibat fatal pada kesehatannya dan bisa menimbulkan banyak kerugian pada Adam Baron lalu........."
"Dasar wanita berhati Iblis! Om telah salah menilai kamu" Alex Baron menggertakkan gerahamnya.
Satya menoleh ke Alex dan berkata, "Om, jangan menyela dulu, oke!?"
Alex kembali menganggukkan kepalanya dan tetap menatap Bella dengan sorot mata penuh kebencian.
Bella terus menunduk. Dia tidak berani menatap Alex maupun Satya.
Satya lalu menoleh kembali ke Bella, "Lalu Adam juga menuntut kamu atas niat jahat kamu ingin menculik dan membunuh Noah Baron, dan yang terakhir adalah tuntutan karena, kamu sudah membunuh Istri Papanya. Apa kamu ingin menyangkalnya?"
Bella menggelengkan kepalanya karena, dia mengetahui semua bukti yang berada di tangannya Satya atas semua kejahatannya sangatlah kuat.
Satya tersenyum puas melihat respons yang diberikan oleh Bella Fastro.
Pengacaranya Bella menghela napas panjang di saat ia melihat kliennya dengan cepat menerima semua tuntutan dari Adam Baron. Lalu pengacaranya Bella berkata, "Karena klien saya cukup kooperatif maka, saya hanya bisa meminta keringanan hukuman dari semua tuntutan itu"
Satya berkata, "Kita akan bicarakan nanti di persidangan"
"Apa aku sudah boleh bicara?" Alex mengeluarkan suara tanpa mengalihkan tatapannya dari Bella yang masih duduk menunduk di depannya.
Satya menoleh ke Alex Baron, "Oke, Om boleh bicara dulu. Silakan tanya apa saja ke Bella, Om karena, Bella sudah didampingi pengacaranya"
Alex langsung bertanya ke Bella, "Kenapa kau melakukan semua hal keji itu? Aku sama sekali tidak menyangka kalau selama ini aku memercayai seorang Iblis" Alex menggebrak meja dan mendelik penuh amarah.
Bella mengangkat kedua pundaknya karena kaget kemudian ia terisak menangis. Bella menutupi wajah cantiknya dan menangis sesenggukkan.
"Cih! Masih berani kau menangis? Air mata kamu sudah nggak ada gunanya?! Dasar wanita gila dan........"
"Tutup mulut kamu!" Suara Dragon Fastro langsung menggema di ruangan itu.
Satya langsung bangkit berdiri dan mendelik ke petugas kepolisan yang mengikuti langkahnya Dragon Fastro dan petugas kepolisan itu langsung berkata ke Satya, "Maaf Pak Jaksa, dia memaksa masuk dan........"
"Oke, nggak papa. Kita keluar aja dulu, biar mereka berbincang dengan santai di sini" Satya lalu mengajak petugas kepolisan itu untuk keluar dari ruang interogasi.
Petugas kepolisan itu menoleh ke Satya dan menautkan alisnya, "Kok ditinggal begitu saja?"
Satya menoleh ke petugas kepolisian dan sambil merangkul bahu petugas kepolisan itu ia berkata, "Aku sudah nyalakan alat perekam yang aku tempel di bawah meja. Alat perekam itu akan merekam semua percakapan mereka"
"Tapi, bukankah itu ilegal?"
"Aku cuma butuh untuk diriku sendiri dan dengan alat perekam itu, aku yakin aku akan mendapatkan sesuatu yang berharga" Satya mengulas senyum di wajah tampannya dan petugas kepolisan yang Satya rangkul hanya bisa menghela napas panjang.
Alex langsung berdiri dan melotot ke sahabat karibnya.
Bella Fastro mengangkat wajah dan mengeluarkan suara lirih, "Pa?"
"Balas dendam apa.maksud kamu?" Alex Baron mengerutkan keningnya.
"Balas dendam kamu karena aku yang telah mencuri uang milyaran kamu dan aku yang telah menjebak Aldi. Aku juga yang telah membunuh Aldi, tapi sayangnya Heni masih hidup" Dragon mengatakan itu semua dengan maksud membuat Alex syok dan jatuh pingsan karena penyakit jantung yang Alex miliki.
Alex langsung mundur selangkah dengan gontai dan di saat ia hampir ambruk ke belakang, pengacaranya Alex langsung menangkap Alex dari belakang.
"Apa? Kau kaget? Itu kebenaran ceritanya dasar Alex bodoh! Kau bodoh, kau tahu itu? Bodoh!" Dragon mengatakan itu semua karena ia ingin memancing emosinya Alex dan Alex.akan semakin memburuk kesehatannya dan mati.
Satya segera.masuk ke dala. ruangan dan memapah Alex Baron keluar dari dalam ruangan itu sebelum Alex Baron terbakar emosi dan membahayakan jantungnya. Satya langsung berkata ke pengacaranya Alex, "Bawa Om Alex ke rumah sakit segera!"
"Baik" Sahut pengacaranya Alex.
Satya masuk kembali ke dalam ruangan dengan senyum lebar dan ia bersitatap dengan Dragon Fastro tanpa gentar.
Dragon duduk dengan bersilang kaki dan berkata, "Kenapa kau membawa Alex pergi dari sini? Kami belum selesai mengobrol"
Satya menyeringai dan berkata, "Karena sekarang adalah giliran kita untuk mengobrol"
Adam menatap Alba. Alba langsung bertanya, "Ada apa?"
"Papa masuk rumah sakit setelah menemui Bella dan Papanya Bella"
"Mas harus pulang kalau gitu" Sahut Alba.
"Aku akan pulang, tapi bersama kalian" Sahut Adam sambil melangkah memutari meja lalu memeluk Alba.
"Tapi, Mas, Papa nggak menyukai aku" Sahut Alba lalu wanita manis itu menundukkan wajahnya.
Adam mencubit dagunya Alba lalu mengangkat wajahnya Alba sampai mereka bersitatap. Adam kemudian berkata, "Aku tidak akan pulang menjenguk Papa kalau kamu dan Noah tidak ikut. Aku lebih mementingkan kalian saat ini karena, Papa sudah membuatku sangat kecewa dan terus terang aku malas malas bertemu dengan Papa"
"Jangan gitu, Mas. Bagaimana pun Papa, beliau adalah Papanya Mas, jadi Mas harus hormat dan selalu menyayanginya" Sahut Alba.
Adam mencium bibirnya Alba lalu berkata, "Kalau gitu kamu dan Noah haru ikut aku pulang"
Alba menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah"
Adam mengecup keningnya Alba lalu mempererat pelukannya dan berkata, "Terima kasih untuk semua kasih sayang dan kelembutanmu, Ba. Aku sangat mencintaimu"
"Aku juga sangat mencintaimu, Mas" Sahut Alba sambil mengelus mesra punggungnya Adam.
Adam mencium pucuk kepalanya Alba dan berkata di sana, "Kita tunggu Noah pulang sekolah, lalu kita berangkat"
"Kita nggak pulang dulu untuk ambil baju ganti?" Alba mendongak dan Adam langsung menempelkan bibirnya di kening Alba dan berkata di sana, "Kita bisa beli lagi yang baru di sana. Aku ingin ajak Noah berbelanja baju sekalian jalan-jalan, nanti"
Alba menghela napas panjang lalu berkata, "Jangan terlalu memanjakan Noah, Mas!"
"Dia Putraku, masak aku nggak boleh belikan dia baju dan mengajaknya jalan-jalan?"
"Iya boleh" Alba hanya bisa menghela napas panjang dan Adam langsung menggemakan tawa bahagianya.