I Love You, Adam

I Love You, Adam
Mencuri Ciuman



Satya masih memapah Adam yang tampak lemah lunglai tak berdaya karena mabuk berat. "Emm, Maaf saya bawa Adam ke sini karena dia mabuk berat. Kalau di rumah sendirian, saya takut dia tidur tertelungkup dan bisa kehabisan napas dan itu akan sangat berbahaya"


"Ah! Iya. Silakan masuk, Pak!"


Satya merebahkan Adam di sofa dengan kata di dalam hatinya, Kau harus membayar kebaikanku malam ini, Bro!


"Emm, Anda siapa?"


"Oh iya. Kita belum berkenalan" Satya mengulurkan tangannya dan Alba menyambut uluran tangan itu dengan ramah dan terbuka.


"Saya teman satu-satunya Adam Baron sewaktu kami masih menjadi mahasiswa di Amerika. Dia junior saya dan terus nempel sama saya selama kuliah di Amerika" Satya berucap sembari melepaskan tangan mungil dan kurusnya Alba.


"Saya Alba Anindya" Alba tersenyum.


"Nama saya, Satya Wicaksana. Umur saya, dua puluh delapan tahun. Saya udah S2. Saya ambil S2 di Amerika di saat si Tengil ini mengambil S1" Satya menunjuk Adam saat ia mengucapkan kata si tengil dan Alba tersenyum geli.


"Anda ingin duduk dan minum teh dulu atau?"


"Saya senang bisa minum teh dengan Anda. Tapi, sepetinya lain kali saja. Saya harus balik karena, saya juga sedikit mabuk" Satya mengulas senyum di wajah tampannya kemudian menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Alba dan Adam.


Adam meracau, "Aku mencintaimu, Ba. Jangan tinggalkan aku!"


Alba menggeleng-gelengkan kepalanya. Alba melepas kaos oblong yang ia pakai sembari mengisi baskom dengan air hangat. Setelah itu, ia kembali ke sofa untuk mengganti bajunya Adam lalu melepas sepatunya Adam. Alba kemudian mengelapkan handuk hangat di seluruh wajahnya Adam dengan pelan.


"Aku mencintai Alba Anindya. Kau tahu itu?" Adam menunjukkan jari telunjuknya ke Alba.


Alba menatap Adam dengan wajah sendu dan sorot mata lelah dibalut perasaan sedih yang begitu berat sembari terus mengusapkan pelan handuk hangat di wajah tampannya Adam.


"Alba itu wanita jahat. Dia pembohong kelas kakap. Aku tahu dia masih mencintaiku, tapi dia selalu berkata bohong dan selalu mendorongku untuk menjauh darinya. Aku bodoh, kan?" Adam masih menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke Alba dan Zzzzzzzzzzzz, Adam jatuh ke alam mimpi.


Alba mengusap bibirnya Adam sambil bergumam, "Iya aku cemburu saat melihat bibir kamu menempel dengan bibirnya Bella. Tapi, aku tidak boleh cemburu" Lalu Alba mengusap pipinya Adam, "Andai kita tidak pernah bertemu, kau akan hidup bahagia dengan Bella Fastro. Dia wanita yang sangat sempurna dan cocok menjadi pendamping hidupmu" Alba memandangi wajah Adam cukup lama lalu, ia mencium keningnya Adam dan berkata di sana, "Hatiku sejujurnya sakit dan perih setiap kali aku mendorongmu untuk menjauh. Tapi, itu harus aku lakukan demi kebaikanmu, Dam"


Dan di saat Alba hendak menarik bibirnya dari keningnya Adam, Adam memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Dan mereka berdua terjatuh di atas lantai dengan wajah saling berhadapan dan Adam masih memeluk erat tubuhnya.


Alba giat meronta ingin melepaskan diri dari pelukannya Adam, namun tidak berhasil. Akhirnya gadis manis itu menyerah dan memilih untuk memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas di dalam pelukannya Adam.


Kehangatan cinta mereka berdua mengalahkan dinginnya lantai di malam itu.


Adam terbangun di jam dua dini hari dan mengerjap kaget saat ia melihat wajah Alba berada dekat sekali dengan wajahnya. "Apa aku bermimpi? Aduh! Sakit sekali kepalaku. Kenapa aku bisa ada di sini?"


Adam lalu tersenyum lebar dan bergumam lirih, "Satya, aku akan membayarmu sangat mahal untuk kebaikanmu ini"


Adam lalu mengusap pelan wajah manisnya Alba yang masih tertidur pulas. Lalu mengusap rambutnya Alba dengan senyum semringah. Lalu ia bangun dan membopong Alba ke kamar. Dia merebahkan Alba dengan hati-hati di atas kasur lalu ia menyelimuti Alba dan duduk di tepi ranjang.


Adam tersenyum lebar memandangi wajah manis kekasih hatinya lalu ia mengusap pipinya Alba dan berbisik, "Selamat tidur dan mimpi indah cintaku" Kemudian pengacara muda yang sangat tampan itu keluar dari kamar dan langsung menuju ke sofa.


Adam tidur di sofa dengan memakai lengannya sebagai bantal. Namun, kedua bola matanya tidak kunjung bisa terpejam kembali. Adam membayangkan tanktop putih yang Alba kenakan dan langsung memukul keningnya dengan keras lalu mengaduh dengan sendirinya. "Ah! Alkohol ternyata sangat berbahaya. Pikiranku jadi kacau nih, mikirin yang iya-iya, heeeeee, dasar gila kau, Dam!" Adam lalu bangun dan mengambil satu botol air mineral dingin dan langsung menenggaknya sampai habis. Setelah itu, ia kembali tidur di atas sofa dengan berbantalkan lengannya sendiri.


Adam memberikan perintah cukup keras untuk matanya agar terpejam dan berhasil, kedua matanya menuruti perintahnya dan Adam Kembali jatuh ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Adam terbangun dengan teriakan kencangnya Alba. Adam langsung melompat turun dari sofa dan berlari kencang ke kamar dan langsung terhunus tatapan tajamnya Alba.


"Ada apa? Kenapa kau teriak kencang banget?"


"Kenapa aku bisa ada di sini? Kau yang memindahkan aku ke sini?" Alba menunjukkan jari telunjuknya ke Adam.


Adam merasakan kepalanya berdenyut karena efek alkohol belum hilang dari dirinya dan dia bangun karena dikagetkan oleh teriakan kencangnya Alba. Adam meringis dan memijit pelipisnya alih-alih menjawab pertanyaannya Alba.


"Dam, jawab!" Alba mendelik ke Adam.


Adam mendesis lalu terpaksa menganggukkan kepalanya yang masih berdenyut nyeri.


"Kau apakan aku? Aku kan udah bilang, jangan ada kontak fisik di antara kita!"


Adam masih meringis menahan pusing dan menjawab, "Kamu yang memeluk aku duluan kan semalam?"



Alba mulai mengulas senyum kesalnya ke Adam lalu berteriak, "Adam Baron! Siapa yang memelukmu semalam, hah?! Jangan kepedean, deh!"



Adam hendak berputar badan meninggalkan Alba karena kesal. Lalu ia melihat bajunya dan menoleh ke Alba, "Kau menyentuhku dulu. Kau yang mengganti bajuku, kan? Jadi, kita impas" Adam lalu keluar dari kamarnya Alba dengan langkah santai.


"Adam Baron! Tunggu!" Alba berlari menyusul Adam sambil mengenakan kaos oblong yang dia pakai semalam untuk menemui Satya.


Adam mengabaikan teriakannya Alba dan melangkah ke dapur. Adam mengambil beras, mencucinya lalu memasaknya dengan alat elektrik penanak nasi. Lalu ia membuka lemari es dan mengambil beberapa telur tepat di saat Alba bersedekap di sampingnya, "Dam, jawab dulu! Kau tidak apa-apakan aku, kan? Kau hanya memindahkan aku tidur di kamar, kan?"


Adam menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke Alba sembari mulai mengocok telur yang sudah ia pecahkan ke dalam wadah kecil yang terbuat dari melamin.


"Ah! Syukurlah. Aku akan mandi dulu setelah itu aku akan bantu kamu memasak" Alba pergi meninggalkan Adam.


Adam menatap arah perginya Alba dengan senyum geli saat ia teringat aksinya semalam, mencuri ciuman.